
...Happy Reading...
Malam itu Jeremy benar-benar sama sekali tidak memejamkan kedua matanya, Nicholas hanya bisa membantu membuatkan beberapa gelas kopi hitam, sebagai bentuk rasa kesetiaannya kepada sang bos.
Sedangkan Sholeh pun ikut bergadang sambil menyimak dan membetulkan bacaan dari Jeremy. Hingga akhirnya sepuluh menit lagi suara adzan akan segera dikumandangkan.
"Huft... Alhamdulilah sudah pagi, setelah sholat subuh aku mau tidur sejenak, nanti Om Berdua yang menggantikan aku mengecek kebutuhan dapur?" Ucap Sholeh yang sudah melakukan perjanjian sebelumnya.
"Siap Bos kecil, tapi bacaan aku sudah bagus kan?" Tanya Jeremy dengan rasa percaya diri yang menggunung.
"Emm... Masih jauh dari kata bagus sebenarnya." Jawab Sholeh dengan jujur.
"Hah? kamu gimana sih Sholeh, aku sudah mau menghadap Abah ini?"
"Mau gimana lagi, pasrah aja sudah, biar Abah yang menilainya, saya permisi ya kak." Sholeh langsung berkemas dan mulai bangkit berdiri
"Tapi Sholeh?"
"Ckk... Kakak tenang aja, satu yang perlu kakak ingat, Abah adalah orang baik, beliau tidak akan mempersulit santrinya, apalagi dalam rangka menyempurnakan separuh agamanya, sing tenang, sing semangat, doaku menyertai kakak." Sholeh pun ikut tersiksa karenanya,bukan hal yang mudah membelajari orang dewasa langsung menghafal dengan bacaan baik dan benar.
"Tapi kalau nanti aku salah gimana?" Jeremy mulai insecure.
"Ya palingan mbak Hanny dijodohkan sama orang lain, atau kalau mbak Hanny mau sama aku juga boleh, idaman kakak memang Oye sih!" Sholeh mulai menakut-nakuti Jeremy yang memang sudah mulai panik.
"Sembarangan kamu ya Sholll... awas kamu, jangan sekali-kali jadi saingan kakak!" Teriak Jeremy yang langsung tidak terima.
"Haha... Assalamu'alaikum!" Sholeh hanya tertawa saja menjawabnya.
Aku yang paling tahu siapa Abah, walau kakak salah juga pasti hanya diperbaiki, beliau pasti hanya menguji dan memberikan tantangan agar kakak tau bahwa tidak mudah untuk mendapatkan sesuatu dalam hidup ini, dan membakar semangat kebaikan untuk mendapatkan seorang pendamping hidup dengan jerih payah dan usaha yang gigih, agar kelak tidak mudah melepaskan saat terjadi suatu masalah.
Sholeh langsung menyingsingkan sarungnya dan berlari keluar dari ruangan itu dengan tawa yang renyah disana sambil beropini didalam hati tentang Jeremy.
"Assalamu'alaikum Abah." Jeremy mengetuk pintu sambil mengucapkan salam diruangan Abah.
"Wa'alaikumsalam, masuk nak!" Jawabnya yang sudah tahu siapa yang akan datang.
"Apa Abah sudah menungguku?" Tanya Jeremy.
"Kenapa Abah yang harus menunggumu, yang punya keinginan kan kamu?" Jawab Abah yang hanya tersenyum melihat wajah kusut Jeremy.
"Hehe... Maaf Bah, kalau begitu saya sudah siap Abah."
"Bagus, kalau begitu cepat kamu mulai, karena sebentar lagi sudah masuk waktunya sholat subuh."
"Baik Abah, tapi boleh nggak kalau sebelumnya saya minta tolong dulu?" Jeremy mulai ingin bernegosiasi sebelumnya.
"Tolong apa?"
"Kalau nanti ada yang salah, nggak papa ya Abah, saya sudah mati-matian menghafal tadi Bah, tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian atau kamu mau Hanny saya nikahkan dengan orang lain?" Abah lansung memotongnya dan menyuruh Jeremy memulainya, karena beliau juga akan bersiap pergi ke Masjid untuk menjadi imam.
