Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
99.Sebuah Takdir


...Happy Reading...


Rasa ketakutan pada diri seorang Nicholas seolah semakin membesar dan begitu menyesakkan di relung hatinya.


Saat ini dia sudah duduk dibarisan terdepan bersama Ayah Alisya dan juga Abah, mereka masih menunggu warga sekitar yang masih terus saja berdatangan sedari tadi.


"Assalamu'alaikum Bang Nick?" Bisik Sholeh yang langsung duduk menyela diantara para santri yang duduk disamping barisan Nicholas.


"Sholeh? akhirnya kamu datang juga?" Entah mengapa dia rindu dengan anak itu, apalagi dengan akal-akal cerdiknya yang dulu selalu membantu mereka saat tinggal di Pondok Pesantren itu.


"Tadi saya datang agak telat Bang, tapi saat melihat mobil Abang terparkir didepan sana aku langsung mencari keberadaan Abang, owh ya.. tumben sekarang Abng memilih sholat di barisan paling depan? Abang mau jadi imam ya?" Ledek Sholeh yang tahu kebiasaan mereka dulu yang sering memilih dibarisan paling belakang.


"Kok tahu?" Tanya Nicholas yang langsung mengusili Sholeh dengan memiringkan peci yang dia pakai.


"Cie, yang udah siap jadi imam, abang yakin ingin melakukannya?" Tanya Sholeh yang sebenarnya sangat bahagia jika mereka datang ketempat ini, karena dia masih belum jadi berangkat ke kota, dia masih menunggu saat pendaftaran kuliah tahun ajaran baru dibuka.


"Tentu saja, walau Abang masih ragu tapi Abang akan mencobanya?" Jawab Nicholas dengan mantap, apapunakan dia jabani jika itu tentang Alisya dan juga tentang kebaikan.


"Bagus lah itu, demi apa?" Tanya Sholeh selanjutnya.


"Kok demi apa?" Nicholas langsung memicingkan kedua matanya, seolah bocah itu tahu segala apa yang ada diotaknya.


"Nggak mungkin Abang mau jadi imam kalau nggak pake syarat, diantara para santri disini, aku yang tahu banyak soal abang Nicholas dan juga Abang Jeremy, mana dia sekarang? Sholeh rindu dengan kalian berdua?" Kalau mereka tidak sedang berada didalam Masjid, mungkin Sholeh sudah memeluknya dengan erat.


"Haish... kamu ini, mau tahu aja, Abangmu yang satunya belum datang, mungkin dia masih dalam perjalanan kemari." Jawab Nicholas sambil merangkul bahu Sholeh.


"Hehe... jadi alasannya tadi apa, aku penasaran nih Bang!" Tanya Sholeh kembali.


"Mbakmu Alisya lah, siapa lagi!" Bisik Nicholas kembali, mereka seolah seperti orang yang sedang berpacaran karena terus saja saling berbisik sedari tadi.


"Hmm... sudah aku duga, kalian berdua memang tidak jauh berbeda." Sholeh tersenyum miring mendengarnya.


"Maksud kamu?"


"Abang dengan Bang Jeremy itu tidak ada bedanya, mau menerima ujian pasti hanya karena masalah wanita."


"Apa itu termasuk dalam golongan dosa?" Tanya Nicholas yang langsung penasaran.


"Ya enggaklah, setidaknya kalian mencoba lebih baik dalam hal kebaikan, daripada tidak sama sekali ya kan?" Sholeh memang anak yang baik, tidak pernah mau menyudutkan seseorang dalam hal apapun.


"Tapi aku masih grogi Sholeh, ada tips atau saran nggak biar aku nggak gemetaran nanti saat jadi imam." Dia tahu kalau Sholeh itu anak yang cerdas dan selalu mendapatkan cara-cara jitu dalam segala hal.


"Nggak ada sih, anggap saja Abang seperti menjalankan sholat biasa aja, tapi niatnya menjadi imam." Jawabnya dengan santai.


"Itu saja? apa nggak ada yang lebih spesifik lagi, yang lebih mendetail gitu, bantuin Abang dong?" Nicholas berulang kali menyenggolnya.


