Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
72. Kepala Bawah?


...Happy Reading...


Walau sedikit dengan cara yang ekstrem, akhirnya Hanny secara tidak langsung diterima oleh keluarga Jeremy, karena kandidat satu-satunya dari Daddy Jeremy hanya Dinar seorang, namun dalam waktu sekejab saja dia sudah mundur, bahkan bukan dengan tempo 'alon-alon' lagi, karena Dinar langsung menyerah begitu saja tanpa memberi alasan yang detail kepada kedua orang tua Jeremy.


"Dad, kami mau istirahat dulu!"


Setelah kepergian keluarga Dinar, Jeremy memilih ingin pergi ke kamar saja, dia malas jika harus berdebat dengan kedua orang tuanya, selain capek dia juga tidak ingin jika perkataannya nanti membuat dirinya menjadi anak yang durhaka.


"Tunggu!"


Benar saja, ternyata Daddy Jeremy merasa belum terima begitu saja dengan keadaan ini.


"Kenapa lagi sih Dad, kami capek ingin istirahat dulu?"


Walau bagaimanapun juga perjuangannya untuk mendapatkan Hanny bukan hal yang mudah, bahkan mengorbankan harga dirinya dimata para santri di pondok pesantren itu, jadi dia tidak akan melepaskan Hanny begitu saja.


"Saat Dinar mundur, bukan berarti Daddy langsung merestui hubungan kalian, karena tetap saja istrimu itu bukan wanita baik-baik." Ucap Daddy Jeremy yang membuat Hanny hanya bisa meniup jambul dari hijabnya agar lebih kuncup lagi.


"Baik dan buruknya manusia itu bukan hanya dinilai dari lahirnya saja Dad, tapi dari hatinya juga, Hanny memang pernah salah, tapi bukan berarti Daddy juga yang paling benar sekarang bukan?" Jeremy masih mencoba untuk memahami penilaian dari Daddynya.


"Jeremy, open your eyes! apa kamu bisa bahagia hidup dengan wanita bekas pelac*r seperti dia!" Hardik Daddy Jeremy yang membuat Hanny langsung mengusap dadaanya.


Ya..Tuhan, pedasnya mulut ayah mertua ini, satu yang aku minta darimu, tabahkan hati hambamu, jangan sampai hambamu ini kembali mencari-cari kesalahan orang dan harus membukanya, apalagi aib keluarga suamiku, soalnya kalau anak buahku sudah bergerak, mulutku ini sering gatal dan kelepasan bicara.


Hanny memilih menutup kedua mata dan telinganya, agar dia bisa menahan amarahnya untuk tidak melawan orang yang lebih tua darinya, walau kata-katanya terdengar sangat menyakiti hatinya.


"Dad, yang aku minta dalam hidup ini tidak banyak dari daddy, cukup restui hubungan kami, masalah kebahagiaanku biarkan kami yang menciptakannya, Daddy tidak perlu pusing-pusing memikirkannya, yang penting perusahaan jalan, omset perusahaan bagus, itu yang paling penting buat Daddy kan?"


Karena selama ini memang hanya harta, tahta dan perusahaan yang mereka pikirkan, bukan sebuah kebahagiaan anaknya.


"Jeremy, kenapa kamu keras kepala sekali!" Daddy Jeremy sudah terlihat emosi dan naik darah, bahkan Mommynya mulai mengusap-usap punggung suaminya, agar tidak kembali berteriak.


"Maaf Dad, aku memang keras kepala, apalagi kepala bawah, beuh... keras banget, itu kenapa aku ingin segera istirahat dikamar untuk melemaskannya." Ucap Jeremy yang membuat mulut kedua orang tuanya mengaga secara bersamaan.


"Pfftthh.."


Astaga, aku pengen ketawa tapi takut dosa, baru aja kali perdana aku menggoyangnya, kenapa dia sudah jadi gila seperti ini, tapi kok aku makin suka, hihi...


