Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
109. Liku-Liku Kehidupan


...Happy Reading...


Setiap manusia memiliki jalan cerita hidup masing-masing. Hidup selalu menyimpan banyak makna, namun terkadang kita lupa melihat akan indahnya hidup, karena terlalu sering mengeluh.


Mencari makna sebuah kehidupan bukanlah perkara mudah, dibutuhkan banyak pengalaman dan perjuangan, namun kita bisa menyikapi makna liku-liku kehidupan itu dengan akal sehat dan hati yang bersih.


Raut wajah Nicholas kali ini sudah dapat dipastikan memburuk, berbeda dengan Alisya yang lebih terlihat tenang, hanya saja saat ini Alisya terus saja mencengkeram lengan suaminya saat langkahnya terasa cepat, karena dia masih menahan rasa perih dibagian intinya.


"Jangan buru-buru jalannya mas, rasanya itu masih gimana gitu." Umpat Alisya dengan rintihannya.


"Makanya sini aku gendong aja yank." Ucap Nicholas yang memang tidak sabaran.


"Nggak usah mas, nanti malah ketahuan lagi kalau kita kek begituan siang-siang bolong, malu tau nggak mas!"


"Aku udah nggak sabar mau ketemu sama si anak ajaib itu, gemes banget pengen narik telinganya sampai panjang, kalau perlu aku ikat sama tiang bendera, masak nyari tempat di kandang kambing, kayak nggak ada aja tempat lain, yang benar saja, tampan-tampan gini beraksi diatas kandang kambing, apa kata bos Jeremy kalau sampai dia tahu!" Gengsilah yang dia junjung tinggi-tinggi saat ini.


"Kenapa jadi nyalahin Sholeh, mas sendiri yang nggak sabaran kan?"


"Mana tadi itu kali pertama lagi, harusnya itu berkesan, ini bahkan aku belum menuntaskannya." Nicholas masih saja ngedumel sesuka hatinya sambil menggandeng lengan istrinya menuju ke kediaman rumah Alisya.


"Baguslah, kalau sampai jadi, emang mas mau hasil karya mas dari kandang kambing?"


"Eh.. Iya juga ya?"


"Makanya sebaik-baiknya manusia itu yang bisa menahan hawa nafsvnya mas, bahkan ada kata bijak dari Al Ghazali, bahwa Nafsv bisa membuat seorang Raja menjadi budak, sementara Sabar bisa membuat seorang budak menjadi Raja." Ucap Alisya saat mengingat hal itu.


"Tapi kan aku pengen banget tadi yank?" Umpat Nicholas sambil memonyongkan bibiirnya.


"Ya sudah, kalau begitu terima segala resikonya dong, kenapa masih mengeluh saja?"


"Aku cuma kesel sama si Sholeh aja!"


"Tuh... anaknya nongol didepan!" Alisya langsung menunjuk Sholeh yang sedang berjalan santai dengan memakai sarung kotak-kotaknya.


"SHOLEH.. SINI KAMU!" Teriak Nicholas yang semakin mempercepat langkahnya.


"Hehe.. kenapa Bang? apa sudah jadi dedek aku? cepet banget?" Ledek Sholeh dengan senyuman yang sulit diartikan.


Werrr!


Nicholas langsung menarik telinga Sholeh dengan kesal.


"Aduh.. kenapa dijewer sih Bang?"


"Kenapa kamu nggak bilang kalau itu kandang kambing, hah?"


"Kenapa rupanya Bang, walau itu kandang kambing tapi bersih kan tempatnya, aku kalau anak pondok lainnya pada pulang kampung, aku sering pergi kesana menikmati pemandangan Alam, sambil bantuin Uwak kasih makan kambing." Jawab Sholeh yang malah menceritakan tentang kisahnya.


"Kamu tahu, hampir saja Abang tadi melukin kambing gara-gara papannya jebol." Nicholas kembali melotot dengan Sholeh.


"Pasti Abang berulah disana, Abang sih nggak pernah mau mendengar pesan dariku." Karena sedari awal dia selalu berpesan terlebih dahulu dengan segala resiko nantinya.


"Apapun itu Abang tidak terima, aku harus menghukummu!"


"Hukum saja aku sesukamu Bang, yang penting jangan Abang batalkan ponsel seharga sepetak tanah itu, capek banget loh aku bersihin kandang kambing itu." Umpat Sholeh perlahan yang memilih pasrah saja, daripada harus ribut dengan orang yang lebih tua pikirnya.


"SHOLEH, SINI KAMU!"


Saat Nicholas masih unjuk rasa dengan Sholeh, tiba-tiba namanya kembali dipanggil oleh Abang angkatnya yang satu lagi.


