Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
101.Tak ada manusia yang sempurna


...Happy Reading...


Dengan sigap Jeremy langsung mengendong tubuh istrinya dan membawanya pergi ke rumah sakit terdekat, didampingi oleh Alisya dan juga Nicholas dalam mobil itu.


Walaupun benjolan dikepala Nicholas masih sedikit membiru, namun dia tetap ngotot ingin ikut dengan mereka. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat di kota itu.


Walaupun bukan rumah sakit besar, namun mereka terpaksa memilihnya, karena Hanny harus segera mendapatkan tindakan saat itu.


"Alisya, apa aku perlu mendatangkan dokter pribadiku kemari?"


Saat mereka masih menunggu didepan ruang Unit Gawat Darurat, Jeremy tidak berhenti berjalan mondar-mandir sambil melihat jam dipergelangan tangannya.


"Kita tunggu saja dulu hasil pemeriksaannya pak, walaupun ini rumah sakit kecil namun ada dokter dan juga perawat kompeten yang pasti bisa menyelamatkan janin Hanny." Ucap Alisya mencoba memberikan ketenangan dalam situasi seperti ini, karena memang hanya itu rumah sakit terdekat disana.


"Sejak kapan anda tahu istri anda hamil bos?" Nicholas kemarin hanya menduga saja, tapi ternyata dugaannya tidak meleset.


"Baru tadi pagi, selama menikah dengannya baru kali ini aku melihat dia tersenyum begitu bahagia saat tahu kalau dia sedang hamil, bahkan besok rencananya kita mau periksa ke dokter, karena hari ini dia diajak Alisya kemari." Jelas Jeremy saaat mengingat kejadian mereka sebelum kesini, bahkan dalam perjalanan kesini, Jeremy sengaja tidak menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, takut jika perut istrinya tergoncang sedikit saja, itu kenapa mereka sampai lebih lama dikota itu.


"Sayang, apa janin si Bodat bisa diselamatkan, sedangkan tadi aku melihat ada darah yang merembes dipakaiannya." Nicholas terus saja menempel dilengan Alisya dengan manjanya, dan ini adalah salah satu alasan kenapa dia nekad untuk tetap ikut walau kepalanya terasa nyeri, karena dia terus bisa bermesraan dengan Alisya, daripada harus menunggu di Pondok Pesantren dengan tatapan horor dari ayah Alisya.


"Ya nggak tau mas, aku bukan seorang perawat, apalagi dokter?" Jawab Alisya sambil terus mengusap kepala kekasihnya yang bersender dibahunya.


"Aku tidak bisa membayangkan jika sampai Hanny kehilangan janinnya, dia pasti sangat hancur dan kecewa." Jeremy terduduk lemas sambil memijit kedua pelipisnya perlahan.


"Sabar bos, besok kan bisa buat lagi, lain kali buat yang banyak." Celoteh Nicholas yang langsung mendapat tendangan dikakinya.


Dugh!


"Kamu pikir semudah itu? kalau buat saja memanglah enak, tapi belum tentu jadi!" Umpat Jeremy dengan wajah kesalnya.


"Aww.. aww.. sayang, kepalaku sakit yank, peluk yank!" Rengek Nicholas semakin menjadi.


"Heleh... jangan sok manja kamu, kaki kamu yang aku tendang, kenapa jadi kepalamu yang sakit!" Umpat Jeremy kembali sambil melotot.


"Tadi kenapa ikut sih mas, kenapa nggak istirahat saja di Pondok Pesantren?" Alisya sebagai orang yang tidak tegaan memilih menurut saja apa yang dipinta oleh Nicholas.


"Nggak mau, aku merasa seperti di Neraka dihadapan ayahmu, mending aku disini denganmu, karena kita tidak boleh terpisahkan lagi, sampai kapanpun itu sayang." Ucap Nicholas yang membuat Jeremy berasa ingin muntah disana.


"Alisya, sebenarnya apa yang terjadi tadi?" Akhirnya dia memilih mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih serius.


"Emm... itu... anu pak." Alisya masih ragu unyuk mengatakan hal yang sejujurnya.


"Katakan dengan jujur, apa yang Ayahmu katakan, kenapa Hanny bisa sampai histeris seperti itu tadi?" Jeremy semakin menajamkan pandangannya saat melihat Alisya yang terlihat kebingungan, pasti ada hal penting yang terjadi saat itu pikir Jeremy.


Apa sebaiknya aku jujur saja ya sekarang? tapi nanti kalau dia ikutan emosi gimana ya?


