Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Keputusan


Antara cinta dan perasaan,ia benar-benar bimbang.Hatinya memang mencintai Rio,tapi bagaimana dengan perasaan orangtuanya.Mereka yang jelas-jelas tidak menyukai Cinta,akankah mereka merestuinya?


Jika saja Cinta menerima Rio,lalu bagaimana hubungan orangtua dan anak itu,sudah pasti akan berubah dan itu karena dirinya,karena kehadirannya.


Di pandanginya cincin yang tersemat di jari manisnya itu,ia putar-putar hingga menimbulkan bekas kemerahan.


"Ikuti kata hatimu,seseorang yang menganggap kita buruk suatu saat akan terbuka mata hatinya,berdoa saja semoga di beri hidayah,"ucap bu Ningsih sambil duduk di samping Cinta.


"Ibu tahu kamu juga mencintai nak Rio,maka jangan lagi berlama-lama memikirkan yang hanya akan menyakiti hatimu sendiri.Lagi pula tidak baik menolak lamaran seseorang yang mencintai kita dengan tulus."


"Ibu tahu dari mana Rio melamarku?"tanya Cinta kemudian.


Bu Ningsih tersenyum,"ibu pernah muda jadi ibu tahu cincin yang ada di jarimu itu cincin apa."


Cinta pun melihat lagi kearah cincin yang ia pakai.


"Nak Rio orang yang baik,ibu mengenalnya sejak ia masih duduk di bangku SMA dulu.Apapun yang keluar dari mulutnya itu tidak main-main,meski orangtuanya kaya tapi nak Rio tidak pernah mendapatkan sesuatu dari harta orangtuanya.Ia berusaha sendiri dengan keringatnya sendiri,tidak hanya tampangnya rupawan hatinya pun juga demikian.Jadi ibu harap pikirkan baik-baik,semua akan membaik seiring berjalannya waktu,termasuk orangtuanya.Kesabaranmu yang akan membukakan hati mereka,"tutur bu Ningsih membuat Cinta terperangah,karena tidak menyangka lelaki itu begitu sangatlah luar biasa.Kini hatinya terbuka,berkat nasehat dari bu Ningsih.


Baru saja di bicarakan,bunyi sepedha motor berhenti di halaman panti.Seperti mendapat panggilan batin Rio turun dari sepedha motornya,sebentar ia berkaca memastikan kondisi rambutnya tidak berantakan.


"Tu baru saja di omongin orangnya sudah muncul,"bisik bu Ningsih.


Tanpa sadar senyum itu terbit meski hampir tak terlihat,tapi bu Ningsih mengetahuinya.


"Assalamualaikum,"ucap Rio sembari melepas sepatunya.


"Waalaikumsalam,"jawab Cinta dan bu Ningsih bersamaan.


"Nak Rio...silahkan masuk,titah bu Ningsih.


Setelah Rio masuk dan duduk bersama bu Ningsih,Cinta pergi ke belakang membuat minuman dan membawakan beberapa makanan ringan untuk di suguhkan.Ia kemudian ikut duduk di samping bu Ningsih.


"Jadi niat saya ke sini mau mengajak Cinta pergi bu,"ucap Rio.


"Tapi ...


"Pergilah,tapi jangan pulang terlalu larut malam,tidak baik membawa seorang gadis sampai larut malam,jawab bu Ningsih memotong ucapan Cinta.


"Bu,"ucap Cinta tidak menyetujui apa yang di katakan oleh bu Ningsih.


"Sudahlah...kasihan nak Rio,cepat pergi sana,"bu Ningsih pun segera beranjak sebelum Cinta bicara lagi.


"Ayo,nanti keburu larut malam,"ajaknya.


