Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Lakukanlah


Rumah sakit xxxxxxx.


"Kita harus melakukan operasi nya"


Ketika dokter dihadapan nya berkata begitu, Alessia berusaha untuk mencari pegangan di belakang nya.


"Alessia"


Bibi muda nya berusaha menahan tubuh Alessia yang akan jatuh, gadis tersebut hanya shok dan bingung dengan keadaan


Yah keadaan benar-benar terjepit saat ini dan mereka tidak memiliki pilihan atau solusi sama sekali, Hans yang bisa mereka andalkan meskipun tidak banyak kini tengah berada di tengah-tengah kematian antara hidup dan mati.


Laki-laki itu sedang berjuang di atas ring kebanggaan nya, mengumpulkan pundi-pundi uang untuk pengobatan adik kembaran nya dan diri nya.


Agnes dan Operasi lahiran nya karena kelahiran normal tidak mungkin dilakukan.


Dia dan Operasi nya, karena penyakit yang menggerogotinya harus segera di angkat.


Dia tahu tiap kali Hans berkata laki-laki itu akan mendapat kan uang nya, sejatinya laki-laki itu tidak benar-benar mengumpulkan semua nya.


Tidak mudah memperoleh uang dari ring tinju di setiap malam nya, belum lagi nyawa jelas menjadi taruhan laki-laki tersebut.


Wajah babak belur pasti selalu terlihat setiap kali laki-laki itu kembali.


Bisa Alessia bayangkan betapa menyakitkan luka-luka tersebut di wajah Hans.


Belum lagi seluruh kartu milik Hans di blokir oleh Mama nya, seluruh fasilitas yang di cabut tanpa perasaan membuat laki-laki itu kehilangan semua tabungan nya.


Ditambah lagi kebencian wanita itu pada Agnes membuat Hans kehilangan semua hak di rumahnya.


Dia tidak bisa menyalahkan Mama Hans, semua ibu pasti seperti itu, ingin kebahagiaan anak-anak mereka, ingin anak-anak mereka mendapatkan pendamping yang layak dan kehidupan terbaik mereka.


Keadaan saat ini jelas sangat terjepit dan tidak baik-baik saja, mereka butuh uang, butuh penunjang hidup, Agnes harus segera di operasi dan sembuh, keponakan nya harus lahir bagaimana cara nya.


Dikala segala jalan telah ditempuh, bukankah terkadang jalan terakhir yang paling berat dan terjal akan menjadi pilihan paling bijak untuk bertahan? meskipun harus mengorbankan hati, perasaan dan harga diri?!.


Karena itu dia fikir.


Sejenak gadis itu memejamkan bola matanya.


"Hubungi aku jika kamu berubah pikiran"


Seketika Alessia Ingat ucapan dari wanita dari keluarga Al Khalid tersebut.


"Menikah dengan suami ku untuk mengganti kan posisi ku, aku tidak bilang adik tiri ku orang yang jahat, tapi dia juga bukan orang yang baik, aku tahu betul siapa dia dan apa tujuan nya ingin menikah dengan suami ku"


"Kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau tanpa terkecuali, apapun bahkan jika kamu meminta ku untuk membelikan kamu sebuah pulau sekalipun aku akan membelikan nya saat ini juga"


"Aku menunggu jawaban kamu"


Alessia menoleh ke arah bibi muda nya untuk beberapa waktu,bola mata nya terlihat berkaca-kaca.


Wanita yang di lihat terlihat mengerut kan keningnya.


Alessia kembali menoleh kearah dokter Rick


"Lakukanlah operasi nya"


Tiba-tiba Alessia bicara ke arah dokter Rich yang ada dihadapan nya.


Bibi muda nya jelas terkejut dengan ucapan Alessia.


Sedangkan lki-laki tersebut tidak menampilkan ekspresi apapun, dia menghela pelan nafas kemudian berkata,


"Baiklah, kalian bisa menyelesaikan administrasi nya"


"Ya, dokter"


Jawab Alessia pelan.


Setelah mendapat kan jawaban, dokter tersebut langsung berbalik dan meninggalkan mereka.


"Alessia"


Bibi muda nya menggenggam erat telapak tangan Alessia.


Wanita itu seolah-olah tahu apa yang difikirkan Alessia, begitu Alessia berusaha melepaskan genggaman tangan nya, dia langsung menggelengkan kepalanya.


Dia mencoba Berkata.


"Tidak,jangan lakukan itu. Jika kamu menerima tawaran wanita itu dan menikah, kamu akan kehilangan seluruh masa depan mu, Alessia."


wanita itu berusaha untuk mengingatkan Alessia,ini soal masa depan gadis muda yang dia pikir pasti masih begitu cerah dan panjang.


Dia mana bisa membiarkan keponakan nya melakukan hal tersebut.


