Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
67. Tetangga Sebelah


...Happy Reading...


Kekesalan seorang Alisya tidak cukup sampai disitu saja, karena Nicholas benar-benar sengaja ingin menggoda Alisya malam itu.


Walaupun itu kamar VIP dan memiliki ukuran yang luas, namun tetap saja didalam kamar itu hanya ada satu ranjang dan satu kamar mandi. Dan disinilah pertempuran mereka season ke dua kembali di mulai.


"Wah... gerah banget, aku mau mandi dulu lah, atau kamu mau mandi duluan Alisya?" Nicholas pura-pura menawarkan terlebih dahulu."


"Anda saja duluan tidak apa-apa, aku bisa menunggu."


Karena bukan didalam rumahnya sendiri dan ada orang yang bukan mahromnya sudah pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk mandi dan menggunakan hijab didalam kamar mandi pikirnya.


"It's okey, ladies first!" Jawab Nicholas dengan santainya.


"Benarkah? baiklah, terima kasih kalau begitu aku duluan." Alisya yang memang merasakan tubuhnya lengket karena berkeringat seharian memang ingin segera mandi biar tubuhnya terasa segar.


"Silahkan."


Nicholas mempersilahkan Alisya dengan senyum penuh dengan kelicikan, karena entah mengapa sedari awal mereka bertemu, Nicholas memang sudah tertarik dengannya.


Setelah beberapa menit berlalu, terdengar suara guyuran air dari shower di dalam kamar mandi tersebut, karena Alisya memang ingin mencuci rambutnya, setelah seharian menggunakan hijab tertutup, kepalanya memang berkeringat, jadi agar rambut tidak gatal dan bau setiap malam dia memang selalu mandi keramas.


Tok


Tok


Tok


Disaat lagi nanggung-nanggungnya Nicholas sengaja mengetuk pintu kamar mandi itu dengan sedikit drama.


"Alisya, aku kebelet ini, cepat buka pintunya!" Teriak Nicholas yang membuat Alisya kembali mengepalkan kedua tangannya.


"Bisa nggak nunggu lima belas menit lagi, aku masih keramas pak." Jawab Alisya yang berteriak dari dalam.


"Nggak bisa, udah di ujung ini, buruan keluar atau aku keluarkan disini sekarang juga, biar nanti malam kita nggak bisa tidur karena mencivm bau busuk?"


"Aish... Aku baru keramas pak, belum apa-apa lagi?" Alisya menjawabnya dengan lemas, andai disana ada bak mandi besar sudah pasti dia akan menyelam didalamnya agar cepat selesai.


"Heleh.. Ngapain juga keramas, orang masih ori belum dipakai juga, aku nggak mau tau cepat kamu keluar Alisya, aku sudah tidak tahan lagi." Teriak Nicholas bahkan sampai menggebrak pintu itu.


"Astaga, numpang aja dulu di kamar Hanny pak, ini lagi nanggung banget, mana kepala masih banyak busa, nanti hijabku jadi berbusa." Alisya masih mencoba untuk sabar.


"Disana kamar mandinya juga sedang dipakai Alisya, ayo bukak pintunya, atau kita kongsi aja gimana, kamar mandinya kan luas itu, aku janji deh nggak akan mengintip, lanjutkan saja keramasmu itu?" Padahal Nicholas hanya bersandiwara saja, bahkan dia tidak tau kamar mandi di ruangan Jeremy dipakai atau tidak.


"Enak aja, nanti bapak lihat auratku, padahal hanya suamiku yang boleh melihatnya nanti." Alisya memang sangat tertutup kalau soal aurat.


"Ya udah, besok kamu aku nikahin deh, jadi sekarang nyicil dulu." Ucap Nicholas dengan mudahnya, bahkan sambil menyunggingkan senyumannya.


"Hidih... emang siapa yang mau nikah sama bapak?" Umpat Alisya yang biasanya kalem akhirnya jadi banyak bicara kepada lawan jenis.


"Trus mau kamu gimana, udah pembukaan tiga ini Alisya, bentar lagi mbrojol, buruan buka!" Nicholas semakin meninggikan suaranya.


"Aish... Nyebelin banget bapak ini, tadi disuruh mandi duluan nggak mau, ini lagi nanggung-nanggungnya malah digangguin." Alisya langsung mengambil baju dan hijabnya kembali.


