
...Happy Reading...
Setelah kepergian Jeremy dari ruangannya, Abah segera memanggil istrinya untuk berunding mengenai santrinya yang bernama Hanny, yang sudah berhasil membuat para santri-santri pria disana seolah berlomba-lomba untuk mendapatkan dirinya lewat jalur Abah.
Setelah menimbang-nimbang, mencoba berpikir satu dan lain hal, akhirnya Abah menyuruh Hanny untuk menemuinya dengan ditemani oleh istrinya yang juga menjadi guru privat dari Hanny selama di Pondok Pesantren.
"Assalamu'alaikum Abah?"
"Wa'alaikum salam, masuklah!"
Dengan didampingi oleh istri Abah, Hanny duduk bersimpuh didepan Abah, walau jaraknya cukup jauh.
"Emm... begini nak, kamu tahu kan jika berpacaran dalam Islam itu dilarang?" Abah langsung saja masuk ke point intinya.
"Tau Abah, saya sudah banyak belajar dengan Ustazah." Hanny memang sengaja meminta khusus dibimbing oleh Ustazah itu, karena dia merasa malu saat umur yang sudah sebanyak itu tidak tahu apa-apa, bahkan kalah sama anak SMP yang sekolah disana.
"Alhamdulilah kalau begitu, namun ada Hadits yang mengatakan bahwa 'barangsiapa di antara kalian sudah memiliki kemampuan, segeralah menikah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemalvan."
"Tapi maaf Bah, sepertinya untuk saat ini saya belum mampu."
Hanny sadar siapa dirinya dan masa lalunya yang memang sangat kelam.
"Dalam hal apa?" Tanya Abah kembali.
"Emm..."
Untuk sekedar bicara gamblang saja Hanny seolah tidak punya muka lagi.
"Nak Hanny, Rasulullah SAW menganjurkan para pemuda dan pemudi yang sudah berkemampuan untuk segera menikah. Memang mampu di sini bisa diartikan mampu secara fisik, keilmuan, mental, ataupun secara finansial."
"Iya Bah, sepertinya untuk hal menikah, saya masih tidak terfikirkan lagi Abah, karena saya adalah wanita yang jauh dari kata sempurna." Jawab Hanny sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak ada mahkluk ciptaan Tuhan yang sempurna nak, itu mengapa kita semua dipasang-pasangkan, untuk saling melengkapi dan menyempurnakan."
"Tapi sepertinya saya tidak layak untuk menikah."
Apalagi dengan kegagalan acara pesta pernikahan untuknya saat itu, seolah mental Hanny sudah anjlok dan terjun bebas ke dasar jurang.
"Kenapa? apa hanya karena masa lalumu? satu yang perlu kamu ingat nak, Rasul mencela orang yang hidup membujang ataupun yang menunda-nunda pernikahan karena alasan yang tidak syar'i, padahal ia sudah mampu."
"Apa saya masih pantas untuk dinikahi Abah? sedangkan saya adalah bekas wanita kotor, yang mempunyai banyak kesalahan dan kekhilafan."
"Kenapa tidak? asal kamu berjanji dengan diri sendiri dan berjanji dengan Allah agar tidak kembali ke jalan yang sesat itu, tidak ada yang salah Hanny."
"Lalu, siapa yang bersedia menikahi saya Abah?"
Terbesit kata tanya tentang siapa gerangan jodoh yang dipilihkan Abah.
"Ada, salah satu santri Abah." Jawab Abah dengan mantap.
"Tapi?"
Sesungguhnya pria yang dia inginkan menjadi pendamping hidupnya adalah Jeremy, namun dia berfikir harapannya sudah pupus karena Jeremy sudah bersanding dengan wanita lain.
"Tapi kenapa? apa kamu sudah punya calon lain?" Tanya Abah kembali.
"Tidak Abah?"
"Dari wajahmu sepertinya kamu sudah punya idaman lain, coba katakan?"
"Saya tidak berani berharap banyak dengan dia Abah?"
"Tapi kamu punya?"
"Lalu apa kamu mau menerima calon yang Abah pilihkan?"
"Atas Izin Allah saya akan menerima siapa pun pilihan dari Abah, karena saya percaya Abah tidak akan salah memilihkan orang untuk menjadi pendamping hidup saya."
Hanny sudah berada dalam situasi terjepit, dan pasrah adalah jalan satu-satunya yang ada dalam pikirannya.
"Belum tentu juga Abah selalu benar, karena yang Maha Benar hanya Allah semata."
"Saya ngikut Abah saja." Hanny sudah tidak ingin berpikir banyak lagi, apalagi berharap dengan Jeremy.
