
...Happy Reading...
Suara tembakan itu terdengar dengan jelas, bahkan seluruh anggota kepolisian itu sudah mengarahkan senjatanya ke arah kepala Yoga Pratama.
Door!
Namun komandan pasukan itu mengangkat satu tangannya, pertanda agar seluruh anggotanya tidak melepaskan peluru yang ada di senjata mereka masing-masing.
"YOGA?"
Alisya langsung berteriak dan memeluk tubuh suaminya, saat tubuh Yoga ambruk dan tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah ditubuhnya.
"Panggilkan kereta Ambulance kemari!" Teriak Sang Komandan kepada anggotanya.
"Astaga Yoga, apa yang kamu lakukan?"
Alisya sungguh tidak menyangka jika Yoga melepaskan tembakan itu ke tubuhnya sendiri, Alisya berfikir setelah dia mengingatkan tentang masa lalu saat dibangku sekolah itu akan menyadarkan tentang kelakuan buruk Yoga dan memilih menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib, karena mau bagaimanapun juga dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Alisya, kenapa kamu masih memeluknya?" Nicholas merasa lega karena Alisya bukan menjadi korbannya, namun dia seolah tidak rela saat Alisya terus memeluk tubuh Yoga saat mobil ambulance masih dalam perjalanan.
"Apa sih mas, dia terluka." Alisya melirik kearah Nicholas yang sudah cemberut saja sedari tadi.
"Itu pilihannya, lepaskan dia biar pihak Kepolisian yang mengurusnya." Nicholastetap bersikukuh dengan pendapatnya, karena menurutnya Yoga memang pantas mendapatkan ganjaran ini, bahkan mungkin seharusnya lebih.
"Mas, dia itu masih suamiku!" Umpat Alisya kembali, Yoga memang bukan suami yang baik, namun Alisya sadar, dirinya juga belum bisa menjadi istri yang baik.
"Suami macam apa yang berani mengancam istrinya sendiri!"
Nicholas bahkan lebih ingin seorang Yoga Pratama membusuk dan tersiksa didalam sel tahanan, biar dia mendapatkan pelajaran hidup.
"Aku yakin, Yoga tidak akan pernah tega menembakku, itu kenapa aku memilih menyerahkan diri kepadanya."
Alisya tahu Yoga tidak akan mau menembaknya, lain halnya jika Nicholas yang berada diposisinya tadi, mungkin pria itu sudah mengirim Nicholas ke dunia lain, karena selama ini yoga memang tidak pernah sampai menyiksa istrinya secara lahir.
"Sekarang kamu mau membelanya?" Hati Nicholas seolah tersakiti dengan pembelaan wanita idamannya itu terhadap suaminya.
"Excuse me, bile kalian masih nak bergaduh sila ketepi kejap, kite orang nak mengurus dia terlebih dahulu." Ucap Komandan pasukan itu dengan sopan.
"Saya ikut pak." Alisya langsung bangkit saat polis itu mengangkat tubuh Yoga.
"Alisya!" Namun Nicholas langsung menarik lengannya.
"Mas, cobalah mengerti, Yoga sudah tidak sadarkan diri, mau bagaimanapun juga aku ini istrinya." Alisya hanya bermaksud ingin mengetahui keadaan suaminya, karena nanti orang tua dan mertuanya juga pasti akan menanyakan hal ini.
"Tapi kalau tiba-tiba dia sadar dan menembakmu gimana?"
"Tidak akan mas." Alisya seolah yakin seratus persen.
"Tidak akan bagaimana, apa kamu tidak melihat luka tembakan yang ada ditangan dan kakiku?"Nicholas langsung menunjukkan kedua perbannya.
"Aku tahu, tapi itu bukan dia yang menembaknya kan!"
"Memang bukan dia, tapi anak buahnya dia Alisya, mengertilah!" Nicholas semakin jealous saat melihat wanita idamannya seolah membela wanita lain.
