Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
73. Nasip Sarmin


...Happy Reading...


Tidak butuh waktu yang lama, Jeremy dan Hanny akhirnya sampai di kawasan Apartement milik Nicholas yang memang tidak begitu jauh dari kantornya.


Benar saja, saat Hannh dan Jeremy baru saja membuka pintu Apartement itu, mereka sudah disambut oleh lantai yang berserakan dengan sampah tissu dimana-mana.


"Yaelah... ini rumah apa tempat pembuangan sampah, kenapa berantakan sekali, dia habis ngeluarin berapa liter oli putih sih, kenapa banyak sekali tissu kotor, hidih... jorok amat!"


Hanny malah berpikiran lain, karena menurut pengalaman Hanny dulu, tissu bagi pria selain berguna untuk mengelap sisa makanan juga berguna untuk mengelap air setan bagi para pria berhidung belang.


"Oli putih apaan sih yank?" Jeremy tidak pernah mendengar kata-kata nyeleneh seperti itu dalam kesehariannya dulu, jadi memang dia tidak begitu paham.


"Hehe... yang mas keluarin setelah mende sah panjang itu lah!" Jawab Hanny sambil menoel lengan suaminya.


"Ckk... Masak sih yank, nggak seperti biasanya dia kayak begini, emang lawannya siapa, dia kan jomblo, atau ada orang lain disini selain dia?"


"Namanya juga Bandit, gayanya aja selangit tapi ternyata kebiasaannya amit-amit!"


Hanny bahkan sampai berjalan sambil berjinjit melewati tissu-tissu kotor itu sepanjang perjalanan menuju lantai atas, yaitu kamar Nicholas.


"Nick, kamu dimana?" Teriak Jeremy yang langsung menggandeng lengan istrinya untuk masuk kedalam kamar Nicholas.


"Bos?" Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan muncullah sosok Nicholas ditengah-tengah pintu itu.


"Astagfirullohal'adzim!" Hanny bahkan langsung terlonjak kaget saat melihat penampilan Nicholas yang terlihat berantakan sekali.


Tampang Nicholas kali ini memang terlihat mengenaskan sekali, bahkan kedua hidungnya dia sumbat menggunakan tissu karena terus berair, itu mengapa dia menghabiskan banyak tissu dibawah tadi.


"Kamu kenapa Nick, apa yang terjadi denganmu, apa kamu sakit, perlu kami bawa ke dokter sekarang? atau aku panggilkan dokter pribadi keluarga kami saja?" Jeremy terlihat prihatin melihat asistennya yang biasanya selalu bersih, rapi dan wangi itu kini menjadi berbanding terbalik.


"Pffthh... kelihatannya bukan penyakit luar ini sih mas." Ledek Hanny yang memperhatikan tubuh Nicholas dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.


"Memangnya kamu tahu gejalanya yank?" Tanya Jeremy kembali.


"Taulah.. wajah semrawut, mata sembab, hidung meler, rambut acak-acakan, rumah berantakan, ini sih gejala penyakit hati." Hanny mulai asal menyimpulkan sendiri.


"Nggak mungkinlah sayang, Nicholas yang aku kenal tidak seperti ini, heh... Nick? kamu kenapa, apa kamu kalah tender? kalau hanya masalah pekerjaan tidak perlu kamu pusingkan sampai begini, kata Abah rezeki itu sudah ada yang mengatur, come on Bro!" Jeremy langsung memberikan kata-kata semangat untuk asisten sekaligus orang terdekat dengan dirinya.


"Ini bukan masalah tender atau perusahaan, kalau masalah itu siapa yang bisa mengalahkan aku!" Jawab Nicholas dengan percaya diri.


"Wuidih, mulai kumat dah sombongnya, ini baru Bandit yang aku kenal." Umpat Hanny yang langsung menyunggingkan senyumannya.


"Hey Bodat, kenapa kamu nggak bilang kalau Alisya sudah punya calon!" Tiba-tiba Nicholas langsung melontarkan kata-kata yang membuat Hanny kembali terkejut.


"Hah, maksudnya calon apa?" Tanya Hanny sambil menajamkan pandanganya.


"Calon suamilah, bahkan mereka sudah menikah malam ini." Ucap Nicholas dengan suara paraunya.


"Ngelantur kamu ya, masak malam-malam begini menikah sih, emang nggak bisa apa nunggu sampai besok pagi aja gitu, kayak orang yang udah kebelet jungkat-jungkit aja sih?"


Karena Alisya memang tidak pernah menceritakan apapun tentangnya selain kakeknya dan juga ayahnya yang seorang guru ngaji selama ini, itu saja Hanny belum sempat bertemu dengan ayah Alisya kemarin, karena beliau saat itu sedang pergi keluar kota untuk mendampingi salah satu santri dari pondok pesantren itu, yang ikut lomba menghafal Al-Quran.


