
...Happy Reading...
Dengan raut wajah yang sulit digambarkan, Jeremy berjalan dengan didampingi oleh Nicholas untuk menemui seorang pria yang menjadi Ayah dari wanita kesayangan mereka masing-masing.
Ridwan memilih menunggu dikursi tunggu dengan cemas, jauh didalam lubuk hatinya, dia tidak ingin hal ini terjadi, karena dia juga tidak tahu kalau putri pertama yang baru saja dia temukan itu ternyata sedang dalam keadaan hamil.
"Eherm.. dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, mulai hari ini saya harap anda tidak lagi menemui istri saya, silahkan pergi." Ucap Jeremy yang sebenarnya tidak tega mau memarahi pria tua itu, bagaimanapun juga Jeremy sudah dilatih mengontrol emosi di pondok pesantren dulu, jadi dia masih tetap menghormati orang yang lebih tua darinya.
"Nak Jeremy, dengarkan dulu." Dengan kedua mata sayunya, dia masih berharap Jeremy bisa lebih mengerti akan dirinya.
"Sebenarnya saya tidak berminat untuk mendengarkan apapun soal Anda, jadi simpan saja cerita Anda, atau kalau perlu tuliskan saja dalam sebuah buku dan Anda jual, siapa tahu laku di pasaran kan?" Dia menahan segala emosinya, agar suaranya tidak melengking didalam rumah sakit itu dan menimbulkan keributan disana.
"Apa salah, jika seorang Ayah ingin melihat putrinya?" Tanya Ridwan yang hanya bisa berulang kali menghela nafasnya.
"Pada umumnya memang tidak salah, tapi lain halnya tentang keadaan Anda saat ini." Ucap Jeremy kembali.
"Nak, Ayah bukannya tidak ingin menemui Hanny sedari dulu, tapi---" Ucapannya langsung terpotong dengan jawaban yang Jeremy lontarkan.
"Selagi Hanny belum mengakui Anda sebagai Ayahnya, selama itu pula Anda bukanlah Ayahku." Dia kembali dengan sifat datarnya sebagai Jeremy di masa lalu.
"Jeremy, apapun yang kalian katakan, seburuk-buruknya peranku sebagai seorang Ayah, tapi tetap saja didalam tubuh Hanny itu mengalir darahku." Sebisa mungkin dia berusaha berbicara baik-baik, karena dia masih ingin bertemu Hanny kembali, bahkan menghabiskan sisa-sisa umurnya dengan tenang.
"Cih... Apa itu saja sudah cukup untuk membuat Hanny sampai sebesar itu?"
"Memanglah tidak, tapi---" Kata-katanya kembali terputus dengan ucapan Jeremy yang membuatnya melongo sesaat.
"Misal kata, ada seekor nyamuk menggigit kita, dan menghisaap darah kita lalu dia beranak pinak, apa anaknya itu juga termasuk darah daging kita? atau dia juga harus memanggil kita dengan sebutan Ayah?" Entah dapat kata perumpamaan dari mana dia, yang jelas ucapan Jeremy mampu membuat mulut Ridwan dan Nicholas sampai terngaga.
"Hah?"
"Waduh... mana disini banyak nyamuk lagi, dari tadi sudah ada berapa nyamuk yang menggigitku ya, banyak dong anak gue nanti di Kebon?" Umpat Nicholas yang langsung mendapat jitakan dari Jeremy.
"Stth... aku sedang mau marah ini, jangan ngelawak, nanti kalau aku tertawa nggak keren lagi nantinya."
Entah terkena sawan darimana dua pria tampan ini, namun kenyataannya ucapan mereka mampu membuat seorang Ridwan memalingkan wajahnya karena menahan tawa.
"Eherm... pokoknya intinya begini saja pak, karena Anda adalah ayah dari Alisya, saya menghormati Anda, namun Anda sudah melihat sendirikan kondisi Hanny bagaimana kan, dia bukannya senang, namun malah menahan sakit gara-gara Anda, jadi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, lebih baik Anda pulang saja, biar aku yang menjaga Hanny." Jeremy sudah berniat tidak ingin meninggalkan Hanny lama-lama sendirian dibawah sana, karena kondisinya belum sepenuhnya stabil.
"Tapi nak Jeremy." Ridwan masih mencoba menahannya.
"Anda sudah cukup membuat Hanny tersiksa sendirian selama puluhan tahun, jadi saat dia sudah mulai bahagia denganku, apa Anda masih ingin membuatnya sedih kembali? apa Anda tega menambah beban pikiran istriku lagi, apa Anda belum cukup menyiksa batin dan jiwanya, hah?"
