Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Bukan malam pertama


Suara perbincangan antar beberapa orangtua dan candaan anak-anak masih terdengar begitu ramai di rumah Cinta.Setelah serangkaian acara resepsi sore tadi,Cinta masih asik bercengkerama dengan teman kerja yang datang beberapa waktu yang lalu.Sedangkan Rio,sedang menikmati teh hangat di teras rumah bersama Radit.


"Apa kau tak ingin pulang?"tanya Rio.


"Apa kau mengusirku?"tanyanya balik.


"Jelas aku mengusirmu,kau datang dari tadi siang dan sekarang sudah bada isya',kau masih saja di sini."


"Haah sialan kamu,lihat tu temen-temennya Cinta juga masih ada di dalam.Aku akan pulang jika mereka juga pulang.Kali aja ada yang masih muda dan mau jalan bareng aku."


Benar saja,malam semakin larut.Radit berpamitan pulang saat teman-teman Cinta juga berpamitan pulang.Namun matanya masih saja terus memandang beberapa menit Cinta tanpa sepengetahuan Rio."Kamu sangat cantik Cin, hatipun juga begitu baik.Dan kau patut untuk di perjuangkan.Sayangnya aku tak bisa memperjuangkanmu,aku hanya hisa memandangmu mengagumimu dalam diam.Semoga kau berbahagia dengan jodohmu."Radit tersenyum kecut, melihat tawa lepas Cinta saat Rio menggodanya."Aah nasib jomblo selalu saja melow melihat yang romantis-romantis begini,"lirihnya.


Sepasang pengantin baru itu mengantar hingga halaman depan,saat semua temannya berpamitan pulang.Di susul kemudian ibunda dan saudara-saudara Rio yang juga akan pulang ke rumah Rio.


Dan kini tinggal mereka berdua,di rumah yang masih berserakan bekas bungkus-bungkus makanan maupun minuman.Cinta hendak memunguti kotoran-kotoran itu namun di cegah oleh Rio."Biarkan saja,esok akan aku panggilkan seseorang untuk membersihkan rumah ini.Lagi pula kau sudah lelah,aku tak akan membiarkanmu mengerjakannya sedirian."


"Tapi mas ini kotor banget lo,"melihat kesekeliling ruangan.


"Aku tahu tapi ini sudah sangat larut Cin,ayo masuk!"menarik Cinta ke dalam kamar.


Akhirnya Cinta menurut saja,lagi pula ia pun sebenarnya juga lelah sekali.


Kini mereka sudah berada dalam kamar.Kamar ini sangat berbeda jauh saat mereka masuk sehabis ijab kobul tadi,banyak sekali taburan bunga-bunga di atas kasur,ruangan pun di sulap layaknya kamar pengantin baru.


"Kenapa kamar ini jadi begini mas?"tanya Cinta yang berdiri di samping suaminya.


"Entahlah,kapan juga mereka melakukannya?"


Keduanya masih berdiam diri di pintu melihat kesekeliling ruangan.Yang sebelumnya mereka telihat biasa saja saat berdekatan,kini mendadak canggung.Cinta meremas kedua telapak tangannya terasa dingin."Kenapa jadi grogi begini?"gumamnya.


"Kau baik-baik saja kan Cin?"melihat Cinta yang kelihatan gelisah.Cinta tersenyum kecil,ia mengangguk menandakan bahwa ia baik-baik saja.


"Aku akan ke kamar mandi,membersihkan tubuhku dulu yang terasa lengket."Cinta mengalihkan pembicaraan.Namun sepertinya apa yang ia katakan itu bagi Rio seolah sedang menggodanya.


"Aku ikut."


Cinta berhenti melangkah,ia menatap suaminya."Gantian mas,atau kau duluan saja yang bersih-bersih sana!"berusaha menolak.


"Kita mandi bersama,"Rio langsung membopong tubuh langsing itu.


"Aaaaa mas,turunkan!"namun malah berpegangan begitu erat.


"Kau itu ya,hati dan ucapanmu sungguh berbeda,tapi baiklah aku akan menurunkanmu."ejek Rio sambil menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.


"Maaas,"rengek Cinta ketika Rio mendekatinya."Ini di kamar mandi loooo."


"Siapa yang bilang di kasur sayang,atau kau ingin di kasur?"Rio terus menggoda istrinya.


"Mas kalau begini aku mana bisa mandi mas?"


"Kamu gak bisa mandi ya? baiklah aku yang akan memandikanmu!"tersenyum penuh kepuasan.


