Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
96.Horny


...Happy Reading...


Ketika Nicholas pergi keluar kota untuk urusan bisnis, apakah seorang Jeremy memilih di bekerja di kantor dan melaksanakan tugasnya sebagai penerus perusahaan keluarga? Dan jawabannya tentu saja tidak.


"Mas, udah jam berapa ini? kenapa tidak pergi ke Kantor?" Hanny melihat jam di dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, hari-hari biasanya sudah pasti jam segini dia sudah ada di kantor.


"Kenapa aku harus ke kantor?" Jawab Jeremy yang terlihat fokus menscroll smartphone miliknya.


"Loh.. bukannya Nicholas dan Alisya baliknya masih besok, trus yang ngurus kantor siapa kalau salah satu dari kalian berdua tidak ada yang berangkat kerja?" Tanya Hanny yang entah mengapa sedari tadi sudah bolak-balik ke kamar mandi.


"Biarkan sajalah, saat aku belum kerja di kantor, para pegawai itu sudah melakukan tugasnya masing-masing, ada atau tanpa adanya aku, perusahaan itu masih akan terus berjalan." Jawab Jeremy dengan santainya.


"Hah?" Hanny hanya melongo saja mendengarnya, walaupun sedari awal saat mereka bertemu memang suaminya itu malas jika hari-harinya disibukkan dengan masalah pekerjaan.


"Sudahlah, jangan merisaukan soal pekerjaan, uang tabunganku tidak akan habis walau aku tidak bekerja selama beberapa hari, mengerti sayang?"


"Iya, tapi kalau mereka butuh tanda tangan atau apa, gimana?" Hanny sebenarnya hanya ingin beristirahat sejenak, karena jika dia terus berkepit dengan suaminya, sudah pasti dia yang akan terkena imbasnya karena akan terus berada dibawah kungkungannya.


"Jaman sekarang semua serba digital, kalau cuma tanda tangan saja masih bisa diurus, yang paling penting itu tugas seorang istri untuk membahagiakan suami, itu yang tidak bisa digantikan oleh media digital, sini sayang duduk di pangkuanku." Jeremy langsung menggengam jemari mulus milik Hanny.


"Ckk... Apa sih mas, aku baru saja selesai keramas ini?" Hanny langsung menarik kedua tangannya.


"Astaga yank, aku cuma pegang tangan doang, kenapa kamu langsung berwajah masam seperti itu?" Umpat Jeremy dengan kesal.


"Habisnya kalau mas sudah menyentuhku, apa lagi memangku tubuhku, sudah pasti ujung-ujungnya aku akan mas banting diatas kasur kan?"


"Hehe... emang kenapa yank, beribadah sama suami sendiri itu banyak dapat pahala, berkah, barokah dan yang paling penting sakinah, mawadah wa rahmah." Jawab Jeremy dengan senyum manisnya.


"Fuh... Aku tahu, tapi definisi ibadah nggak gitu semua kan mas, apa patut setelah sholat subuh sampai jam sembilan pagi mas sudah minta nambah lima kali?" Hanny langsung berkacak pinggang.


"Entahlah yank, kenapa akhir-akhir ini aku pengen menyentuh kamu terus, bawaannya itu kangen aja, apa aku sedang mengalami gejala penyakit ya?"


"Aish... itu bukan gejala sakit namanya, tapi gejala Horny! heran aku, dulu sebelum nikah mas selalu Horny terus kayak gini setiap hari?"


"Enggaklah, selain dengan Dinar aku tidak pernah berhubungan dekat dengan wanita manapun, jadi jarang memiliki keinginan untuk mengganti oli."


"Dia lagi.. Dia lagi!" Walau masalah mereka sudah selesai, tapi Hanny seolah malas mendengar namanya kembali.


"Kamu masih cemburu dengan dia?" Jeremy langsung menoel dagu istrinya.


"Sory ya, nggak level!" Hanny langsung mengibaskan tangannya.


"Hahaha... bilang aja kalau kamu masih cemburu." Jeremy langsung menarik paksa tubuh Hanny kedalam pelukannya. "Tapi aku suka kamu cemburu begini, cemburu kan tanda cinta, aku jadi tambah gemes sama kamu." Wajah Jeremy langsung nyungsep diceruk leher istrinya.