"Bukannya dia juga punya Ayah sambung?" Tanya Ridwan yang langsung menaikkan kedua alisnya.
"Itu hanya sebatas identitas sebagai kepala keluarganya dulu, namun asal Anda tahu saja, Hanny sama sekali tidak merasakan kasih sayang dari seorang Ayah, apa Anda puas sekarang?"
"Maksud kamu apa?" Ridwan semakin heran dibuatnya, dia fikir walau Hanny tidak tumbuh bersamanya namun setidaknya putrinya tetap bahagia dengan keluarganya yang kaya raya itu.
"Kenapa Anda menanyakan itu denganku, seharusnya Anda tahu sendiri kejadian itu bukan? jangan pura-pura lupa, apalagi pura-pura amnesia, karena aku tidak akan percaya." Ucap Jeremy sambil melengos.
"Astagfirullahal'adzim, mulut pria itu ternyata tidak bisa dipercaya!" Ridwan mengusap rambutnya dan terus menahan amarahnya, dia tidak menyangka jika akhirnya jadi seperti ini.
"Pria siapa yang anda maksud?" Tanya Jeremy yang langsung mencoba menggorek tentangnya.
"Dulu dia bilang sangat mencintai Mama Hanny." Ridwan menyandarkan kepalanya dibahu kursi, karena terasa berat saat mengingat kisah kelamnya terdahulu.
"Mungkin memang benar dia mencintai mamanya Hanny, tapi jikalau Anda pikir-pikir dengan nalar yang sehat, apakah dia akan mencintai anak yang bukan dari darah dagingnya? apa Anda tidak berfikir sejauh itu? dimana perasaan Anda sebagai seorang Ayah? apa orang seperti Anda ini masih bisa disebut sebagai Jantan? atau Anda hanya merasa menjadi ayam jago, setelah menanam benih ayam langsung meninggalkan ayam betina dan telornya begitu saja?" Banyak kata tanya yang dia lontarkan secara beruntun bahkan tanpa jeda.
"Jangan galak-galak begitu bos, turunkan nada suaramu?" Nicholas berusaha mencari muka didepan Ayah Alisya.
"Kenapa, apa kamu ingin membelanya karena dia ayahnya Alisya? kamu masih berfikir untuk menikahi putri dari pria sepertinya?"
"JEREMY! jangan sangkutkan masa laluku dengan Alisya, dia tidak tahu apa-apa, dan dia tidak ada kena mengena dengan masa laluku, jadi jangan hujat dia gara-gara dia anakku, dia wanita baik-baik, aku dan ibunya mendidiknya dengan benar." Ridwan merasa tidak terima kalau Alisya ikut terkena dampaknya, karena dia memproduksi Alisya secara halal, walau hasil perjodohan dari Abah kala itu.
"Lalu Hanny? apa Anda merasa mendidiknya? atau Anda tahu bagaimana kerasnya kehidupan yang Hanny lalui karena Anda?" Semua cerita lara dari istrinya, hampir Jeremy ketahui saat ini, karena dia tidka ingin istrinya merasa terbebani sendiri.
"Aku...aku..." Ridwan seolah kehabisan kata-kata, karena dia sadar, dia memang salah, namun itu bukan kemauannya sendiri pikirnya.
"Asal Anda tahu pak, dia bahkan sampai berada dalam dunia malam yang penuh dengan kemaksiatan hanya karena kurang kasih sayang dari bapak, dari juga dari orang-orang yang mengaku sebagai keluarganya, namun hanya diatas kertas saja."
"APA? bukannya dia tinggal dengan keluarga yang berkecukupan, bahkan bisa dibilang kaya raya dan tidak kekurangan sesuatu apapun?" Ridwan tahu betul bagaimana kehidupan kekasihnya saat itu.
"Apa Anda pikir harta saja cukup untuk membuat orang bahagia? dan satu lagi yang perlu Anda tahu, bahwa sedari dia remaja, dia memilih tinggal sendiri, karena merasa diasingkan, merasa dibeda-bedakan dengan adeknya, tanpa tahu alasannya, apa bapak bisa membayangkan bagaimana menjadi Hanny saat itu?"
"Astagfirullahal'adzim." Ridwan hanya bisa mengusap wajahnya dengan dadaa yang bergemuruh.
