
Panas,pengap,becek dan berisik.Suara bising pasar yang di penuhi tawar menawar antara penjual dan pembeli.Sudah menjadi hal yang biasa bagi bu Ningsih menginjakkan kaki di tanah yang kotor dan licin.Tapi tidak dengan Cinta,ini pertama kalinya ia mengunjungi pasar tradisional.Apalagi dengan gamis dan hijab yang ia pakai mengundang setiap orang yang berpas-pasan dengannya menatapnya heran."Salah kostum mbak?"tanya salah seorang wanita yang begitu ia kenal suaranya.
Di lihatnya wanita itu dan tidak salah dengan pendengarannya. Seorang wanita yang baru kemaren bertemu tengah berdiri di depan etalase sebuah toko emas.Di sekitarnya juga terdapat beberapa orang yang memakai baju serupa dengan yang di kenakannya.
Cinta hendak pergi menjauh dari tempat itu,namun suara teriakan seketika menghentikan langkah kakinya.
Terkejut bukan main,saat di lihatnya seorang yang berbaju serba hitam juga memakai penutup wajah sedang menyandra salah seorang karyawan toko emas dengan memegang pisau yang di arahkan ke leher.Ya dia perampok,dengan ancaman akan membunuh wanita itu jika ada yang menghalangi niatnya.Ia mundur dengan salah satu tangannya mencengkram leher dan tangan lainnya meraih semua perhiasan yang ada di dekatnya.Si pemilik toko pingsan melihat semua emas miliknya di rampok,sementara Cinta ia berusaha ingin menolong wanita itu,namun baru selangkah ia melangkahkan kakinya,pisau yang ada di leher sang wanita itu semakin menusuk hingga menimbulkan goresan.
Tak ada yang berani mendekat,namun tiba-tiba terdengar mobil polisi.Perampok itu pun kebingungan,ia kemudian melepaskan si wanita dan berusaha kabur setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.Melihat perampok akan lari,Cinta memajukan salah satu kakinya.Dan bruk..perampok itu terjatuh tepat di bawah kakinya.Polisi pun datang dengan membawa borgol,namun naas..perampok itu dengan cepat menggores kaki Cinta saat akan berdiri di tarik oleh salah satu oknum polisi.Sebelum polisi membawanya Cinta sempat membuka penutup wajah yang di pakainya.
Terkejut bukan main,wanita yang di sandera tadi melihat sosok di balik penutup wajah itu."Cito,"kagetnya.Begitu pun dengan Cinta.
Karena wanita itu tidak menyangka bahwa Cito adalah pelakunya,bahkan ia tega melukai mantan istrinya sendiri.
Darah mengalir dari kakinya,namun ia sama sekali tidak meringis kesakitan ataupun menangis.
Seorang wanita yang lehernya sedikit tergores akibat pisau tadi mendekati Cinta saat Cinta tengan memperban kakinya dengan sapu tangan miliknya."Terima kasih Cin,sudah berusaha menyelamatkan aku,"ucapnya dengan pandangan menunduk.
Cinta mendongak,di lihatnya leher yang tergores itu.Tanpa ijin wanita itu, ia sedikit mengoleskan sesuatu."Luka di lehermu akan cepat sembuh,lukanya tidak dalam kok cuma sedikit goresan bagian kulit saja.Mantan istri Cito itu hanya mengangguk."Terima kasih Cin,"ucapnya sekali lagi.
"Aku tidak melakukan apapun,"jawab Cinta.
"Setidaknya kau berusaha menyelamatkan ku,bahkan kau juga terluka karena laki-laki brengsek itu,"ucap mantan istri Cito.
"Apa tidak sebaiknya kamu ke dokter saja Cin? melihat darahnya yang begitu banyak takutnya nanti jadi infeksi,"saran bu Ningsih yang merasa iba melihat Cinta.
"Iya bu,setelah ini aku ke dokter.Perban ini hanya untuk menutup lukanya saja,supaya darahnya berhenti mengalir,"jawab Cinta sambil berdiri.Bu Ningsih pun membantunya.
Mereka kemudian bergegas pergi meninggalkan pasar tradisional itu,namun baru selangkah kakinya beranjak,Cinta menghentikan langkahnya.Ia menengok kebelakang lagi,"maafkan aku,"ucap Cinta.
Mantan istri Cito pun tersenyum tulus,ia mengangguk sebagai jawaban Cinta.Ia tahu apa maksud dari permintaan maaf yang Cinta ucapkan.
Cinta pun kembali melangkahkan kaki dengan tertatih-tatih.Sampai di luar pasar ia begitu kaget tengah mendapati Rio ada di hadapannya.
"Dari mana kamu tahu aku ada di sini,"tanya Cinta.
Rio pun melirik pada bu Ningsih.Cinta pun akhirnya tahu,"tidak usah kau jawab aku tahu dari mana,"ucap Cinta seraya manatap bu Ningsih sambil tersenyum kecil.
"Apakah mantan istri Rio bekerja di sana,lalu jika ia bekerja anaknya dengan siapa? Belum terlalu cukup besar kan jika anak itu harus di tinggal sendirian?"berbagai macam pertanyaan yang mengganggu pikirannya tentang mantan istri Cito.
"Rio,bukankah kamu harus bekerja,kenapa malah kesini?"tanya Cinta kemudian.
"Kau lupa kalau hari ini hari minggu Cin?"jawab Rio yang membuat Cinta menepuk jidatnya sendiri."Aku lupa,"ucapnya kemudian.
"Maaf bu gara-gara aku,ibu tidak jadi belanja,"ucap Cinta pada bu Ningsih.
Di elusnya sayang kepala wanita yang sudah ia anggap sebagai malaikat.Dua manusia yang berbeda kodrat itu telah berperan banyak untuk panti yang ia kelola.Tanpa mereka,entahlah bagaimana nasib anak-anak itu.Apalagi sosok wanita yang kini duduk di sebelahnya itu,meski dalam keadaan kesulitan pun ia tetap mengutamakan orang yang membutuhkan pertolongan.
"Bu,"suara Cinta mengagetkan lamunan bu Ningsih.
"Ia nak,ada apa?"tanya bu Ningsih.
"Maafkan Cinta,karena Cinta ibu tidak jadi belanja,"Cinta pun mengulang kembali perkataannya.
Senyum yang meneduhkan terbit dari bibir wanita paruh baya itu."Tidak usah kau pikirkan,lagi pula persediaan makanan masih ada kok,besok pagi ibu kembali lagi ke pasar."
"Tapi besok kan aku sudah masuk kerja bu,mana bisa bantu ibu berbelanja,"ucap Cinta.
"Dengan kaki seperti itu kau akan tetap bekerja?"tanya bu Ningsih.
"Aku tidak apa-apa bu,lagi pula ini kan juga mau ke dokter,pasti sembuh kan,"jawab Cinta.
Bu Ningsih hanya geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu saja Cin,takutnya terjadi apa-apa ,"saran dari Rio.
"Ha benar itu,dengerin tu calon suamimu Cin,"timpal bu Ningsih.
Menghela nafas pelan mendengar saran itu,karena memang sebenarnya itu yang terbaik buat dirinya sendiri.Apalagi kurang dari 2 bulan lagi pernikannya akan di gelar,jadi dia harus ekstra hati-hati.
Bersambung...