
...Happy Reading...
Perjuangan Jeremy kali ini bahkan lebih sulit daripada memenangkan tender sebuah mega proyek, karena biasanya ada Nicholas yang siap membantu dibelakangnya apapun yang terjadi.
Tapi kini Nicholas hanya bisa membantu memijit kepala, pundak, lutut dan kaki milik Jeremy saja, karena dia pun tidak begitu faseh dalam bacaan Al Qur'an, keduanya sama-sama zonk akan hal itu, untuk mengeja tanda baca saja mereka masih sering salah, apalagi harus menghafal enam puluh empat ayat dalam semalam.
"Huft... Om, ini sudah hampir dini hari loh tapi Om baru bisa menghafal sepuluh ayat, itu pun masih sering salah dan menyontek, bagaimana Om bisa menghafal enam puluh empat ayat sampai adzan subuh menjelang." Umpat Sholeh yang mulai garuk kepala saat menyimak bacaan dari Jeremy.
"Sholeh, Om memang tidak pernah mengaji saat kecil." Jawab Jeremy sambil membuka peci miliknya.
"Lalu surat apa yang Om baca saat sholat?" Tanya Sholeh sambil menyandarkan punggungnya di tembok.
"Kulhu."
"Kulhu wae Lek?" Sahut Sholeh dengan wajah takjub.
"Hah?" Jeremy langsung melongo.
"Maksud saya surat Al Ikhlas aja? jadi dalam sholat lima waktu itu hanya surat itu saja yang Om baca?" Sholeh seolah tidak percaya mendengarnya.
"Ya terkadang surat An Nas juga, kalau nggak lupa." Jawab Jeremy dengan sejujurnya.
"Luar biasa memang Om yang satu ini." Karena terlalu heran, Sholeh malah mengacungkan jempolnya, namun membalikkan setelahnya.
"Emang dosa kalau kita sholat bacaan surat pendeknya hanya itu saja?" Tanya Nicholas yang ikut tersentil, karena dia juga sering begitu kenyatannya.
"Ya enggak lah Om, yang dosa itu kalau nggak sholat." Jawab Sholeh kembali.
"Alhamdulilah, baguslah kalau gitu."
"Kalau mau lebih bagus lagi ya hafal semua surat, apalagi paham semua artinya, itu baru yang namanya keren." Sholeh mulai menjadi pelopor kebaikan disana.
"Sholeh... tapi sepertinya aku tidak sanggup lagi, mata Om sepertinya sudah jadi mata panda?" Jeremy mulai mengusap wajahnya beeulang kali, agar rasa kantuknya hilang.
Dia memang seolah kehabisan kekuatan, karena siang kurang istirahat dan malam pun sama sekali tidak punya waktu untuk memejamkan matanya, bahkan selera makannya pun hilang, hanya minuman kopi saja yang dia tenggak sedari tadi, untuk mengusir rasa kantuknya.
"Berusahalah sampai titik terakhir Om!" Sholeh hanya bisa menjadi penyemangat untuk mereka.
"Nicholas, apa kamu tidak bisa membantuku, biasanya kamu selalu menjadi kaki tangan ter jenius bagiku?" Tanya Jeremy yang mulai prustasi.
"Kalau masalah hati dan masalah pahala yang seperti ini aku juga baru belajar Bos, kita belajar sama-sama ya?" Hanya itu yang bisa Nicholas katakan, karena memang dia tidak bisa ikut andil disini.
"Haduw... lihatlah wajahku, apa aku masih terlihat tampan sekarang, pikiranku kusut, wajahku juga sudah semrawut ini Nick!"
Disaat seperti itu dia masih memikirkan ketampanannya, karena cita-citanya sedari dulu dia ingin terlihat tampan di foto pernikahan bersama pasangan. Dan dia begitu percaya diri, bahwa besok akan menikahi Hanny.
"Astaga Om, devinisi ketampanan seorang pria itu bukan hanya dari wajahnya tapi juga dari hati dan amal kebaikannya."
