Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
108.Embek?


...Happy Reading...


Nicholas memilih tetap berada di serambi Masjid, agar istrinya tidak harus menemui mantan suaminya, walaupun sepertinya Yoga sudah berubah, namun Nicholas ibarat kata dalam dunia medis, memilih mencegah daripada mengobati.


"Bang, tunggu saja disana, dalam waktu setengah jam tempat yang Abang pesan akan siap."


Sholeh berteriak dari ujung jalan sambil mendorong gerobak kecil yang berisi berbagai peralatan didalamnya.


"Dek, kamu mau cari tempat dimana?" Alisya sebenarnya tidak enak hati dengannya.


"Pokoknya tempat yang viewnya bagus." Jawab Sholeh dengan mantap.


"Sholeh, memangnya kamu sudah tahu caranya buat adek kamu itu bagaimana?" Tanya Nicholas yang merasa penasaran.


"Secara ilmu biologi, proses Reproduksi adalah proses saat makhluk hidup bisa menghasilkan keturunan dengan tujuan supaya tetap dapat mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya, bukan begitu Bang?" Jawab Sholeh dengan fasih sekali, seolah semua sudah terekam di otaknya.


"Cerdas sekali kamu dek, kamu memang generasi penerusku!" Ucap Nicholas dengan bangganya.


"Hehe... itu sudah aku pelajari saat aku masih duduk dibangku SMP dulu Bang, nilaiku juga selalu bagus di mata pelajaran itu."


"Mas, tapi kan itu hanya pengertian pada umumnya, emang dia juga sudah tau caranya?" Bisik Alisya yang sebenarnya masih ragu, karena pengertian secara ilmiah dengan prakteknya kan jauh berbeda pikirnya.


"Emm... Sholeh, walaupun kamu belum cukup umur, tapi apa kamu sudah tahu bagaimana cara pembuatannya juga?" Nicholas pun sebenarnya meragukannya juga.


"Tau dong." Jawab Sholeh dengan mantap.


"Hah? jangan main-main kamu dek, nanti kalau ketahuan Abah kamu bisa dihukum berat loh, katanya kamu mau lanjut kuliah lagi kan?"


"Memangnya kenapa kalau aku tahu, itu kan ada dalam pelajaran juga kan?"


"Apa yang kamu tahu tentang itu?"


Nicholas sedikit merasa was-was, walaupun Sholeh bukan adek kandungnya sendiri namun dia sangat menyayangi bocah itu, dan tidak ingin jika dia salah langkah dan salah dalam pergaulan, apalagi dia tidak pernah berada dalam pengawasan orang tua.


"Sistem reproduksi manusia biasanya melibatkan fertilisasi internal dengan hubungan suami dan istri. Dalam proses ini, laki-laki menghasilkan suatu cairan, sebagian kecil dari cairan itu melewati leher rahim ke dalam rahim, kemudian ke saluran telur untuk melakukan pembuahan ovum, begitulah kira-kira Bang."


Prok


Prok


Prok


Nicholas dan Alisya bahkan langsung berdiri sambil bertepuk tangan saat mendengar penjelasan proses reproduksi secara ilmiah darinya, karena penjelasannya sangat mendetail secara teori, sudah sangat mirip dengan guru mata pelajaran biologi.


"Kamu memang luar biasa Sholeh, semoga kamu menjadi orang sukses dimasa depan nanti ya Dek!" Alisya begitu bangga melihat bocah yang satu itu, pembawaannya tetap tenang namun otaknya mampu berpikir secara cepat.


"Abang bangga sekali punya adek seperti kamu Sholeh!" Nicholas berharap banyak agar kecerdasan Sholeh mampu mengubah kehidupannya menjadi lebih baik di masa yang akan datang nanti.


"Kalau begitu, bisa aku pergi sekarang, berat ini gerobaknya?" Dan lebih hebatnya lagi, Sholeh tidak pernah haus akan pujian, dia hanya menaikkan sedikit kedua bahunya saja tanpa ekspresi apa-apa.