Cinta pun akhirnya menurut.Udara di sore hari ini begitu dingin,Cinta duduk menyamping dengan helm yang ia kenakan,juga gamis yang di lapisi jaket,tapi tetap saja sepertinya udara mampu menembus jaket tebalnya,di tambah bau parfum yang di kenakan oleh Rio begitu menyengat di hidungnya.Untungnya sepedha yang di kendarai Rio tidak terlalu jauh melaju.Ia menggosok-nggosok kedua telapak tangannya ketika sepedha telah berhenti dan ia turun dari boncengan itu.


"Kau kedingingan?"tanyanya.


"Sedikit,tapi sudah lebih baik sekarang,"jawab Cinta.


"Ayo masuk,di dalam kau akan merasa lebih hangat,"ajaknya.


Ya kini mereka tengah berada di sebuah rumah makan,Cinta menatap takjup setelah masuk kedalam ruangan itu.Dengan desain klasik,di beberapa sudut ruang terdapat perapian kecil dengan pipa asap yang menuju ke atas mengerucut.Ruangan dengan jendela sekaligus di satu sisinya menyajikan kehangatan di tengah cuaca dingin yang melanda.


"Baru pertama kali ke sini?"tanyanya.Dan Cinta mengangguk sebagai jawabannya.Ia sembari melepas jaket yang di kenakan karena merasa tidak lagi memerlukannya.Rio kemudian memesan beberapa makanan yang tergolong ringan karena ternyata Cinta sudah makan,dan juga minuman Pokak yang merupakan minuman favoritnya di musim dingin begini.


Di lihatnya cincin yang ia berikan tadi,ternyata masih melingkar di jari manisnya.Ia tersenyum lega,ada harapan untuk melulukan hati wanita di hadapannya itu.


Tanpa Rio sadari,Cinta tengah memperhatikannya."Mintalah restu kedua orang tuamu dulu Rio,sebab restu mereka itu sangat di perlukan.Kita tidak akan menikah tanpa restu mereka."


"Ya,aku akan mendapatkannya.Berjanjilah Cin,kau akan bersabar menantiku hingga restu itu akan aku dapatkan.Berjanjilah untuk tetap di sampingku,berjanjilah untuk tidak menghindariku lagi,apapun yang terjadi,"jawabnya.


"Aku menunggumu kali ini,tapi aku harap tidak ada penyesalan di kemudian hari saat kau tahu betapa buruknya diriku,"ucap Cinta dengan pandangan tak menentu.


Rio tersenyum tulus,"tidak ada yang namanya penyesalan,pernikahan itu sakral dan hanya di lakukan sekali dalam seumur hidup."


Meski rasa takut masih saja menghantuinya,Cinta berusaha yakin dan percaya bahwa Rio bisa menjaganya.


Makanan dan minuman yang di pesan pun datang,keduanya sama-sama menikmatinya sambil berbincang dan tertawa lepas.


"Lusa orang tuaku datang,aku akan mengajakmu ke rumah bertemu dengan mereka,"ucap Rio.


Cinta pun langsung menghentikan aktivitas makannya dan itu membuat Rio bertanya,"kenapa?apa kau tidak ingin bertemu dengan mereka?"


"Itu terlalu mendadak,bukankah lebih baik kau berbicara dulu dengan mereka?"Karena Cinta tahu itu pasti hanya akan memperkeruh keadaan.Sudah jelas orangtua Rio tidak menyukainya.Lalu ia tiba-tiba datang dengan perkenalkan diri sebagai calon istri,sudah pasti bukan restu yang ia dapat,melainkan hinaan juga caci maki yang tidak ingin ia dengar.


"Baiklah,aku akan berusaha demi kita."Mendengar nya Cinta merasa terharu.Tapi tunggu dulu,ini masih belum di mulai.Ia ingin tahu bagaimana perjuangan Rio mendapatkan restu orangtuanya,perjuangannya jika ingin mendapatkan cintanya.Ya..dengan begitu ia akan tahu seberapa besar perasaan Rio terhadapnya.Benarkah cinta yang tulus atau hanya sekedar obsesi untuk memiliki.


Bersambung...