Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
54. Noda yang membandel


...Happy Reading...


Dunia masih akan terus berputar pada porosnya, tanpa mau perduli dengan kejadian yang menimpa isi didalamnya.


Dihari-hari biasa saja Jeremy malas untuk berangkat kerja, apalagi disaat dia menghadapi masalah yang memang bukan main-main seperti ini, sudah pasti mentalnya akan down dan membuatnya seolah enggan bergerak walau hanya sekedar untuk bangkit dari ranjang mewah miliknya.


Tok


Tok


Tok


"Bos, bolehkan saya masuk?"


Karena ada dokumen yang harus Jeremy tanda tangani, Nicholas sengaja mendatangi rumah bos nya, walau sebenarnya dia seolah masih enggan menatap wajahnya, karena peristiwa kemarin saat di hari pernikahan, benar-benar seolah mampu membuat Nicholas merasakan kehilangan kejantanannya sebagai pria.


Dan saat itu dia baru menyadari, bukan hal yang mudah menjadi seorang wanita agar terlihat perfect di hari pernikahan, karena harus menyiksa tubuhnya dengan berbagai busana yang ketat menurutnya.


"Masuk saja, rumahnya sudah tidak lagi berpenghuni, tapi jangan lupa pakai alas kaki, karena kemarin ada orang yang memecahkan kaca didalamnya." Jawab Jeremy yang mampu membuat Nicholas melongo saat mendengarnya.


"Hah, emang rumah siapa bos?" Tanya Nicholas yang langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, padahal tidak ada yang rusak, apalagi kaca yang pecah pikirnya.


"Tapi ini bukan tentang rumah, tapi hati." Jeremy hanya bisa melempar pandangannya keluar jendela, dia masih stay diatas kasur empuk dengan ditemani guling dan selimut.


"Yaelah bos, aku kira ngomongin apaan, sudahlah bos, lupakan kejadian itu, anggap saja ini sebagai ujian untuk naik kelas."


Nicholas pun sebenarnya merasa kasian melihatnya, sebelum jatuh cinta dengan seorang wanita dia tidak pernah seperti ini, walau Jeremy malas pergi ke kantor, tapi dia tetap melakukan aktifitas yang lain, seperti berolahraga dan Gim, agar otot-otot di tubuhnya terbentuk dengan sempurna.


"Tapi aku bahkan sudah sarjana!" Umpat Jeremy yang merasa pernah melalui ujian hidup dengan keluarganya.


"Misalnya loh bos, ibarat kata, atau kata lain, ckk... emang rumit kalau orang sudah merasakan apa itu patah hati." Jeremy langsung memilih duduk agak berjauhan dengan Jeremy, takut pula jika bayang-bayang civman itu kembali menghantui dirinya.


"Ngapain kamu kesini, jangan bilang mau minta kiss lagi?" Ucap Jeremy yang seolah malah mengulik kembali tentang semuanya.


"Jangan mengingatkan hal itu kenapa sih bos, aku bahkan sampai sulit tidur karena merasa ternodai." Umpat Nicholas dengan jujur, bahkan kedua matanya masih terlihat memerah sampai sekarang, karena hanya bisa tidur beberapa jam.


Andai saja dia punya kekasih, pasti sudah dia lampiaskan dengan kekasihnya, agar bekas dan bayang-bayang Jeremy tidak kembali terasa, namun apa daya, dia Jomblo saat ini, jadi yang bisa dia lakukan adalah sikat gigi dan cuci muka berkali-kali, namun bekas ingatannya masih sulit untuk hilang.


"Kamu pikir aku noda yang membandel, sembarangan saja kalau ngomong, Hanny saja suka?"


Dia kembali mengingat Hanny yang selalu ketagihan dengan civman darinya, bahkan dulu sehari saja mereka tidak melakukannya, sudah gatal bibiir mereka.


"Lebih baik noda yang membandel, tinggal di laundry aja masalah kelar, lah ini.. bahkan mungkin aku mandi dengan kembang tujuh rupa sekalipun juga rasanya masih saja terus terbayang, merinding tau nggak bos." Jeremy mengusap lengannya sendiri, karena bulu romanya sudah tegak berdiri.


"Cuih, apa kamu mau bilang kalau semenjak kejadian itu kamu jadi mencintaiku, atau kamu juga ingin seperti Dinar?" Jeremy langsung memundurkan tubuhnya sendiri.