"Hanya ada rasa pedih dan perih pak, saya yang hanya menjadi pihak pendengarnya saja merasakan kesakitan, apalagi Hanny yang merasakannya seorang diri, dimana saat itu bapak, DIMANA!" Teriak Jeremy yang seolah sudah mewakilkan kekesalan dan emosi dari istrinya.
"Huft... hiks.. hiks.. Maafkan Ayah nak, maaf." Akhirnya tangisan seorang Ayah kembali pecah disana.
"Maaf saja tidak cukup untuk menebus segala dosa-dosa Anda selama ini."Umpat Jeremy yang memilih membuang arah pandangan, dia tidak tega melihat orang menangis, apalagi seorang pria.
"Aku tahu, aku pun tidak ingin meninggalkan Diana dalam keadaan hamil anakku seperti itu nak."
"Lalu kenapa anda meninggalkannya, bahkan sampai Hanny lahir Anda sama sekali tidak menemuinya, KENAPA!"
"Dulu..."
Ridwan perlahan mengusap air matanya dengan ujung lengan bajunya dan mulai duduk sambil membenahi sarungnya untuk memulai cerita masa lalunya.
Flashback
Dengan degub jantung yang tidak menentu Ridwan membenahi bajunya agar terlihat rapi dan berkelas.
Bahkan dia sengaja meminjam setelan kemeja lengkap beserta jas bermerk dari sebuah Salon Pengantin, hanya untuk menemui ayah dari kekasihnya itu.
Sebenarnya dia mampu untuk membeli setelan jas seperti itu, namun dia sengaja berhemat dan ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk modal menikahi Diana Claire sang kekasih hati kala itu.
"Permisi."
Ridwan bahkan awalnya ragu, namun inilah kesempatan satu-satunya untuk berbicara langsung dengan atasannya secara pribadi.
"Masuk!" Jawabnya dengan suara datar.
"Perkenalkan pak, nama saya Ridwan, emm.. dan saya juga adalah kekasih dari putri bapak." Ucap Ridwan dengan perlahan.
"Bahahahahaha.. dia bilang apa tadi? Kekasih? Hahahaha.. apa kamu tidak punya kaca dirumah?" Ucap Pria itu dengan tawa yang menggelegar disana.
"Maaf, maksud anda apa pak, bukannya bapak yang mengundang saya kemari?"
Betapa bahagianya seorang Ridwan saat mendapatkan panggilan dari pemilik perusahaan tempat dia bekerja yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayah dari Diana Claire kekasih hatinya.
"Berani sekali kamu mengatakan bahwa kamu adalah kekasih putriku?"
"Bahahahaha... kamu ingin menikahi putriku? punya apa kamu? Gaji dari office Boy disini berapa, hah? apa kamu mampu membiayai kehidupan putriku, sedangkan gajimu selama sebulan saja palingan hanya cukup untuk membeli satu baju miliknya, itupun yang tidak bermerk, paham kamu!"
"Tapi pak, kami sudah---"
"Kamu lihat pria yang ada disampingku ini?" Ayah Diana menunjuk seorang pria gagah menawan disampingnya.
"Iya pak." Ridwan hanya melihat sekilas dan kembali menunduk.
"Dia putra dari rekan bisnisku, dan dia adalah calon suami putriku, jadi kamu jangan pernah bermimpi untuk menikahinya, bangun saja dari tidurmu itu, wajahmu bahkan tidak pantas berada dalam bingkai foto keluarga besar kami, sadar diri kamu!" Hujat Ayah Diana dengan senyum sinisnya.
"Tapi apa Diana belum bicara dengan Anda?" Tanya Ridwan kembali.
"Berani sekali kamu menyebut anak dari pemilik perusahaan ini dengan sebutan nama saja, kamu sebenarnya punya urat malu tidak, kamu hanya tukang bersih-bersih disini!"
Hilang sudah harga diri Ridwan sebagai seorang lelaki, namun sedari awal dia sudah menduganya, karena kasta mereka memang jauh berbeda, namun kekuatan cinta mereka begitu kuat sehingga membuat seorang Ridwan berjuang mati-matian demi mempertahankan hubungan mereka.
"Maaf pak, tapi kami telah melakukannya." Ridwan terus memberanikan diri untuk berkata jujur, berharap mereka akan mengerti.
"Melakukan apa?"
"Hubungan selayaknya seorang suami istri."
Braaak!
"APA! Berani sekali kamu menyentuh putriku, kamu itu tidak selevel dengan keluarga kami, apa kamu sudah bosan hidup, hah!" Ayah Diana langsung menggebrak mejanya dan langsung berdiri dengan tegak.