"Ada."


"Apa itu? cepat katakan!" Tanya Nicholas dengan semangat.


"Setelah suara Iqamah dikumandangkan, Abang jalan aja lurus kedepan, jangan pernah punya niatan untuk menoleh kebelakang, okey."


"Hah? emang kenapa?" Tanya Nicholas yang semakin penasaran.


"Lakukan saja sesuai saran dariku Bang, jangan lupa baca bismilah yang banyak dan niat yang benar, anggap saja Abang hanya mengimami calon istri Abang yang paling Abang cintai itu, mengerti Bang." Sholeh menepuk lengan pria yang sudah dia anggap kakak sendiri itu.


"Tapi kenapa aku nggak boleh menoleh kebelakang Sholeh, apa masalahnya?"


"Tidak ada, hanya saja mungkin itu akan sulit untuk Abang."


"Kamu ini niat mau ngasih penjelasan atau tidak sih?" Umpat Nicholas sambil melotot kearah Sholeh, dia memang sering memberikan teka-teki dalam setiap hal.


"Ini kan cuma saran Bang, terlepas itu semua terserah Abang sajalah, yang pasti aku mendukung Abang, ayo Bang sekarang ambil posisimu, aku yang akan mengumandangkan Iqamah kali ini." Sholeh tiba-tiba bangkit dari duduknya, saat sudah memasuki waktunya.


"Loe atur aja dah!" Umpat Nicholas yang merasa sedikit kesal, karena Sholeh tidak memberikan penjelasan yang dia pahami.


Seperti biasa kalau suara Sholeh memang tidak perlu diragukan lagi, suaranya bahkan melengking dengan merdunya, membuat siapapun yang mendengarnya akan berucap kagum dengan anak itu.


Sebenarnya kenapa aku tidak boleh menoleh kebelakang, memang dibelakang ada apanya?


Saat mengambil posisi menjadi imam, Nicholas seolah penasaran, apa yang terjadi dibelakang mereka, kenapa Sholeh sampai menyarankan hal seperti itu pikirnya.


Lihat nggak ya? nggak usah aja deh? ngikut saran Sholeh aja deh, tapi... aku kok penasaran banget, ada apa sebenarnya, jangan-jangan tu bocah cuma mau menjahiliku saja kan?"


Wing!


Dengan berpura-pura membenahi peci diatas kepalanya, Nicholas nekad menoleh kearah jamaah dibelakang.


Haaaahh? kenapa banyak sekali jamaahnya?


Setelah suara Iqamah itu hampir saja selesai Sholeh kumandangkan, Nicholas merasa kepalanya tiba-tiba pusing, pandangannya terasa kabur, tubuhnya pun terasa ringan dan terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi.


Bruk!


Glodak!


Tubuh Nicholas jatuh, bahkan kepalanya sedikit terbentur mimbar didekatnya, akhirnya dia pingsan dan tidak sadarkan diri seketika.


"Haish... sudah aku bilang jangan menoleh kebelakang, tapi dia nekad juga, memanglah dua pria dewasa itu tidak ada bedanya, sama-sama bucin dengan seorang wanita, dan sama-sama pingsan disaat waktu yang tidak tepat." Umpat Sholeh sambil menggelengkan kepala sebelum dia mendekat kearah tempat Imam.


"Astaga, bocah yang satu ini, Sholeh angkat Abangmu itu ke kamar kamu sana." Ucap Abah seketika.


"Baik Abah!" Sholeh dengan dibantu salah satu santri disana membantu mengangkat tubuh Nicholas untuk keluar dari masjid itu.


"Huh... belum apa-apa sudah pingsan duluan, aku harap kalau kelak dia punya niatan ingin menyakiti putriku suatu saat nanti, dia akan pingsan duluan juga."


Karena merasa kesal Ayah Alisya tanpa sadar mengumpat Nicholas, namun dia juga tidak punya hak untuk memaksakan kehendaknya, Ayah Alisya hanya mampu mengusap dadaa dan mengambil posisi untuk menggantikan Nicholas menjadi imam dalam sholat berjamaah siang itu, karena dalam beberapa hari ini Abah memang sedikit kurang enak badan, jadi sering meminta Ayah Alisya untuk menggantikannya.




