
Dan hanya penyesalan dengan apa yang sudah ia keluarkan melalui mulut busuknya,benar...bahwa masa lalu bukanlah jaminan baik buruknya ia berkelakuan.Masa lalu adalah pelajaran yang bisa menjadikan ia berpikir lebih dewasa dan berubah untuk lebih baik.
Memandangnya dari masa lalunya yang kelam saja membuatnya buta akan perubahan yang terjadi pada gadis itu,mulai dari penampilan hingga tingkah lakunya.Ya ia buta,ia juga bermulut busuk.Bahkan lebih buruk dari masa lalu wanita yang di cintai putranya.
Dan di sinilah ia sekarang,duduk berdampingan dengan wanita yang di puja-puja putra semata wayangnya."Rio benar,kaulah perempuan berhati malaikat.Maafkan saya dan suami saya nak Cinta,hanya karena masa lalumu yang kelam saya jadi bermulut busuk seperti itu.Andaikan saya tahu jika kau sudah mendonorkan ginjal untuk putra saya,maka saya tidak akan pernah menghinamu seperti itu."
Cinta menghela nafasnya berat,"Apapun yang saya lakukan,saya harap ibu tidak memberi tahu Rio,cukup ibu saja yang tahu."
"Kenapa nak? Rio juga berhak tahu atas kebaikan yang telah kamu lakukan itu,"tanya ibu Rio merasa heran.
Tersenyum kecil mendengar penuturan ibunda Rio."Tidak bu,saya hanya ingin apapun yang saya lakukan itu Allah saja yang tahu.Saya tahu Rio lelaki yang baik,suatu saat ia akan tahu sendiri jika sudah saatnya."
"Apa karena kau mencintai Rio,sampai-sampai rela mendonorkan ginjalmu secara percuma?"tanya ibu Rio penasaran.
Mendengar pertanyaan itu,membuat pandangannya menerawang jauh,hingga bayangan masa itu kembali.Ia masih ingat betul kejadian mati suri yang menimpanya waktu itu.
"Cinta,"ibu Rio mengagetkan Cinta yang seperti sedang melamun.
"Eh iya bu maaf."Cinta menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu."Saya tidak pernah berfikir mendonorkan ginjal saya karena saya mencintainya.Bahkan saat itu saya berfikir akan menjauh sejauh mungkin darinya,karena merasa tidak pantas untuknya.Bagi saya membantu seseorang itu sudah kewajiban dan itu janji saya pada mendiang almarhumah ibu saya.Saya ingin memperbaiki hidup saya yang pernah kelam."
Beliau semakin merasa bersalah setelah mendengar penuturan wanita yang ada di sampingnya itu.
"Apa kau mencintai Rio nak Cinta?"
Seketika Cinta menoleh,menatap dalam manik mata yang berwarna kecoklatan itu.Cinta mengangguk ragu sebagai jawabannya.Ragu karena ia sendiri takut jika ibunya Rio akan menghinanya lagi.
Melihat Cinta yang seperti ketakutan,ibunda Rio tersenyum tulus."Aku sekarang percaya bahwa kamu wanita yang tepat untuk anak saya Cinta,dan ibu merestui kalian,"ucapnya dengan menitikkan air mata.
Cinta pun seketika mematung mendengarnya,bagaikan mendapatkan angin segar,wajahnya begitu berseri-seri.
****
Di sebuah cafe,seorang lelaki tengah meneguk minumanannya hingga di tetes yang terakhir dan ia letakkan dengan sedikit menekannya kuat hingga menimbulkan suara agak keras,beberapa karyawan sedikit ketakutan melihat atasannya yang terlihat begitu berantakan.Karena sudah biasa bagi lelaki yang memiliki wajah tampan itu berpenampilan serba mewah,serba rapi dengan pakaian formalnya.Tapi kini ia layaknya gembel yang tinggal di jalanan,padahal sedang berada dalam cafe,semacam 2 bulan tidak pernah merawat dirinya.
Wajahnya kusut layaknya baju yang tidak pernah di setrika,tampang yang biasanya menunjukkan betapa arogannya dia kini berubah.Pandangan matanya sayu,ya laki-laki itu kini terlihat menyedihkan,ia yang begitu terobsesi dengan sosok Cinta,hingga mengira semua wanita yang ia temui adalah Cinta.Tak tanggung-tanggung ia pun menyeret siapa pun wanita itu untuk di jadikan pemuas nafsunya.Gila...ya lelaki itu telah gila.
Radit mendongak,melihat seseorang yang tengah berbicara dengannya."Cinta,"gumamnya.
Ia berdiri,tanpa banyak kata Radit memeluk tubuh karyawannya.
"Tolong lepaskan saya pak,saya bukan mbak Cinta."ia pun terus meronta berusaha melepaskan diri.
Radit geram karena merasa Cinta selalu menolaknya,ia pun menyeretnya kedalam ruangan pribadinya.Dan tahulah apa yang terjadi dengan nasib karyawannya.
****
Di Rumah Sakit tempat ayah Rio di rawat.
Kondisinya semakin membaik dan hari ini beliau sudah di perbolehkan pulang.
"Aku tak sudi melihatmu lagi,pergi dan enyahlah dari hadapanku!"
Mendengar sang ayah masih marah-marah padanya,Rio berusaha tenang.Sebisa mungkin ia harus bisa mengontrol emosinya.Namun melihat Rio yang hanya diam saja,membuat sang ayah berteriak memanggil sang istri.
"Bu..bu,"teriaknya.
Ibu Rio yang habis bertemu dengan Cinta dan kini berjalan menuju ruang rawat suaminya bergegas berlari ketika mendengar teriakan sang suami memanggilnya."Ada apa yah,tanya ibu Rio ketika sudah sampai di hadapan suaminya dengan nafas tersengal-sengal.
"Suruh anak itu pergi dari sini,aku tak sudi melihat wajahnya lagi,"seketika wajah ibunya Rio berubah pias,namun ia ingat perkataan dokter untuk menjaga kondisi suaminya.Mengikuti keinginan sang suami,dengan berat hati beliau meminta putranya pergi dulu.
Kecewa namun mau bagaimana lagi...ia sendiri tidak ingin jantung ayahnya kambuh lagi,Rio pun memutuskan melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat itu.
****
Dengan sepedha motornya,Rio memecah jalanan yang begitu padat menuju ke rumahnya.Sampai di rumah Rio mengambil beberapa pakaian juga barang-barang miliknya yang sekiranya ia butuhkan,karena ia yakin sang ayah juga akan menyuruhnya pergi juga dari rumah ini.Masuk ke dalam mobilnya.Saat sampai di halaman,ia menengok lagi ke belakang,memandang rumah yang ia tinggali bersama kedua orangtuanya.Tidak menyangka akan jadi seperti hanya karena wanita pilihannya.Ia akan membuktikan pada mereka orangtuanya,bahwa penilaian mereka salah.
Mobil yang ia tumpangi melaju dengan kecepatan sedang,sambil mencari-cari tempat yang akan ia tinggali.Dan ia berhenti di salah satu rumah yang di kontrakkan.Tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil,cukup nyaman untuk ia tinggali.Dan yang lebih ia sukai karena tempat yang ia tinggali dekat dengan panti asuhan tempat Cinta tinggal.Ini akan memudahkannya mengetahui keseharian wanita yang ingin ia nikahi itu.
Bersambung...