
...Happy Reading...
Rasa rindu didalam diri Jeremy memang sudah menumpuk, niat awal hanya cukup memandangi Hanny dari kejauhan saja.
Saat melihat kecantikan kekasihnya yang semakin paripurna karena menggunakan baju gamis modern dengan jilbab syar'i itu, seolah membuat Jeremy ingin langsung memeluknya dan mengatakan satu kata kepada Hanny, yaitu 'KANGEN'.
Karena terlalu semangat Jeremy jadi tidak sadar jika saat ini dia sedang menggunakan kain sarung.
"Hanny!"
Jeremy langsung melompat pagar pembatas itu tanpa memegangi sarung yang dia kenakan, alhasil terjadilah tontonan wanita dewasa disana.
"Kraaaak!"
"Tuing!"
Karena Jeremy tadi melepas celana panjang yang dia kenakan dan berganti dengan kain sarung, akhirnya saat sarungnya menyangkut dipagar, terlihatlah sangkar burung miliknya dengan jelas.
"Merah Maroon?"
Tanpa sadar Hanny dan Alisya mengumpat secara bersamaan, karena arah pandangan mereka tepat di sasaran.
"Alisya, alihkan pandanganmu!" Hanny langsung menutupi wajah Alisya dengan Mukena yang dia bawa tadi.
"Astagfirulloh hal'azdim, kamu juga Han!"
Akhirnya mereka berdua langsung memalingkan pandangan mereka berdua.
"Astaga Om, ngapain sampai lompat pagar segala sih?" Sholeh dan Nicholas langsung berlari untuk menolong Jeremy yang tidak bisa bergerak karena sarungnya yang nyangkut di ujung pagar.
"Aish... ini salah sarung kamu." Umpat Jeremy yang tidak mau disalahkan begitu saja.
"Pffftth... sakitnya tidak seberapa, tapi malunya luar biasa ya bos?" Ledek Nicholas seketika.
"Diam kamu!" Jeremy langsung melotot kearah asistennya.
"Tapi tadi Om sudah janji, katanya sudah cukup cuma melihat mbak Hanny dari kejauhan saja, kenapa sampai melewati pagar batas, jalur kita disana Om." Sholeh menunjuk tempat santri pria.
"Hanny!" Teriak Jeremy kembali, saat Hanny dan Alisya meneruskan langkah mereka menuju Masjid dengan membelakangi tubuhnya.
"Ayo Om, kita pergi dari sini sebelum ketahuan sama Abah." Sholeh langsung menarik tubuh Jeremy saat ingin mengejar langkah Hanny.
"Tapi dia wanita yang Om cari Sholeh?" Jeremy langsung berontak seketika.
"Iya, Sholeh paham Om, tapi jangan disini juga kalian bertemu, bisa kena hukuman sama Abah nanti." Sholeh seolah memarahi teman sendiri, karena Jeremy terlihat nekad disana.
"Aku tidak masalah jika Abah menghukumku?" Jawab Jeremy yang tidak perduli.
"Bukan Om yang dihukum, Om kan bukan santri disini, tapi calon istri Om yang kabur kesini itu yang akan di hukum dan juga aku, ayolah.. demi keselamatan kita semua cepat kita kembali ke jalur santri pria." Sholeh paham betul dengan konsekuensi di pondok pesantren tersebut.
"Hanny..?"
Namun Jeremy tetap saja ngotot memanggilnya, walau Hanny tidak menggubrisnya.
"Sudah Om, jangan teriak lagi."
Sholeh yang langsung merasa ketar-ketir sendiri, dia asyik sibuk memegangi sarung Jeremy yang sobek dengan Nicholas yang langsung mendorong tubuh Jeremy agar segera pergi dari sana.
"Nick, kenapa Hanny seolah mengabaikan aku? apa dia lupa ingatan, jadi tidak mengenalku?" Jeremy merasa tidak terima diabaikan oleh Hanny, karena seharusnya yang marah itu dirinya.
"Mana mungkin dia lupa ingatan tanpa sebab?" Jawab Nicholas yang merasa heran juga.
"Aku harus bertemu dengannya Nick, aku harus berbicara dengannya."
"Tapi kita tidak diperkenankan masuk ke daerah santri perempuan, Bos lihat sendiri kan, baru Anda melanggar dan melewati batas saja Bos langsung mendapatkan karma, aish... mata mereka pasti ternodai karena isi dalam sarung Bos itu!" Nicholas mengingat kejadian detik-detik tragedi sarung nyangkut di pagar.
"Ckk... biarkan saja lah dia melihatnya, seharusnya dia juga melihat isi didalam sangkarnya!" Jawab Nicholas dengan santainya.
"Kalau cuma si Bodat itu, mata si bidadari surga itu juga ternodai karena ulah anda, apa anda tidak mendengar umpatan mereka tadi?"
"Mereka sudah dewasa, lambat laun juga pasti akan melihatnya."