Tak selang beberapa waktu Nicholas mulai mencium bau minyak kayu putih dan mulai mengerjabkan kedua matanya perlahan.



"Abang sudah sadar, ayo minum dulu Bang?" Sholeh memberikan segelas air putih hangat kepada Nicholas.



Sholeh yang sedari tadi dengan tlatennya mengusap-usapkan minyak kayu putih ke hidung Nicholas merasa lega karena sudah melihat adanya tanda-tanda kehidupan dari Nicholas.



"Alisya.. sayang?" Saat matanya baru saja terbuka, nama yang dia sebut untuk pertama kalinya sudah pasti kekasih hatinya.



"Hmm... aku disini mas." Alisya berjalan mendekat dan duduk disamping tubuh Nicholas yang terbaring di ranjang.



"Aku kenapa?" Tanya Nicholas yang merasa bingung, karena tiba-tiba dia sudah ada disebuah kamar santri.



"Kamu pingsan Bang, sesaat sebelum menjadi imam sholat dzuhur tadi, apa Abang lupa?" Sholeh kembali membuka suara.



"Pantesan kepalaku pusing yank." Nicholas langsung memiringkan tubuhnya menghadap Alisya lalu memeluk perutnya dan mengungselkan wajahnya dipangkuan ternyaman baginya.



"Pusing banget nggak, soalnya kepala mas tadi sedikit benjol karena terbentur oleh mimbar masjid." Alisya mencoba memeriksa benjolan di kepala Nicholas.



"Hei... jauhkan tubuhmu dari putriku!"



Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sudah Nicholas tebak siapa orangnya.



Degh!



*Astaga, apa setelah ini aku tidak akan mendapatkan restu dari Ayah Alisya? aduh... apa sebaiknya aku pura-pura pingsan lagi aja*? Nicholas hanya bisa memaku ditempat sambil memejamkan kedua matanya.



"Ayah, jangan memarahinya, kepalanya masih bengkak ini." Alisya mencoba membela kekasihnya.




"Huft... Sholeh, bantu kompres Abangmu lagi ya, masih bengkak banget ini." Alisya tidak berani membantahnya, apalagi ini dilingkungan Pondok Pesantren, dia boleh masuk keruangan ini saja sudah syukur banget pikirnya.



"Baik kak." Sholeh kembali mendekat ke arah Nicholas.



"Sayang, kita balik ke kota aja yuk?" Rengek Nicholas dengan manja.



"Nggak! mulai sekarang tidak akan aku biarkan kalian hanya berduaan saja di kota sana!" Ucap Ayah Alisya seolah memberikan ketegasan.



*Habislah aku*!



"Ayah... maafkan aku, aku tadi sebenarnya bersedia kok jadi imam, tapi entah mengapa aku tiba-tiba pingsan, mungkin aku sedang masuk angin Ayah, jangan gara-gara itu Ayah jadi melarang aku untuk berhubungan dengan Alisya, tolonglah Ayah." Nicholas mencoba memohon.



"Sebelum kamu menunjukkan usahamu untuk menjadi imam yang baik untuk Alisya, jangan lagi memanggilku dengan sebutan Ayah lagi, paham kamu!"



"Pfftthh... Abang sih nggak mau dengerin saran dariku?" Sholeh malah tersenyum saat melihat wajah Nicholas kembali pucat.



"Maksud kamu apa Bocil?"



"Bukannya aku sudah berpesan tadi, apapun yang terjadi jangan menoleh ke belakang, karena Abang pasti akan terkejut, selama aku tinggal disini, baru kali ini ada jamaah luar yang ikut sholat bersama sampai memenuhi Aula Pondok Pesantren ini, aku saja kaget apalagi Abang kan?" Bisik Sholeh disamping telinga Nicholas.



"Tadi saat aku datang belum sebanyak itu Sholeh? dan ini kali pertama aku menjadi imam, kalau sebanyak itu jamaahnya siapa yang nggak gemetaran?"



