Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Tidak pantas


"Cin Cinta tunggu,"teriak Rio sambil berlari mengejar Cinta.


Seolah tidak mendengar,Cinta terus saja mempercepat langkahnya hingga sampai di samping mobil milik Radit yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Siapa yang kau panggil sampai berlari-lari seperti itu?"tanya seseorang yang baru datang berdampingan dengan sang istri.


"Ayah ibu,"ucap Rio."Kenapa tidak mengabari Rio jika kalian mau kesini? tahu begitukan Rio jemput."


"Kau itu,sudah ada sopir kenapa mesti harus merepotkanmu,"ucap sang ayah sambil memukul pundak anaknya."Maafkan ayah dan ibu nak,kemarin waktu kamu tellfon sedang sibuk sekali.Jika saja tahu kamu sedang sakit maka kami akan langsung pulang."


"Siapa yang memberi tahu Rio sakit yah?"tanya Rio,pasalnya ia sama sekali tidak menghubungi maupun memberitahu orangtuanya apapun tentangnya.


"Kamu sendiri yang mengirim pesan,bahkan kamu menelfon kami tapi tidak sempat ke angkat.Pesan pun baru 2 hari yang lalu kami buka,karena tidak melihat handphone sama sekali,"ibunya menjelaskan.


Rio semakin bingung di buatnya."Lalu Rio kirim pesan apa lagi bu?"


Kedua orangtua Rio saling pandang,mereka heran dengan pertanyaan anaknya."Sudahlah jangan di bahas lagi,yang penting kamu baik-baik saja kan nak? gak ada yang terluka kan?" tanya sang ibu merasa khawatir.


"Tidak bu,Rio baik-baik saja,"jawabnya.


"Apa kita akan tetap berdiri di sini sampai malam?"sela sang ayah.


Mereka pun tertawa bersama,setelahnya Rio membawa kedua orangtuanya pulang ke rumah.Rumah dimana ia dulu di besarkan dengan penuh kasih sayang,rumah yang ia tempati hingga sampai saat ini.


"Siapa yang kau panggil Cinta tadi Yo?"tanya sang ayah saat mereka berkumpul di ruang keluarga."Apakah Cinta tetangga kita itu? tapi tadi sepertinya ia berhijab? masa iya dia Cinta tetangga kita itu?"


"Ya ayah benar,dia Cinta tetangga kita.Cinta bekerja di perusahaan kita yah,"jawab Rio sambil tersenyum kecil.


"Kau menyukainya?"tanya sang ayah lagi.


"Aku tidak mengatakan suka padanya,aku hanya bilang dia bekerja pada kita,"jawab Rio.


"Mulutmu tidak mengatakan kau menyukainya,tapi mata dan tingkah mu itu berkata sangaaaaat menyukainya,"sela sang ibu.


""Ah ibu ini."


"Jadi benar kan kau menyukainya?"tanya sang ibu.


"Tidak boleh,kau tidak boleh menyukainya,"ucap sang ayah ketus.


"Dia itu tidak sepadan dengan kita nak,apalagi yang aku dengar dari berita sana sini Cinta itu katanya wanita malam,mau di taruh di mana muka orangtuamu ini jika kau berhubungan dengan wanita macam itu,"jelas sang ibu.


"Carilah yang derajatnya sama dengan kita,jangan sampai kau mempermalukan ayah dan ibumu ini,"titah sang ayah.


"Derajat kita semua sama di hadapan Allah,hanya tingkat keimanan kita yang berbeda.Rio rasa ayah dan ibu jauh lebih tahu,"jawab Rio tapi masih bersikap sopan pada orang tuanya."Cinta memang bekas wanita malam,"ucapnya lirih.


"Jadi benar berita itu? dan kau ingin mengotori wajah ayah dan ibumu dengan kotoran macam itu Rio? ingat Rio ayah tidak akan pernah menyetujui jika kau sampai menjalin hubungan dengan wanita hina itu,"


"Itu dulu ayah,sekarang Cinta sudah berbeda,dia sudah berubah aku sangat tahu dia seperti apa,"jelas Rio.


"Mau berubah atau tidak,intinya ayah tidak setuju Rio,ingat itu,"murka sang ayah kemudian pergi masuk kamar meninggalkan ruang keluarga.


"Turuti kata ayahmu nak,semua ini yang terbaik untukmu,kami memberimu kebebasan memilih pasangan hidup,tapi pilihlah yang sepadan,bibit bobotnya,masa lalunya dan pokoknya tidak seperti Cinta yang kau katakan tadi,"nasehat sang ibu yang kemudian menyusul suaminya masuk ke dalam kamar.