"Kamu marah denganku Alisya? kata Abah kalau orang sukanya marah-marah itu temannya setan loh, mau kamu berteman dengan mereka?" Ledek Nicholaa kembali.


"Fuuhh... sabar... sabar..."


Alisya langsung memakai kembali baju dan hijabnya, dia tidak perduli jika baju dan hijabnya basah dan berlumuran sabun, yang penting auratnya tidak terlihat oleh Nicholas.


"Alisya!"


Nicholas kembali mengeraskan suaranya, hingga membuat wanita itu mengusap dadaanya berulang kali.


"Iya.. Iya.. Ini sudah keluar, sana buruan masuk, nanti cepat gantian." Alisya hanya bisa menebalkan rasa kesabarannya, karena sedari kecil dia sudah diajarkan tentang arti kesabaran di dalam hidupnya.


"Kenapa nggak pake handuk aja, lihat air sabun dari rambutmu menetes itu, nanti kalau lantainya licin bagaimana?" Bahkan Nicholas seolah tidak merasa beraalah karenanya.


"Trus aku harus bagaimana bapak Nicholas yang terhormat, tadi katanya udah kebelet?"


"Pfftthh... iya tapi kan kamu bisa gulung dulu rambutmu pakai handuk wahai dedek Alisya yang kalau lagi cemberut tambah jelek!" Semakin Alisya merasa kesal maka semakin senang hati Nicholas untuk menggangunya.


"Allohu Akbar, Ya Tuhan semoga darahku tidak cepat naik!"


"Alisya, kamu tidak mendengarkan ucapanku, lantainya jadi basah itu." Nicholas menunjuk lantai disana karena memang benar-benar basah.


"Nanti saya pel bapak, semakin anda berlama-lama disini maka semakin basah lantai ini, bisa-bisa banjir karena air dari rambutku."


"Cih... mau ngelawak kamu, masak banjir gara-gara air dari rambutmu, nggak lucu Alisya!" Cibir Nicholas kembali dengan gayanya yang sok cool.


"Owh Tuhan, ampunilah dosa-dosa hambamu ini dan ampunilah orang-orang yang ingin berbuat dzolim kepadaku." Alisya ingin berlalu, namun Nicholas langsung mencegahnya.


"Kamu doa in aku jelek Alisya? asal kamu tahu aja, kata Abah saat kita mendoakan jelek kepada orang lain, maka kejelekan itu akan datang ke diri kita sendiri, werk!" Nicholas tidak kehabisan pembicaraan, padahal dia orang yang biasanya malas berdebat dengan wanita, karena tidak pernah bisa menang, apalagi dengan Hanny.


"Kalau anda terlalu banyak bicara saya masuk lagi nih, biar bapak kebelet disini mau?" Alisya kembali mengancamnya.


"Dih... masuklah sono, aku udah mager, nggak jadi kebelet, aku mau baring aja dulu, awas minggir!"


Dengan santainya Nicholas berjalan santai dan melenggang menuju ranjang king size di kamar itu dan menelentangkan tubuhnya disana, karena memang sebenarnya dia tidak kebelet tadi, hanya pura-pura saja.


"Ya ampun, apa dia hanya ingin mengerjaiku saja? Awas kamu ya!"


Alisya bahkan tanpa sadar langsung menendang kamar mandi itu untuk membuka pintunya, sebagai bentuk rasa pelampiasan atas kekesalan dari kelakuan Nicholas.


Padahal niat awalnya dia yang mau menguji Nicholas, namun kenyataannya Nicholas lah yang terus menerus menjadi ujian baginya.


Setelah drama kamar mandi selesai Alisya sudah siap untuk merebahkan tubuhnya yang terasa sangat capek karena melakukan perjalanan yang cukup jauh tadi.


"Hei... basah nanti bantalnya, rambut kamu masih basah kan?" Nicholas langsung mulai protes.


"Udah aku keringkan tadi." Alisya sengaja mengeringkan rambutnya saat Nicholas sedang mandi tadi.


"Kamu mau tidur pakai hijab begitu?" Tanya Nicholas yang sebenarnya semakin kagum dengannya.


"Iyalah, emang kenapa?"


"Emang nggak gerah?"


