Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
65. Mahok


...Happy Reading...


Di dalam kamar yang tidak begitu luas didalam Pondok Pesantren itu, Hanny seolah masih belum bisa percaya, bahwa dirinya sudah sah menjadi istri dari Jeremy, orang yang memang paling dia inginkan menjadi pendamping hidupnya.


"Alisya, apa aku sedang bermimpi? Tolong bangunkan aku Alisya?" Hanny menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri.


"Astagfirullah... nyebut Han, ayo kamu istigfar dulu biar tenang." Alisya langsung menggoyangkan kedua bahu Hanny agar dia sadar dari angan-angannya.


"Astagfirullahal'adzim." Hanny langsung mengucapnya berulang kali.


"Hanny, seharusnya kamu bersyukur karena ternyata Allah tetap mempersatukan kalian berdua di pondok pesantren ini, bukannya aku sudah bilang kalau jodoh tidak akan kemana, sejauh apapun kamu kabur untuk menghindarinya, Allah pasti tetap akan memberikan jalan untuk kalian menuju sah." Ujar Alisya yang membantu merapikan jilbab milik Hanny yang baru dia ganti.


"Aku pun bersyukur Alisya, tapi yang jadi inti permasalahannya sekarang, aku menjadi istri kedua dari mas Jeremy, apa kamu lupa kalau dia juga tetap melangsungkan pernikahan hari itu?"


Hal itu yang membuat Hanny meras aragu dan bimbang, kenapa harus seperti ini kisah dirinya, pikir Hanny berulang kali.


"Haish... Iya juga ya, Abah tau nggak ya, tapi kan dalam ajaran agama kita, lelaki diperbolehkan menikah lebih dari satu orang, lagian juga pernikahan saat itu pasti karena terpaksa, mereka tidak punya alasan dan cara lain untuk menjaga nama baik keluarga mereka, karena hanya tinggal menghitung jam saja kan acara Akad nikah dan pestanya?" Alisya mencoba berpikir positif.


"Iya, tapi kan walau begitu keadaannya,jika mas Jeremy mau menikah lagi kan harus dengan persetujuan istri pertama?" Hanny pernah mendengar hal itu dulu.


"Mungkin Abah sudah mengurusnya Han, aku percaya kalau Abah lebih tahu syarat-syarat dan ketentuan menikah lagi menurut syariat islam kan?"


"Fuh... jika memang benar, tapi apa aku bisa berbagi suami dengan wanita lain? aku tidak yakin bisa melakukan hal itu Alisya, sakitnya pasti bukan main, lebih baik tidak sama sekali daripada harus tersiksa batin Sya."


Hanny seolah ragu dan pikirannya seolah tidak sampai jika harus memikirkan hal itu, apalagi harus tinggal satu atap dengan istri pertama.


"Jika memang Jeremy bisa adil, tidak masalah kan Han, kalian tidak perlu tinggal satu atap, untuk masalah materi aku rasa pak Jeremy lebih dari sekedar mampu, nanti saat pak Jeremy memberikan jatah kepada istri pertama, aku yang akan menemani kamu dirumahmu, jadi kamu jangan risau, ingat aku akan selalu ada untukmu, okey?"


Hanya itu yang bisa Alisya lakukan, walau mungkin jika hal itu terjadi dalam kehidupannya sendiri juga belum tentu dia mampu, Alisya hanya ingin sekedar menenangkan hati Hanny, karena semua sudah terlanjur terjadi.


"Assalamu'alaikum mbak Hanny dan mbak Alisya." Sapa salah satu santri perempuan yang masuk kedalam kamar Hanny yang memang terbuka.


"Wa'alaikum salam, iya ada apa dek?" Jawab mereka berdua dengan serentak.


"Apa mbak Hanny sudah lebih tenang? didepan sana ada dua santri pria yang menunggu mbak Hanny dan mbak Alisya, katanya sudah diizinkan oleh Abah." Ucapnya kembali.


"Haduh... apa dia mas Jeremy dan asistennya?"


"Nggak tau mbak, saya juga nggak kenal, sepertinya santri baru."


"Sudah pasti itu mereka Sya, gimana dong?" Hanny sudah yakin dengan benar, dugaannya tidak akan salah.


