Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
64. Air Comberan


...Happy Reading...


Seburuk-buruknya diri, tetaplah menjadi diri sendiri, tidak perlu bermuka dua, hanya untuk dipuji oleh mereka.


Tidak ada orang yang bisa menilai diri kita yang sebenarnya, karena memang tidak ada yang benar-benar tahu apa yang kita alami.


Mereka mungkin pernah mendengar ceritanya, tapi mereka tidak pernah merasakan apa yang kita rasakan pada kenyataannya.


Flashback


Jeremy seolah tidak bisa menerima kenyataan jika Hanny benar-benar menikah dengan pria lain, bahkan didepan kedua matanya sendiri.


Kondisi tubuhnya memang kurang istirahat dan belum ada asupan makanan untuk mengisi energi, itulah yang membuat daya tahan tubuh Jeremy lemah, akhirnya dia tumbang di pelataran Masjid dan tidak sadarkan diri.


Saat kedua matanya mulai terbuka, dirinya sudah dikelilingi oleh wajah para santri pria yang semua tertuju kearahnya.


"Argh... aku kenapa?" Jeremy mengerjapkan kedua matanya perlahan.


"Bos, apa yang anda rasakan, apa ada yang sakit, anda pingsan tadi?" Nicholas langsung memijit lengan Jeremy perlahan.


Apa? aku pingsan? lalu apa pernikahan Hanny ditunda karena aku? baguslah itu, aku akan merebutnya walau apapun caranya, aku tidak rela jika dia dimiliki oleh pria lain.


Jeremy langsung memutar otaknya, apapun itu akan dia lakukan, bahkan hal gila sekalipun.


"Hanny.. my Hanny."


Terlintas satu ide gila dari Jeremy, yaitu pura-pura kesurupan dengan memelototkan kedua matanya dan menyebut-nyebut nama Hanny.


"Bos, anda kenapa?" Nicholas semakin panik melihatnya dan mulai menepuk-nepuk pipi Bosnya.


"Hei... siapa diantara kalian yang berani mengambil kekasih hati dari raga tubuh ini, hah!" Ucap Jeremy dengan menajamkan kedua matanya kearah para santri disana satu persatu, bahkan sambil mengeratkan giginya dengan tatapan bengis.


"Astagfirullohal'adzim, apa kak Jeremy kesurupan?" Sholeh yang memang belum pernah melihat kejadian seperti itu mulai merasa ketakutan, apalagi Jeremy mengepalkan kedua tangannya, sehingga otot-otot kekarnya terlihat menonjol di lengannya.


"Hah? jangan bercanda kamu Sholeh, masak dia kesurupan, ini kan di pondok pesantren?" Nicholas merasa ragu, namun ekspresi wajah dan tubuh Jeremy saat ini memang terlihat meyakinkan.


"Hei... jangan coba-coba mengambil wanita itu, atau kalian tidak akan bisa hidup dengan tenang mulai saat ini!" Jeremy kembali berteriak, bahkan membuat para santri yang lainnya mulai memundurkan langkahnya, dan sedikit menjauhi tubuh Jeremy.


"Tidak... aku tidak mengambilnya bos!" Nicholas langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, seolah sedang ditodong oleh Jeremy hanya dengan lirikan matanya saja.


"Kalau kalian berani mengambil Hanny dari kepemilikan tubuh pria ini, akan aku jadikan tumbal dari tubuh kalian satu persatu, hahahaha!"


Tawa Jeremy bahkan tiba-tiba menggelegar disana, membuat para Santri disana langsung merinding ketakutan, tapi merasa penasaran juga ingin melihat keadaan Jeremy selanjutnya.


"Sholeh, bacakan doa untuknya, biar setannya pergi dek!" Nicholas langsung mendorong perlahan tubuh Sholeh agar menjadi garda terdepan saat itu.


"Hah? baiklah."


Walau sedikit ketakutan Sholeh memberanikan diri untuk mendekat dan duduk jongkok dihadapan Jeremy sambil membacakan surah Ayat Kursi.


"Waaarrrww!"