"Awalnya mereka hanya ngobrol biasa pak, tapi----" Pikiran Alisya masih mengambang, dia hanya tidak ingin terjadi keributan disana saat Hanny belum keluar dari ruang UGD.


"Tapi apa?" Namun Jeremy terus saja memaksanya.


"Mereka itu sebenarnya Ayah dan anak."


Tatapan Jeremy seolah menodongnya dan membuatnya tidak berani berucap bohong, karena memang itu kenyataan yang tidak bisa lagi ditutupi.


"Siapa?" Jeremy masih belum paham.


"Hanny."


"Iya, siapa Ayahnya?" Tanya Jeremy yang seolah mengusir prasangka buruknya tadi.


"Ayahku."


"APA!" Kedua pria itu berteriak secara bersamaan, siapa yang menyangka jika wanita kesanyangan mereka masing-masing ternyata adalah saudara.


"Kamu nggak bercanda kan Yank? gimana ceritanya si Bodat itu itu bisa jadi saudaramu?" Nicholas bahkan menarik dagu milik Alisya agar wajahnya bisa dia tatap dengan jelas.


"Entahlah, Ayah belum sempat bercerita banyak tentang mereka, tapi Hanny sudah emosi duluan tadi." Jawab Alisya yang memilih memejamkan kedua matanya, karena dia tidak bisa menatap seseorang dalam jarak terdekat.


"Sialan... ternyata dia yang membuat istriku sakit." Umpat Jeremi yang terlihat marah, urat-urat diwajahnya sudah terlihat tegang, dia terlihat marah sekali saat ini.


"Jangan emosi dulu Bos, tenangkan diri Anda." Nicholas mencoba memberikan perlindungan kepada kekasihnya yang memang tidak tahu apa-apa.


"Bagaimana aku bisa tenang, dia asal tancap gas saja, tabur benih langsung main kabur aja, apa seperti itu kelakuan seorang lelaki, mana tanggung jawabnya, tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan, setelah Hanny tumbuh dewasa, cantik dan mandiri, baru dia akui, kemana saja dia selama ini?" Hujat Jeremy yang merasa ikut tersakiti, saat mengingat penderitaan istrinya yang selama ini dia rasakan sendiri.


"Jangan begitu bos, beliau pasti punya alasan lain mungkin."


"Kamu ingin membelanya, hanya karena dia calon ayah mertuamu?" Teriak Jeremy yang langsung melotot kearah Nicholas.


"Bukan, tapi---" Nyali Nicholas tiba-tiba mengkerut, sudah lama dia tidak melihat bos nya semarah ini.


"Sudahlah mas, mungkin memang perkataan pak Jeremy ada benarnya, tapi yang namanya manusia pasti pernah melakukan salah dan dosa, karena tidak ada manusia yang terlahir dengan segala kesempurnaan di dunia ini."


Sebagai anak Alisya tidak berani menyalahkan atau menjudge Ayahnya begitu saja, karena saat itu dia belum tercipta di dunia ini dan tidak tahu bagaimana situasi dan kondisinya.


Walau dia tahu kalau ayahnya memang bersalah kepada Hanny sahabatnya, namun dia tetap menghormati Ayahnya sebagai orang tua, karena memang selama ini Ayahnya selalu mendidik dirinya dengan baik dan Alisya juga percaya, Ayahnya pasti punya alasan tersendiri saat melakukan hal itu.


"Bukan mungkin lagi, tapi memang itu kenyataannya, kamu sudah lama kan berteman dengan Hanny, seharusnya kamu tahu bagaimana perasaannya saat ini." Jeremy hanya bisa menghela nafasnya berulang kali, kalau Alisya bukan teman baik istrinya, yang selalu ada saat Hanny susah, sudah pasti dia akan ikut menghujat Alisya.


"Saya paham pak, maafkan Ayah saya." Alisya menundukkan kepalanya, dia pun tadi sempat ikut terbawa emosi, namun semua sudah terjadi, saling menyalahkan pun tidak akan ada gunanya saat ini.


"Kenapa kamu yang harus minta maaf, bukan kamu yang salah!" Umpat Jeremy kembali sambil memilih membuang arah pandangannya karena merasa tidak tega juga, karena dia tahu kalau Alisya itu wanita baik-baik.


"Huft.. ya sudahlah semoga si Bodat baik-baik saja didalam sana." Nicholas mencoba meredakan emosi disana.


"Dengan keluarga saudari Hanny Claire?" Tiba-tiba seorang dokter dan perawat muncul dari ruangan itu.