"Aaaaaa,"teriak Cinta karena suaminya mengguyurnya tiba-tiba."Basaahkan,aku kan juga belum melepas bajuku mas."Langsung menutup mulutnya,karena sekarang ia tahu,apapun yang ia katakan akan di lakukan oleh suaminya.


Rio tertawa lepas,merasa lucu melihat tingkah istrinya.Tanpa bertanya,ia pun meraih ujung baju istrinya.


"Mas kau mau apa? ini di kamar mandi looo!"


"Tidak-tidak aku bisa sendiri,biar aku lepas sendiri mas,tolong keluarlah terlebih dahulu."


"Baik aku keluar dulu kalau begitu."Hendak keluar namun ia terpeleset tepat di depan Cinta.


"Aauuu,"Rintihnya.


"Ya Allah mas,hati-hati dong,"berusaha membantu suaminya berdiri namun ia tak kuat.Malahan tubuhnya ikut terjatuh di atas dada suaminya."Aduuuh."


"Kamu sengaja ya jatuh di atasku?" padahal dengan sengaja Rio menarik tubuh istrinya itu agar terjatuh.


"Nggak,mana mungkin aku sengaja."Akhirnya Cinta berdiri di ikuti Rio pun juga berdiri.


"Bajumu basah semua,biar aku bantu lepas ya."


"Tapi mas,"


"Tidak ada tapi-tapian,aku tidak akan berbuat macam-macam di sini.Hanya sekedar membantumu saja."


Cinta mengangguk,ia berusaha menahan rasa malunya.Pipinya merona kala Rio berhasil melepas kain yang membalut tubuhnya.


Dan akhirnya kedua manusia yang berbeda kodrat itu mandi bersama tanpa melakukan apapun.Ya hanya sekedar mandi.


Beberapa menit kemudian.


Cinta duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya yang panjang menggunakan mesin pengering.Ia pun juga mengeringkan rambut suaminya."Sudah mas,"ucap nya setelah rambut sang suami sudah kering.


Cinta meletakkan mesin itu kemeja lalu mencabut kabelnya disamping meja rias.Rio hanya diam memperhatikan Cinta,sedangkan Cinta tak sadar jika suaminya dari tadi memperhatikannya.Masih menggunakan handuk,Cinta beranjak menuju almari pakaian,sedangkan Rio mengikutinya.


"Mas,"kaget Cinta saat berbalik mendapati suaminya sudah ada di belakangnya."A ada apa?" tergagap. "I ini bajumu mas,kau mau pakai baju kan?"


Rio mengambil baju itu dari tangan Cinta.Namun ia meletakkannya di atas meja rias."Aku tidak butuh itu,aku hanya butuh kamu Cinta.Maukan kau menemani aku?"


Cinta mengangguk.Tanpa banyak kata lagi,Rio mengangkat tubuh cinta di depan dadanyadan membawanya ke ranjang.Cinta berpegangan erat pada leher Rio agar tak terjatuh.Sampainya diranjang,Rio menurunkannya perlahan.


Mandadak saat seperti ini,tubuhnya terasa bergetar.Dan Cinta merasakannya jika sang suami sangat tegang."Kau kenapa mas?"menatap sang suami dengan tatapannya yang mulai sayu.


"Ti tidak a apa-apa,"sampai terbata-bata sangking groginya.


"Bukankah kau pernah melakukannya padaku?"sambil mencium suaminya mesra.


Mata Rio membulat,tak menyangka jika istrinya akan menciumnya terlebih dahulu."Itu berbeda Cin,dulu ku lakukan tanpa sepenuhnya kesadaranku."Masih berada di atas Cinta.


"Benarkah? jadi apa kau lupa bagaimana cara melakukannya?"Cinta mencium suaminya kembali.Namun kali ini lebih lama.


"Kalau begitu aku yang akan memulainya,bukankah sudah kewajibanku menyenangkan suamiku."


Rio tersenyum,ya dan pahalamu akan mengalir karena kau menyenangkan hati suamimu.


Cinta kembali mencium suaminya,kini tangannya pun sudah beralih di leher sang suami.


*****


Dan begitulah yang mereka lakukan di malam yang sunyi,suara merdu mereka berdua memecah keheningan malam.Hawa yang dingin kini berganti rasa panas yang membara dari jiwa mereka.Tak ada rasa lelah dan puas,keduanya masih bergelut menikmati kenikmatan surga dunia.Hingga 1 jam kemudian,akhirnya Rio melepaskan segala yang ingin ia lepaskan memenuhi rahim sang istri.Tak ada pengaman maupun obat penghalang,ia ingin semua berjalan semestinya.


Bersambung...