Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
58. Bismilah Cinta


...Happy Reading...


Jeremy said...


Ibarat kata, Laut yang dalam akan aku sebrangi dan gunung yang tertinggi pun akan aku daki, jika itu demi kamu, my Hanny.


Sudah beberapa hari ini Jeremy dan Nicholas berada didalam pondok Pesantren itu, namun tidak full dua puluh empat jam, hanya dari sore sampai malam saja, karena dia juga harus mengurus kantor saat pagi hari.


Bahkan beberapa hari ini beberapa jadwal meeting harian di sore hari untuk sementara ini Jeremy tunda, mengenai laporan perusahaan dan lainnya, Nicholas yang akan mengurusnya lewat media on line saja.


Untuk saat ini Jeremy akan fokus dalam hal mempelajari tentang ilmu Agama yang tidak pernah dia dapatkan dari keluarganya.


"Abah.. kenapa sih kita harus mempelajari ilmu agama?"


Jeremy sengaja mendekati Abah saat beliau berada didalam Masjid setelah sholat Jama'ah selesai.


"Ilmu agama itu sangat penting untuk dipelajari karena dengan mempelajari ilmu agama kita dapat mengetahui tuntunan hidup yang sesuai dengan syari'at islam."


Abah pun tidak pernah merasa keberatan, jika salah satu dari santrinya ingin mengobrol dari hati ke hati berdua saja, jika memang itu masih dalam batas wajar.


"Kalau orang yang tidak mau mempelajari ilmu agama bagaimana Bah?" Banyak kata tanya yang Jeremy lontarkan disana dan Abah pun menjawabnya dengan sabar.


"Seseorang yang tidak mau mempelajari ilmu agama, maka hidup didunia akan selalu berada dalam kesesatan."


Abah juga sangat bahagia, jika ada orang yang ingin mendengarkan dakwah-dakwahnya tentang kebajikan.


"Wuidih... ngeri juga ya Bah, tapi kalau alasannya untuk bekerja bagaimana Bah, kita kan harus memenuhi kebutuhan hidup yang saat ini semakin mahal, semua butuh uang kan Bah?" Jeremy benar-benar ingin tahu dengan segala hal, dia bertanya sesuai apa yang menyangkut di otaknya, tanpa rasa malu sesuai dengan realita yang ada.


"Itu memang benar, tapi jika kamu mengejar Akhirat, Insya Allah dunia akan mengikutimu, namun jika kamu hanya mengejar dunia saja, untuk apa? sedangkan kita hidup di dunia ini bukan selamanya, yang lebih kekal itu hidup di Akhirat nanti."


"Begitu ya Bah?" Jeremy hanya bisa mengangguk-nganggukan kepalanya saja.


"Tapi.. bukan jadinya kamu hanya bermalas-malasan dan tidak melakukan hal apapun kecuali ibadah, itu pun salah."


"Lalu?"


Rasa ingin tahu dari diri Jeremy memang sangat besar.


"Bekerja keraslah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan bekerjalah untuk Akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi, jadi keduanya harus selalu diimbangi."


Di pondok pesantren itu, jika sudah ada yang lulus sekolah dan tidak punya pekerjaan lain, Abah punya usaha mebel dan kerajinan tangan, yang pekerjanya adalah dari santri-santrinya disana.


Jadi selain mendapatkan ilmu Agama, para santri disana juga bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan juga masa depan mereka.


"Abah, lalu kapan Abah mau menikahkan aku dengan Hanny?"


Setelah memgobrol panjang lebar, kembali lagi ke topik pembahasan utama.


"Memangnya apa yang kamu pelajari dari sini sudah cukup?" Tanya Abah yang kembali menghela nafas jika Jeremy sudah menanyakan tentang santri yang mendadak jadi idola diantara santri pria.


"Cukup sih belum Bah, tapi sudah beberapa hari ini saya tidak melihat Hanny Bah, ya ampun Bah... rasanya nggak enak banget, makan nggak kenyang, tidur nggak nyenyak, kepala pusing, badan pegel, dan setiap saat selalu saja terbayang-bayang wajah Hanny, bagaimana ini Bah?"


Disana, hanya Jeremy lah satu-satunya Santri yang berani curhat masalah hati dengan Abah seolah dia anggap seperti teman sendiri.


"Astagfirulloh Jeremy, sepertinya hati kamu masih dipenuhi dengan hawa nafsv saja." Abah melonggarkan kerah baju kokonya, karena kalau sudah membahas Hanny, mulut Jeremy ini sering di luar dugaan.