"Tentu, nanti kalau sudah jadi tempatnya, Abang kasih kamu hadiah spesial, okey?"


"Sebenarnya tidak perlu repot-repot sih Bang, tapi Atur aja lah Bang gimana baiknya, hehe?"


"Haha... Bibit unggul ini, ya sudah buat tempat terbaik buat kami, biar kamu cepat punya dedek bayi, okey?"


"Asiap Bang!"


Sholeh kembali melanjutkan langkahnya pergi ke satu tempat yang sudah dia pikirkan sejak tadi, dengan barang bawaannya.


Setengah jam berlalu, Nicholas melewatkannya dengan menggoda istrinya habis-habisan, sampai wajah istrinya memerah karena menahan rasa malu.


Hingga akhirnya Sholeh kembali datang menemui mereka dengan guratan senyuman yang tertahankan.


"Bang, singgasananya sudah Ready!" Ucap Sholeh sambil mengipasi wajahnya dengan peci miliknya, karena pekerjaannya kali ini cukup menguras tenaga.


"Benarkah, dimana? cepat antarkan Abang dan kakakmu kesana." Nicholas seolah sudah tidak sabar ingin melihatnya.


"Ayok Bang, lewat belakang ya, agak muter sedikit, tapi viewnya bagus banget Bang." Sholeh sengaja memilih jalan memutar lewat belakang agar tidak kelihatan apa yang ada dibawahnya.


"Kamu memang terbaik Sholeh!"


"Diatas sana tempatnya Bang!" Sholeh menunjuk semacam gubuk atau rumah panggung dipojokan pekarangan.


Oerk!


"Tinggi amat Dek, itu sih gubuk namanya!" Nicholas sampai memundurkan kepalanya karena tidak yakin dengan pemilihan tempat dari Sholeh.


"Itu sering disebut dengan Saung atau bisa juga dinamakan Gardu pandang atau apa sajalah, tapi diatasnya sudah aku sulap menjadi tempat yang nyaman dengan view yang indah."


"Masak sih?"


"Abang naiklah dulu, sudah aku kasih karpet dan kasur lantai, jadi Abang bisa proses produksi sambil melihat keindahan alam dari atas sana, ada view pegunungan dan juga hamparan sawah yang asri loh Bang."


"Aku kok malah takut ya dek?" Entah mengapa Alisya sedikit merinding karenanya.


"Nggak usah takut kak Alisya, semua aman asal kalian jangan lari-lari diatas sana, pokoknya kalem aja." Pesan Sholeh kepada kedua kakaknya itu.


"Nggak usah aja deh mas, tunggu saudara yang lainnya pulang, kamarku lebih meyakinkan daripada ini." Bisik Alisya kembali.


"Nggak papa yank, kita ngadem dulu disini, saudara kamu juga pasti masih lama pulangnya, aku percaya pilihan Sholeh pasti bagus, ya kan dek?" Dia bahkan merangkul lengan Sholeh dengan senyum yang merekah.


"Iya dong Bang, pokoknya semua aman terkendali, asal Abang jangan teriak-teriak dan buat keributan diatas sana ya, ingat itu Bang?" Dia kembali menekankan pesannya.


"Emang kenapa?"


"Pokoknya jangan, kalau begitu silahkan menikmati pemandangan kampung ya Bang, dan yang paling penting sudah aku siapkan kopi biar rileks dan nggak panik, tapi aku nggak punya susuunya, jadi kopi hitam aja."


"Haha, kalau itu aku sudah punya dek, jangan kamu pikirkan, pokoknya terima kasih ya Sholeh, kamu mau hadiah apa?"


"Apa saja Bang, yang penting mahal aja, kalau perlu yang bisa dijual, jadi kalau besok aku kepepet nggak punya uang jajan di kota bisa aku jual, hehe!"


"Kamu ini, permintaannya kayak emak-emak aja, kalau ponsel kamu udah punya?"


"Di pondok pesantren nggak boleh bawa ponsel Bang, ada telpon dan ponsel Pondok kalau ada keperluan."