"Ya ampun, begini amat punya dua Abang ya, cobaan apa lagi kali ini Ya Tuhan?"


Sholeh hanya bisa menghela nafas beratnya, saat suara Jeremy melengking menyebut namanya. Dengan langkah lunglai dia berjalan mendekati Jeremy yang sudah berkacak pinggang dari kejauhan.


"Kenapa lagi tu bocah?" Alisya merasa tidak tega juga saat melihat ekspresinya, akhirnya mereka berdua mengikuti langkah Sholeh untuk melihat apa yang terjadi.


"Kenapa Bang?" Tanya Sholeh dengan santainya, stock kesabarannya masih cukup untuk mengahdapi kedua Abangnya itu.


"Kamu apaain kakakmu tadi, hah?" Tanya Jeremy, karena tadi sempat terjadi keribuan di rumah Alisya gara-gara Hanny menjerit kesakitan, saat perutnya seolah kontraksi, namun saat Sholeh datang dan mendekatinya, tak lama kemudian Hanny tidak lagi menjerit kesakitan.


"Kenapa rupanya dengan kak Hanny?"


"Dia terus saja memanggil namamu, apa kamu tadi salah membacakan doa?" Tanya Jeremy yang merasa curiga.


"Salah gimana, orang aku tadi cuma bacain doa Sholawat aja sama calon dedek bayi." Jawab Sholeh sambil kembali masuk untuk melihat keadaan kakaknya.


"Sholeh, sini dek!"


Saat baru melihat wajah Sholeh saja, wajah Hanny langsung terlihat sumringah.


"Tuh kan, ayah dari calon bayi itu kan aku, kenapa dia manggilnya Sholeh terus?" Umpat Jeremy yang mulai tidak terima.


"Woah... Bocah Ajaib itu nyari perkara lagi!" Nicholas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa kak Hanny, apa perutnya sakit lagi?"


"Iya dek, kamu bacain doa lagi deh, sambil ngusap-ngusap perut kakak ya, biar dia nggak berulah didalam sana." Pinta Hanny kembali.


"Enak saja, jangan sambil ngusap-usap perut juga dong, walaupun dia masih bocah, tapi dia udah sunat, itu sudah termasuk dalam kategori Baligh, bisa bahaya nantinya."


"Tapi tadi diusap Sholeh sebentar perutku jadi enakan mas."


"Dia bacain doa aja, biar aku yang mengusapnya!"


"Dia sudah tidak kecil lagi sayang, senjatanya sudah bisa bereaksi tau nggak!" Pikiran Jeremy bahkan sudah melalang buana kemana-mana.


"Buruan mas,ini perutku mules lagi rasanya!"


"Ya sudah sini mas usap-usapin."


"Aku maunya Sholeh! sini kamu dek, perut aku sakit banget ini, buruan!"


"Hedeeeh... makanya belajar ngaji yang bener Bang, biar bisa bacain doa untuk anaknya sendiri, kalau begini kan aku yang jadi korbannya." Sholeh hanya bisa duduk berjongkok dihadapan Hanny tanpa berani menyentuhnya.


"Aish.. ini gimana ceritanya sih!"


"Ssstth... apa itu hasil karyamu saat didalam mobil di pinggir hutan waktu itu?" Ridwan yang sedari tadi hanya bisa melongo melihat mereka, mulai berbisik disamping telinga Jeremy yang masih terlihat kesal dan tidak terima dengan kenyataan.


"Ckk... entahlah Yah, kalau dihitung waktunya sih harusnya sudah sebelumnya, mungkin saat aku di semak-semak taman belakang." Jawab Jeremy tanpa sadar.


Bugh!


Ridwan langsung memukul kepala Jeremy menggunakn pecinya.


"Makanya kalau buat anak itu yang bener, baca doa dulu, biar dia nggak berulah kayak gini, haish... gayanya saja elit, buat anak kok cuma disemak-semak belukar!"


"Yang namanya hasrat kan nggak tau kapan datangnya, kalau dia menggebu saat kami sedang ditaman ya sudah, hajar langsung disana, orang enak kok ditolak!" Bahkan dia sudah melupakan rasa malunya.


"Dasar mantu Gendeng, aku harap mantuku yang satu lagi tidak sesableng kamu!" Umpat Ridwan yang langsung melirik Nicholas, padahal dia pun tak jauh berbeda dari bosnya.


"Siapa bilang guru, mereka bahkan tadi sudah buat diatas kandang kambing!" Celoteh Sholeh yang membuat mereka menoleh semua kearahnya.


"Sholeh, diam kamu!" Nicholas langsung memiting leher anak ajaib itu.


"Apa! jadi mereka sudah melakukannya di kandang Kambing tadi, pantesan aku cariin mereka nggak ada!" Ridwan sampai geleng-geleng kepala karenanya.