"Jangan Abah."
"Mulai."
Abah langsung memberikan titah dan memasang kedua telinganya dengan baik untuk menyimak bacaan dari Jeremy.
"Fuuh... Bismilahirohmanirohim."
Baru mengucap bacaan basmalah saja kedua kakinya sudah bergetar, keringat dinginnya sudah mulai keluar sebesar biji jagung.
"Tenangkan dirimu, jika kamu seperti itu pasti akan kacau hafalanmu." Lirik Abah yang sudah mulai tersenyum melihat ekspresi dari Jeremy.
"Abah, aku takut jika salah lalu Hanny diambil orang lain." Rengek Jeremy.
"Mulai." Abah seolah tidak perduli.
"Abah tolonglah." Jeremy terlihat memelas, agar sedikit diberi belas kasihan jika ada kesalahan nantinya.
"Jika kamu tidak memulainya sekarang, Abah sendiri yang akan mempersunting nak Hanny."
"Abah?"
"Baca basmalah Jeremy, bulatkan tekadmu, percaya saja kepada Sang Penciptamu, sesuatu yang memang ditakdirkan untukmu akan tetap menjadi milikmu, mulailah nak."
Abah mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Jeremy juga membacakan doa sejenak, agar dia bisa lebih tenang.
"Shadaqallahul'adzim." Akhirnya Jeremy berhasil menuntaskan hafalannya.
"Masih banyak yang harus kamu pelajari, panjang dan pendeknya bacaan masih sering banyak yang salah, tanda bacanya juga dan saat mengartikan ada yang kebalik-balik, huft... sebegini saja usahamu?" Abah terlihat menghela nafas panjang setelahnya, dia sebenarnya paham dengan posisi Jeremy, dia hanya ingin menguji seberapa serius perjuangann dirinya itu.
"Abah?"
"Sudahlah, akan aku pertimbangkan lagi nanti, kita sekarang berangkat ke masjid dulu?" Jawab Abah sambil mengambil kembali sorban miliknya.
"Jika kamu masih banyak bertanya, akan aku asingkan nak Hanny ke Pondok Pesantren lain." Abah merasa gemas sendiri saat Jeremy terlihat tidak sabaran.
"Abah?"
"Ayo ke masjid!"
Jeremy bahkan sudah seperti manusia tanpa tulang, untuk berdiri saja seolah kakinya tidak mampu menapak bumi.
Angan-angannya seolah semu, keyakinannya memudar untuk bisa mempersunting Hanny hari ini,namun dia sudah berusaha dengan sekuat tenaga, jadi dia hanya bisa pasrah saja dengan Takdirnya, bahkan sedari sholat subuh sampai saat ini dia masih berada didalam masjid sendirian untuk berdoa kepada Tuhan sang pencipta semesta Alam.
"Assalamu'alaikum kak?"
Tiba-tiba terdengar suara Sholeh dari arah pintu masjid.
"Wa'alaikum salam Sholeh, ada apa?"
"Kenapa wajah kakak kusut, apa kakak tadi tidak bisa menghafalnya dengan benar?"
"Hmm.." Jeremy hanya mampu menggangukkan kepalanya dengan lemah.
"Ya sudah nggak papa, kalau jodoh nggak akan kemana bukan, ini ada surat dari Mbak Hanny." Sholeh langsung mengulurkan selembar kertas yang dilipat dengan asal.
"Hah? Kamu ketemu Hanny dek?" Jeremy begitu terkejut mendengarnya.
"Siapa suruh tadi kakak tidak jadi menggantikan aku mengecek keperluan dapur, aku sudah memberikan kesempatan untuk kakak kok disia-siakan?"
"Yaelah, kenapa kamu nggak bilang dek?" Karena Jeremy memang sama sekali belum keluar dari masjid itu, bahkan sesuap nasi pun belum ada di perutnya.