"Tidak...bibi mohon Alessia, kita akan coba untuk mencari jalan lain, bukan kah Mereka berkata ada banyak jalan untuk kembali menuju ke Roma? bahkan ke Mekkah pun jalur nya bukan hanya melewati satu negara, kita akan mencari cara lainnya, tidak dengan menggadaikan masa depan mu pada orang lain"


Wanita itu nyaris histeris, dia menggenggam erat telapak tangan Alessia, dia mulai menumpahkan tangisan nya, mencoba untuk menyeret langkah gadis dihadapannya itu agar tidak bergerak pergi saat ini juga.


Tidak ada tangis yang lebih menyakitkan untuk nya ketika dia yang mulai tua tidak memiliki daya upaya untuk membantu gadis dihadapannya itu yang sebenarnya memiliki banyak masa depan.


Melihat ekspresi dan tangisan bibi nya, membuat Alessia hanya bisa mengembangkan senyuman nya.


"Bukankah Allah selalu punya rahasia dibalik tiap tragedi dan ujian yang diberikan untuk kita?"


Tanya Alessia sambil dia berusaha menjongkokkan tubuhnya, dia mengelus lembut punggung tangan bibinya, jangan ditanya bagaimana perasaan nya saat ini tapi gadis itu selalu berusaha Berkata semua pasti baik-baik saja.


"Hidup yang benar-benar hidup adalah ketika kita bisa menyelesaikan sebuah tantangan bernama masalah dan kelumit hidup tanpa adanya yang dikorbankan. Dan bukankah dalam menjalani kehidupan selalu ada pilihan? Karena jika tidak adanya pilihan, kita tidak akan tertantang untuk itu bukan?"


Lanjut Alessia lagi.


Bibi nya langsung menggeleng kan kepala tanda tidak setuju.


"Tapi ini soal masa depan kamu, bagaimana bisa kamu menikah dengan laki-laki yang tidak kamu cintai? bahkan perjanjian itu begitu berat, kamu harus mendampingi laki-laki itu hingga akhir seperti permintaan istri nya, lalu bagaimana dengan laki-laki yang kamu ceritakan itu?"


Tanya bibi Alessia dengan bibir bergetar.


"Mana yang lebih penting? Agnes dan calon keponakan ku atau harga diri dan masa depan ku yang jelas telah menghilang?"


Bibi muda nya sejenak menelan salivanya, seolah-olah dia baru ingat soal sesuatu, yah dia ingat kini kenapa Alessia mau melepaskan semua nya, itu karena keadaan gadis itu.


Alessia tidak pernah menceritakan keadaan nya, tapi karena kecerobohan gadis itu membuat dirinya menemukan amplop berisi laporan kesehatan gadis tersebut.


Operasi?!.


wanita itu memejamkan bola matanya.


Saat dioperasi ada dua kemungkinan.


Jika gagal maka Alessia Meninggal.


Jika berhasil maka Alessia kehilangan masa depan nya, tidak ada lagi harapan untuk bisa hidup, menikah dan menjadi perempuan seutuhnya.


"Tapi..."


"Aku yakin Allah sudah punya rencana indah untuk semua orang bi, aku juga yakin langit tidak selalu menjadi gelap, akan ada masa langit gelap berubah menjadi terang benderang"


Setelah berkata begitu Alessia langsung melepaskan genggaman tangan bibinya, namun wanita itu seolah tidak mau melepas genggaman nya, dia menggelengkan kepalanya sembari terus meneteskan air matanya.


"Noo please..."


"Maafkan aku"


Alessia melepaskan genggaman tangan mereka secara perlahan kemudian mulai beranjak menjauhi wanita tersebut.


"Jaga Agnes untuk ku juga keponakan Ku hmmm"


*****


Tidak aku pungkiri,


Rasa nya mata ku pedas karena tangis yang akan meluncur keluar namun berusaha untuk aku tahan,


Hati ku ingin meledak tapi aku pura-pura kuat dihadapan semua orang,


Aku ini hanya si miskin yang tidak memiliki apa-apa,


terombang-ambing di dunia Allah SWT tanpa tahu arah dan tujuan.


Indah sungguh ketika ajal telah datang, itu arti nya perjuangan di dunia mu telah usai.


Tapi realitanya nyawa ku masih begitu enggan di cabut oleh malaikat Izrail, alasan nya karena Allah SWT masih begitu sayang.


******


Kau pernah benar-benar menangis dalam seumur hidup mu Alessia?!.


Tidak, karena sejak kecil aku ditempah untuk selalu tersenyum tanpa boleh menangis, kata nya dunia ini dan seisinya begitu kejam, jika kamu tidak kuat maka kamu akan terombang-ambing didalam ke fana'han nya.


Lalu kenapa sekarang air mata mu keluar?!.


Aku tidak tahu, kali ini aku hanya tidak bisa menahan nya untuk tidak keluar.