
...Happy Reading...
Dalam perjalanan bisnis kali ini, perasaan Nicholas seolah sudah tidak karuan, jauh didalam lubuk hatinya, sebenarnya dia bahagia bisa pergi berduaan dengan Alisya.
Hal seperti ini memang sangat dia inginkan sejak dulu, tapi kali ini rasa kesalnya seolah masih menggunung kepada Alisya, dia yang berjuang tanpa gentar untuk mendapatkan hati Alisya namun kenyataannya malah melihat dia dengan suaminya berpelukan sehingga membuat perjuangan Nicholas seolah terasa sia-sia.
Bahkan untuk sekedar duduk berdampingan di pesawat saja Nicholas seolah enggan, takut jika nanti dia tidak bisa menahan godaan.
"Permisi mbak, maaf tempat duduk saya disebelah mbaknya." Ucap Salah seorang pria yang berbicara kepada Alisya dengan penuh senyuman.
Astaga.. kenapa aku terhimpit dua pria, berapa jam lagi perjalanannya ini?
"Oh... silahkan mas." Alisya langsung berdiri dan mempersilahkan pria itu menempati kursinya didekat jendela sambil mengumpat nasipnya, yang berada diantara dua pria, karna dia menempati seat tengah dalam tiga deretan kursi di pesawat itu, sedangkan Nicholas berada diseberangnya.
Nicholas memang sengaja tidak membelikan tiket VIP, namun dia membeli tiga tiket, sehingga kursi disampingnya dia biarkan kosong agar tidak terlalu menggangu.
"Mbaknya mau kemana?" Tanya pria disebelah kirinya dengan senyum yang ikut merekah saat melihat wanita yang menurutnya cantik berada didekatnya.
"Ke Surabaya mas." Jawab Alisya yang memilih menundukkan pandangannya karena takut bertatapan dengann orang asing dalam jarak dekat seperri ini.
"Surabayanya mana mbak, tempat kelahiran saya juga disana loh, ini saya mau balik kampung, siapa tahu kita cocok, ehh... maksud saya siapa tahu kita tetanggaan." Ucap Satu Pria yang ada disebelah kanannya yang ikut menimpali dengan sedikit banyolan.
"Saya kurang tau mas, karena saya hanya melakukan perjalanan bisnis saja." Jawab Alisya dengan jujur, karena dia memang tidak diajak diskusi tentang jadwal disana, dia hanya mengikuti perintah Nicholas tanpa berani bertanya.
"Wow.. Mbaknya pembisnis ya, hebat sekali mbak, mana masih muda lagi." Puji pria itu kembali yang langsung terlihat kagum dan seolah begitu tertarik dengan Alisya.
"Owh... saya cuma asistennya pendamping saja, saya tidak seberapa." Alisya langsung menolak pendapat mereka.
"Wah... Mbaknya low profil ya, mau asisten juga mbak tetap keren kok, salut banget aku pokoknya sama mbaknya." Pria itu tanpa segan-segan terus memuji Alisya untuk mencari perhatiannya.
"Iya, jarang-jarang banget loh, di era gempuran anak muda yang bisanya cuma nongkrong dan menghabiskan uang dari orang tuanya saja, tapi mbaknya malah disibukkan dengan pekerjaan sampai keluar kota."
Alisya bahkan seperti orang yang terkena serangan asma, karena dua pria itu terus saja memandang kearahnya.
Mas Nicholas, kamu benar-benar keterlaluan, apa sekalian saja aku kerjain dia ya, tapi aku takut dilihatin sama mereka terus, haish...
"Kalian terlalu berlebihan, aku tidak seperti yang kalian bayangkan." Ucap Alisya yang seolah merasa terhimpit, walaupun mereka tetap berada di kursi masing-masing.
"Boleh kenalan dulu nggak mbak, siapa tahu bisa menularkan ide bisnis untuk kita atau mungkin lain kali kita bisa bekerja sama gitu?" Salah satu pria itu terlihat begitu antusias dengan Alisya.
"Iya mbak, aku juga mau dong mbak, siapa tahu kita jodoh, ehh... hehe."
"ALISYA, PINDAH KEMARI!"
Tiba-tiba dari arah samping sudah terlihat Nicholas yang menajamkan kedua matanya kearah dirinya.