"Jangan pingsan ya kak, ingat bidadari ada tujuh, jika hilang satu masih ada enam, saya, kakak dan kak Nicholas pasti masih kebagian, semangat ya kak?" Ledek Sholeh ketika Jeremy seolah menyesal.
"Aku maunya cuma Hanny dek!"
"Sstth... jangan keras-keras, cepat baca, sebentar lagi aku mau Adzan dzuhur ini, setelah ba'dha dzuhur ada banyak hal yang harus aku persiapkan, jadi nanti kalau mau lanjut nangis di pojokan sana, atau di kamar santri aja, okey kak?"
"Ckk.. Kamu ini, bisanya ngeledek kakak aja!"
Jeremy langsung melenggang pergi dan ingin membaca surat dari Hanny disuatu tempat yang orang lain tidak melihatnya.
Setelah berulang kali menghela nafas panjangnya Jeremy memilih duduk lesehan dilantai dan mulai membaca tulisan tangan di secarik kertas berwarna putih itu jauh dari masjid.
Degh!
Disaat hafalannya masih banyak yang salah dan perlu banyak koreksi, degub jantung Jeremy langsung bergetar tidak menentu.
Apalagi Abah tadi juga tidak menjanjikan bahwa dia akan dinikahkan dengan Hanny.
"Astaga, apa karena hafalanku belum lancar Hanny akan dinikahkan dengan orang lain, atau jangan-jangan Hanny akan dinikahkan denganku?" Banyak kata tanya yang bersarang di pikiranya.
"Tapi kenapa Abah sama sekali tidak mengatakan apapun denganku sampai saat ini?" Jeremy mulai bingung, apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Ya Tuhan, aku sungguh tidak rela jika Hanny menikah dengan orang lain, apa yang harus aku lakukan Tuhan?"
Akhirnya Jeremy berlari menuju kamar yang dia tempati untuk mencari Nicholas ataupun Sholeh agar membantu dirinya.
"Nick?"
"Sholeh?"
Namun saat dia sudah sampai disana tidak ada seorang pun yang menjawab panggilannya, karena memang sholat Dzuhur sudah dimulai, mereka semua pasti mengikuti sholat jamaah bersmaa-sama.
Bahkan karena terlalu meresapi isi surat itu, dia sampai melupakan sholat berjamaah di Masjid pondok pesantren itu.
"Astagfirullihal'adzim, maafkan aku Tuhan, tolong jangan hukum aku."
Akhirnya Jeremy berjalan lunglai menuju masjid untuk melakukan sholat dzuhurnya, dia sengaja tidak berlari untuk mengejar sholat berjamaah, karena sudah bisa dia pastikan kalau mereka pasti sudah selesai, jadi Jeremy memang berniat untuk sholat Dzuhur sendiri di Masjid.
Saat kedua kedua matanya terarah ke pintu masjid, dia melihat beberapa santri yang lain sudah duduk memutar dengan rapi dengan menggunakan baju serba putih.
Yang lebih membuat kaki Jeremy seolah terpaku ditempat, ada seorang wanita yang duduk bersimpuh membelakangi sebuah meja kecil dengan seorang pria yang juga menggunakan baju putih duduk tidak jauh darinya.
Dan Jeremy tahu betul siapa wanita itu, dia hafal betul dengan bentuk tubuhnya walaupun kini dia sudah berhijab sekalipun.
"Allohu Akbar, apa Engkau sedang menghukumku Tuhan, ampuni aku Tuhan, maafkan aku, hiks.. hiks.."
Bahkan Jeremy tak mampu lagi untuk meneruskan langkahnya, tubuhnya ambruk seketika di pelataran Masjid.
Brukk!
Pandangannya mulai terasa gelap, walau saat itu matahari bersinar dengan gagahnya, kesadarannya pun perlahan mulai hilang, akhirnya Jeremy pingsan dan tidak sadarkan diri.
Jika satu-satunya mimpi yang kita miliki adalah tentang kehidupan yang sempurna, kita pasti akan kecewa karena mimpi seperti itu tidak bisa menjadi kenyataan di dunia nyata.
Yok, jangan lupakan VOTE kalian ya😁