Sebisa mungkin Rio bersabar,dia hanya tidak ingin menjadi anak yang durhaka.Mengingatkan sudah menjadi tugasnya jika saja kedua orangtuanya salah dalam penilaian.Tapi hatinya tetap kukuh,ia telah memantapkan segalanya."Tapi kenapa semakin hari Cinta semakin menghindariku? dan tadi,kalau tidak salah ia masuk ke dalam mobil lelaki yang dulu pernah menjebaknya.Ada apa ini? tidak mungkin jika Cinta dengan mudahnya bersama dengannya.Apa yang telah terjadi?"lirihnya.


Sejenak ia kepikiran pada sang asisten pribadinya.Berjalan menuju kamar lalu menguncinya.Rio mengambil handphone di dalam tas kerjanya."Hallo,"ucapnya setelah panggilan tersambung pada asistennya.


"Ya pak Rio,ada yang bisa saya bantu?"tanya sang asisten.


"Kamu selidiki Cinta dan lelaki pemilik perusahaan sebelah kita ada hubungan apa,"titah Rio.


****


Di tempat lain.


Cinta dan Radit kini berada dalam sebuah cafe yang sangat ramai pengunjung,bukan cafe milik Radit sebab Cinta tidak ingin masuk cafe itu lagi.Terlihat seorang yang membawa 1nampan dengan penuh minuman jus buah,tepat di dekat Cinta tiba-tiba karyawan itu jatuh dan sudah pasti semua jus dalam gelas tumpah bahkan jatuh ke arah Cinta.Baju yang ia kenakan pun jadi basah dan sangat kotor.


"Ma maaf mbak,saya tidak sengaja,"ucapnya ketakutan.


"Eh kamu gak punya mata ya? hati-hati dong kalau jalan,"hardik Radit.


Cinta tersenyum,"tidak masalah,tunjukkan saja toiletnya saya mau membersihkan diri."


Karyawan itupun menunjukkam letak toiletnya.


Setelah kepergian Cinta,Radit memberi beberapa lembar uang pada karyawan itu.


"Bersihkan lalu cepat kau pergi dari sini,hanya 5 menit waktumu di sini.Lalu buatkan minuman 2 gelas jus,cepat kerjakan,"ucap Radit.


"Ba baik pak,"jawab karyawan itu ketakutan.


Sesuai dengan perintah,karyawan itu melaksanakan tugasnya dengan cepat.Ia pun juga membawa 2 gelas jus sebelum Cinta datang.Tanpa sepengetahuan Cinta,Radit memberikan sesuatu ke dalam gelas minuman Cinta.


"Setelah ini kau akan bertekuk lutut meminta kepuasan padaku Cin,"ucapnya dengan seringaian licik.


Tidak jauh dari tempat duduk Cinta,seseorang tengah mengawasinya.Di tangan kanannya memegang sebuah handphone yang siap memberi kabar pada atasannya.


"Kau tidak apa-apa?"tanya Radit ketika Cinta sudah kembali.


"Tidak hanya kotor saja,"jawab Cinta.


"Minumlah lalu kita pulang,aku takut kamu sakit bajumu basah begitu,"titah Radit sambil menyedot minumannya.


Baru minum setengah,minuman di rebut seseorang dari belakang.


"Rio,"ucap Cinta.


"Maaf Cin aku haus sekali,"ucapnya setelah meneguk setengah dari sisa yang di minum Cinta.


Seseorang yang tengah mengawasinya pun menepuk keningnya pelan."Duuuh kenapa di minum sih?"keluhnya.


Sedangkan Radit begitu kesal melihat kedatangan Rio,apalagi ia datang dengan setumpuk berkas-berkas minuman milik Cinta pun di serobotnya.


"Maaf ya pak Radit,saya pinjam Cintanya.Mendafak saya besok harus keluar kota jadi saya butuh Cinta


untuk membantu saya,"ucap Rio.


Sebetulnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Cinta jika Rio akan keluar kota.Tapi karena Radit tidak mengetahui Cinta bekerja di bagian apa akhirnya ia pun mengiyakan saja.Raditpun meninggalkan mereka di cafe dengan guratan kekecewaan.


"Gagal lagi,"gerutunya.


Bersambung.


Jangan lupa dukungan kalian biar othor makin semangat updatenya.


like komennya juga yaaa gratis kaann😁😁😁


Dan hadiahnya jika kalian sukaaaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