"Hello, ini bukan massa nye bila nak bergadoh, kite orang nak bawa pelaku nie ke Hospital khusus police dan kalian boleh ikut sekali ke balai Police untuk menjadi saksi, tolong bagi laluan kejap, boleh tak?"
Polisi dari negara tetangga itu merasa jengah sendiri saat melihat Alisya dan Nicholas yang malah berdebat sendiri.
"Nicholas, tenangkan dirimu, biarkan Alisya melakukan tanggung jawabnya sebagai istri dulu, lagian Yoga pasti dalam pengawalan pihak kepolisian, jadi jika dia terbangun nanti, ada anggota kepolisian yang mendampinginya."
"Tapi Bos?"
"Ckk... kalau mau jadi Bucin, jangan terlalu kelihatan, harga diri dong!" Bisik Jeremy disamping telinga Nicholas.
"Ya sudahlah, kalau begitu aku ikut sekalian, enak aja dia mau dua-duaan nantinya."
Akhirnya Nicholas tak punya pilihan lain selain ikut dan membiarkan Alisya tetap mendampingi bersama mobil Ambulance yang membawa Yoga ke rumah sakit.
Dan Jeremy dan Hanny pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan sebagai saksi kejadian itu.
Yoga langsung dibawa ke ruang operasi dengan didampingi oleh beberapa anggota kepolisian yang ikut masuk kedalam ruangan itu, karena Yoga adalah tersangka dalam kasusnya.
Sedangkan Alisya masih berjalan mondar-mandir didepan ruang operasi, dia bingung harus menjelaskan seperti apa kepada pihak keluarganya dan juga keluarga Yoga nanti.
Dia tidak ingin semua menjadi panik, karena setahu mereka Yoga adalah orang baik, bahkan pahlawan bagi keluarga Alisya, karena sudah membantu menyelesaikan hutang piutang milik mereka.
"Alisya, sebenarnya kamu sayang nggak sih sama aku?" Nicholas memilih duduk santai dikursi tunggu yang ada didepan ruangan itu.
"Apa sih mas, orang keadaan sedang ruwet begini kok masih ngomongin sayang-sayangan sih?" Alisya tidak habis pikir jika Nicholas bisa cemburu ak tahu tempat.
"Habisnya kamu kayak yang khawatir banget dengan Mafia itu, dia penjahat itu Alisya, jangan lupakan itu!" Nicholas sekedar mengingatkan kembali. "Ngapain juga mengkhawatirkannya." Gerutu Nicholas kembali.
"Iya, tapi masalahnya dia malah menembak diri sendiri, dan itu dia tembakkan dibagian dadaa loh mas, kalau kena jantung gimana?"
"Apa perlu aku juga melakukan hal itu, agar kamu lebih khawatir denganku bukan dengan mafia itu!" Nicholas langsung tersenyum miring karenanya.
"Astagfirullah mas, kok ngomongnya kayak gitu sih?"
"Aku itu nggak suka kamu lebih mengkhawatirkan dia daripada aku, kamu nggak lihat apa, aku juga terluka ini, sakit tau nggak!" Rengek Nicholas yang langsung memamerkan perbannya.
"Iya maaf, aku tidak bermaksud seperti itu mas." Alisya paham, namun tidak seharusnya Nicholas cemburu dengan orang yang tak sadarkan diri seperti ini.
"Apa jangan-jangan kamu diam-diam suka ya sama dia!"
"Jangan ngaco deh ngomongnya?"
"Ya siapa tahu, kamu pernah diapain aja sama dia?" Nicholas langsung menarik lengan Alisya agar duduk disampingnya.
*Hadeh, mending jujur apa enggak ya*?
"Nggak ada, emang diapain sih, mas itu mikirnya condong ke arah hal mesvm aja deh!" Jawab Alisya mencoba menutupi, karena menurutnya hal begitu adalah tabu dibicarakan ditempat umum.
"Selain dipeluk kamu pernah dicium juga kan?" Namun Nicholas seolah tidak perduli,dia terus saja menginterogasi Alisya.