Hanny bahkan langsung membungkam mulutnya agar tidak tertawa dan memilih mengumpat suaminya didalam hati, saat mendengar ucapan suaminya, dia begitu terkejut saat kegilaannya dalam menanggapi suatu masalah dengan candaan menular ke diri suaminya.


"Kamu ini ngomong apa, hah? sini kamu!" Bahkan Daddy Jeremy tiba-tiba ingin menarik telinga Jeremy namun dia langsung mundur dan bersembunyi dibelakang tubuh istrinya.


"Dad, tadi Daddy dan Mommy sudah lihat sendiri bukan, my Hanny bisa membuat seorang Dinar yang terobsesi dengan putramu ini bisa menyerah dalam hitungan menit saja, apa Daddy mau berbicara empat mata dengan istriku juga, agar Daddy tidak lagi menghujatnya?"


Entah mengapa terlintas satu ide di pikiran Jeremy untuk mengatakan hal itu, tapi satu yang pasti dia tahu kalau Hanny bukan wanita biasa yang gampang ditindas oleh orang lain, terlepas dari kisahnya sebagai wanita kupu-kupu malam, dia terlihat cerdik dan punya banyak akal untuk membela diri.


"Mas... jangan menakuti ayahmu, karena aku yakin tidak ada aib dalam keluarga ini kan?" Hanny pun seolah sudah seperti orang yang punya persiapan sebelum berperang, kata-katanya seolah mengiyakan apa yang suaminya ucapkan.


"Owh... jadi Dinar tadi menyerah karena aib dari keluarganya, memangnya keluarganya ngapain yank?" Jeremy malah jadi ikutan kepo.


"Opsh... mulutku ini, maaf aku yidak bermaksud untuk membuka aib orang lain tadi."


"Katakan sayang, apa yang keluarganya lakukan, apa mereka korupsi atau melakukan hal lain demi sebuah jabatan?"


"Bukan." Hanny langsung melambaikan kedua tangannya, dia sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini dnegan siapapun.


"Atau mereka pernah membunuh orang?"


"Astaga mas, kenapa pikirannya sampai kesono, nggak sampai sedosa itu."


"Jadi apa dong, apa keluarga mereka pernah mencuri Ayam? masak hal begitu saja membuat seorang Dinar mundur, it's impossibel." Jeremy memilih asal bicara saja, karena sama sekali tidak terfikirkan selain masalah uang dan kekayaan.


"Tidak, bukan soal itu, tapi lebih ke soal kehormatan keluarga."


"Kehormatan keluarga? kok bisa?"


"Itulah.. sering kali orang menghina seseorang demi sebuah maruah diri, namun kenyataannya harga dirinya sendiri pun sudah tidak ada lagi." Hanny hanya bisa berbicara sambil menaikkan kedua bahunya.


"Ya sudahlah, terserah kalian saja, urus saja kebahagiaan kalian sendiri, Daddy capek melihat tingkah kalian berdua!"


Tiba-tiba Daddy Jeremy memiih merangkul bahu istrinya yang sedari tadi hanya menyimak saja.


Wuidih... kenapa nyalinya langsung mengkeret, apa jangan-jangan aibnya bahkan lebih besar, tahan Hanny, jangan coba-coba mencari tahu apapun tenang mereka.


Hanny akhirnya menyunggingkan senyumannya sambil melihat punggung kedua orang tua Jeremy yang pergi meninggalkan mereka saat itu juga.


"Ehh... secepat itu? kenapa dengan Daddy dan Mommy ini?" Jeremy sontak merasa heran sendiri dan membuatnya semakin bertanya-tanya didalam hati.


Karena Hanny tahu betul, hidup dalam keluarga yang berantakan dan penuh dengan kata kebencian tidaklah mudah, apalagi kurang kasih sayang dari orang tua, rasanya sungguh sakit sekali, karena tidak bisa seperti keluarga bahagia lainnya.


"Tapi yank?" Jeremy seolah masih belum puas dengan jawab orang tuanya, namun tubuhnya yang sudah merasa lelah dan letih.