"Om ini pada ngomongin apa sih?" Si Sholeh hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan jengah.
"Sttt... kamu masih kecil, belajar aja yang bener."
"Dih... orang dewasa memang nggak asyik!" Umpat Sholeh yang merasa tidak terima.
"Sholeh, jika kamu bisa membantuku untuk bertemu dengan Hanny di luar pondok pesantren ini, kamu mau meminta apapun dengan Om, akan aku kabulkan, gimana?" Tiba-tiba terlintas di otak Jeremy untuk kembali meminta bantuan dengan Sholeh.
"Deal!" Jawab Sholeh dengan cepat.
"Heh, Sholeh.. kamu langsung setuju begitu saja? emang kamu tahu caranya?" Nicholas kembali terngaga oleh ucapan santri itu.
"Jangan anggap remeh orang yang kalian anggap anak kecil ini, huh!"
"Woah... kecil-kecil cabe rawit kamu ya!"
Jeremy dan Nicholas hanya bisa tersenyum saat mengikuti langkah Sholeh yang mendahului mereka untuk masuk kedalam masjid itu.
"Heh... kamu mau kemana Sholeh, sholat saja disamping kami." Bisik Jeremy kembali.
"Akan aku tunjukkan lagi, satu keistimewaan dari anak kecil seperti aku ini."
Sholeh terus saja melangkah ke depan, melewati para santri-santri pria yang lainnya.
"Mau kemana lagi tu bocah?"
Jeremy dan Nicholas selalu dibuat takjub oleh segala ucapan dan tingkah lakunya.
Dan ternyata Sholeh naik ke atas mimbar dan mengumandangkan Iqamah dengan suara merdunya, hingga membuat Jeremy dan Nicholas kembali melongo.
"Aku rasa kita harus banyak berguru dengan bocah yang satu itu."
Andai itu suatu perlombaan sudah pasti Jeremy akan memberikan tepuk tangan paling keras disana karena suara Sholeh benar-benar istimewa menurutnya, namun kenyataannya suara Sholeh menandakan kalau sholat akan segera dimulai.
Karena sudah lama sekali mereka tidak melakukan sholat berjamaah seperti ini, karena mereka sibuk dengan urusan duniawi.
"Om... silahkan menunggu di warung depan, dalam kurun waktu lima belas menit orang yang Om inginkan akan datang kesana, tapi waktu Om tidak bisa lama, sepuluh menit cukup kan Om?" Suara Sholeh kembali mengalihkan perhatian mereka.
"Hah.. beneran?"
"Hmm... tapi jika Om nekad lebih dari itu, siap-siap saja menerima konsekuensinya, saya nggak nanggung ya Om?" Sholeh langsung memberikan ultimatum karenanya.
"Okey, tidak masalah, aku berharap sekali kepadamu Sholeh."
Jeremy seolah tidak percaya, namun Sholeh hanya menjawabnya dengan seutas senyuman yang terbit diwajahnya yang tampan apalagi dengan satu lesung pipi nya disebelah kanan, seolah menambah kesempurnaan bocah yang sedang beranjak dewasa itu.
Masih menggunakan sarung yang sobek tadi, Jeremy langsung berjalan terburu-buru, karena tidak ingin melewatkan kedatangan Hanny walau sedetik saja.
"Bos, apa Anda tidak mau mengganti sarung Anda terlebih dahulu?" Tanya Nicholas yang ikut cemas, takut kalau sarung itu tersibak jika terkena angin.
"Nggak usah nanti malah kelamaan, dilipet aja nggak masalah, nggak kelihatan juga." Jeremy tidak memperdulikan apa yang dia kenakan, yang ada diotaknya hanya wajah yang kini terlihat ayu dan mempesona baginya.
"Astaga, ini sih definisi cinta gila!" Umpat Nicholas yang tidak bisa berbuat apa-apa jika bos nya sudah begini.
Lima belas menit waktu berlalu, terlihat Hanny dan Alisya benar-benar muncul dan berjalan ke arah warung tersebut.
"Gila, entah siapa itu bocah, dia benar-benar bisa membuat My Hanny keluar dari pondok pesantren itu." Jeremy langsung bangkit dan ingin menyambut kedatangan Hanny.
"Jangan dulu bos, biarkan mereka masuk kedalam warung ini dulu, nanti mereka malah kabur lagi." Nicholas langsung mencegah Jeremy dan sengaja membelakangi tubuh mereka.
"Permisi buk, mau beli bumbu dapur?" Ucap Alisya dengan suara lemah lembutnya.
"Silahkan neng, pilih saja sesuai keperluan kalian, tapi harga bumbu dapur sekarang naik semua ya neng." Jawab ibu penjual warung tersebut.
"Iya buk, kami paham, memang semenjak harga bahan bakar naik, semua jadi ikutan naik, tapi mau nggak mau tetap harus dibeli juga kan buk, karena tanpa bumbu semua masakan juga hambar, tidak ada rasanya." Jawab Hanny yang sengaja ingin bersenda gurau kepada ibu itu.