"Mas cukup deh?" Alisya menghela nafasnya berulang kali.
"Tapi cuma di kening atau pipi aja kan yank, nggak sampai ke bibir kan?" Nicholas bahkan menggoyangkan kedua lengan Alisya, dia hanya ingin wanitanya itu menjawab 'iya'.
*Ya ampun, kalau bohong aku dosa dong ya*?
"Mikirnya nggak usah aneh-aneh deh mas?" Alisya sadar jika suaminya sudah melakukan hal lebih dari itu.
"Alisya, coba jujur denganku, kamu tidak melakukan hal lebih kan dengan dia, kamu selalu ingat pakai pembalvt kan?" Cecar Nicholas terus menerus.
"Apa sih mas?"Sebensrnya Alisya merasa risih ditanya terus menerus soal itu.
"Jujur Alisya!"Desak Nicholas kembali tanpa henti.
"Iya, aku selalu menggunakan pembalvt kok."
"Itu baru kesayangan aku namanya, kalau yang lainnya dia nggak berani megang kan? Kamu pasti menolaknya dong, iya kan?"
"Emm..."
Alisya terlihat ragu, dia masih bingung mau menjawab jujur apa tidak, karena kenyataannya memang Yoga pernah mengeksplore tubuhnya, walau tidak sampai ke intinya karena memang terlindung oleh pembalvt.
"Sayang! Jangan bilang dia sudah pernah---" Guratan senyum yang tadi sempat terbit langsung memudar.
"Mas sudahlah, jangan bahas kayak gitu bisa nggak sih, malu tau nggak, ini ditempat umum."
"Pokoknya aku tidak terima, kamu jahat Alisya!" Nicholas langsung bangkit dan berjalan dengan kakinya yang masih sedikit pincang.
"Apaan sih mas!"
"Kamu tega ya sama aku, kemarin aja bilang i love you, tapi nyatanya kamu mau juga disentuh sama suamimu, aish..!"
"Aku sudah menolaknya mas, tapi..?"
"Tapi apa? apa kamu juga ikut menikmatinya!" Tuduh Nicholas kembali.
"Bukan begitu mas?"
"Lalu apa Alisya, jangan buat aku menerka-nerka, aku itu calon masa depanmu, kamu harus jujur denganku!"
"Aish siaal!"
Bugh!
Dia langsung meninjukan tangannya ke tembok rumah sakit itu untuk melampiaskan kekesalannya disana.
Nicholas seolah masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Alisya memang sudah menjadi istri orang saat ini.
"Astagfirullah mas, jangan begini, coba lihat sini tangannya."Alisya langsung berlari dan mendekatinya namun Nicholas menampiknya.
"Jangan sentuh aku!" Umpat Nicholas yang sudah merajuk seperti anak kecil.
"Mas, mau bagaimanapun juga dia punya hak atas diriku, karena memang dia sudah berstatus sebagai suamiku, tapi aku tidak meresponnya kok mas, beneran deh."
Walau Alisya sempat menikmati kelakuan nakal suaminya, namun dia memang tidak membalasnya, dia hanya pasrah menerima saja karena tidak mampu menolaknya.
"Beneran?"
"Iya, jangan ngambek dong, sini biar aku lihat tangannya, berdarah nggak tadi?" Alisya langsung memegang kedua lengan kokoh Nicholas agar menghadap kearahnya.
"Bagian mana yang dia sentuh?" Tanya Nicholas kembali.
"Hah?" Alisya semakin bingung mau menjelaskannya, tidak mungkin juga dia mau mengatakannya secara gamblang disana, bisa geger nanti seisi rumah sakit itu Nicholas buat.
"Cuma bibir aja kan, nggak sampai turun ke bawah?"
"Emm.. itu.. anu mas." Alisya semakin salah tingkah sendiri.
"Aaaaaa... aku bahkan belum mengintipnya sayang, aku sungguh tidak terima kalau begini ceritanya."
"Astaga mas!"
"Kamu jahat Alisya, aku benci kamu!"