"Nggak, sudahlah jangan hiraukan aku, lebih baik bapak istirahat saja." Alisya memilih tidak banyak bicara, karena dia sudah malas berdebat dengannya, dia hanya berharap jika malam ini segera berakhir dan dia bisa segera kembali pulang ke rumah kakeknya.


"Terserah deh."


Hup!


Nicholas langsung melompat dan membanting tubuhnya disamping Alisya. Dan disinilah drama mereka yang kesekian kalinya mulai berlangsung kembali.


"Argh...!"


Alisya sontak berteriak dan melindungi tubuhnya menggunakan kedua tangannya.


"Ngapain bapak tidur disini?"


"Jadi dimana, ranjangnya cuma satu Alisya?"


"Kan bisa tidur di sofa sana!"


"Nggak mau aku, kakiku terlalu panjang untuk tidur di sofa sekecil itu."


"Tapi pak?"


"Kalau kamu mau silahkan aja tidur di sofa?"


"Aku laporin bapak sama Hanny ya?"


"Laporkan saja, aku tidak masalah!"


"Beneran ini, aku datangi ke kamarnya, bapak ini masak cowok nggak mau ngalah?"


"Terserah kamu saja, siapa suruh nggak mau tidur satu ranjang, orang lebar banget gini kok, masak nggak mau berbagi, dasar pelit kamu!"


Nicholas tidak mau tahu, dia tetap saja tidak mau berpindah, bahkan dia sengaja mengeratkan pelukannya dengan bantal guling dihadapannya.


"Bukan pelit, tapi kita belum mahrom pak?" Alisya mencoba untuk bernegosiasi dengan pria itu walau terlihat sangat sulit.


"Kan kita nggak ngapa-ngapain Alisya, kecuali kalau kamu tidurnya suka ngelindur sambil meluk-meluk orang gitu, baru bermasalah." Nicholas tetap tidak mau mengalah sampai titik penghabisan.


"Astagfirulloh, aku tidak seperti itu ya pak!" Dia kembali merasa tidak terima.


"Ya sudah kalau begitu kita tidur saja satu ranjang, apa susahnya, kita batasi pakai bantal guling ya?" Nicholas langsung menaruh bantal guling ditengah-tengahnya.


"Haish... Aku mau ke kamar Hanny aja lah!"


"Sono, kalau mau gangguin orang sedang malam pertama, bawa ponsel sekalian biar bisa mengabadikan, nanti kalau kamu sudah menikah, bisa ditiru gayanya!"


Alisya benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu, kebetulan di lantai itu cuma ada dua ruangan VIP itu saja, jadi Alisya tidak mungkin salah kamar nantinya.


"Hanny.. oh my Hanny, eurm... aw... uwah... hempt!"


Baru saja Alisya ingin mengetuk pintu kamar itu, namun sudah terdengar suara-suara yang membuat bulu kuduknya merinding.


"Aish... Wanita itu kalau sudah mende sah memang jagonya!"


"Astagfirullah, bapak ini ngagetin aja." Alisya langsung tersentak karena tubuh Nicholas ternyata sudah berada tepat dibelakang tubuhnya.


Pikiran Nicholas langsung flashback dengan video Hanny yang pernah dia lihat dari ponsel milik Dinar dan bisa membayangkan betapa hebatnya gaya Hanny saat membuat pria-pria berhidung belang itu kuwalahan dan akhirnya pasrah dengan senyuman, apalagi Jeremy yang masih polos belum ternoda itu, sudah pasti dia kalang kabut dibuatnya.


"Kenapa nggak jadi, ketuklah?" Tanya Nicholas yang langsung tersenyum melihat ekspresi Alisya.


"Sttthh... jangan berisik pak, mereka sedang..." Alisya seolah ragu ingin mengatakannya.


"Mas... jangan kebanyakan gaya, nanti ininya sakit loh!"


Terdengar kembali suara Hanny yang membuat kedua manusia yang ada didepan pintu itu tanpa sadar menelan air ludahnya sendiri.


"Pffthhh...gila, masih jam segini udah tempur aja mereka, sengaja mau pamer dan bikin orang kepengen!" Nicholas langsung mengusap tengkuknya yang mulai meremang dengan sendirinya.


"Hush, bapak ini pikirannya!"