"Aku serius Bodat!" Teriak Nicholas dengan kesal.


"Bukannya kamu tadi pamer kalau lagi ngedate berdua sama Alisya?" Tanya Jeremy yang mulai paham sebab dari Nicholas yang menjadi seperti ini.


"Iya, bahkan kami tertawa dan bercanda bersama, hanya ada satu kata untuk kami malam ini, yaitu kebahagiaan, tapi kenapa saat aku mengucapkan selamat tidur untuknya, dia bilang jangan hubungi aku lagi, aku sudah menikah, apa nggak bikin aku gila dadakan coba?" Ujar Nicholas sambil menjambak rambutnya yang tidak seberapa panjangnya itu.


"Masak sih, ngelindur kali dia!"Hanny masih belum bisa percaya begitu saja.


"Ngelindur apaan, saat aku telpon yang jawab suara pria Bodat!"


"Tunggu, bukannya kalian berdua memang tidak ada hubungan kan? memangnya kamu pacaran sama Alisya? emang sejak kapan kalian jadian?" Tanya Jeremy yang memang belum mendengar tentang hal itu.


"Memang tidak ada kata jadian diantara kami, karena Alisya tidak mau pacaran, tapi dia bilang mau menungguku!" Jawab Nicholas yang kembali mengingat perkataannya tadi.


"Mungkin Alisya hanya bercanda saja, kenapa kamu malah jadi suka?" Celoteh Hanny kembali yang berhasil membuat kedua tanduk Nicholas seolah berdiri diatas kepala berwarna merah.


"Aku tidak sedang bercanda saat itu Bodat, aku bicara serius dengannya!" Nicholas merasa tidak terima jadinya.


"Tapi kamu tumben seperti ini Nick, ini bukan kamu yang aku kenal loh, biasanya kamu paling tidak perduli dan tidak pernah ambil pusing dengan yang namanya kaum Hawa." Jeremy malah merasa heran sendiri jadinya.


"Tapi Alisya beda Bos, dia lain daripada yang lain, aku memang sudah sejak lama tertarik dengannya." Jawab Nicholas dengan jujur.


"Maksud kamu Alisya kelainan begitu!" Tanya Hanny yang malah semakin memancing emosi Nicholas.


"Aish... kenapa sih semua wanita itu tidak pernah bisa mengerti apa yang pria rasakan?" Umpat Nicholas kembali dibuat murka.


"Ya elah SARMIN! gaya kamu itu loh, udah kayak yang dunia mau runtuh aja, udah kebelet banget kamu!" Hujat Hanny sambil menatap jengah kearahnya.


"Kami sudah sepakat malam itu Bodat, mau membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius, karena dia tidak mau pacaran!"


"Setahu aku Alisya belum mau menikah secepat ini, dia masih ingin lulus kuliah, mengejar karier dan bisa mencarikan uang buat keluarganya."


"Aku sudah berjanji dengannya untuk tidak membatasi apapun yang dia inginkan, aku justru akan selalu menemaninya, asalkan mau serius denganku."


"Kamu sudah kebelet atau gimana sih, kenapa tiba-tiba mau nikah?" Jeremy pun masih tidak menyangka.


"Cie... iri ya lihat kayak beginian?" Ledek Hanny dengan gilanya.


Cup


Hanny langsung berjinjit dan menyambar kedua pipi suaminya secara bergantian didepan wajah kusut Nicholas.


"Bos?" Nicholas langsung merasa menjadi pria terdzolimi.


"Atau kamu ingin merasakan yang seperti ini juga?" Hanny kembali berulah sesuka hati.


Cup


Kali ini Hanny memilih menarik dagu suaminya dan mengecvpnya dengan tempo yang cukup lama, bahkan Jeremy pun reflek membalasnya, karena memang itu hobi barunya sekarang.


"Hei... Kalian berdua sudah gila ya!" Teriak Nicholas yang semakin meradang saat melihat kelakuan pengantin baru ini.


"Sayang udah dulu ya, kasian Nicholas!"Jeremy langsung mengusap bibiir istrinya yang sudah basah karenanya.


Kapan lagi bisa ngerjain si Bandit ya kan, haha


"Sekali lagi mas, kalau mas menolak satu minggu kedepan aku nggak mau ngasih jatah!" Ancam Hanny yang memang sengaja ingin membakar emosi Nicholas disana.


"Fuuh... maaf ya Nick, untuk kali ini aku tidak bisa menolak istriku, kalau kamu tidak sanggup tutup kedua matamu atau putar saja tubuhmu kebelakang sana!"


Cup


Jeremy tidak akan pernah rela jika dia tidak mendapatkan jatahnya hanya karena hal sepele seperti ini pikirnya.