"Siapa suruh jadi pebinor, bukannya aku sudah menyuruh mas melupakan aku?"
"Nggak begini loh ceritanya yank, aku jadi pebinor karena mafia itu duluan yang merebut kamu dariku, jika dia tidak merebutnya sudah pasti aku yang akan menikahimu duluan!"
"Ya sudahlah mas, nggak usah ribut masalah begituan, semua sudah terjadi, mau gimana lagi coba?"
"Mau ngintip sedikit boleh?" Pinta Nicholas yang merasa iri.
"Nggak!"
"Aaaaa... Mafia itu saja boleh!"
"Mas aku masih berstatus istri orang loh!"
"Apa kamu mau aku gagalkan operasinya didalam?" Ancam Nicholas yang seperti orang nekad.
"Mas?"
"Kamu menantangku?" Teriak Nicholas kembali bahkan dia sudah menyeret kakinya yang luka kearah pintu ruang operasi itu.
"Kalau peluk dulu aja mau nggak?" Alisya yang notabenya orang yang tidak tegaan, pertahanannya langsung luluh begitu saja, apalagi saat melihat kondisi Nicholas yang berjalan pincang seperti itu.
"Pegang dikit boleh nggak?" Ucap Nicholas dengan manjanya.
"Nggak usah aja deh, kamu mah dikasih hati minta jantung, aku bilangin Abah kamu ya!" Alisya dibuat kesal olehnya, bahkan dia langsung ingat Abah di pondok pesantren yang sudah beberapa waktu mereka tinggalkan.
"Aaaaaa... sayang!" Nicholas kembali merenggek .
"Makanya nggak usah bawel, tangan dan kakinya masih luka saja pikirannya udah ngeres aja kamu, mau jadi temennya Abu Jahal apa kamu!"
"Siapa Abu Jahal?"
"Ahli Neraka Jahannam!"
"Jangan, nggak mau, aku mau sama kamu sampai Surga nanti sayang." Nicholas langsung menarik ujung kemeja Alisya.
"Cowok kok manja, awas tangannya, mau aku potong apa!"
"Enggak yank, astaga? kenapa kamu jadi galak sekarang, dulu kamu kalem banget tau nggak?"
"Buah duku dimakan belalang!"
"Apaan tuh?"
"Lain dulu lain sekarang!"
"Tapi aku tetep sayang!"Ucap Nicholas dengan cepat.
Berr!
"Tidur aja lah mas, pusing kepalaku dengerin ocehanmu itu."
Alisya langsung membawa kepala Nicholas kedalam pelukannya, sebenarnya dia hanya ingin menyembunyikan senyumannya saja, karena merasa tersanjung oleh kata-katanya.
"Excuse me, apa anda istri dari pasien didalam."
Tiba-tiba keluarlah salah satu anggota polisi itu dengan alis yang sudah dia naikkan semua.
"Iya pak polisi, bagaimana keadaan suami saya?" Alisya langsung mendorong perlahan kepala Nicholas dan bangkit mendekat kearah polisi tadi.
"Habis tu, siape pria yang awak peluk tadi?" Tanya polisi itu kembali.
"Emm... Dia.. emm?" Wajah Alisya memang sulit diajak untuk berbohong, jadi Polisi itu langsung saja menyimpulkan sesuatu.
"Sila pegi buat report police sekali, dilarang berbuat maksiat di khalayak umum, apelagi bukan dengan suami sendiri, paham tak!"
Deg!
*Astaga, malu sekali aku, ya Tuhan tolong maafkan aku*.
Akhirnya Alisya hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa malu, walaupun hanya berpelukan saja, namun saat itu memang Nicholas terlihat mesra sekali membalas pelukan dari Alisya, bahkan dia mengungselkan wajahnya dengan manja.
Mungkin itu pelajaran bagi Alisya agar tidak mudah dibujuk rayu oleh setan kepada yang belum halal baginya, akhirnya dia mendapatkan karma dibayar dengan Tunai.