
...Happy Reading...
Alisya bahkan tidak bisa berpikir untuk saat ini, dia berada dalam keadaan dilema, sesungguhnya hal itu wajar-wajar saja dilakukan oleh pasangan yang sah.
Namun jika keduanya memang sama-sama saling menyukai, lain halnya dengan Alisya yang merasa terpaksa dengan pernikahan ini, hatinya sungguh merasa terbebani.
Apalagi harus melayani hasrat suaminya yang seperti itu, hatinya ingin sekali menolak, namun raganya tidak bisa bergerak.
"Sini, buka bajumu!" Yoga langsung membuka paksa baju Alisya, saat dia hanya terdiam tanpa berkata-kata.
Saat melihat anugerah terindah dari yang Sang Maha Kuasa itu, bahkan mata Yoga tidak mau berkedip, dia begitu mengagumi sosok Alisya sedari dulu, bahkan sampai luar dalam.
Glek!
Bahkan Yoga terlihat menelan salivanya berulang kali, dia seolah sudah seperti orang yang tidak minum selama berhari-hari, kering kerontang dan butuh asupan minuman.
Nyot!
Nyot!
Tanpa ragu lagi, Yoga langsung menyerang Alisya dan melakukan apa yang dia suka diantara kedua bukit barisan yang memang terlindung dengan rapat itu.
Mas Nicholas... Tolong maafkan aku!
Alisya hanya bisa memejamkan kedua matanya, dia tidak merasakan kenik matan dari sana, karena dia melakukan hal itu karena terpaksa.
"Eherm... Yoga, maaf.. aku... aku kebelet pipis!"
Alisya langsung mendorong paksa kepala suaminya yang masih ingin menempel disana.
"Alisya, aku masih pengen!" Ucap Yoga dengan wajah mupengnya.
"Maaf mas, tapi aku beneran kebelet ini!" Alisya bahkan menutup dua bukitnya dengan tangan yang sudah bergetar sedari tadi.
Bugh!
"Haissh... ya sudah, cepat sana!"
Akhirnya Yoga memilih memukul bantal disampingnya untuk melampiaskan kekesalannya, saat Alisya sudah berlari ke kamar mandi.
Hampir setengah jam Alisya berada dikamar mandi, dia bingung harus dengan alasan apa dia menolak suaminya yang seolah sudah menggila itu, sedangkan pikiran Alisya selalu teringat dengan janjinya dengan Nicholas.
Brak!
Brak!
Brak!
"Alisya, kenapa lama sekali, kamu tidur ya didalam sana!"
Yoga sudah tidak tahan lagi menunggu terlalu lama disana, akhirnya dia menggebrak pintu kamar mandi itu berulang kali dengan wajah penuh dengan kekesalan.
"Iya.. Iya.. maaf Yoga, aku ngantuk sekali soalnya tadi." Alisya hanya bisa menarik nafasnya berulang kali untuk mencari kekuatan yang tersisa.
"Cepat keluar, lanjutkan tugasmu!" Teriak Yoga dari luar pintu.
"Aish... Bodo amatlah, aku kan cuma menjanjikan yang bawah saja yang aku jaga, itu pun dalam jangka seminggu, kalau yang lainnya nggak papa kali ya, itung-itung sodaqoh dengan suami sah, maaf ya mas Nicholas, aku tidak bisa melarang permintaan suamiku." Umpat Alisya perlahan, itu tekadnya, karena memang dia tidak punya cara lain lagi.
"Kamu ini, apa enaknya tidur di kamar mandi!" Umpat Yoga dengan tatapan tajam dari kedua mata elangnya.
"Maaf Yoga, aku nggak sengaja." Jawab Alisya sambil menundukkan pandangannya.
"Sini, lanjutkan tugasmu!"
Yoga langsung menarik lengan Alisya dan membantingnya di atas ranjang empuk hotel itu.
"Yoga, aku harus apa?" Alisya hanya bisa menjambak sprei dari ranjang itu dengan keringat yang sudah mulai menetes di keningnya.
"Mau sambil tiduran apa duduk?" Tanya Yoga dengan senyum penuh kelicikan.
"Aku nggak tahu Yoga, aku sama sekali tidak pernah melakukan hal ini, sungguh!" Alisya kali ini berbicara dengan jujur, karena memang baru kali ini dia melihat benda itu secara langsung didepan kedua matanya.
"Ya sudah, makan es krimnya, cepat!"
Yoga langsung memasukkan senjatanya ke mulut Alisya dengan paksa, dan berdiri dihadapannya.
"Hmpth... Hoerk... Hoerk..!"
Bukan hanya mual, Alisya bahkan langsung muntah betulan, perutnya serasa di obok-obok, dan rasa-rasanya sudah ingin menyembur keluar semua.
"Aish siaaal, kenapa kamu muntah betulan Alisya, jorok tau nggak!" Teriak Yoga yang langsung mengibaskan barangnya saat terkena muntahan dari perut Alisya.