"Berusaha lah lebih keras lagi, jika memang dia jodohmu, suatu saat kalian pasti akan dipersatukan oleh yang Maha Kuasa." Abah langsung menepuk bahu Jeremy perlahan.


"Kurang keras apalagi Bah, saya bahkan tidak punya waktu untuk bersantai, sepulang dari Kantor saya langsung kemari mengaji, malam pun ikut kegiatan dari Pesantren, tapi apa daya Bah, saat sebelum tidur melihat atap pondok itu terlukis wajah Hanny disana, saat bangun melihat tembok juga seolah ada gambar Hanny menempel disana, bahkan saat aku mengambil piring, terlihat wajah Hanny yang menjadi corak diatasnya, lama-lama bisa gila aku Bah." Umpat Jeremy sambil menselonjorkan kaki panjangnya.


"Kalau kamu ke toilet, ada dia juga nggak? atau jangan-jangan dia yang jadi klosetnya?" Ledek Abah yang yang hanya bisa menatap jengah dengan sosok santri baru di pondok pesantren miliknya.


"Enak dong Bah, bisa saya naikin?" Jawab Jeremy yang langsung membuat Abah mengusap kasar wajahnya.


"Astagfirullohal'adzim, Ya Allah ampunilah santri hambamu ini."


Entah sudah berapa kali Abah mengucap istigfar saat mengobrol dengan Jeremy.


"Nak Jeremy, jangan sampai kamu terlalu mencintai ciptaan-Nya, sampai membuat dirimu lupa mencintai pencipta-Nya."


Andai saja Jeremy masih bocah, mungkin Abah sudah menyentilnya karena merasa gemas sendiri.


"Aku tidak lupa Bah, tapi rasa ini seolah menyiksaku?" Tatapan sendu itu terlihat dari wajah Jeremy, seolah melukiskan kejujuran dengan apa yang dia rasakan.


"Jangan terlalu dalam mencintai dan jangan terlalu berlebihan saat membenci, perlu kamu ketahui nak Jeremy, permen yang manis dapat membuatmu batuk dan obat yang pahit dapat menyembuhkanmu dari sakit."


"Iya Abah, tapi ini bukan inginku Bah, semua muncul begitu saja."


"Huft... baiklah... begini saja, jika kamu bisa menghafal Surat An-Nur yang memiliki enam puluh empat ayat beserta dengan artinya dalam semalam, datanglah ke ruangan Abah, besok pagi akan Abah pertimbangkan tentang keinginanmu itu."


Terkadang harus ada sebuah tantangan, untuk membuktikan sebuah keseriusan dalam suatu hubungan.


Duar!


"Abah, saya juga baru tahap belajar Abah, itu pun masih sering salah dalam mengucap Alif, Ba, Ta , Gorr? Lalu bagaimana untuk menghafal enam puluh empat ayat dalam semalam, apa saya bisa Bah?" Untuk membayangkannya saja Jeremy sudah terlihat keberatan, karena masih banyak yang dikoreksi saat dia mengaji.


"Astaga Jeremy, menghafal enam puluh empat Ayat saja kamu tidak sanggup, bagaimana kamu mau membimbing istrimu ke Surga kelak? kalau begitu saya pilihkan Hanny dengan santri Abah yang lainnya saja." Ujar Abah yang ingin membakar semangat di diri santrinya.


"Jangan Bah!" Jeremy langsung tidak terima.


"Jika sampai berkumandangnya Adzan Sholat Subuh besok pagi, kamu belum menghadap ke Abah, jangan sekali-kali kamu berani merengek meminta kepada Abah untuk mengkhitbah Hanny, mengerti kamu?"


"Ya ampun Bah." Jeremy berada dalam situasi yang dilema, dia masih belum yakin dengan dirinya sendiri.


"Bismilah saja, kamu pasti bisa." Abah kembali menepuk bahu Jeremy.


"Tapi Bah?"


"Daripada kamu protes terus, alangkah lebih baiknya jika kamu tidak membuang-buang waktumu disini dan segera belajar mengaji sana, sebelum waktumu habis."


"Bismilah Cinta! Sholeh... Dek? kamu dimana, tolong Om Dek?"


Karena terlalu semangat bahkan Jeremy sampai lupa mengucap salam kepada Abah dan memilih berlari tunggang langgang untuk mencari Sholeh, agar mengajarinya untuk mengaji, karena waktu dia tidak banyak, dan menghafal ayat-ayat suci itu tidak mudah, apalagi untuk seorang pemula seperti Jeremy yang jauh dari kata sempurna soal ilmu Agama.




To Be Continue...