Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
88. Film Bollywood


...Happy Reading...


Akhirnya pagi-pagi sekali mereka berempat sudah dibawa oleh Jet pribadi yang Hanny sewa waktu itu.


Perjalanan mereka cukup lancar, bahkan tidak sampai tiga jam mereka sudah kembali ke tanah air.


"Alisya, aku antar kamu pulang ya?" Nicholas langsung dengan sigap membawakan tas milik wanita idamannya.


"Nggak usah mas, soalnya nanti aku mau pulang kerumah orang tuaku dulu."


"Ya udah, sekalian mas mau kenalan sama orang tua kamu?"


"Jangan dulu, mereka belum tahu apa-apa soal kamu."


"Ya biar mereka tahu sayang."


"Mas jangan dulu panggil aku sayang, aku jadi kayak wanita yang nggak bener, dipanggil sayang sama pria lain sedangkan aku sudah menikah." Sebenarnya Alisya tidak keberatan dengan panggilannya, namun dia hanya memikirkan apa pendapat orang lain nanti tentangnya.


"Kamu kok akhir-akhir ini jadi judes banget sama aku, salah aku dimana coba?" Nicholas pura-pura jadi sad boy yang teraniaya.


"Mas sebaiknya kamu pulang saja dulu, mas itu harus banyak-banyak istirahat biar lukanya cepat pulih."


"Obat aku cuma kamu Alisya."


"Preeettt! kalau ngomong itu udah kayak rajanya Buaya aja!" Ledek Hanny yang berjalan didepan mereka.


"Bos, istri anda itu loh, tadi malam emang bos masih kalah tanding ya?" Nicholas mulai berulah kembali.


"Sarmin, kamu benar-benar ya!" Hanny langsung memelototkan kedua matanya, karena tadi malam Jeremy benar-benar menggempurnya habis-habisan, bahkan dalam dua belas jam itu, dua belas ronde pula dia bertanding, itu kenapa Jeremy lebih banyak diam, karena tenaganya sebenarnyanya sudah terkuras habis tadi malam sampai dini hari.


"Sayang kamu masih mau nambah lagi?" Tanya Jeremy yang pantang direndahkan, apalagi soal ranjang bergoyang.


"Enggak mas, sudah cukup, aku capek banget mau tidur dulu setelah ini."


"Kalau kamu masih mau nggak papa, biar tidur siang kita semakin nyenyak?" Ucap Jeremy dengan santai seolah masih punya tenaga cadangan, padahal pinggangnya berasa sudah mau lepas dari engselnya karena kebanyakan bergerak.


"Okey, tapi aku mau melakukan hal itu didepan Nicholas, gimana?"


"Setuju!" Jeremy langsung menjawabnya tanpa berpikir panjang lagi.


"Dih... Ogah! kenapa jadi gue dibawa-bawa." Nicholas langsung menolak mentah-mentah.


"Kenapa? takut mupeng loe, biar kamu bisa belajar nanti, jadi saat sudah menikah kamu sudah berpengalaman, hayuklah... kita ke apartementku dulu, kamar aku cukup luas untuk kalian agar bisa menonton aksi kami dengan jelas."


"Dasar wong edan, ayo Alisya, kita pergi duluan dari sini, daripada otak suci kamu ternodai oleh mereka." Nicholas langsung menarik lengan Alisya.


"Pffthh... rasain kamu, aku kerjain balik ketakutan sendiri kan jadinya, Hanny diajak main-main, mainkanlah, haha!"


Hanny langsung tersenyum puas bisa membalas kelakuan Nicholas dan akhirnya mereka berdua segera pulang ke apartement mereka untuk balas dendam tidur.


Dan Nicholas akhirnya hanya mengantarkan Alisya sampai ke terminal bus saja, karena dia ngotot tidak mau diantar sampai rumahnya.


"Alisya, jadi kapan aku boleh datang ke rumahmu?"Nicholas ikit naik ke bus, untuk sekedar membawakan tas milik Alisya.


"Jangan di waktu dekat ini ya mas, soalnya aku harus menjelaskan semuanya ke keluargaku dulu, agar mereka mengerti."