"Sudahlah mas, nanti mas naik lagi, rambutku bahkan belum kering ini." Hanny langsung menjauh dari tubuh suaminya.


"Hmm... sayang, gimana kalau kita pergi jalan-jalan."


"Kemana? Eropa? Korea? Jepang atau mau ke Paris saja?"


"Ckk... apa kamu hanya ingin pergi ke luar negri saja?"


"Ya enggak, aku kan cuma nanya doang tadi, emang mas mau pergi kemana?"


"Aku itu pengennya kita touring naik mobil, menikmati masa-masa indah berdua, hanya ada aku dan kamu, emm... semacam Nyoride gitu yank." Rengek Jeremy dengan manja.


"Nyoride apaan mas?"


"Nyoride itu berkendara sambil menikmati suasana sore hari gitu yank, mau ya?" Rayu Jeremy kembali.


"Kemana?"


"Kemana aja, kita bisa berangkat pagi keliling puncak dulu, sesudah itu kita bisa keliling pantai menikmati lukisan alam yang pasti tiada duanya."


"Emang mas nggak capek apa nyetir sendiri, biasanya kan kemana-mana diantar sama sopir?"


"Enggak, nanti kalau capek berhentilah, kita bisa bawa peralatan camping nanti, trus kalau lelah ngecam deh berdua."


"Heleh.. Inget umur mas, kita sudah tidak muda lagi, tenaga kita sudah beda dari anak ABG yang masih kuat melakukan kegiatan outdoor, lupa pakai baju sampai pagi saja siangnya minum obat masuk angin kan?" Ledek Hanny dengan tersenyum miring.


"Alaaaaah yank... tapi mas pengen banget jalan berdua hanya berdua sama kamu, kali ini aja yank, mas udah browsing tempat-tempat menarik untuk kita kunjungi, mas juga sudah beli perlengkapan komplit buat touring, mau ya?"


"Mas dulu mudanya seorang petualang ya?"


"Enggak, tiap hari aku disuruh belajar dan hanya belajar, bukannya semakin pintar tapi pelajaran itu sama sekali tidak ada yang masuk ke otakku."


"Pfftthh... Pantesan mas itu..."


"Apa.. apa..! Kamu mau mengumpat suamimu ini?" Jeremy langsung memiting tubuh istrinya.


"Enggak kok! mas ini sensitif sekali deh!" Hanny langsung terkekeh karenanya.


"Kita berangkat sekarang yuk?"


"Lain kali aja deh mas, aku dari tadi bolak-balik pipis terus loh, kayaknya ada yang nggak beres ini." Keluh Hanny yang sedari tadi memang sudah beberapa kali ke toilet.


"Kalau nanti kamu kebelet kita bisa turun cari rest area, ayolah sayang."


"Kenapa harus sekarang sih mas?"


"Jadi kamu menolak ajakanku?"


"Emang boleh?" Tanya Hanny dengan wajah yang dia buat seimut mungkin, karena memang sebenarnya dia malas sekali untuk ikut acara touring-touring seperti itu.


"Boleh dong."


"Yes." Hanny sudah kegirangan.


"Tapi ada syaratnya."


"Syarat apaan?"


"Jawab dulu tebak-tebakan dariku, kalau kamu bisa, kita tidak perlu berangkat, tapi kalau kamu gagal menjawabnya, kamu harus mengikuti apa yang aku mau."


"Aku suka nih yang kayak begini, deal!" Hanny langsung menjabat tangan suaminya dengan mantap, karena setiap kali mereka main tebak-tebakan sebelum tidur Hanny lah yang selalu jadi pemenangnya.


"When 10+3\=1?"


"Heh? katanya nggak suka pelajaran, kenapa tebak-tebakannya pake hitungan matematika sih?"


"Jawab saja, bukannya kamu termasuk salah satu mahasiswa pintar di Kampusmu?" Ucap Jeremy dengan senyuman liciknya.


"Iya sih, tapi sepuluh ditambah tiga itu jumlahnya bukan satu mas, jadi ini soal aritmatika atau soal apa sih?" Hanny terlihat berpikir keras karenanya.


"Aku beri waktu satu menit, jika kamu tidak bisa menjawabnya cepat ganti bajumu, kita berangkat sekarang!"


"Tunggu, itu di akar atau apa sih mas?"