Dia tidak menyangka, kedua kursi disamping Alisya yang menempati adalah pria semua, mana masih muda-muda lagi, akhirnya malah dia sendiri yang kebakaran jenggot melihat Alisya sedari tadi terus saja digoda oleh kedua pria itu.
Dari tadi kek aku disuruh pindah, apa sebenci itu dia denganku, sampai pesan kursi pun harus berjauhan, dasar pria menyebalkan!
"Owh... Iya pak." Ada rasa lega saat Nicholas memanggilnya, namun kesalnya juga ada, kenapa tidak sedari tadi saja pikirnya, karena kursi disampingnya memang sedari awal kosong.
"Nama kamu Alisya?"
Namun pria yang ada disampingnya sengaja tidak mau memindahkan kakinya untuk menahan Alisya agar tidak bisa keluar dari tempat duduknya.
"Iya, permisi saya pindah dulu." Ucap Alisya dengan sopan.
"Kenapa harus pindah sih mbak, kita ngobrol dulu aja sebentar." Ucapnya kembali.
"Iya mbak, lagian kami bukan orang jahat kok mbak, kami anak kuliahan, mau lihat KTP milikku tidak?" Pria yang satunya langsung mengeluarkan dompet kulitnya.
Dugh!
"Argh!"
Tiba-tiba kaki pria itu tersingkirkan begitu saja,karena Nicholas dengan sengaja menendang kaki pria itu dengan sepatu mahalnya.
"Dia mau lewat, kenapa kakimu sengaja menghalanginya." Ucap Nicholas yang sudah berkacak pinggang disampingnya.
"Kasar sekali, memangnya kamu siapanya mbak Alisya!" Teriak pria itu seolah tidak terima.
"Apa itu penting bagimu!" Umpat Nicholas kembali, andai itu bukan didalam pesawat, mungkin mereka sudah Nicholas ajak untuk berduel.
"Pentinglah, kami masih ingin mengobrol dengannya!" Ucap Mereka dengan nada ngototnya.
"Atas dasar apa kamu berhak mengobrol dengan asisten saya!" Emosi Nicholas semakin naik ke ubun-ubun.
"Apa dia benar-benar asisten kamu Alisya?" Pria itu kembali menoleh kearah Alisya yang sudah menutup wajahnya dengan ujung hijab yang dia pakai, karena mereka akhinya menjadi pusat perhatian orang-orang disekelilingnya.
"Eh... Iya, maaf saya permisi lewat ya?" Alisya langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Ckk... ya sudahlah, tapi boleh minta nomor ponselnya mbak Alisya kan?" Kedua pria itu langsung serentak mengeluarkan ponselnya.
"Alisya cepat kemari, jangan memberikan nomor ponselmu ke sembarang orang, mengerti kamu!" Teriak Nicholas yang sudah meradang.
"Hei... Aku orang baik-baik ya, kamu pikir aku seorang penjahat!" Pria itu kembali protes karena tidak terima.
"Permisi, tolong jangan ribut, karena suara kalian menggangu kenyamanan penumpang lainnya, atau mungkin ada yang bisa kami bantu, katakan saja?" Akhirnya seorang pramugari disana langsung mendatangi kursi mereka begitu mendengar suara keributan di kursi mereka.
"Tidak kok, mohon maaf ya kak, kami baik-baik saja kok." Alisya semakin kesal karena menahan malu.
"Kalau begitu silahkan kembali ke tempat duduk anda." Pinta Pramugari itu dengan sopan.
"Mbak pramugari, apa masih ada kursi VIP yang kosong?" Nicholas langsung cepat mengambil tindakan, karena dia fikir kedua pria itu akan tetap ngotot berkenalan dengan Alisya kalau mereka masih ada disampingnya, sedangkan Nicholas merasa tidak rela.
"Ada pak, apa anda ingin pindah ke sana?" Ucap Pramugari itu.
"Ya, siapkan dua kursi yang berdampingan disana." Nicholas segera mengeluarkan smartphonenya.
"Baik pak, mari kami antar, sekalian anda bisa menyelesaikan prosedur penggantian kursi disana." Ucap Pramugari itu yang merasa lega karena jika sudah ada jarak pasti tidak akan terjadi keributan lagi disana pikirnya.
Dalam pesawat itu ruang biasa dengan VIP hanya tersekat oleh sebuah tirai, tapi memang beda harga dan beda pelayanan.