"Kalau kamu kurang bukti, nanti aku, bos Jeremy dan istrinya pasti akan membantu untuk menjelaskan siapa Yoga yang sebenarnya, okey?"


"Iya mas,sekaramg mas turun sana, ini sudah jamnya."


"Jangan lama-lama ya dek, mas akhir-akhir ini gampang sakit."


"Sakit apa mas?"


"Sakit MalaRindu sama kamu."


"Ckk... Mas ini bercanda terus deh, ya sudah aku pergi duku, bis nya sudah mau berangkat, mas banyakin istirahat ya, biar cepat sehat lagi."


"Okey, hati-hati dek, begitu sampai cepat hubungi mas ya?"


"Hmm... kali ini aku lebih suka panggilan dari kamu." Ujar Alisya dengan senyum manisnya.


"Aaaaa... jadi nggak rela pisah dek." Rengek Nicholas sambil memegangi pintu bus itu dan menyandarkan kepalanya disana.


"Nggak usah lebay deh mas, lusa juga paling aku udah nguli lagi, lagi pula aku harus kembali ke kampus juga kan."Alisya hanya bisa terkekeh melihat kelakuan pria yang satu ini.


"Aish... aku benci perpisahan seperti ini, bye Anjeliii!"


Saat Bus itu sudah bergerak, Nicholas sempat berlari untuk melambaikan tangannya kearah Alisya.


"Pffthh... Bye Rahuuul!"


Walaupun sempat menahan rasa malu karena dilihat orang banyak, namun Alisya tetap membalas lambaian tangan dari Nicholas, bahkan mereka sudah seperti pemain di film Bollywood saja.


Akhirnya drama siang ini berlalu dengan berakhirnya Nicholas saat mengantar kepergian bus yang membawa Alisya ke kota kelahirannya.





Tulilut



Tulilut



Tulilut



"Ckk... siapa sih yang nelpon, ganggu orang lagi mau tidur aja." Nicholas mengabaikan panggilan itu, namun sang penelpon tak kunjung menyerah, dia kembali menghubunginya lagi.



"Hallo, nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, silahkan coba lagi nanti, kalau enggak besok!" Jawab Nicholas yang menirukan suara operator.



"Hei Bandit, ini penting!"



"Aish... Bodat, aku sedang tidak minat mendengar suara de sahan kalian, ataupun gaya bercinta kalian, jadi tolong jangan ganggu aku, terima kasih!" Umpat Nicholas dengan kedua matanya yang seolah sudah sulit terbuka.



"Heh... dasar Sarmin Pe Ak, ini tentang Yoga!"



"Kenapa dengan dia?" Saat mendengar nama rivalnya, suara Nicholas berubah menjadi mode serius.



"Aku mendapatkan kabar, ternyata dia dipulangkan juga dari rumah sakit sana."



"Loh.. Bukannya seharusnya dia masih ditahan?"



"Sudah aku bilang, dia bukan mafia biasa, masalah seperti itu bisa anak buahnya selesaikan dengan mudah."



"Lalu bagaimana dengan Alisya?"



"Itu dia masalahnya, jika kamu tidak gerak cepat, Yoga pasti akan kembali membawa Alisya pergi."



"Sialaaan! kalau begitu aku tutup telponnya!"



"Woi... Tunggu dulu!" Teriak Hanny yang sebenarnya masih ingin bicara.



"Aku harus segera menemui Alisya, kalau perlu aku bawa kabur saja dia, bye!"



Tut



Tut



Tut



*Ya Allah... Perdalam lagi rasa sabarku, perluas lagi rasa syukurku, perkuat lagi hati dan bahuku, jadikan aku seikhlas-ikhlasnya atas apa yang kau kehendaki, karena aku percaya bahwa segala yang terjadi hari ini, esok dan nanti adalah berkat campur tanganmu, amin*.



Nicholas langsung memutuskan panggilan telepon dari Hanny sambil berdoa didalam hati, tanpa mau mendengarkan kata penutup dari Hanny, kini dia tidak mau membuang-buang waktunya lagi, dia bahkan tidak perduli dengan tubuhnya yang belum jadi istirahat, karena prioritas utamanya saat ini adalah Alisya seorang.