
"Bukan kah kita sudah berdosa karena meng gibah orang?"
Papa Indri tiba-tiba bertanya di tengah keseruan semua orang.
Sejenak semua orang terdiam.
"Tenang Om itu bukan meng gibah, ini nama nya bercerita catat yah Om hanya bercerita soal orang-orang yang sedang viral"
Jawab misca tiba-tiba.
"Nah bagaimana juga bisa begitu?"
"Bisalah Pa, jangan takut Pa nanti kalau Malaikat bilang ini dosa, nanti dosa nya tinggal minta catat di bagi-bagi kan kita berbagi cerita nya sama-sama, jadi dosa nya tinggal di bagi-bagi juga"
Lanjut Indri kemudian membuang pandangannya kembali konsentrasi menghabiskan cemilan yang ada di tangannya.
Alamakkkk.
Papa Indri menggeleng-geleng pelan kepalanya.
Pada akhirnya setelah mereka melewati masa ghibah yang panjang, Mama Helen secepat kilat mengganti pakaian nya dengan daster kesayangan milik nya di kamar Indri.
Gadis itu dan Mama Nur sejenak tertegun melihat wanita cantik itu menggunakan daster sama seperti kebanyakan ibu-ibu yang suka ngerumpi di antara gerobak Manang tukang sayur.
Hanya saja perbedaan nya, wanita paruh baya lebih itu meskipun menggunakan daster mak-mak Rempong satu RT, tetap saja kesan Ibu sosialita nya tidak bisa dihilangkan.
Holang kaya mau di tipu penampilan bagaimana pun tetap holang kaya!!.
Batin Indri.
"Jadi hari ini kita bakal masak apa?"
Tanya Mama Helen cepat.
Wanita itu benar-benar pandai berbaur, dia sama sekali tidak Singkuh berada di rumah yahh terkesan Begitu sederhana itu.
Bisa dibayangkan, mungkin dapur keluarga NAKHEL jelas lebih bagus dari pada rumah milik keluarga Indri, tapi wanita itu sama sekali tidak menampilkan rasa jijik atau bahkan terganggu dengan suasana rumah tersebut.
Bagi nya asalkan bersih dan rapi, tidak berantakan bahkan jorok dia pasti nyaman tinggal disana.
Mama Helen juga berusaha berbaur dengan sebaik mungkin, bercerita soal banyak hal tentang dirinya, putri nya bahkan Abizard.
"Meisya anak yang sedikit sulit jika di ajak ketempat baru, sebab dia harus bersosialisasi dan membiasakan diri ke kamar mandi"
Ucap Mama Helen ketika mereka sudah ada di dapur.
"Kenapa begitu Ma?"
Indri bertanya sambil mengerutkan keningnya.
Mereka duduk di lesehan beralaskan tikar, memetik sayuran sambil mengupas kentang.
Oh shi.t.
Umpat nya pelan dalam hati.
Jangan bilang dia harus benar-benar mengerjakan pekerjaan perempuan.
Bukankah ini tidak lucu?!.
Batin nya lagi.
"Dia tidak bisa kekamar mandi berhari-hari saat berada di tempat baru, mungkin itu penyakit malu-malu kucing"
Ucap Mama Helen sambil terkekeh pelan.
"Mungkin karena dia tidak terbiasa tinggal jauh dari lingkungan rumah, jadi akan sangat sulit membawa dia ke tempat-tempat baru"
"Kalau abizard sedikit sulit mencocok kan perut nya, dia pasti berfikir lama untuk mencoba makanan baru, takut jika itu tidak cocok untuk dirinya"
Lanjut Mama Helen lagi.
Ditengah ke Seruan mereka bercerita, misca tampak memperhatikan tangan semua orang yang terlihat cekatan dalam mengurus olahan bahan dapur.
Tiba-tiba dari arah pintu belakang muncul sosok seseorang.
Berjalan perlahan masuk menuju ke arah dalam dapur, kemudian memilih duduk disamping Indri sambil memperhatikan wajah-wajah serius di sisi kiri dan kanan nya yang sibuk menggosip kan seseorang.
"Jadi kalau makan jajanan pinggir jalan bagaimana Ma?"
Indri bertanya serius ke arah Mama Helen"
"Itu Mama tidak paham, seperti nya harus butuh perjuangan panjang membawa nya untuk bisa menikmati jajanan pinggir jalan"
"Ahhh"
Indri mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mau mencoba mengajak nya pergi?"
Tanya sosok itu kemudian sambil berbisik pelan di samping Indri.
Gadis itu buru-buru menoleh.
"Aku sedang memikirkan.. Ommo.."
Seketika Indri melonjak kaget saat sadar siapa yang ada dihadapan nya saat ini.
Semua orang ikut terkejut saat sadar siapa yang ada di antara mereka kini.