"Baik, ayo Alisya, jangan kegatelan kamu jadi orang, sudah punya pasangan juga masih aja tebar pesona!" Hujat Nicholas yang semakin kesal dengan Alisya.
"Emang siapa yang tebar pesona pak?" Tanya Alisya yang langsung mengikuti langkah Nicholas pindah dari sana.
"Lalu kenapa kamu melayani ocehan dua pria itu? apa kamu memang suka mempermainkan hati para kaum lelaki?" Nicholas bahkan sengaja menyinggung Alisya.
"Lalu siapa yang salah, aku begitu? cih...perempuan itu bisanya cuma mau menangnya sendiri."
"Astaga pak, bukan begitu, bukannya bapak yang membelikan tiket untukku, kenapa bapak yang protes, aneh deh?" Alisya sebenarnya gemas sekali dengan Nicholas, ingin rasanya dia mencakar-cakar pria yang sudah berhasil bersarang dihatinya itu.
"Kamu berani menyalahkan aku?"
"Astaga, salah lagi aku." Alisya hanya bisa meniup jambul hijabnya dengan helaan nafas berkali-kali.
"Duduk diam disana, jangan berisik, aku mau tidur!" Akhirnya mereka sampai dikursi yang Nicholas pesan.
Astagfirullah, sabar.. sabar.. sepertinya melawan dia tidak akan pernah bisa menang.
"Huh... Iya pak."
Alisya memilih membetulkan cara duduknya, berbeda dengan kursi yang tadi, saat ini dia bisa duduk nyaman dengan kursi yang cukup besar, apalagi dikelas VIP itu cuma ada dua baris kursi disana, bahkan disediakan selimut agar tidak kedinginan.
Selang beberapa menit kemudian setelah tidak ada lagi percakapan diantara mereka, terdengar suara dengkuran halus disana.
"Apa dia benar-benar tidur?" Alisya merasa heran sendiri saat melihat Nicholas benar-benar memejamkan kedua matanya dengan nyenyak, bahkan kepalanya serasa akan jatuh karena terlalu lelap tidurnya.
"Mau makan atau minum sesuatu kak?" Salah satu Pramugari pesawat itu terlihat menawarkan sesuatu.
"Sstthh... enggak usah kak, nanti saja, terima kasih." Alisya langsung meletakkan ibu jarinya didepan mulutnya agar suara pramugari tadi tidak membangunkan Nicholas.
"Baik, kalau begitu saya permisi." Pramugari itu tersenyum dan akhinya berlalu dari kursi mereka.
"Baru kali ini aku melihat dia tidur senyenyak ini?" Alisya mendekatkan tubuhnya kearah Nicholas untuk sekedar memeriksanya apa dia sungguh tidur atau hanya berpura-pura.
"Kalau kamu marah-marah terus, gimana aku mau menjelaskan tentang status baruku denganmu mas, kenapa kamu tidak mau ngobrol santai denganku, kenapa selalu emosi saya yang kamu dahulukan, aku kangen kamu yang dulu mas." Tanpa sadar Alisya mengusap rambut Nicholas dengan penuh kasih sayang.
Dugh!
Alisya langsung tersentak saat kepala Nicholas jatuh dipundaknya.
"Woah... Apa dia selalu seperti ini kalau naik pesawat?" Alisya langsung mematung sejenak, takut jika nanti mengusik tidurnya Nicholas. "Lalu bagaimana jika disampingmu itu wanita lain, apa kamu juga tetap tidur tanpa merasa berdosa seperti ini?" Alisya tersenyum melihat Nicholas yang dengan santainya malah mengungselkan wajahnya di bahu Alisya.
Cekrik!
Cekrik!
"Foto dulu deh." Alisya sengaja mengabadikan moment mereka berdua agar jika nanti Nicholas bangun dan protes, dia bisa menunjukkan bukti.
"Fuuh... aku jadi bingung, apa keputusanku ini salah atau benar, tapi kenapa semakin kamu menjauh dariku, hatiku malah semakin bergetar, apa ini yang dinamakan cinta? aish... kenapa aku juga ikutan ngantuk, ternyata memang benar kalau ngantuk itu menular."