"Wahaha... ini salah paham, anda terlalu berlebihan, atau jangan-jangan anda yang ketagihan? emang enak sekali rasa dari bibirku ya bos?" Nicholas merasa tidak terima saat mendengarnya.


"Hoerk, pengen muntah aku, paling nikmat memang hanya bibiir my Hanny, tapi..."


Wajahnya kembali sendu, ketika bayang-bayang Hanny selalu saja muncul didalam pikirannya sendiri.


"Mulai lagi dah melownya, nah... tanda tangan dulu dokumen ini, nanti kalau galaunya rame lanjut part dua."


Nicholas langsung menyodorkan berkas-berkas yang harus ditanda tangani oleh Jeremy.


"Ckk.. berasa sia-sia aku punya tanda tangan yang bagus dan berharga, tapi tidak bisa tertera di dalam buku nikah."


Walau seolah enggan, namun tangan Jeremy juga terpaksa menyentuhnya dan menanda tangani satu persatu.


"Apa anda masih menginginkan dirinya."


Tiba-tiba terbesit kata tanya dari diri Nicholas, selama dia menjabat sebagai asisten pribadinya, dia tidak pernah melihat Jeremy galau hanya karena masalah wanita.


Jadi jika sampai dia seperti ini, berarti wanita itu sangat berkesan dan menguasai hati Jeremy sehingga menorehkan bekas yang sulit dihilangkan.


"Kamu pikir aku bisa dengan mudahnya melupakan dia? Hanny adalah satu-satunya wanita yang selalu membuat aku tersenyum dan tertawa, kamu tahu betul tentang itu bukan? " Jeremy hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar berulang kali.


Yang lebih membuatnya tersiksa adalah kesepian, Jeremy tidak lagi bisa mendengar suara centilnya dan rayuannya yang selalu membuat dirinya gemas, bagaimana tidak sejak kejadian hari itu nomor Hanny yang biasanya dia gunakan tidak lagi aktif, seolah menghilang bersama si empunya.


"Bagaimana dengan kisah masa lalunya?" Nicholas mencoba menyinggung tentang hal itu.


"Kalau menurutmu sendiri bagaimana?" Tanya Jeremy balik, dia pun bingung mau melakukan apa dan bagimana.


"Emm... entahlah, kalau menurutku tidak semua kupu-kupu malam seperti apa yang mereka katakan, terkadang mereka punya alasan tersendiri saat melakukannya."


Nicholas mencoba berpikir positif, karena hidup ini memang tidak selalu mulus seperti yang kita inginkan, akan ada banyak hal yang selalu menjadi kerikil kehidupan yang bisa menjatuhkan kita ke lubang hitam.


"Biasanya mereka melakukan itu karena masalah finansial, tapi Hanny apa? kalau masalah harta tidak mungkin, karena saldo di rekeningnya bahkan tidak terbatas." Jeremy berulang kali mencari tahu alasannya, namun sampai saat ini dia belum menemukan yang tepat.


"Itu lah yang harus anda cari tahu? kalau anda memang masih menginginkannya kenapa anda diam saja disini dan hanya menyiksa diri?" Umpat Nicholas sambil melirik betapa kacaunya penampilan Jeremy saat ini yang biasanya selalu rapi dan wangi, kini berantakan, rambutnya yang acak-acakan, kumisnya yang sudah mulai tumbuh tak beraturan, membuat dirinya terlihat seperti orang tidak terurus.


"Sebenarnya aku sendiri belum bisa yakin dengan diriku sendiri, aku takut jika suatu hari nanti aku melukai perasaan Hanny."


Tidak bisa dipungkiri, sebagai seorang pria yang masih ting-ting harus dihadapkan dengan wanita yang dulunya sudah dicicipi oleh beberapa pria itu sangat tidak mudah.


Ada ribuan kekecewaan didirinya, padahal selama ini dia sangat menjaga Hanny, dari segi apapun itu.


"Maksud anda bagaimana?" Nicholas ingin menguak bagaimana yang atasannya rasakan saat ini.


"Aku takut jika nanti, tanpa sengaja aku mengungkit masalah itu saat kami berselisih pendapat."


Jeremy memang selalu memikirkan kedepannya kalau sudah menyangkut masalah jodoh, karena setiap hari, setiap pagi hanya dia lah yang pertama kali dia pandangi jika sudah beristri nanti, karena menurutnya istri adalah teman kita dalam segala hal.