"Bahahahaha... kamu mau belajar tutorial buat anak sama kambing ya Nick?" Ledek Jeremy yang lansung tertawa cekikikan.


"Aku rasa gaya ***** ***** sudah nggak jaman, jadi dia ingin mencoba Goat style, ahahay... Ehh... perutku kok jadi enakan gini, langsung sembuh loh?" Hanny seakan takjub karenanya.


"Mungkin dia pengen dijenguk Daddynya di kandang kambing juga kali Han, kamu coba aja sana diatas, pemandangannya lumayan bagus kok, tapi papannya ada yang retak tadi." Umpat Alisya tanpa sadar.


"Wah... apa si Bandit seganas itu denganmu?"


"Sayang, kenapa kamu ceritain sih, kalau begini jadinya kamu malah ngaku sendiri kan." Nicholas mengusap wajahnya sendiri saat mendengar kejujuran istrinya.


"Mau gimana lagi, emang benar begitu kenyataannya bukan, lagian Sholeh sudah mengatakannya, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi, karena kita semua sudah satu keluarga sekarang!"


"Bahahaha!"


Akhirnya mereka semua bisa tertawa lepas, karena kejujuran dan kepolosan dari Alisya.


"Apapun itu, Ayah berharap kalian semua bisa bahagia, maafkan Ayah atas sikap dan kekhilafan Ayah di masa lalu, jangan tiru yang buruk, jangan juga kamu membenci Mamamu ya Hanny, Mama kamu sebenarnya orang baik, ambil saja hikmahnya, bahwa tidak ada manusia yang terlahir sempurna didunia ini, tapi kita tercipta untuk saling menyempurnakan satu sama lain, doa Ayah kalian semua panjang umur, sehat selalu dan selalu dalam lindungan-Nya."


"Amin." Jawab mereka serentak.


Dan Hanny pun sudah mulai bisa menerima kenyataan, alur kehidupan memang tidak selamanya manis, hanya pandai-pandai kita saja untuk menikmatinya, karena yang asem pun bisa jadi enak kalau pakai bumbu rujak.


"Ayah sayang kalian semua nak, Ayah memang tidak punya apapun yang berharga didunia ini, namun Ayah punya kalian, yang lebih berharga daripada harta jenis apapun di muka bumi ini."


"Maafkan kami juga Ayah, kami juga sayang Ayah."


Hanny dan Alisya langsung bangkit dan memeluk Ridwan dengan deraian air mata bahagia.


"Pengen peluk juga!" Ucap Jeremy dan Nicholas secara bersamaan.


"Sini nak, kalian adalah anak-anak menantu Ayah yang terbaik, satu permintaan Ayah untuk kalian berdua, tolong bahagiakan anak Ayah, karena mungkin sampai detik ini Ayah belum bisa membahagiakan mereka."


Sebagai seorang ayah, yang terpenting dalam kehidupan Ridwan adalah kebahagiaan putrinya saat ini, jika memang pilihan dari anak-anaknya yang terbaik, hanya doa yang terbaik yang bisa dia berikan.


"Tentu saja Ayah."


Akhirnya Jeremy dan Nicholas ikut memeluk pria yang sudah tidak lagi muda itu. Mereka pun sadar dalam hidup ini, jangan menilai orang atas kesalahan yang ia perbuat, tapi nilailah bagaimana cara ia bisa memperbaiki kesalahan tersebut.


Semua orang tidak perlu malu karena berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya. Ambillah pelajaran dari kesalahan masa lalu dan lupakanlah rasa sakitnya.


...~THE END~...


Sesuai janji Author, novel ini selesai akhir bulan ini, terima kasih buat kalian yang sudah setia membaca novel Author dari awal sampai akhir, semoga suka, maaf jika ada part yang tidak berkenan atau apapun itu, Author disini hanya ingin menghibur saja.


Dan untuk Novel terbaru selanjutnya berjudul


"GODAAN SANG MANTAN"


Jika kalian sudah membaca Novel Author yang berjudul CINTA MANIS SANG PEWARIS, ini adalah kisah kelanjutan dari pria tampan kita yang bernama Dr. Marvin Abimanyu SpKJ.


Yang belum baca, boleh baca dulu ya bestie, yang nggak, juga ora popo😊


Ada yang kangen sama Yoyo, bocah imut, lucu dan menggemaskan itu? dia akan beraksi disini juga.


Akankah cinta Dokter Marvin dengan Niar akan berakhir indah atau dia akan selamanya menjadi Sad Boy? Tunggu kisah kocak dan kisah romantis dari mereka dalam pertengahan bulan depan?


See u next Novel bestie, luph you pull buat kalian pembaca setiaku.