"Em.. hmpth... maaf.. maafkan aku, hoerk.. hoerk!"
Alisya langsung berlari menuju ke kamar mandi dan memuntahkan isi didalam perutnya.
"Gimana, udah enakan belum perutnya?"
Setelah beberapa saat, Alisya keluar dan berjalan mendekat kearah suaminya.
"Lumayan sih, tapi maaf Yoga, aku tidak bisa melanjutkannya, aku takut muntah lagi nantinya." Akhirnya Alisya punya alasan kembali untuk menolaknya.
"Ya sudah, tidak apa-apa." Ucap Yoga yang terlihat kecewa, namun daripada bendanya kotor, memang dia sudah tidak berminat untuk melanjutkannya lagi.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.
"Siapa?" Jawab Alisya yang langsung berjalan mendekat ke arah pintu untuk membukanya.
"Room Service." Jawabnya dari luar sana.
"Buka saja, aku yang menyuruhnya kemari." Yoga langsung menggangukkan kepalanya saat Alisya menoleh kearahnya.
"Permisi, saya Room Service disini, apa ini benar ruangan pak Yoga Pratama?" Sapanya dengan senyum yang menggoda.
"Anda pegawai room service?"
Alisya seolah tertegun, room service yang dia kira itu adalah petugas bersih-bersih dengan baju seragam mereka yang khas.
Tapi wanita itu tidak menggunakan seragam layaknya room service, dia bahkan mengunakan baju seksi dan super ketat, bahkan bibirnya terlihat merah merona.
"Alisya kamu keluar saja dulu, cari makan atau minum yang hangat dulu sana, satu jam lagi kamu boleh kembali ke ruangan ini." Yoga seolah langsung mengusir Alisya agar keluar dari sana.
"Tapi Yoga, dia?" Alisya seolah masih tidak percaya dengan wanita itu.
"Sudahlah, keluar sana, nanti kamu muntah lagi, jorok tau nggak!" Umpat Yoga yang langsung mengibaskan tangannya.
"Tapi baju kamu itu?" Alisya semakin bingung, apalagi Yoga hanya menggunakan boxernya saja seperti tadi.
"Cepat keluar sana, biar dia yang membereskan kamar ini, aku mau tidur, jangan ganggu aku, satu jam lagi kamu bisa masuk!" Teriak Yoga kembali.
"Yoga!"
"Keluar sana, jangan membuatku marah denganmu, sudah tidak bisa melayani suami dengan benar, banyak protes lagi, pergi sana! aku mau tidur."
Karena suara Yoga sudah meninggi, akhirnya Alisya memilih berjalan keluar meninggalkan ruangan itu dengan sejuta rasa penasaran dihati.
"Tutup pintunya!" Teriak Yoga kembali.
"Baiklah!" Jawab Alisya perlahan.
Namun saat menutup pintu, Alisya sengaja mengganjal pintu itu dengan sendalnya, sehingga pintu itu tidak tertutup dengan rapat.
Apa yang akan dilakukan oleh wanita itu? masak iya tukang bersih-bersih pakaiannya kayak begitu, mana bodynya semlehot lagi?
Disaat Alisya duduk bersandar didinding luar sambil menahan pintu kamar itu dengan sendal dia asyik melamun dengan pikirannya sendiri.
Namun tak lama setelah itu, dia mendengarkan suara-suara aneh dari dalam sana.
"Mereka sedang apa sih, jadi penasaran aku?"
Saat dia mengintip dari lubang pintu itu, walau hanya sempit tapi Alisya bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan wanita room service itu didalam sana dengan suaminya.
"Emh... hmpth... faster beib!"
Tiba-tiba suara-suara aneh itu berubah menjadi suara adu de sahan.
"Astagfirullahal'adzim, astaga Yoga, apa yang kamu lakukan!" Umpat Alisya perlahan.
Namun Alisya hanya bisa menjambak hijabnya saja, walau dia tidak menyukai Yoga, namun hatinya begitu miris melihat kelakuan suaminya yang ternyata sangat bejat.
Akhirnya Alisya memilih menutup rapat pintu kamar itu, dia tidak tahan melihat suaminya bertempur dengan wanita room service dengan fanas diatas ranjang itu.
"Ya Tuhan... hambamu mohon, semoga Engkau memberikan jalan agar hambamu bisa lepas dari belenggu suami hambamu dan menemukan sosok suami yang bisa membawa hambamu menuju ke Surgamu, amin."
Alisya memilih melenggangkan kedua kakinya meninggalkan ruangan itu, walau bagaimanapun juga Yoga tidak pantas melakukan hal itu disaat sudah berstatus sebagai suami orang, namun Alisya selalu berfikir positif, mungkin Tuhan sengaja memberi tahu kepada dirinya, bahwa suaminya itu seorang pendosa dan tidak layak menjadi pendamping dirinya, apalagi harus mempertahankannya.
... "Titik terendah yang kita lalui adalah suatu langkah untuk menerima, bahwa semua akan tetap berjalan semestinya."...