"Ya, saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya dokter?" Jeremy langsung berlari kearah dokter untuk mengetahui perkembangan istrinya.


"Alhamdulilah keadaannya sudah membaik."


"Lalu keadaan janin istri saya?" Tanya Jeremy kembali dengan wajah yang sudah was-was.


"Itu dia masalahnya, tapi---" Belum sempat dojter itu melanjutkan ucapannya Jeremy sudah kembali tersulut emosi.


"Aish... aku tidak akan pernah memaafkan pria tua itu!" Jeremy langsung mengepalkan kedua jemarinya dengan emosi membara.


"Apa sudah tidak bisa lagi diselamatkan dokter?" Tanya Alisya yang ikut ketakutan.


"Kami sedang berusaha, memberikan suntikan penguat kandungan, semoga janinnya bisa bertahan dan terselamatkan, untung saja kalian cepat membawanya kemari, jadi kemungkinan selamat cukup besar presentasinya." Jawab Dokter itu kemudian.


"Kalau anda bisa menyelamatkan janin istriku, akan aku beri suntikan dana, agar rumah sakit ini bisa diperbesar lagi." Jiwa kaya raya dari Jeremy langsung keluar disana.


"Terima kasih pak, mohon doanya, kami akan berusaha semaksimal mungkin." Jawab Dokter itu yang tidak bisa menjanjikan seratus persen, karena dia bukan pengendali nyawa didunia ini.


"Tentu saja, setelah saudari Hanny kami pindahkan keruang rawat inap, mohon tunggu sebentar lagi, tapi hanya boleh satu orang didalam, agar pasien bisa istirahat dengan tenang, karena dia tidak boleh panik, kecapekan apalagi sampai stres." Nasehat dokter itu yang sudah mewanti-wanti terlebih dahulu.


"Tentu dokter, karena memang hanya aku yang boleh menemaninya!" Jawab Jeremy penuh dengan kata penekanan.


Setelah menunggu hampir dua jam, Hanny sudah dipindahkan didalam ruang rawat inap dan Jeremy langsung stand by untuk menunggui istrinya disampingnya.


"Mas?" Ucap Hanny dengan suaranya yang masih lemas.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Jeremy yang sedari tadi melamun langsung tersentak dan mendekat kearah istrinya.


"Mas, hiks.. hiks.." Saat Hanny tersadar, tiba-toba dia langsung menangis.


"Hei.. kenapa menangis sayang? apa ada yang sakit, aku panggilkan dokter dulu ya?" Tanya Jeremy yang langsung kembali panik, walau tadi dokter sempat mengabarkan bahwa kondisi janinnya sudah terselamatkan, obatnya bekerja dengan sangat baik.


"Nggak usah mas, aku cuma butuh kamu seorang." Rengek Hanny, karena memang hanya dia orang terdekat yang dia punya selama ini.


"Tentu sayang." Jeremy langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang rumah sakit yang sempit itu untuk memeluk istrinya. "Lalu kenapa kamu menangis, aku akan selalu menemani kamu sayang, sampai kapanpun itu." Ucap Jeremy sambil menghujani kecvpan dikening istrinya.


"Maafkan aku mas." Rengeknya kembali.


"Tidak ada yang salah diantara kita, apalagi kamu sayang, jadi jangan bersedih lagi sayang?"


"Apa janin kita sudah tiada?" Tanya Hanny dengan ragu.


"Alhamdulilah dia masih rejeki kita sayang." Senyum dari wajah Jeremy terlihat begitu menenangkan.


"Benarkah? jadi dia baik-baik saja didalam sana?"Hanny sangat bersyukur karenanya.


"Hmm.. tapi kamu harus badrest, nggak boleh kecapekkan, apalagi banyak pikiran sayang."


"Baiklah."


Hanny mengganguk patuh, jika sampai dia keguguran sudah pasti Hanny akan menyalahkan diri sendiri, karena itu memang karena kesalahan dirinya yang berlari mengikuti emosi diri.


"Jadi kamu tidak usah memikirkan hal lain selain kita dan janin kita, okey sayang?" Dia memijit perlahan tangan Hanny untuk memberikan ketenangan.


"Iya mas."


"Jika kamu ada masalah atau sesuatu yang mengganjal dihati, katakan denganku, biar suamimu ini yang akan menyelesaikan segalanya."


"Baik mas."


"Janji?"


"Iya."