"Itu akan menjadi barang penting untukmu, kalau begitu besok aku pesankan ponsel gigitan apel yang terbaru, biar kamu nggak kudet, okey?"


"Nggak usah yang mahal banget juga nggak papa Bang, yang penting sekarang aja ordernya."


"Ngebet banget harus sekarang, itu ponsel mahal Sholeh, jadi walaupun sekarang belinya, diantarnya juga pasti besok sama anak buah Abang." Jawab Nicholas.


"Nggak papa Bang, yang penting Abang belinya sekarang, masalah datangnya kapan itu tidak masalah!"


"Kenapa sih, tumben?"


"Udah belikan sekarang, kamu kan sudah janji tadi mas?" Alisya ikut membela Sholeh.


"Okey deh, biar aku pesankan, walau mungkin besok barangnya baru sampai." Nicholas langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada anak buahnya.


"Sip, makasih banyak ya Abang dan kak Alisya, selamat menikmati Gubuk Cintanya, hehe... aku pergi dulu, kalau ada apa-apa jangan cari aku, cari saja guru Ridwan atau Abah, karena aku mau pergi sementara waktu, assalamu'alaikum." Sholeh langsung pergi dari sana dengan secepat kilat.


"Wa'alaikumsalam."


"Perasaanku kok nggak enak ya mas." Alisya mengusap kedua lengannya.


"Sudahlah, kita naik ke atas yuk?" Akhirnya Nicholas dan Alisya menaiki tangga yang terbuat dari kayu itu.


"Kamu kayak bau-bau apa gitu nggak sih mas?" Tanya Alisya saat melihat sekeliling.


"Mungkin pupuk padi disawah itu kali yank, nggak papa, kita kan diatas nanti, kalau ada angin nggak begitu bau kali ya."


"Tapi dibawah sana tempat apa sih mas, kok ditutup pakai tenda hitam semua, nggak mau dicek dulu isinya apa?" Alisya melihat bagian bawah dari tenpat itu ditutup keliling menggunakan tenda hitam.


Dia memang sudah lama tidak melihat pekarangan disekeliling rumahnya, kalau pulang kerumah itu juga hanya sebentar, itupun didalam rumah saja.


"Nggak usahlah, palingan juga gudang, biarkan saja yang penting diatas bersih." Jawab Nicholas yang sebenarnya sudah tidak sabar ingin unboxing istrinya.


"Iya juga, Sholeh memang jagonya kalau soal bersih-bersih, lumayan nyaman juga loh mas."


Walau hanya beralaskan papan, namun tempat itu bersih, karena dilapisi karpet dan sekelilingnya ditutup dengan kain bersih, bahkan ada bantal dan juga kasur lantainya.


"Bener juga kata si Sholeh, kita bisa lihat gunung dan hamparan sawah dari sini mas, viewnya memang bagus."


"Kamu suka?"


"Suka banget."


"Tapi aku lebih suka melihat pemandangan gunung dan sawah yang asli." Nicholas mulai berulah, dia langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Maksudnya?"


"Yank, boleh minta sekarang nggak?" Nicholas sudah mengungselkan wajahnya diceruk leher Alisya.


"Jangan sekarang dong mas, ini tempatnya terbuka loh, nanti kalau ada yang lihat gimana?"


"Nggak akan ada yang lihat, kita di pinggir sawah ini yank, lagian samping kanan kiri juga ditutup pakai kain kok, sebentar aja yank." Rengek Nicholas yang memang pantang dilarang.


"Tapi mas?"


"Aku udah nahan ini lama banget loh, saat kamu menikah waktu itu, bahkan malamnya aku tidak bisa tidur karena membayangkan kamu tidur dengan mantan suamimu itu." Dia langsung curhat.


"Sudahlah mas, jangan bahas itu lagi, semua sudah berlalu, yang terpenting aku sudah jadi milikmu sekarang dan untuk selamanya."


"Iya, aku akan menyerahkan semuanya, tapi ya nggak disini juga dong mas, lihat situasi juga."