"Kalau begitu hindari selisih pendapat, bukannya akhir-akhir ini kalian nempel terus kaya lem tikus, tidak pernah terpisahkan walau sehari saja." Ledek Nicholas yang selalu saja iri saat melihat kedekatan mereka pada awalnya.


"Lalu bagaimana jika saat aku berhubungan dengan dirinya, aku mengingat kegiatan masa lalunya dan akhirnya aku tidak bisa memuaskan dirinya?"


Jeremy sungguh tidak tega saat melihat air mata Hanny turun dengan derasnya, apalagi jika itu karena dirinya.


"Astaga... jika kalian memang masih saling mencintai, puas atau pun tidak puas saat berhubungan, jika sudah berkeluarga itu tidak jadi masalah, yang penting Anda tidak impoten saja, itu sudah lebih dari cukup." Jawab Nicholas setelah menghela nafas kesalnya.


Bugh!


"Sembarangan saja kamu kalau ngomong, mas Joko ini masih bisa tegak berdiri dengan sempurna asal kamu tahu!" Nicholas langsung menendang tubuh Nicholas dengan kesal.


"Pfftthh!"


Sedangkan Nicholas hanya menggeser tubuhnya dengan senyuman yang tertahan.


"Kalau kamu jadi aku bagaimana, apa yang harus kamu lakukan, jika mau berhubungan dengan mantan kupu-kupu malam, apa kamu tidak pernah terbayangkan kelakuan dia dengan pria lain sebelumnya?"


Hanya dengan asistennya itulah Jeremy bisa terbuka, dan disaat pikirannya sedang galau dia butuh saran dan masukan dari orang lain, agar tidak salah melangkah atau mengambil keputusan.


"Waduh... kalau soal itu saya kurang tahu bos, saya tidak bisa memberi saran apapun tentang masalah itu." Nicholas hanya bisa menaikkan kedua bahunya.


"Bukannya kamu cerdas, gunakan sedikit akalmu itu untuk berfikir dan membantuku, aku masih bimbang akan hal itu." Ledek Jeremy yang tahu benar bahwa asistennya itu biasanya serba bisa.


"Begini saja bos, satu saja pertanyaan dariku." Nicholas mulai membenahi duduknya dan berbicara serius.


"Apa?" Jawab Jeremy dengan cepat, dia tahu jika Nicholas pasti tidak akan diam saja melihat kejadian ini.


"Apa anda bahagia saat bersama Hanny?"


"Ya.. aku bahagia." Jawab Jeremy dengan mantap, karena memang itu yang dia rasakan selama ini.


"Kalau begitu tidak usah pikirkan kanan dan kiri, melangkah saja lurus ke depan, karena yang merasakan kebahagiaan dalam hidup anda itu kan anda sendiri, bukan orang lain, jadi anda pasti tahu apa yang harus anda lakukan."


Karena menurutnya masalah hati hanya kita sendiri yang tahu kedalamannya seperti apa.


"Emm... aku hanya takut melukainya dengan sikap dan kata-kataku saja, selebihnya aku masih perduli dengannya." Dia kembali membuang pandangannya ke arah lantai kamarnya.


"Dalam hidup ini, jika kita tidak mampu melihat hal yang salah, kita tidak akan mampu mengetahui bagaimana cara membuatnya benar." Kata bijak pun mulai keluar dari mulut asistennya.


"Fuuh... entahlah, sedari tadi malam aku pusing memikirkan hal ini."


"Tapi maaf sebelumnya bos, bukannya saya mau membanding-bandingkan ini ya, tapi kalau menurut saya, Dinar juga tidak lebih baik dari Hanny."


Sedari kemarin Nicholas memang punya unek-unek tentang hal ini, namun dia tidak berani secara gamblang mengatakannya, karena dia tahu betul bahwa Dinar adalah sahabat atasannya sejak masih muda dulu.


"Kenapa, Dinar kan memang tidak sama dengan Hanny." Jawab Jeremy yang memang tahu semua tentang Dinar.


"Dinar mungkin memang tidak punya kisah seperti Hanny, atau mungkin dia seorang wanita baik-baik yang bisa menjaga kesucian dirinya, namun dari sikapnya terlihat jelas bahwa dia seperti terobsesi dengan anda, bahkan nekad melakukan apapun agar bisa memiliki anda, dan aku yakin misalnya kalian menikah juga pasti tidak akan bahagia, dia akan menjadi wanita yang over protektif, penuh rasa curiga dan akhirnya hanya akan menimbulkan sebuah pertengkaran saja." Dia sendiri pun tidak suka dengan wanita yang agresif, apalagi soal cinta.