"Maaf pak, saat itu kami khilaf." Ucap Ridwan saat mengingat kisah syahdu dimalam itu.
"Tinggalkan kota ini, atau aku akan menghancurkan kamu dan keluargamu sampai tak bersisa!" Ancam Ayah Diana dengan emosi yang membara.
"Tapi Diana sudah hamil anakku pak!"
Pyar!
"Binatang kamu ya!" Ayah Diana langsung melempar vas yang ada dihadapannya ke tubuh Ridwan.
"Argh! semua sudah terjadi pak, maafkan aku, tapi aku sangat mencintainya pak, tolong izinkan kami bersama!" Walau sakit namun Ridwan tahan, demi sebuah restu.
Bugh!
Setelah satu tendangan di perut, Ayah Diana langsung mengibaskan satu kakinya bahkan mengenai kepala Ridwan sampai dia kembali jatuh tersungkur.
"Aku tidak perduli, pergi jauh-jauh dari kota ini, atau kamu ingin aku menggugurkan darah dagingmu itu sekarang juga!"Ancamnya kembali.
"Jangan pak, janin itu tidak bersalah, tolong izinkan dia melihat dunia ini pak."
"Kalau begitu tinggalkan kota ini, dan pergilah sejauh mungkin, sebelum kesabaranku habis, mengerti kamu, dasar gembel!" Teriak Ayah Diana kembali.
"Tapi pak?"
"Apa kamu ingin melihat Diana dengan anaknya menderita hidup bersamamu? sedari kecil dia aku besarkan dengan berlimpahan harta, lalu apa aku rela membiarkan dia hidup sengsara bersamamu!"
"Pak, aku akan berusaha membuat dia bahagia, walau aku bukan orang kaya."
"Tutup mulutmu!"
"Pak!"
"Urus dia! aku jijik melihatnya, dasar OB tidak tahu diri, orang serendah dia bermimpi menjadi putra mahkota, dasar gembel gila!"
Ayah Diana langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan emosi yang membara dan menyuruh anak dari relasinya mengurus Ridwan.
"Hei kunyuk! berani sekali kamu bilang cinta dengan calon istriku!" Dia duduk jongkok sambil menjambak rambut Ridwan.
"Dia kekasihku!"
Bugh!
Pria itu bahkan ikut meninggalkan bekas memar ditubuh Ridwan sampai dia kembali jatuh tersungkur berkali-kali.
"Ingat, sadar diri itu penting, kamu hanya orang miskin dan Diana adalah calon pewaris perusahaan ini, jadi enyah kau dari sini, sebelum aku menggantikan peran dari Malaikat pencabut nyawa disini!" Bahkan matanya hampir keluar dari cangkangnya.
"Apa kamu juga mencintai Diana!"
"Tentu saja, siapa yang tidak mencintai wanita secantik dan seseksi dia?"
"Apa itu sungguh tulus dari dalam hatimu!"
"Jangan banyak bacoot kamu!"
"Aku tidak akan pernah rela, melepas dia jika kamu tidak benar-benar mencintainya!"
"Aku pasti bisa membahagiakan Diana, dengan atau tanpa cinta sekalipun, mengerti kamu!"
"Jaga dia dan calon anakku nanti!"
Bugh!
"Siapa kamu sampai berani mengaturku, hah!"
"Asal kamu tahu, aku adalah pria satu-satunya yang dicintai oleh Diana Claire!" Teriak Ridwan sesuai dengan kenyataan yang ada.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Pria itu langsung menghajar Ridwan sampai babak belur dan saat itu bahkan Ridwan sampai memuntahkan daraah dari dalam perutnya, hingga akhirnya dia pingsan dan tidak sadarkan diri.
Dan keesokan harinya, saat dia sadar dan bangun dari pingsannya, dia sudah tergeletak dipelataran rumah kecil di kampung halamannya beserta barang-barang yang ada di Kontrakan rumahnya.
Flashback off
Jeremy dan Nicholas seolah tertegun mendengar cerita singkat dari Ayah dari wanita kesayangan mereka masing-masing, bahkan kedua pria tampan itu sampai memangku wajah mereka seolah ikut masuk kedalam kisah pilu di masa lalu seorang Ridwan.
Dan ternyata itu pun tak luput dari pendengaran seorang Hanny yang tadinya hanya merasa penasaran, sebenarnya siapa yang suaminya temui.
Sambil memegangi besi tempat infus yang mengaliri tubuhnya, tanpa terasa air matanya jatuh berderai saat mendengar kisah perjuangan Ayahnya di masa lalu.