Jeremy sengaja mengaurmkan suaranya dan pura-pura ingin mencekik leher Sholeh.


"Astagfirullahal'adzim, Allohu Akbar!" Sholeh yang tidak pernah menghadapai orang kesurupan seumur hidupnya langsung terlonjak kaget dan memilih mundur menjauh dari tubuh Jeremy setelah berhasil mengibaskan kedua lengan kokohnya.


"Aduh.. gimana ini, Abah... tolong Abah!" Nicholas semakin panik dan akhirnya berteriak memanggil Abah.


"Abah, tolong kemari Abah!" Sholeh pun ikut heboh dan berlari untuk menyuruh Abah agar segera datang mendekat.


"Kenapa bisa jadi begini?" Abah langsung datang memecah segerombolan para santri yang masih menyimak reaksi Jeremy.


"Katanya dia nggak rela kalau Hanny menikah dengan orang lain." Ucap Nicholas seketika.


"Orang lain siapa, bukannya dia sendiri calonnya?" Ucap Abah tanpa sadar.


"Heh?"


Jadi aku calonnya? jadi Abah menerima hafalanku, aish... kenapa nggak ngomong dari tadi, aku kan nggak perlu capek-capek bersandiwara seperti ini.


Tanpa sadar Jeremy langsung melirik kearah Abah dan itu membuat Abah langsung menyunggingkan senyuman disatu sudut bibiirnya.


"Tapi tadi dia bilang begitu Bah, saya rasa pak Jeremy kesurupan Bah, dia bahkan hampir mencekik leher Sholeh tadi Bah, gimana dong?" Nicholas masih terlihat khawatir, karena dia belum pernah melihat Jeremy seperti ini.


"Hmm... aku rasa dia memang kesurupan, cepat ambilkan Abah satu ember air." Ucap Abah yang terus melihat gerak-gerik Jeremy.


"Baik Abah!" Nicholas selaku asisten terbaik dari Jeremy langsung siap sedia seketika.


"Eh.. kamu mau ambil air dari mana?" Abah langsung menahan bahu Nicholas saat dia ingin segera berlari untuk mengambilkan air.


"Air dari tempat wudhu kan Bah? atau ada air suci ditempat lain?" Tanya Nicholas yang langsung heboh.


"Bukan, tapi Abah mau kamu ambilkan air dari selokan." Jawab Abah yang membuat semua orang disana merasa heran.


"Iya, biar lebih manjur Abah mau kamu mengambilkan air comberan, kalau perlu air yang dari tempat pembuangan buang air besar."


"Hah, seriusan Bah?" Nicholas seolah tidak percaya saat mendengar perintah dari Abah.


"Hooeekk!"


Begitu mendengar air comberan bekas buang air besar, perut Jeremy seolah terasa mual, karena dia sudah membayangkan air yang berwarna kuning kecoklatan dan berbau busuk.


"Fuh... Astagfirullohal'adzim, kenapa ada santri yang modelan kayak begini." Abah langsung menggelengkan kepalanya sambil terus menerus menghela nafasnya dengan kasar, dia selalu dibuat takjub oleh kelakuan Jeremy yang lain dari pada yang lain.


"Bos, apa anda sudah sadar?" Nicholas merasa sedikit lega.


"Belum, cepat kamu ambilkan air comberan di belakang closet kamar mandi sana, biar setan yang merasukinya hilang." Abah sengaja ingin mengatakan hal itu, untuk menunjukkan kegilaan dari seorang Jeremy.


"Baik Abah!" Jawab Nicholas kembali.


"Hoerk... hoerk... jangan! Setannya udah keluar tadi dengan sendirinya." Ucap Jeremy sambil memegangi perutnya sendiri.


"Dih... masak setan takutnya sama air comberan, remeh sekali, harusnya dia lebih takut dengan ayat-ayat suci Al-Quran bukan?" Sholeh langsung memicingkan kedua matanya, merasa ada yang aneh karenanya.


"Mungkin dia Setan model terbaru dek?" Nicholas tetap membela bos nya.