"Mantap Sholeh, kamu paling bisa kalau buat kata-kata, apa kamu seorang pujangga cinta?" Tanya Nicholas yang langsung mengacungkan kedua jempolnya.
"Maaf Om, saya tidak mengenal cinta kepada sesama, saya hanya mengenal cinta kepada Allah dan Rosulnya semata." Jawab Sholeh dengan mantap.
"Wuidih... Ini sih devinisi calon penghuni Surga." Nicholas semakin takjub dibuatnya.
"Tapi pacaran itu enak loh Sholeh, ada sensasi gemes-gemesnya gitu." Jeremy mulai oleng pikirannya.
"Hush... Bos ini, ngajarin anak orang yang nggak bener, nanti kalau orang tuanya tau bisa kena marah anda." Nicholas langsung menyiku lengan Jeremy.
"Orang tua saya nggak akan marah Om, mereka semua sudah tersenyum bahagia di sisi-Nya."
"Hah? Jadi orang tuamu sudah tiada?" Keduanya kembali melongo dihadapan Sholeh.
"Iya, sedari kecil aku sudah disini, dirawat sama Abah dan Umi."
"Ow... pantesan kamu seolah tahu seluk beluk pondok pesantren ini."
"Sudahlah, jangan bahas aku karena disini tema nya adalah Om." Sholeh langsung mengalihkan pembicaraannya, tidak ingin membahas dirinya yang seorang yatim piatu.
"It's okey Sholeh, kalau begitu kamu bisa menggangap kami berdua kakakmu, jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk mengatakan kepada kami, atau kalau kamu butuh pekerjaan datang saja ke kantor, temui Nicholas, dia akan membantumu." Jeremy langsung merangkul pundak Sholeh dan menepuknya.
"Tapi saya hanya lulusan madrasah Om, mana bisa saya kerja di kantoran?" Tanya Sholeh yang sebenarnya juga ingin membalas jasa kepada Abah dan Umi karena sudah membesarkan dirinya tanpa pamrih dan selalu mengajarkan semua kebaikan kepadanya.
"Terima kasih Om atas penawarannya tapi sepertinya tidak perlu."
"Kenapa, pepatah mengatakan kejarlah cita-citamu walau sampai negri Cina, ini cuma dikawasan perkotaan saja kenapa kamu nggak mau?" Tanya Nicholas yang ikut terhanyut suasana juga.
"Saya tidak mau merepotkan Abah dan Umi, mereka sudah merawat dan menyekolahkan saya sampai saat ini saja sudah alhamdulilah sekali Om."
Walau Abah dan Umi tidak pernah mengeluh, namun Sholeh merasa sadar diri dan tidak ingin terlalu berharap lebih.
"Tenang saja, perusahaan kami bisa memberikan fasilitas beasiswa untuk kuliah, jadi kamu tidak perlu memikirkan biaya apapun dan untuk masalah uang jajan dan lainnya serahkan saja kepada kedua kakakmu yang tampan ini, mulai sekarang panggil kami kakak, okey?" Jeremy melihat Sholeh adalah sosok yang cerdas, bahkan sifat-sifat cerdiknya sering membuat dirinya merasa takjub.
"Emm..."
Sholeh terlihat berpikir, dia masih mempertimbangkan banyak hal, jadi tidak bisa menjawabnya walau ini kesempatan emas bagi dirinya.
"Jangan ragu atau merasa sungkan, kamu sudah banyak membantu kakak, jadi pertimbangkan masa depanmu, belajar agama memang sangat penting, tapi kebutuhan duniawi juga penting, kalau tidak anak istrimu nanti mau makan apa?" Jeremy mengucapkan sesuai realita yang ada.
"Baik kak, nanti saya akan diskusikan dulu kepada Abah dan Umi, terima kasih sebelumnya."
"Nah gitu dong, kalau kamu punya kerjaan bagus kamu kan juga bisa bantu sesama, diluar sana masih banyak yang membutuhkan uluran tangan kita, karena selain doa mereka juga butuh sesuap nasi untuk melanjutkan hidup."