"Itu kenapa aku menyarankan Abang untuk tidak menoleh ke belakang."



"Haish... aku malu sekali Sholeh." Ucapnya sambil mendengus kesal.



"Masih punya malu kamu, wahai anak muda?" Ayah Alisya kembali menyahutnya.



"Ayah, aku sungguh-sungguh minta maaf."



"Padahal aku sudah mengatakan kepada Abah, setelah kamu selesai menjadi imam di sholat berjamaah siang ini, aku akan menikahkan kamu dengan putriku didepan semua jamaah."



Karena memang itu rencana Ayah Alisya sedari kemarin menyuruh mereka pulang, dia tidak ingin putrinya di kota salah langkah dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan sebelum menikah.



"Benarkah? astaga.. maaf Ayah, itu diluar kuasaku, tapi aku masih boleh menjalin hubungan dengan putri Ayah bukan?" Rengek Nicholas dengan wajah memelas.



"Tidak semudah itu!" Ayah Alisya langsung bangkit dari tempat duduknya dan ingin pergi keluar dari ruangan itu.



"Ayah, jangan begini, tolong maafkan aku?"



"Jangan meninggikan suaramu!"



"Ayah mau kemana?" Alisya hanya bisa menghela nafasnya berulang kali melihat perdebatan dua pria yang dia sayangi.



"Ayah mau ke----" Ucapannya terhenti saat melihat seorang wanita yang berjalan cepat kedalam ruangan itu dengan diikuti seorang pria dibelakangnya.



"Assalamu'alaikum, Bandhit are you okey, katanya kamu pingsan tadi?"



Krompyang!



Tiba-tiba langkah Ayah Alisya langsung terhenti, bahkan karena terlalu terkejut dia menyenggol gelas yang berisi air putih sisa yang diminum Nicholas saat dia baru sadar tadi.



"Astaga Ayah, ada apa?" Alisya pun ikut terkejut, tapi bukan karena kedatangan Hanny disana.



*Apa dia benar-benar anaknya Diana Claire? wajahnya memang tidak asing bagiku, dia mengingatkan aku dengannya, astagfirullahal'adzim.. apa dunia sesempit ini*?



Kemarin Ayah Alisya tidak begitu jelas menatap wajah Hanny, karena dia masih didalam mobil, tapi kali ini Ayah Alisya bisa melihat dengan jelas wajah Hanny dalam jarak terdekat.



"Ka.. kalian berdua bukannya yang kemarin berada didalam mobil bergoyang itu?" Tanya Ayah Alisya mencoba memastikan.



"Hah? Mobil bergoyang? maksud Ayah gimana?" Alisya langsung melongo seolah tidak paham maksud dari Ayahnya.



*Ya ampun, ternyata beliau adalah ayah dari Alisya, aish.. mau aku taruh dimana mukaku ini*?



Hanny mencoba menenangkan diri ditempat.



"Astaga, malu sekali aku." Hanny menundukkan kepalanya sejenak. "Eherm... bisa kita bicara sebentar pak?" Alisya tidak ingin aibnya kemarin diceritakan didepan orang, jadi dia berencana kongkalingkong dengan ayah Alisya.



*Apa kamu adalah anakku, wajahmu begitu mirip dengan Diana dan warna kedua matamu begitu mirip denganku*?



"Baiklah, ikuti aku!" Ayah Alisya langsung berjalan keluar mendahuluinya.



*Jika memang benar dia anakku, mungkin ini sudah jalan-Nya untuk mempertemukan aku dengan darah dagingku yang belum pernah aku temui selama ini, dia tidak bersalah, dia tidak berdosa karena aku yang salah dalam hal ini, maafkan aku nak.. maafkan aku yang sudah gagal menjadi seorang ayah yang baik*.



Alisya kembali dibuat melongo saat melihat sikap dari Ayahnya, tidak biasanya beliau bersikap seperti itu dan kecurigaan Alisya seolah semakin bertambah, hingga akhirnya diam-diam dia mengikuti mereka dari belakang, meninggalkan kekasihnya yang masih terbaring didalam sana.