"Terbaru bagaimana, yang namanya setan sedari dulu terbuat dari api, tidak pernah dirubah, masak iya dia Setan di era yang serba digital, jangan bilang dia juga butuh STB juga ya?" Umpat Sholeh kembali.


"STB apaan dek?"


"Itu loh, Set Top Box yang sering diributkan para emak-emak jaman sekarang."


"Hahaha, kamu kok tahu aja curhatan emak-emak jaman sekarang dek?" Nicholas langsung tertawa karenanya.


"Sering dengar dari emak-emak yang ngedumel di warung depan, katanya anaknya pada nangis semua, karena Televisinya nggak ada gambarnya, bahkan sampai rela nggak jadi beli beras hanya untuk beli set top box,biar bisa nonton film kartun, kasihan sekali mereka kan?"


"Begitu ya, apa perlu aku borong itu barang dan aku bagi-bagikan ke mereka ya dek?"


"Boleh juga itu kak, setidaknya sedikit membantu disaat keuangan sedang sulit namun kebutuhan harganya naik selangit."


"Siap dek, besok kakak belikan, sekalian dengan pabriknya aja, itung-itung sodaqoh ya kan dek!" Nicholas mulai mempertimbangkannya.


"Astagfirullah... kenapa kalian berdua malah jadi menggosip? jadi siapa yang mau ambilkan air comberan ini?" Abah langsung menengahi obrolan keduanya.


"Uhuk.. uhuk.. ampun Abah, aku sudah sadar!" Jeremy langsung memilih pura-pura sadar daripada diguyur dengan air comberan.


"Huft, kalau begitu bangun kamu, berdiri didepan mimbar masjid dan ucapkan kebohonganmu kali ini, Abah tidak suka ada santri yang berbohong disini, mengerti kamu?" Ucap Abah dengan tegas.


"Tapi Bah?"


"Atau aku sungguh-sungguh akan menikahkan nak Hanny dengan santri lain disini, apa ada yang bersedia menikah dengan Hanny sekarang juga?" Tanya Abah dengan para santri lainnya.


"Saya mau Abah!"


"Saya juga mau Bah!"


"Saya mau banget Abah!"


Beberapa dari santri pria disana langsung mengacungkan jari mereka ke udara bahkan seolah berebut jika memang disuruh menikahi Hanny.


"STOP! Tidak ada yang boleh menikahi Hanny selain saya!" Ujar Jeremy dengan mantap.


"Maju ke depan mimbar sekarang juga, akui kesalahanmu didepan mereka semua!" Titah Abah kembali.


"Huft... baik Abah!" Jeremy tidak mau mengambil resiko apapun, dia lebih baik malu saat ini didepan para santri disana,daripada menyesal karena Hanny menjadi milik orang lain.


"Angkat juga satu kakimu dan jewer telingamu sendiri, mengerti!" Ujar Abah yang ingin memberikan hukuman, dan memberikan peringatan kepada santri-santri yang lainnya.


"Mengerti Abah!" Jawab Jeremy dengan tampang lemasnya.


"Dan ini juga untuk pembelajaran bagi kalian semua, siapapun kalian yang berbohong disini, tetap akan mendapatkan hukuman, ingat satu hal, Rasulullah Saw bersabda: Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka."


"Baik Abah."


"Ayo Jeremy, lakukan hukumanmu dan jangan pernah kamu ulangi lagi kesalahanmu itu, atau Abah akan menambah hukumanmu, jangan bisanya cuma nge-reog aja kamu, umur sudah matang tapi kelakuannya kayak anak kecil."


"Iya Abah, maafkan saya Abah, saya menyesal." Jawab Jeremy yang langsung mencivm tangan Abah dan segera melangkah kedepan mimbar yang ada didalam masjid itu.


"Pfftthh... hihi... wekawekaweka... Cekakaka!"


Akhirnya para Santri itu tidak lagi bisa menahan tawa mereka, saat melihat Jeremy melakukan apa yang diperintahkan oleh Abah sebagai hukumannya.


Flashback Off


To Be Continue...