"Mau akar atau pohon sekalipun, waktumu tinggal beberapa detik lagi." Ucap Jeremy yang sudah terus tersenyum penuh makna.


"Apa dong, kenapa aku tiba-tiba jadi telmi seperti ini sih?" Hanny sampai menggaruk-garuk kepalanya.


"Tiga, dua, satu, tet tot! waktu kamu habis,cepat ganti bajumu, atau aku yang akan menggantikannya." Jeremy langsung bersorak, karena kali ini dia pemenangnya.


"Aish... pertanyaan macam apa itu, emang apa jawabannya?" Hanny mulai penasaran jadinya.


"Jam."


Cup!


Dengan santainya Jeremy menyambar bibiir istrinya setelah memberikan jawaban teka-teki receh itu.


"Hah, kenapa bisa Jam?"


"Setelah pukul dua belas siang, trus pukul berapa?"


"Satu."


"Pukul tiga belas bukannya sama dengan pukul satu siang?"


"Woah... kenapa aku tidak terpikirkan akan hal itu?" Hanny merasa menjadi orang paling bodoh sedunia, padahal test IQ nya cukup tinggi kali itu.


"Hehe.. ternyata orang pintar akan selalu kalah dengan orang Bejo! cepat kemasi barangmu, mas mau manasin mobil dulu." Jeremy langsung melenggang pergi dari kamar mereka dengan senyum kepuasan.


"Haish... Sepintar apapun seorang wanita, kodratnya memang tetap dibawah lelaki, apalagi dia seorang suami, fuuh.. nasip-nasip!"


Hanny tidak bisa menolaknya, dia kalah telak hanya dengan tebak-tebakan yang menurutnya receh tapi ngeselin.


Hingga akhirnya mereka sudah berada didalam mobil menuju destinasi pertama yaitu sebuah pegunungan yang menyuguhkan pemandangan yang epik dan menyejukkan.


"Woah.. Pemandangannya ternyata memang bagus banget ya mas, apalagi kalau kita camping disebelah sana, pasti view di malam harinya keren banget, seperti perbukitan bintang dengan cahaya lampu kota." Hanny tersenyum lebar melihat pemandangan disekitar ketika Jeremy tiba-tiba menepikan mobil mereka.


"Hmm."


"Apa mas mau kita mendirikan tenda diujung sana?" Tanya Hanny kembali saat suaminya terus saja terdiam sedari tadi.


"No."


"Trus kita ngapain kok berhenti disini? nggak takut apa mas, kita dipinggir hutan ini, daerah sini sepi banget."


"Yank, kamu nggak merasa kedinginan apa?"


"Hah?"


"Aku.. emm.. dingin banget yank." Jeremy tiba-tiba memasang wajah mupengnya.


"Ya udah, aku matiin AC mobilnya ya, namanya juga pegunungan, matahari terletak di posisi tengah-tengah bumi juga pasti udaranya tetap sejuk."


"Yank, boleh nggak?" Jeremy mulai menoel lengan istrinya.


Kok perasaanku nggak enak ya?


"Boleh apa?" Tanya Hanny sambil memundurkan tubuhnya.


"Minta jatah."


"Astagfirullah, ini di mobil loh mas, apa kata orang jika ada yang melihat, nanti kita dikira pasangan 'kere' yang nggak kuat sewa kamar hotel, jangan aneh-aneh deh." Hanny sudah pasti menolaknya, walaupun duku dia seorang kupu-kupu malam, tapi dia tidak pernah mau main di mobil, walau bayarannya sekoper uang sekalipun.


"Woah... mas itu, emang siapa suruh nonton begituan, kayak yang nggak ada kerjaan aja."


"Nggak tau yank, akhir-akhir ini mas gampang sekali horny, ngelihat bibiir kamu berwarna merah aja mas bawaannya pengen mulu." Jeremy langsung menggigit bibiir bawahnya.


"Sepertinya ini memang penyakit, ayolah kita balik ke rumah, kita suruh dokter pribadi kamu datang memeriksa kesehatanmu, pasti ada yang nggak beres ini."


Grep!


"Sekali aja yank, mas udah nggak tahan!" Jeremy langsung memeluk erat tubuh istrinya.