Alisya mengusap pipi Nicholas dengan lembut dan ikut menyandarkan kepalanya di kepada Nicholas, sejujurnya dia merasakan sebuah kerinduan yang mendalam, ketika Nicholas sering menggodanya dan berucap manja, namun sekarang tidak lagi dia rasakan, hingga akhirnya Alisya pun ikut terlelap masuk ke alam mimpi.
Setelah pesawat itu berada di ketinggian tiga puluh ribu sampai tiga puluh lima ribu kaki, tidak ada lagi goncangan dari pesawat, sehingga rata-rata penumpang disana terlelap, apalagi dikelas VIP yang mempunyai fasilitas lengkap sehingga membuat penumpang merasakan kenyamanan.
"Ehh... apa ini kok empuk-empuk?" Nicholas terbangun dari tidurnya, namun belum berkeinginan untuk membuka kedua matanya, dia malah mencoba mera ba sesuatu yang mengganjal di wajahnya.
"Emh."
Tiba-tiba mata Nicholas sontak terbuka saat dia mendengar suara orang seperti sedang mende sah.
"Hmpth... Astaga!" Bisik Nicholas saat melihat wajah Alisya tepat dihadapannya.
Dag
Dig
Dug
Jantungnya tiba-tiba berdegub kencang sekali, apalagi saat melihat tangannya masih nyasar diantara belahan dua gunung merbabu milik Alisya.
Tet
Tet
"Apa ini nyata? atau aku hanya bermimpi?"
Dengan gilanya Nicholas sedikit mere mas apa yang sudah dia pegang tadi.
"Emh... uhuk.. uhuk!" Alisya sontak terbangun dan menegakkan tubuhnya saat bagian tubuhnya terasa terusik.
"Hmm... Bos, aku masih ngantuk, ayo tidur lagi."
Nicholas langsung pura-pura memejamkan mata dan berceloteh seperti orang ngelindur, dia tidak punya muka saat dalam keadaan seperti itu.
"Astagfirullahal'adzim, tanganmu ini memang nakal sekali?" Alisya langsung melepas tangan Nicholas yang tadi sudah sempat berpindah memelvk perut rampingnya.
Muehehehe... ternyata ini bukan mimpi, aaa... akhirnya aku sudah menyentuhnya, duh... jadi gemes, pengen megang lagi, tapi eeh...
Nicholas seolah tertawa didalam hati, dia sengaja untuk pura-pura tidur padahal hatinya ingin sekali bersorak gembira.
"Bos... Bos..." Nicholas memilih berpura-pura mengumam kembali, untuk menyempurnakan sandiwaranya.
"Dih... apa dia sering melakukan hal ini dengan pak Jeremy saat mereka melakukan perjalanan bisnis? kenapa ngeri sekali?"
Enak aja, aku masih normal Alisya, arus listrikku masih AC dan DC!
"Diam Bos, jangan bergerak, aku masih ngantuk!" Oceh Nicholas sambil kembali memeluk bahkan mengeratkan pelvkan dan mencari kenyamanan ditubuh Alisya.
"Mana berat lagi tubuhnya, kenapa dia tidak bisa tidur dengan tegak? hadeh... sampai kapan dia tidur dalam posisi seperti ini, huft!"
Alisya tidak tega untuk membangunkannya, dia kembali mengusap-usap pipi Nicholas dan membenahi selimutnya agar dia bisa kembali terlelap walau tubuhnya sudah terasa pegal karena menjadi sandaran tubuh Nicholas.
Alisya... sampai kapan aku harus menunggumu, kenapa kamu manis sekali saat seperti ini, aku ingin selalu merasakan kenyamanan seperti ini dalam pelvkanmu setiap hari, walau mungkin ini salah tapi maaf... karena aku menikmatinya.
Tapi kenapa kamu kemarin harus memeluk suamimu dengan wajah bahagia, apa kamu ingin punya suami dua? atau mungkin nanti aku hamili saja kamu, mumpung kamu masih perawan kan? agar mau tidak mau kamu harus berpisah dari suami mafia mu itu dan menikah denganku?
Astagfirullah, kenapa aku jadi begini, maafkan aku Tuhan, tapi bolehkan aku mencicil Alisya terlebih dahulu?
Nicholas hanya bisa berperang batin dengan dirinya sendiri, sambil menikmati hangatnya pelukan yang Alisya berikan.
Pengen banget bisa to be continue... Tapi Author juga butuh healing bestie, hehe...
Happy Weekend semuaš„°