Dia langsung saja menarik tubuh istrinya dan langsung memeluk dan juga memiringkan kepalanya untuk mengeksekusi bibiir seksih milik istri tercinta yang selalu menjadi candu baginya.


"Ya Tuhan, jika memang ini menjadi peringan dosaku, aku terima, semoga semua dosaku ditanggung oleh sepasang suami istri lucknut yang tidak punya rasa malu ini, amin." Nicholas sengaja menengadahkan kedua tangannya ke langit.


"Enak aja, kamu nyumpahin kita!"


"Huh... begini saja, aku tidak bisa membantumu jika aku tidak tahu ceritamu, coba sekarang kamu ceritakan dulu nasib mu itu Sarmin!" Jeremy mulai membenahi cara duduknya.


"Namaku Nicholas bos!"


"Bahaha... namamu tidak cocok dalam mencerminkan kelakuanmu yang sudah seperti hello kitty, sudahlah nama Sarmin lebih pas untukmu, lanjut part kedua kalau tidak aku robohkan rumahmu!"


Hanny langsung memilih duduk disamping suaminya dan bersiap-siap menjadi pendengar setia dari kisah Nicholas yang seolah menjadi pihak yang terdzolimi.


Flasback


"Alisya, boleh aku tanya satu hal darimu, aku masih penasaran banget sedari tadi, perbincangan kita sepertinya belum selesai tapi keburu sepasang suami istri itu sudah terbangun."Ucap Jeremy sambil menjalankan mobilnya pelan-pelan, agar tidak cepat sampai.


"Apa? selagi aku tau pasti aku jawab." Ucap Alisya dengan santainya.


"Emm... sudah menjadi rahasia umum kan kalau yang namanya jodoh itu ditangan Tuhan, kita tidak bisa menolak ataupun menampik jika memang jodoh itu sudah datang kan?"


Degh!


"Hmm... lalu?" Alisya sudah merasa ada yang lain dari ucapannya, namun dia mencoba untuk menampiknya.


"Lalu bagaimana, jika jodohmu sudah datang, apa kamu tetap akan menolaknya?"


"Maksudnya?"


"Kamu kan memang tidak mau pacaran,tapi jika ada lelaki yang serius ingin membahagiakan kamu hingga until Jannah nanti, apa kamu akan menampiknya?" Tanya Nicholas yang tiba-tiba berani membicarakan masalah hati.


"Maaf,aku belum kepikiran soal itu pak."


"Apa kamu takut, jika sudah menikah nanti hidupmu akan terkekang, atau mungkin kamu tidak bisa membantu soal materi kepada kedua orang tuamu?" Nicholas mencoba menduganya.


"Tidak bisa dipungkiri, mungkin itu juga salah satu alasannya, karena aku belum bisa membalas apapun yang mereka lakukan sampai aku sebesar ini, walau pun kasih sayang orang tua memang tidak dapat digantikan oleh apapun, namun aku hanya ingin sekedar meringankan beban pundak mereka yang kini sudah mulai renta." Alisya menghela nafasnya berulang kali setelah mengingat jasa orang tuanya selama ini.


"Jika aku akan membebaskan semua itu, asalkan kamu selalu berada disampingku, apa kamu juga akan menolakku?"


Dor!


"Hah, maksud bapak gimana?" Kali Alisya bahkan sampai menegakkan tubuhnya.


"To the point aja Alisya, aku memang tertarik denganmu, aku ingin kamu menjadi milikku."


"Uhuk.. uhuk.. Bapak bercanda kan?"


Alisya sampai terbatuk-batuk saat mendengar kejujuran dari seorang Nicholas.


"Aku serius kali ini Alisya, katanya kamu tidak mau pacaran?"


"Secepat ini?"


"Iya, aku akan mempersiapkan segalanya setelah ini." Dia bahkan sudah yakin bahwa perasaannya tidak akan ditolak.


"Tapi pak?"


"Alisya, apa kamu tahu? dalam hadits juga sudah disebutkan tentang pernikahan dan makna pernikahan dalam islam, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha).


Degh!


Jika sudah menyinggung tentang Hadist, Alisya tidak lagi bisa menyangkalnya, apalagi selama ini ayah atau ibunya tidak pernah melarang dirinya untuk menikah atau melakukan apa yang dia inginkan, yang penting itu tidak keluar dari jalur agama dan bisa membuat dirinya bahagia mereka tidak masalah, hanya Alisya saja yang memang merasa belum puas jika belum bisa memberikan hasil kerja kerasnya sendiri untuk kedua orang tuanya.


"Emm... Gimana ya?"


"Alisya, jika kita sudah mampu dalam hal materi, fisik dan psikologis bukannya lebih baik kita menikah, untuk menjaga diri, akhlak kita, pandangan kita, kemalvan kita, menyempurnakan separuh agama kita dan juga bisa menjaga syaiton yang selalu menjerumuskan kita kedalam hal-hal yang berbau maksiat dan madharat, karena menikah juga salah satu ladang kita untuk mencari pahala."