Kalau sudah memelas seperti ini, Hanny tidak bisa berbuat apapun selain memejamkan kedua matanya dan menggangukkan kepalanya, dia terpaksa melakukan ibadahnya didalam mobil karena merasa tidak tega melihat wajah suaminya.


"Hmmh... mas, kenapa lama sekali, aku takut!" Ucap Hanny disela-sela kegiatannya.


"Hmpth... Sabar yank, bukannya kamu suka yang lama?"


"Iya, tapi kalau disini buatnya aku takut kalau ada yang mergokin kita." Hanny sudah harap-harap cemas sedari tadi.


"Sudahlah, enjoy aja, nggak akan ada yang tahu kita ngapain didalam mobil ini." Jeremy terus saja memaju mundurkan tubuh istrinya dengan semangat membara.


"Tapi mobil ini bergoyang mas, pelanin dikit bisa nggak, uh!"


"Bentar yank, ini nikmat sekali rasanya, heugh!" Jeremy seolah tidak memperdulikan dunia luar, karena dia merasakan kenikmatan surga dunia disana.


Duk!


Klontang!


Pyaaaarr!


"Woi... sedang apa kalian disana, keluar nggak! dasar pasangan mesvm!" Terdengar suara seorang pria menggema di hutan itu bersamaan dengan kaca mobil Jeremy yang pecah dibagian belakang.


"Tuh kan mas, ada yang curiga dengan kita!"


"Diam yank, kita cabut dari sini!"


"Tapi ini gimana, aku pindah dulu."


"Nggak usah, nanti saja, keburu mobil kita hancur karena dilemparin batu!"


Akhirnya dengan skill pembalapnya Jeremy langsung menekan pedal gasnya dan pergi dari tempat itu.


"Astaga, malu sekali aku, ini gara-gara kamu sih mas!"


Hanny langsung menggigit bahu suaminya, karena saat ini persneling mobil dan juga pemiliknya masih tertancap sempurna ditempatnya.


"Manalah ku tahu kalau ada orang didalam hutan itu!"


"Pokoknya kita pulang, aku nggak mau lanjut touring lagi!"


"Iya.. Iya.. ehh... apa kita mampir di pondok pesantren Abah saja? Sepertinya tempat ini tidak jauh dari sana?"


"Nggak mau, masak iya kita masuk ketempat suci seperti itu dalam keadaan kotor, pokoknya kita pulang aja!"


"Tapi aku kangen sama Abah yank, tinggal beberapa kilometer aja loh kita udah sampai, nggak nyangka loh ya perjalanan kita sejauh ini."


"Pokoknya aku mau pulang, TITIK!"


"Sebentar aja deh yank, lima belas menit aja gimana?" Pinta Jeremy yang teringat dengan Abah yang selalu memarahinya namun demi kebaikan.


"Nggak! aku belum mandi keramas mas!"


"Nanti kita numpang mandi disana!"


"Nggak enak mas, lain kali saja lah kita kesana, coba kalau mas tadi nggak nekad minta kuda-kudaan didalam mobil, pasti aku mau ke pondok pesantren!"


"Ya udah deh, tapi..."


"Tapi apalagi mas, jangan macam-macam lagi bisa nggak?"


"Keluarin dulu olinya, sakit tau yank, kalau ditahan seperti ini." Jeremy mulai kembali berulah.


"Mas! Jangan keterlaluan deh!" Hanny pusing sendiri melihat kelakuan ekstrim suaminya.


"Mas janji gerak cepat deh, okey?"


"Astaga mas?"


"Sakit yank, kamu nggak pernah sih ngerasain jadi cowok?"


"Lalu, apa mas mau aku operasi jadi cowok, biar tahu rasanya?"


"Jangan, nanti aku nggak punya sawah lagi, makanya keluarin yank, sebentar aja deh, sini!"


"Aduh Gusti, ampunilah dosa kami."


Dengan wajah geram, Hanny langsung meninju kursi milik Suaminya agar bisa rebahan dan langsung naik diatas pangkuannya.


"Ayo sayang, lebih cepat sedikit, aku sudah mau sampai!"


"Lain kali nggak ada acara touring-touring lagi, TITIK, heugh!" Hanny bahkan mempercepat goyangannya sehingga mobil itu terayun maju mundur tak beraturan.


Brak!


Brak!


Brak!