"Nggak papa yank, kata si Sholeh aman kok, lagian suasananya syahdu banget yank, semilir anginnya bikin si dedek bangun dibawah sana." Nicholas bahkan sudah mulai membuka bajunya sendiri.


"Itu karena mas sengaja bangunin."


"Mana ada, dia bangun sendiri yank!"


"Gimana nggak bangun, mas nempel terus sama aku!"


"Kalau nggak nempel sama kamu trus aku nempel sama apa dong, sama tiang rumah begitu?"


"Tapi mas?"


Wajah Nicholas sudah tidak lagi bisa digambarkan, hasratnya yang sudah menggebu sejak lama dan rasa kesalnya karena Yoga sudah mencuri start darinya terlebih dahulu, membuat diri Nicholas seolah tidak ingin membuang kesempatan walau sebentar saja.


Cup


"Sebentar aja yank, ibarat kata kita makan hidangan pembuka aja dulu." Nicholas langsung saja nyosor sana sini sesuka hati.


"Tapi---."


Alisya sudah tidak bisa berkutik, saat Nicholas mencium dirinya dengan begitu ganas, bahkan dia sampai berjalan mundur karena suaminya terus menyerang dirinya.


"Alisya, i love you!"


Seolah ada setan yang merasuki tubuhnya, sehingga dia lupa daratan, satu tangannya memegang leher belakang Alisya untuk menyangga, dan satu tangannya lagi dengan terampilnya membuka kancing baju milik Alisya.


"Mas.. pelan-pelan dong, hmpt!"


Saat Alisya ingin mencoba menahan, Nicholas langsung kembali menyambar bibiirnya agar istrinya tidak banyak protes.


Dugh!


"Aw... aduh mas, gimana ini?"


Tanpa sengaja kaki Alisya tersandung dengan kasur dan membuat mereka jatuh terlentang diatas kasur dengan tubuh Nicholas berada tepat diatasnya.


Dan itu membuat hasrat Nicholas semakin menggebu, aliran darahnya seolah semakin terpacu, membuat semua syaraf-syaraf ditubuhnya bangkit seluruhnya.


Akhirnya perlahan tapi pasti Nicholas berhasil melepas hijab dan juga baju milik istrinya.


"Sayang, kamu cantik sekali."


"Apanya yang cantik?"


"Kamu lah."


"Kalau aku yang cantik, lihat wajahku, kenapa matanya kearah bawah terus!" Alisya langsung memonyongkan bibirrnya saat kedua mata Nicholas terus menatap tajam aset berharga miliknya.


"Dimana mantan kamu itu pernah meninggalkan tattonya, biar aku hapus semua bekasnya!"


"Mas... sudah dong, jangan mengungkit hal itu lagi, aku kan memang sudah janda, kalau mas mau yang seratus persen ori kenapa mas mau menikahiku, cari aja diluar sana kalau masih ada." Umpat Alisya dnegan wajah kesal.


"Jangan marah dong yank, aku cuma nggak rela aja loh."


"Itu sudah resikonya mas, kalau nggak mau ya sudah, biar aku pakai baju lagi saja." Alisya pura-pura ngambek.


"Sayang... maaf, jangan pergi lagi dariku!"


"Ya sudah, makanya jangan ungkit masa lalu lagi, sudah tau aku ini seorang janda, kenapa masih protes ini itu aja dari tadi, kamu itu---- emm... apa ini, kok enak?"


Saat Alisya masih mengoceh kesana-kemari, Nicholas tidak tinggal diam, satu tangannya kembali menyelundup kedalam rok panjang yang Alisya pakai.


"Emang enak, makanya jangan ngomong terus yank?"


Entah dapat ilmu darimana, namun Nicholas mampu membuat Alisya merem melek walau hanya menggunakan jarinya.


"Mas, tapi aku... itu... emm... urrr!"


Bahkan Alisya bingung mau berkata apa, pikirannya sudah terbang melayang entah kemana saat Nicholas semakin mempercepat kerajinan tangannya.


"Boleh aku minta sekarang?" Pinta Nicholas kembali.


"Kenapa mas tanya terus?"