"Sini peluk dulu, semoga kedua kesayanganku dalam keadaan baik-baik saja." Jeremy kembali mengeratkan pelukannya. "Baik-baik ya didalam sana nak?" Satu tangan Jeremy berpindah mengusap perut Hanny yang memang sudah semakin berisi saat ini.


"Permisi bos!" Tiba-tiba suara Nicholas menggangu kemesraan mereka.


"Ada apa, jangan menggangguku kalau tidak ada masalah penting, keluar kamu." Usir Jeremy seketika.


"Tapi ini penting bos, bisa kita bicara di luar sebentar?" Pinta Nicholas kembali.


"Pergilah, aku baik-baik saja mas." Ucap Hanny yang mengira bahwa ada urusan pekerjaan yang harus dia selesaikan.


"Sebentar saja bos, aku janji."


"Jangan kemana-mana ya sayang, mas nggak akan lama, okey?" Daripada harus berdebat dengan asistennya lebih baik Jeremy mengikuti kemauannya pikirnya.


"Hmm."


Setelah menyambar bibiir istrinya sejenak, Jeremy langsung memilih keluar bersama Nicholas.


"Katakan, jangan pake lama." Ucap Nicholas sambil jalan.


"Didepan ada ayah Alisya!" Bisik Nicholas disamping tubuh Bosnya.


"Ngapain dia kesini, kondisi istri dan janjinku masih belum stabil, apa dia sudah tidak sayang dengan nyawanya sendiri? atau mungkin dia punya nyawa double?" Jeremy seolah tidak suka mendengarnya.


"Bos, dia punya alasan melakukan hal itu dan anda pasti akan terkejut dengan alasan itu nantinya." Karena tadi ayah Alisya sempat cerita sedikit.


"Alasan apapun itu, saya tidak terima, jika Hanny nanti banyak pikiran dan stres itu akan berpengaruh dengan janin didalam perutnya, jadi suruh dia pergi, sekarang juga!"Jeremy tidak mau mengambil resiko ini.


"Itu kenapa aku ingin Anda saja yang menemuinya diluar sana."


"Untuk apa? memanggilnya dengan sebuatan ayah mertua begitu? cuuiih... aku nggak sudi." Saat ini Jeremy masih tersulut emosi yang berlebihan.


"Setidaknya dengarkan dulu ceritanya, baru Bos bisa mengambil kesimpulan nantinya." Ucap Nicholas kembali.


"Aku malas." Jeremy melengos dan bersidekap.


"Ayolah bos, istri anda juga harus tahu kebenarannya bukan? apa dia ingin hidup menua tanpa tahu sebabnya kenapa Ayahnya dulu meninggalkan dirinya?"


"Ckk." Walau sebenarnya dia juga penasaran, namun dia tetap lebih khawatir dengan kondisi istrinya saat ini, karena itu yang lebih dia utamakan.


"Ayolah bos, jangan hanya mengandalkan emosi, karena emosi adalah sifat setan, okey bos!"


"Aish! Kamu mau mengataiku dengan sebutan setan begitu!"


"Tentu saja tidak, ayolah aku temani, nanti kalau kalian mau beradu, aku yang akan jadi wasitnya." Ucap Nicholas sambil mengepalkan kedua tangannya dan mengadunya sendiri.


"Hah, kamu gila ya!"Jeremy memicingkan kedua matanya.


"Iya, aku pun gila karena beliau, entah aku bisa dapat restu atau tidak nantinya, jadi kalau Anda mau melampiaskan kekesalan yang tertahankan, aku nitip ya Bos!" Ucap Nicholas yang sengaja menjadi kompor mleduk disana.


"Nitip apaan?"


"Nitip satu TON JO KAN, okey Bos!" Dia bahkan mengepalkan satu tangannya ke udara.


"Dasar calon menantu durhaka!" Umpat Jeremy sambil menaikkan satu sudut bibirnya.


"Apa anda lupa, secara tidak langsung beliau juga Ayah mertua Anda, berarti Anda juga termasuk golongan menantu durhaka, hehe." Dia malah terkekeh setelahnya.


"Iya juga ya? kok aku kayak nggak sudi jadi kakak iparmu!" Jeremy melirik asistennya dengan tatapan jengah.


"Bahaha... kita memang sudah ditakdirkan untuk tidak terpisahkan sampai nanti, selamat menua bersamaku Bos!"


"Dih.. Najiiis!"


Akhirnya dengan segenap rasa kekesalan dihati, Jeremy dan Nicholas berjalan keluar untuk menemui Ridwan sebagai ayah kandung dari pasangan mereka masing-masing.