"Iya neng, kita mah orang kecil bisanya nurut aja kan."
"Begitu juga dengan hatiku, hambar saat kamu kabur begitu saja, tanpa penjelasan apapun."
Degh!
Hanny langsung mematung ditempat, saat mendengar suara Jeremy kembali.
"Alisya, ayok kita balik ke Pondok Pesantren."
Hanny langsung menarik lengan Alisya, karena memang dia belum siap jika harus bertemu dengan Jeremy secara langsung.
"Eits... tidak ada jalan untukmu, sebelum kamu menjelaskan alasanmu kabur dariku!" Jeremy langsung menarik lengan Hanny.
"Maaf, saya harus pergi." Hanny langsung melepas paksa pegangan tangan dari Jeremy.
"Tunggu Hanny?"
"Jangan sentuh saya, karena saya ini wanita yang sangat menjijikkan." Jawab Hanny dengan mata yang sudah memerah karenanya.
"Hanny, dengarkan dulu penjelasanku."
"Maaf, sudah haram bagi anda untuk menyentuh saya."
Hanny masih mengira jika Jeremy sudah menikah dengan Dinar saat itu, bahkan kata-kata Hanny terdengar kaku ditelinga Jeremy.
"Kamu ini ngomong apa Hanny?"
"Maaf, kami tidak boleh lama-lama, permisi!" Hanny tetap menolak dengan alasan apapun.
"Hanny, apa kamu tidak merasa menjadi wanita egois, apa kamu tidak memperdulikan bagaimana rasanya menjadi aku saat itu?" Jeremy sengaja ingin memojokkan Hanny saat ini, agar dia bisa berbicara banyak dengan Hanny.
"Bukannya kamu sudah berbahagia sekarang, setidaknya kamu tidak harus melihat seseorang yang menjijikkan ini setiap harinya."
Sesungguhnya Hanny tidak tega mengatakan hal itu, tapi dia sudah merasa insecure terlebih dahulu didepan Jeremy.
"Hanny, tapi bukan begitu caranya, seharusnya kamu menjelaskan semuanya terlebih dahulu." Jeremy sebenarnya ingin mengkorek alasan Hanny, namun sepertinya Hanny sudah menutup diri.
"Apa bedanya, aku menjelaskan atau tidak? memangnya jika aku menjelaskan tentang semuanya, akan ada yang berubah?"
"Hanny?" Jeremy mencoba melembutkan suaranya, agar dia bisa bicara baik-baik dengan Hanny, bahkan kalau perlu dengan hati bukan dengan emosi.
"Aku hanya wanita yang berlumur dosa dan wanita yang tidak berharga untuk pria sempurna sepertimu, maafkan aku dan lupakan aku."
Hanny langsung menarik lengan Alisya dan ingin pergi dari sana, bahkan melupakan belanjaan yang seharusnya mereka beli untuk keperluan dapur pondok pesantren.
"Hei Bodat!"
Saat Jeremy sudah tidak lagi bisa berkata-kata, langkah Hanny langsung terhenti saat mendengar suara teriakan dari Nicholas, sang musuh bebuyutan yang sebenarnya diam-diam perduli juga dengannya.
"Ckk... apalagi si Bandit ini." Umpat Hanny perlahan tanpa mau menoleh kearah mereka kembali.
"Jika kamu merasa tidak berharga, ingat satu hal, bahwa harga satu Ginjal itu mahal sekali, jika di tubuhmu ada dua, coba saja kamu hitung sendiri betapa berharganya dirimu itu."
"Hei... Bandit!"
Grep!
Disaat Hanny terpancing emosi dan mulai membalikkan badan ingin memberikan pelajaran atas ucapan Nicholas, Jeremy langsung mengambil kesempatan itu untuk memeluk tubuh Hanny dengan erat.
"Sayang, kita pulang ya?"
Suara Jeremy bahkan sudah terdengar parau saat ini, dia begitu merindukan sosok Hanny, dia memang kesal, dia memang marah dengan kenyataan dari masa lalu Hanny, namun rasa sayang pada diri Jeremy untuk kekasih hatinya itu, seolah mengalahkan segalanya.
Untuk saat ini, dia hanya ingin kembali merajut kasih atau bahkan memulai kembali sebuah hubungan atas dasar kejujuran dan saling terbuka dengan masa lalu mereka masing-masing.
Jangan pernah takut untuk memulai kembali karena itu artinya kamu mendapatkan kesempatan kedua untuk membuat sesuatu yang lebih baik.
Memang tiada kata dua kali untuk kesempatan yang sama, tapi Allah membuka beribu-ribu pintu untuk kesempatan baru.
Jika hati senantiasa berniat baik, Allah akan pertemukan dengan hal baik, orang-orang baik, tempat yang baik, dan kesempatan berbuat baik pula.