Kenyataan memang kejam, dunia memang sering menuntut seseorang keluar dari zona nyamannya untuk menghadapi realita yang ada.
"Okey kak, kalau begitu untuk membalas jasa kedua kakakku yang baik ini, emm.."
"Tampan juga Sholeh." Jawab mereka dengan kompak.
"Fuuh... baiklah kakaku yang baik dan tampan, aku akan memberikan satu cara agar kakak bisa menghafal enam puluh empat ayat ini dengan cepat dan mudah." Ucap Sholeh yang seolah meniupkan hawa semilir bagi Jeremy yang sedang prustasi.
"Woah... kamu memangnya, kenapa nggak dari tadi, mata kakak rasanya sudah mau lepas dari cangkangnya, punggung kakak pegal, kaki sudah kram karena kebanyakan bersila, aish... kamu ini lah!" Jeremy langsung memeluk Sholeh dengan erat.
"Mau mengeluh atau mau menghafal ini?" Tanya Sholeh yang sebenarnya meras abahagia karena dipertemukan dengan mereka, walau awalnya kesal namun lama kelamaan merasa bahwa hidupnya menjadi sedikit lebih berwarna.
"Ya menghafal lah Sholeh, kakakmu ini sedang memperjuangakan wanita yang berharga tau nggak?" Jermey kembali membenahi cara duduknya.
"Ingat, tujuan utamanya tetap cinta kepada Allah dan Rosullallah."
"Siap Sholeh." Jawab Jeremy dengan mantap.
"Akan aku tulis dalam Bahasa Indonesia saja, biar kakak bisa dengan mudah menghafalnya."
"Ya ampun Sholeh, kenapa nggak daritadi kamu menyarankan hal seperti itu!" Jeremy dan Nicholas juga tidak terpikirkan kearah sana.
"Kakak kan harus berusaha dulu, kalau sudah kepepet begini baru kita tempuh jalan pintas, tapi setelah ini kakak tetap harus belajar mengaji, untuk bekal kita ke Akhirat nanti." Ucap Sholeh sambil menulis bacaan itu.
"Waaah... Kamu memang cocok jadi adek kami, terima kasih banyak Sholeh, kamu kecil-kecil kayak cabe rawit, mungkin suatu saat nanti kamu bisa menjadi penerus Nicholas!"
"Lalu anak saya kelak gimana Bos?" Nicholas bahkan langsung terfikir generasi penerusnya yang entah kapan akan muncul di dunia ini.
"Perusahaanku bukan cuma satu, lagian kamu aja sekarang masih Jomblo, pake ngomongin anak segala, mau brojol dari mana coba?"
"Sholeh... Trik untuk mendapatkan santri perempuan disini apa, kasih tau kakak dong, kakak kan juga mau mendapatkan bidadari Surga." Nicholas lansung berpindah ke arah Sholeh.
"Gampanglah itu, nanti kita bisik-bisik di belakang saja, yang penting sekarang kak Jeremy lolos dulu."
"Wahahaha... Sholeh, kamu memang hebat dan luar biasa, aku bangga padamu!"
Akhirnya mereka semua bisa tertawa ditengah-tengah suara Jangkrik yang bernyanyi di luar sana, dan Jeremy pun bisa tersenyum dengan lega, setidaknya dia punya harapan bisa menghafal dengan cepat walau dengan waktu yang singkat.
Karena hanya tinggal beberapa langkah lagi dia bisa mendapatkan seorang wanita yang sudah berhasil mengombang-ambingkan dirinya dan perasaannya seperti ini.
Jangan pernah membiarkan hari yang buruk membuatmu merasa seperti kamu memiliki kehidupan yang buruk.
"Tuhan tidak menuntut kita untuk menjadi sempurna. Yang Dia minta hanyalah agar kita terus mencoba dan mengambil langkah-langkah untuk bertumbuh." - Joel Osteen
To Be Continue....