"Itu kenapa aku tidak mau menikah dengannya." Jeremy berulang kali berfikir bahwa keputusan yang dia ambil ada benarnya.


"Begitupun jika hal itu terjadi dengan wanita lain, tapi jika Hanny selalu bisa membuat anda bahagia, bisa mewarnai hidup anda, aku rasa mungkin anda akan melupakan masa lalunya, karena pikiran anda tidak akan terfokus dengan hal itu saja, jika hati sudah merasa nyaman bukannya orang lain seolah ngontrak di dunia ini?"


"Kenapa kamu seolah membela Hanny, bukannya kalian selalu bertengkar jika bertemu? jangan bilang kamu juga tertarik dengannya?" Jeremy mulai merasa waspada.


"Haish... aku hanya memikirkan dari segi kebahagiaan anda saja bos, karena jika anda terus-terusan galau seperti ini, aku juga yang harus repot kesana-sini mengurus segalanya sendiri."


"Jadi ini tentang kamu!"


"Astaga, salah ngomong lagi gue, semua serba salah kalau sudah begini."


"Hmmm... lalu menurutmu, apa dia tidak marah denganku saat aku pernah bilang bahwa wanita malam itu menjijikkan?" Dia kembali mengingat dengan apa yang dikatakan Dinar kala itu.


"Manalah aku tahu, anda tanyakan saja sendiri dengannya, memangnya aku si Bodat itu apa?"


"Mulai lagi dia, aku kan tidak tahu dimana dia berada saat ini, dia main kabur-kaburan aja bahkan tanpa penjelasan!" Dan itu juga alasan yang membuat Jeremy ragu dengan Hanny, harusnya mereka bisa bicara baik-baik dulu sebelum mengambil keputusan, jangan hanya melimpahkan semuanya kepada dirinya sendiri.


"Anda benar-benar ingin bertemu dengannya?" Tanya Nicholas kembali.


"Iya lah, tapi masalahnya dimana dia bersembunyi sekarang?"


"Aku sudah melacaknya dan berhasil menemukan jejaknya, jika anda sudah siap aku akan mengantarkan anda ke tempat itu." Jawab Nicholas dengan mantap.


"Woah... kamu benar-benar Asisten yang bisa aku andalkan." Tiba-tiba terbitlah sebuah senyuman dari bibiir Jeremy.


"Tentu saja, jangan lupa bonus double nya!" Jawab Nicholas yang semakin yakin, bahwa kebahagiaan Bosnya ada pada mantan kupu-kupu malam itu.


"Ckk... kalau soal bonus saja, kamu tidak lupa, cek saldomu, aku akan mengirimkannya sekarang." Tanpa menunggu waktu yang lama, Jeremy langsung mengotak atik ponselnya dan mengirimkan sejumlah uang kepada asistennya.


"Hehe... Terima kasih bos!"


Nicholas langsung tersenyum lebar karenanya saat nominal beberapa digit tertera di mobile banking miliknya.


Yes... kamu tunggu saja Bodat, aku akan membalasmu, gara-gara ulahmu aku jadi harus menjadi penggantin penggantimu dan harus menerima civman yang menggelikan itu dari atasanku, ingat saja pembalasan harus lebih kejam!


Tapi setidaknya aku pun lega, jika bos Jeremy bisa kembali menemukan kebahagiaannya, karena bagaimanapun juga semua orang juga berhak bahagia begitupun Hanny, walaupun dia bekas dari seorang Pendosa.


Nicholas memang langsung mengerahkan kembali anak buahnya untuk mencari keberadaan Hanny walau bagaimanapun caranya, dan usaha pun tidak mengkhianati hasil, walau keesokan harinya baru mereka bisa menemukan keberadaan Hanny.


Namun Nicholas tidak mau bertindak sendiri terlebih dahulu, sebelum Jeremy sendiri yang menginginkannya.


Yang pasti Nicholas tahu bahwa Hanny dan sahabatnya yang pernah mencuri perhatiannya itu, kini berada dalam tempat yang aman.


Cukup gunakan kedua tangan untuk menutupi kedua telinga kita, jangan biarkan kita menderita oleh sebuah kata yang menyakiti hati kita, karena yang tahu kebahagiaan kita hanya kita sendiri, bukan orang lain.


Maaf kesiangan ya bestie, yang penting diusahakan selalu bisa up😊


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya😉