Skak!


Alisya hanya bisa memejamkan kedua matanya saja, karena dia juga sudah pernah mendengar tentang hal ini, saat Ustadzah mereka di pondok pesantren menyampaikan hal ini kepada Hanny saat itu.


"Apa aku bisa memegang janjimu tadi?" Tanya Alisya kembali memastikan, karena memang itu keinginannya selama ini.


"Tentu saja, aku tidak akan mengekangmu, aku tidak akan melarangmu, yang terpenting adalah komunikasi Alisya, aku sudah mampu dalam hal materi, untuk membiayaimu dan juga kehidupan kita nanti, dan jika kamu memang ingin bekerja untuk membantu orang tuamu aku tidak masalah, asalkan kamu tetap punya quality time bersamaku, gimana?"


"Hmm.."


Alisya akhirnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tidak ia pungkiri, Nicholas juga sempat membuat dirinya tertarik saat itu, namun dia tidak berani memikirkan tentang hal ini.


Dia hanya berfikir bahwa mungkin memang Nicholas adalah jodohnya, dan tidak baik menampik seorang lelaki yang punya niatan baik kepada kita, apalagi ini memang dianjurkan dalam agama.


"Berarti kamu setuju?" Guratan senyuman itu terlukis jelas diwajah seorang Nicholas.


"Hmm.."


Lagi-lagi Alisya hanya menggumam saja tanpa sebuah perkataan, sesungguhnya dia masih terkejut dengan pernyataan Nicholas yang terkesan tiba-tiba ini, namun entah mengapa hatinya pun merasa bahagia karenanya.


"Kalau begitu tolong tunggu sebentar lagi ya, aku akan menyiapkan segalanya terlebih dahulu, aku janji tidak akan lama apalagi sampai satu purnama, karena aku ingin selalu melihat senyuman kamu itu setiap hari."


"Apaan sih pak?" Ucap Alisya yang malu-malu.


"Ya elah Ukhtiku, handphone saja sanggup menyimpan ratusan bahkan ribuan foto didalamnya, masak kamu hanya menyimpan aku saja, hatimu tidak cukup sih?"


Dan sesi pergombalan pun dimulai.


"Astaga, bapak ini ada-ada saja."


"Hehe... okey, untuk sekedar meresmikan hubungan kita ke tahap serius kita makan dulu yuk, kamu mau makan apa Ukhtiku?" Nicholas kembali punya rencana agar bisa lebih dekat lagi dengan idamannya.


"Aku kok gimana ya dengernya?"


"Sebenarnya aku mau panggil sayang, tapi kesannya belum pantas, karena belum ada kata sah diantara kita, tapi kalau kamu mau, aku tidak keberatan loh sayang, dari pada menyebut nama ya kan?"


"Yang pertama saja." Ucap Alisya yang langsung menolaknya.


"Baiklah kalau begitu Ukhtiku."


"Lalu apa aku harus memanggil Akhiku juga?"


"Sayang aja, daripada lidah kamu kejepit nantinya, hehe!"


"Mas aja deh, biar lebih mahal."


Entah mengapa Alisya juga bisa diajak bercanda kali ini dengan lawan jenis.


"Haha... itu pun boleh, ehh... ini hari apa sih Ukhtiku?" Ucap Nicholas kembali.


"Hari Jumat kan?" Alisya mulai mengingat-ingatnya kembali, takut jika salah.


"Tapi bagi aku, semua hari itu adalah hari selasa."


"Kok selasa?"


" Iya, selasa di Surga jika dekat dengan kamu!"


"Astagfirullah mas, aku kok malah jadi malu, maaf ya aku tidak bisa berkata-kata manis seperti kamu, bukan hanya ini, tapi masih banyak lagi kekurangan dalam diri aku, apa mas bersedia menerimanya?" Alisya sebenarnya masih sedikit bimbang, namun dia mencoba meyakinkan diri dengan mengucap Bismilah.


"Tetaplah seperti itu Alisya, karena aku tertarik denganmu karena kamu yang begini, jangan berubah demi orang lain, berubahlah hanya untuk kebaikan."


"Terima kasih."


"Emm.. boleh nggak aku bilang sesuatu denganmu?"


"Boleh lah, katakan saja mas?"


"Alisya, aku sayang kamu."


Beeerrrrr!


Tidak pernah terbayangkan sedikitpun didalam hidupnya, jika akan ada seorang pria yang mengucapkan tiga kata itu secepat ini, bahkan langsung dihadapannya.


Nicholas sudah seperti lembar kertas ujian sekaligus lembar kertas jawaban untuk kehidupan Alisya yang memang penuh lika-liku selama ini.


Flashback Off