Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Takdir


Firm low officer xxxxxxxx


Jakarta


Banyak Orang bilang


Pertemuan pertama kebetulan


Pertemuan kedua kepastian dan


Pertemuan ke tiga adalah takdir.


Dimas mengerutkan keningnya saat dia melihat sosok seseorang yang sudah Dua kali bertemu dengan nya selama beberapa hari ini.


Seorang gadis yang sama yang membuat bola mata nya tidak bisa lepas menatap sosok nya, duduk di salah satu ruangan pengacara yang tersekat kaca tembus pandang disisi kirinya.


"Gadis itu kenapa disini, Rum"


Dia bertanya pada salah satu rekan kerjanya ketika dia telah melewati ruangan tersebut, bertanya pada perempuan yang ada dihadapan nya itu.


"Kamu mengenal nya?"


Yang dipanggil Arum jelas mengerutkan keningnya.


"Langsung ke inti persoalan nya"


Alih-alih menjawab, Dimas lebih tertarik mendengar jawaban Arum lebih dulu.


"Seorang gadis yang meminta bantuan Wira, dia bilang ini tahun pertama di Minggu pertama setelah 5 tahun tidak kembali ke Indonesia, tapi belum lama kembali ke Indonesia seseorang terus mengusik ketenangan nya, seorang penguntit terus berada di sekitar nya"


Jawab Perempuan itu cepat.


"Setelah tertangkap basah penguntit Tersebut jelas bersikeras berkata tidak bersalah"


"Resiko orang cantik, tapi sepertinya pilihan nya pada pengacara Wira jelas tidak baik, aku takut laki-laki itu memanfaat gadis muda itu"


Lanjut perempuan itu lagi.


"Berikan kasus nya pada ku.


Ucap Dimas tiba-tiba.


"Ya?"


Perempuan itu jelas terkejut dengan permintaan Dimas.


"Itu mungkin terdengar tidak baik, Wira bisa-bisa mengamuk saat kamu mengambil klien nya"


"Katakan saja, dia calon tunangan ku"


Jawab Dimas begitu enteng, Laki-laki itu meraih map yang diberikan oleh Arum pada nya .


"Berikan berkas nya kepada ku, tidak lebih dari 30 menit dan biarkan gadis itu masuk keruangan ku"


Perempuan itu jelas serba salah.


"Nama gadis itu Syahnaz, aku yang akan mengatasi persoalannya,Jangan khawatir soal itu"


Setelah berkata begitu, Dimas langsung melesat pergi meninggalkan Arum dengan kebingungan nya.


*****


Syahnaz agak bingung saat seorang perempuan mendekati dirinya dan berkata berkas nya telah berpindah dan kasus nya akan di tangani oleh pengacara yang berbeda.


Bisa dia lihat gurat kekecewaan dan sedikit kemarahan di balik pengacara yang seharusnya menangani kasus nya.


Tapi yang membuat suasana hati laki-laki pengacara itu menjadi sedikit mendingin dan malu karena perempuan itu berkata.


"Calon tunangan anda, mas dewa akan mengurus sendiri Kasusnya"


"Ya?"


Syahnaz jelas terkejut setengah mati, wajah nya sedikit memerah, dia ingin protes dan berkata dewa mana?.


Tapi Perempuan itu seolah-olah memberikan dia kode agar dia tidak membantah ucapan nya.


Entah ada apa dengan sosok laki-laki didepan nya Syahnaz tidak tahu, tapi melihat ekspresi Perempuan itu seketika membuat Syahnaz terdiam.


"Kamu kekasih dewa?"


Laki-laki itu bertanya sambil mengerutkan keningnya.


Syahnaz lebih memilih diam, menundukkan pelan kepalanya dan berjalan mengikuti Langkah perempuan tersebut Menuju ke ruangan kaca yang berbeda.


Dia berjalan sedikit kikuk dan bingung menuju ke satu pintu dihadapan nya, mencoba mengingat-ingat siapa yang bernama dewa yang dikenalnya.


Begitu pintu tersebut terbuka, bisa dia lihat sosok laki-laki dengan pakaian jas tapi penuh kharismatik tampak duduk sambil berfokus pada layar laptop nya.


Syahnaz tidak begitu bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki tersebut, Karena posisi laki-laki itu yang sedikit menundukkan kepalanya.


Laki-laki itu bahkan Sama tidak menyadari kehadiran Syahnaz yang mulai bergerak mendekati dirinya.


"Permisi, pak"


Ucap Syahnaz pelan sambil terus berdiri di hadapan meja kerja laki-laki tersebut.


Begitu mendengar suara seseorang mengejutkan dirinya, Dimas buru-buru mendongakkan kepalanya.


Seketika bola mata mereka bertemu untuk beberapa waktu.


Syahnaz jelas terkejut dengan sosok yang ada dihadapan nya itu.


Sedangkan Dimas langsung mengembangkan senyuman nya.


Jika Pertemuan pertama merupakan sebuah kebetulan belaka, Apakah pertemuan kedua menjadi sebuah kepastian yang tak di sengaja? dan apakah Pertemuan ke tiga merupakan takdir untuk kita?.