Tiba-tiba saat keduanya sudah terbang melayang diawang-awang, kaca mobil mereka diketok dari arah belakang dengan keras.


"Astagfirullah... Cobaan apa lagi ini!"


Hanny langsung melompat turun dari tubuh suaminya dan membenahi pakaiannya.


"Bajumu sudah kamu kancing semua sayang, hijabmu sudah rapi?" Tanya Jeremy yang juga sibuk menaikkan celananya kembali.


"Bodo amat!" Ingin sekali rasanya Hanny meretakkan semua tulang-tulang suaminya, agar tidak bertingkah lagi.


"Hehe... Maaf!"


"Sudah, buka jendelanya, nanti mereka curiga!"


"Assalamu'alaikum nak?" Sapa pria tua itu dengan wajah yang sulit digambarkan.


"Wa'alaikum salam pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Kenapa kalian berhenti disini."


"Emm... Tadi saya lupa jalan, dulu pernah kemari, tapi entah lewat mana jalan menuju kota nya, apa bapak bisa memberitahu kami?" Ucap Jeremy yang hanya beralasan saja.


"Lalu kenapa mobil kamu bergoyang-goyang, apa yang kamu lakukan?"


"Owh itu... emm..." Jeremy belum sempat memikirkannya.


Ya Tuhan, jika Engkau mau menghukumku, hukum dulu suamiku, sebab aku berbohong karena dia.


"Maaf pak, tadi sepertinya ada kecoak didalam mobil ini, jadi kami berdua berusaha untuk menangkapnya." Hanny langsung membantu suaminya untuk menjawabnya.


"Owh... Iya betul pak!"


"Mobil sebagus ini ada kecoaknya?" Tanya pria itu dengan senyum meledek.


"Iya pak, soalnya suami saya jorok orangnya, dia sering makan di mobil dan melakukan hal yang aneh-aneh didalam mobil, jadi mungkin kecoak suka dengannya."


"Sssst... berarti kamu kecoaknya yank?" Bisik Jeremy dengan senyum gilanya.


"Diam kamu mas!" Umpat Hanny sambil melotot.


"Kalau begitu, tunjukkan kartu identitas kalian berdua."


"Apa bapak seorang polisi?"


"Bukan!"


"Lalu kenapa kami harus menunjukkan kartu identitas kami dengan bapak, apa jaminannya bapak tidak akan menyalah gunakan kartu identitas kami?"


"Waah.. anak jaman sekarang memang pandai berkata-kata dan mencari alasan, semoga kelakuan putriku tidak seperti mereka di kota sana."


"Begini saja pak, biar adil bisa kami lihat juga identitas milik bapak?"


"Nah ambil! saya salah satu guru mengaji di pondok pesantren yang ada didekat sini, lain kali perbanyaklah belajar ilmu agama, agar kalian berdua tidak tersesat oleh godaan duniawi." Pria itu dnegan cepat mengeluarkan donoet dan KTP miliknya.


"Kami sudah menikah pak, jadi tidak ada yang perlu bapak khawatirkan, ini kartu identitas kami pak, hehe.." Jeremy memberikan kedua kartu identitas mereka.


Degh!


Hanny Claire?


Pria yang menggunakan peci, baju koko dan sarung bermotif kotak-kotak itu seolah tertegun sejenak, saat melihat kartu identitas milik Hanny.


"Jangan terlalu lama memandang fotonya pak, dia istriku!" Jeremy mulai posesif jika sudah berhubungan dengan Hanny.


"Haish!"


"Sudah cukup informasinya kan pak, kalau begitu boleh kita melanjutkan perjalanan kami?"


"Kalian tinggal dimana?"


"Dih... Bapak kepo amat, jangan harap Bapak bisa berkenalan dengan istriku, dan jangan pernah punya fikiran untuk diam-diam berkenalan dengan istriku juga, karena dia milikku seorang, permisi, assalamu'alaikum!" Jeremy langsung mengambil kembali kartu identitas mereka dan menyalakan mobilnya.


Claire?


"Wa... wa... wa'alaikumsalam."


Disaat Jeremy melihat spion mobilnya kearah belakang dia merasa sedikit heran, karena pria itu masih saja terpaku ditempat, dengan tatapan kosong jauh kedepan seolah mengantar kepergian mobil miliknya dari sana.