"Sudahlah, temui pak Jeremy mau bagaimanapun juga dia sudah sah menjadi suami kamu." Alisya mencoba meyakinkan Hanny yang terlihat gelisah.


"Tapi aku masih belum siap Sya, aku malah takut jadinya." Hanny tidak lagi seperti dulu yang tidak pernah takut dengan apapun.


"Biar aku temankan kamu ya, jangan khawatir, aku akan selalu ada disampingmu, kecuali saat malam pertama, hehe." Alisya mencoba meledeknya agar Hanny tidak begitu merasa ketakutan yang berlebihan.


"Ckk... kamu inilah Sya, kenapa pikirannya malah sampai sana!"


"Ayo kita keluar, kasian suamimu kalau kamu abaikan sedari tadi."


"Assalamu'alaikum istriku." Sapa Jeremy dari kejauhan dengan ditambah senyum manisnya yang tiada lawan.


"Wa... Wa'alaikum salam su.. suamiku." Jawab Hanny dengan reflek, walau mulutnya pun terlihat bergetar.


"Aduuh... manisnya istriku, ayo kita pulang sayang, aku sudah meminta izin dengan Abah dan Umi, kalau kita akan pulang ke rumah." Jawab Jeremy yang sudah membuat keputusan dan disetujui oleh Abah dan Umi.


"Hah? kok pulang sih?" Hanny merasa terkejut, kenapa harus pulang pikirnya.


"Emang kenapa?" Tanya Jeremy yang terlihat kecewa, dia berfikir Hanny akan merasa senang karena tidak akan ada lagi yang menjadi penghalang diantara mereka.


"Tapi aku masih ingin belajar ilmu agama disini." Jawab Hanny yang seolah merasa keberatan.


"Tidak masalah, kita bisa datang di sore hari sampai malam, atau kalau tidak setiap sabtu dan minggu kita menginap disini sambil belajar lagi." Jeremy sudah memikirkan juga tentang hal ini, dia pun masih ingin belajar juga.


"Tapi mas?"


"Hanny sayang, mas juga punya tanggung jawab dengan perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, jika sampai pekerjaan mas terabaikan dan perusahaan mendapatkan masalah nanti karyawan mas pasti terkena dampaknya." Buaknnya Jeremy tidak mau, nakun ada banyak hal yang harus dia urus dalam kesehariannya.


"Atau mas saja yang pulang duluan, aku biar disini saja."


"Mana boleh, kamu sudah menjadi istriku, harus selalu ada disamping aku dong, masak baru nikah sudah mau tidur terpisah, kita bahkan belum mahok-mahok kan, hayow?"


"Pfftthh... kalau temanya mahok, ingatan anda tajam benar bos!" Nicholas langsung meledeknya.


"Bukannya disana sudah ada madu mas?" Tanya Hanny sambil menundukkan wajahnya.


"Hah? Madu apa?"


"Mas kan tetap jadi menikah hari itu, aku lihat sendiri foto kalian berdua, bahkan saat mas mencivm istri pertama mas dengan mesranya." Ucap Hanny yang seolah begitu terluka saat mengingatnya.


"Hoeerkk... Hoeerk!"


Sekarang bukan hanya Jeremy yang merasa mual saat mengingatnya, namun perut Nicholas juga ikut mual secara bersamaan.


"Loh kalian kenapa?"


"Nanti mas jelaskan, sekarang ayo kita pulang!" Jeremy langsung menarik lengan Hanny dan membawanya untuk mengikuti langkahnya.


"Lalu aku bagaimana?" Alisya bingung sendiri jadinya.


"Kamu juga ikut pulang, enak aja cuma aku yang jadi kacang bagi mereka, harus ada temannya, kamu juga harus merasakan nasip yang sama dong, kamu kan sahabatnya si Bodat ini!"


Nicholas pun tak mau tinggal diam, dia ikut menggandeng tangan Alisya agar ikut bersama mereka, karena Jeremy sudah meminta dirinya untuk membooking hotel berbintang untuk acara bulan madu mereka.


Dan anehnya Alisya menurut saja tanpa protes sedikitpun, bahkan dia tanpa sadar juga ikut menggengam jemari Nicholas karena langkah Nicholas yang memang cepat.


Keajaiban doa itu benar adanya. Dia hanya mendatangi orang yang setia, yang tetap meminta, walau belum terkabul juga.