Dan Alisya masih mencoba berfikir positif, walau sebenarnya hatinya pun mengatakan kalau mereka pasti sedang melakukan sunnah rosul setelah kata Sah mereka dapatkan.


"Pengen tidur doang Alisya, kamu tuh pikirannya yang ngeres, hayoloh... ngaku kamu, haha!" Nicholas langsung meledek Alisya yang wajahnya ternyata sudah memerah karena menahan malu.


"Apaan sih!"


Alisya merasa bahwa Nicholas bisa membaca pikirannya dan akhirnya dia memilih untuk kembali masuk kedalam kamar mereka biar tidak semakin malu.


"Ya sudah, biar aku yang tidur di sofa aja."


Alisya memilih mengalah dan mengambil bantal dan juga selimut untuk dia bawa ke sofa.


"Good night, Alisya Omes!" Ledek Nicholas hanpa henti.


"Omes apaan?" Tanya Alisya yang memang asing dengan kosa kata itu.


"Otak mesvm, hehe!"


"Ckk... Apaan sih, nggak jelas banget!"


Alisya tidak mau ambil pusing ocehan dari Nicholas, dia memilih tidur meringkuk diatas sofa dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Tidak butuh waktu yang lama, Alisya sudah terlelap, karena memang dia merasakan kecapekan seharian ini.


"Alisya? Hei... Apa kamu sudah tidur?"


Namun tidak ada jawaban apapun darinya, sehingga Nicholas memberanikan diri untuk bangun dan mendekati dia di kursi Sofa.


"Beneran ***** dia, baru nempel aja udah molor!"


Nicholas langsung mengangkat tubuh Alisya perlahan dan memindahkan dia ke atas ranjang itu, agar tidurnya lebih nyaman, Nicholas todak akan sekejam itu dnegan wanita yang berhasil mencuri hatinya, dia hanya ingin sekedar berbicara dengan Alisya saja, yang memang seolah tertutup dengan pria.


"Hmm... wajahmu terlihat biasa aja, tapi kenapa saat melihatmu aku selalu tertarik, bahkan kamu tidak pandai berias, namun wajah kamu sudah terlihat bersinar dimataku."


Nicholas sengaja duduk disamping wajah Alisya untuk mengamati wajahnya dari jarak terdekat.


"Demi nama Alloh dan Rosullulah, semoga suatu hari nanti kita berjodoh ya Alisya, amin."


Nicholas sengaja meniup ubun-ubun milik Alisya dan mengusap kepala Alisya yang masih berlapiskan hijab setelah berdoa, berharap Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doanya.


Dan akhirnya Nicholas menarik kursi sofa itu disamping tempat tidur Alisya, agar dia bisa tidur terpisah namun tetap bisa memandang Alisya dari jarak dekat.


"Hedeh... andai aku juga dinikahkan sama Abah, mungkin aku juga sudah mende sah seperti tetangga sebelah, aish... apa hotel ini nggak ada alat kedap suaranya ya, kenapa suara tetangga sebelah lebih syahdu daripada suara deburan ombak malam ini, ckk... Sabar ya Tong, belum saatnya, fuuh... Ngelu Aing!"


Tidak ada yang bisa Nicholas lakukan selain memiringkan tubuhnya, dan juga menjepit burung peliharaannya agar tidak berulah.


Dan memilih menarik selimutnya kembali, untuk menutupi seluruh tubuhnya dan menyisakan kedua matanya saja, agar tetap bisa melihat wajah cantik Alisya yang kini ada dihadapannya.


Sedikit banyaknya dia juga ikut mempelajari tentang ilmu agama, dia hanya ingin mengerjai Alisya saja tadi, bukan bermaksud kurang ajar apalagi merenggut mahkota darinya atau apapun itu.


Karena sebaik-baiknya pria adalah dia yang bisa menjaga wanitanya sampai menjadikan Ia halal untuknya.


Seorang pria yang bisa menjaga kehormatan dirinya maupun kehormatan perempuan yang menjadi idamannya adalah pria yang telah berpikir dewasa, bijaksana dan tentunya tak pernah main-main dengan perasaannya.


Pria ini tahu betul mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan dengan idamannya sebelum keduanya resmi menjadi suami istri.


Jeremy said: Kecuali kalau khilaf dan lupa?