"Mana tahu kamu nolak?" Ledek Nicholas yang tersenyum geli melihat wajah istrinya yang sudah kalang kabut oleh ulahnya.


"Kalau sudah begini aku bisa apa, eeh!"


"Okey sayang, akan aku buat kamu tidak ingin lepas dariku!" Nicholas langsung mendorong tubuh istrinya kembali.


Bugh!


Krekk!


"Mas... pelan-pelan, aku takut nanti kalau roboh tempatnya." Alisya merasakan ada sesuatu yang aneh disana.


"Tidak akan, heugh!"


Bruk!


Nicholas langsung kembali menindih tubuh istrinya dan mulai memasukkan senjatanya saat sawah milik Alisya sudah siap tanam.


Slep!


Akhirnya apa yang dia inginkan tercapai sudah dalam satu kali hentakan yang memang cukup keras.


Kreek!


Namun tiba-tiba terdengar bunyi retakan kayu setelahnya.


"Aw.. urr.. mas, jangan-jangan jebol ini!" Ucap Alisya sambil meringis kesakitan.


"Yang mana yang jebol, apa tendanganku sudah pas sasaran!" Tanya Nicholas dengan gilanya.


"Embeeeek!"


"Embeeeek!"


"Embeeeek!"


"Yank.. kenapa suaramu jadi suara kambing?" Nicholas langsung tersentak saat mendengar suara teriakan kambing dari bawah tubuhnya.


"Aw.. aduh.. itu bukan suaraku mas!" Sambil menahan rasa perih dibagian intinya, Alisya mencoba menahan nafasnya.


Plup!


"Hah, jadi itu suara kambing beneran?" Nicholas langsung bangkit dan mencabut pedang pusaka miliknya yang tadi sempat menemukan tempat ternyamannya walau hanya beberapa saat saja, untuk menyibak kasur lantai tempat dia melakukan penjebolan gawang tadi.


"Embeeeek!" Dan suara kambing itu semakin terdengar jelas dari bawah sana.


"Astaga, dibawah kita ternyata kandang kambing yank!" Nicholas langsung melotot saat melihat apa yang ada dibawah sana, dari retakan kayu tadi.


"Embeeek... Embeeek!"


Dan kambing yang tadinya tidur karena kekenyangan itu mulai ribut dibawah sana.


"Aduh gimana ini, aku takut jatuh mas, mana bajuku? mana hijabku tadi mas, argh!" Alisya langsung kelabakan sendiri, namun dia juga takut bergerak, takut jika retakan kayu itu semakin melebar.


"Aish... SHOLEH AWAS KAMU YA!" Karena terlalu kesal Nicholas langsung menjerit dari atas sana.


"Jangan teriak kenceng-kenceng mas, nanti Ayah dan Abah dengar, bisa malu banget kita!" Alisya semakin ketakutan karenanya, apalagi dengan keadaan bajunya yang saat ini terlepas semua.


"Woah... pantas saja bocah itu meminta hadiahnya sekarang juga, aku sudah curiga tadi, ternyata begini Endingnya!"


Dengan tangan yang gemetar karena menahan berat dari tubuh mereka masing-masing agar kayu yang patah itu tidak semakin menjalar ketempat lainnya, Nicholas dan Alisya mencari-cari pakaian mereka kembali, sambil mengumpat bocah bernama Sholeh yang ajaib itu.




Sedangkan Sholeh sudah berada didalam pondok pesantren milik Abah.



"Berapa ya harga ponsel gigitan apel yang terbaru itu?" Kini Sholeh sudah duduk santai sambil menopang kaki, dia meminjam ponsel milik pondok pesantren untuk searching model ponsel yang dibelikan Nicholas tadi dan juga harganya.



"Wuidiih... keren banget, mana ponselnya seharga sawah sepetak lagi, hihi... kira-kira sedang apa ya si Abang dan Kak Alisya sekarang?"



Akhirnya Sholeh tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkan memiliki ponsel terbaru dengan brand ternama dan juga harga yang fantastis.



Apapun kisahnya yang penting sudah goal ya kan?