"Kamu yakin? sebenarnya Abah tidak mau memaksamu, hanya saja daripada kamu menjadi bahan rebutan diantara santri-santri yang lain dan menimbulkan kecekcokan diantaranya, lebih cepat menikah bukannya lebih bagus bukan? selain itu agar tidak menimbulkan fitnah juga, karena menikah itu ibadah dan untuk menyempurnakan separuh Agamamu."
"Insya Allah saya siap Abah."
Sejak gosip itu beredar di kalangan pondok pesantren, Hanny masih tetap bersikap biasa saja, karena dia berfikir banyak lelaki yang menginginkannya disana karena tidak tahu latar belakangnya dulu.
"Baiklah, siapkan dirimu, perbanyak sholat dan juga doa di sepertiga malam, semoga pria yang Abah pilihkan adalah jodoh yang tepat untukmu dan bisa membimbingmu menuju kebaikan, jika memang pasanganmu belum bisa menjadi seseorang yang baik, intinya dalam hidup ini kita sama-sama belajar tentang kebaikan, tidak ada kata terlambat untuk belajar."
"Baik Abah."
"Besok, setelah sholat Dzuhur temui Abah di masjid, akan Abah persiapkan segalanya."
Enyah mengapa Abah yakin, bahwa Jeremy bisa menyelesaikan tantangannya dengan baik, walau bahkan Jeremy sendiri yang ragu, namun tekad yang kuat akan mampu mengalahkan cobaan sebesar apapun.
"Tapi Abah, saya belum jujur satu hal dengan Abah."
"Ada apa nak, katakan saja?"
"Saya.. saya anak di luar nikah Abah." Jawab Hanny dengan bibiir yang sudah bergetar, seolah dirinya jauh sekali dari kata baik.
"Astagfirullohhal'azdim, emm... ya sudah, tidak apa-apa, jalan hidup kita di dunia ini tidak ada yang tahu, jika ditanya pun siapa yang mau, syukuri saja apa yang ada, jangan terlalu bersedih, kita masih punya Allah, yang selalu bersama dengan kita."
"Baik Abah, terima kasih karena tidak bertanya kenapa dan mengapa, terima kasih karena tidak mempermasalahkan asal usulku yang memang tidak baik ini." Hanny sangat bersyukur sekali dipertemukan dengan orang-orang baik di tempat ini.
"Tiada manusia yang sempurna di dunia ini nak, seseorang yang punya masa lalu buruk, tetap memiliki kesempatan menjadi orang baik ke depannya, cukup berikan yang terbaik apapun yang kau bisa, tak perlu harus sempurna, karena apapun yang membuat kamu berbeda, itu yang menjadikan kamu Istimewa."
"Sekali lagi terima kasih Abah." Senyum dibalik kesedihan itu jelas terlukis di wajah Hanny.
"Siapapun nanti pria yang akan mendampingimu, kamu harus tetap menghormatinya, karena dia adalah calon imammu." Istri Abah gantian memberikan nasehat untuk Hanny.
"Iya Ustazah."
"Dalam sebuah hubungan perbedaan itu akan selalu ada, namun alangkah indahnya jika manusia dapat bersatu dalam perbedaan. Selama karakter dan sifat mereka masih sesuai dengan kaidah agama dan tidak melanggar ketentuan hukum maka kita harus bisa saling menghargai."
"Terima kasih juga ustazah, Anda benar-benar sudah mengajarkan saya tentang banyak hal."
"Itu tugas saya sebagai Ustazah disini, yang akan selalu membimbing kamu menuju kebaikan, ya sudah.. persiapkan dirimu untuk menjadi calon istri yang selalu takut akan Allah, bukan dengan yang lainnya."
"Hmm.." Hanny langsung menganggukkan kepalanya.
"Karena semua jalan hidupmu, sudah ada yang mengatur skenarionya, jangan terlalu rendah diri namun jangan juga tinggi hati, semoga kita semua bisa selamat dunia dan Akhirat."
"Amin.. Amin yarobal'alamin."
Akhirnya senyum dari Abah dan istrinya pun terukir disana, Abah memang sengaja tidak memberitahukan calon yang akan mendampingi Hanny, agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Sejatinya manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di antara ciptaan Allah yang lainnya, manusia dengan otaknya dapat berpikir, membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dengan otaknya pula manusia dapat berinovasi dalam menciptakan sesuatu yang baru, dan manusia juga merupakan makhluk sosial yang saling melengkapi.
Tapi dalam kesempurnaan manusia ternyata Allah tidak menciptakan semua manusia di dunia ini dengan sangat sempurna, setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan Allah telah menentukan takdir setiap manusia yang hidup di dunia ini.