"Walau bagaimanapun juga dia adalah Daddy kamu, tanpa beliau mas tidak akan muncul didunia ini, jadi kita tidak perlu membesar-besarkan masalah ini." Ucap Hanny yang langsung menyandarkan kepalanya dibahu suaminya.


"Hmm... kalau begitu dari pada membesarkan masalah lebih baik kita membesarkan perutmu saja, bagaimana?" Jeremh langsung mengusap perut Hanny dengam gemasnya.


"Maksudnya?" Hanny langsung pura-pura bego saja.


"Mas juga mau menanam saham, biar perut kamu cepat gendut dan terisi, hehe!" Otak mesvmnya mulai muncul saat dirinya mengingat pertarungan perdananya, karena Jeremy sudah mulai terkontaminasi dengan Hanny walau baru dicharger sekali saja.


"Hedeh?"


Hanny sudah menduga sebelumnya, Jeremy pasti akan ketagihan jika kreatifitasnya dia tunjukkan didepan Jeremy.


Hap!


"Kasih gaya baru yank, kayak yang kemarin itu, aku baru tahu ada gaya begituan loh!" Jeremy langsung membopong tubuh istrinya untuk naik kedalam kamar Jeremy yang sudah jarang dia tempati.


"Nggak, pinggangku masih pegel!" Ucap Hanny yang memilih berbohong, padahal dulu kalau lagi mode sangee dia bisa sampai dua atau tiga kali dengan pria yang berbeda.


Namun dia sudah berubah saat ini, dia mulai bisa mengontrol dirinya, agar tidak menggila seperti dahulu, karena saat ini dia sudah punya partner dalam hidup bahkan partner dalam hal ranjang, namun jika memang suaminya sangat menginginkan dirinya pun tidak masalah, hanya saja dia tidak ingin terlihat lebih agresif.


"Ya udah gaya yang lain yang lebih kalem juga nggak papa." Rengek Jeremy dengan istrinya.


"Apaan sih mas, istirahat dulu ya, besok lagi gimana?"


"Sekali aja deh yank, gaya kayak helikopter bisa nggak, nanti kamu diatas trus muter gitu?" Pinta Jeremy dengan ide gilanya.


"Astaga mas, nggak sekalian gaya Anj*ng kencing aja? ada-ada aja mas ini."


Kring


Kring


Kring


Tiba-tiba ponsel Jeremy berbunyi dengan nyaringnya disaat mereka berdua masih tawar menawar secara sah diatas ranjang.


"Hallo, kenapa Nick?"


Jeremy langsung menggangkat panggilan telponnya, begitu nama Nicholas tertera dilayar ponselnya.


"Bunuh saja aku Bos, aku sudah tidak sanggup untuk hidup lagi!" Ucapnya dengan suara parau yang seolah memang sudah tidak punya semangat hidup lagi.


Tut


Tut


Tut


Panggilan telpon itu langsung terputus begitu saja, tanpa sebuah kata penutup, padahal tidak biasanya Asisten Jeremy itu menjadi sosok yang lemah seperti ini.


"Woi... kamu kenapa Nick, hallo?" Jeremy langsung tersentak begitu mendengarnya.


"Kenapa mas?" Hanny langsung menempelkan telinga merapat ke tubuh suaminya.


"Kita cari Nicholas sekarang juga, entah kenapa itu bocah, nggak ada angin nggak ada hujan, kenapa mau tiba-tiba mau Mati katanya."


Padahal tadi tidak terjadi apapun dengan Nicholas, malahan tadi Nicholas juga sempat pamer foto PAP berdua dengan Alisya, walau harus curi-curi foto, lalu bilang kalau katanya mereka tadi sempat kencan sebelum mengantar Alisya pulang ke rumahnya dan tadi Jeremy belum sempat untuk menanggapi itu semua, karena harus menghadapi masalah keluarganya sendiri.


"Hah, kok mau Mati?"


Hanny sempat tidak percaya juga mendengarnya, apalagi dia tahu betul sifat Nicholas yang teguh dengan pendiriannya selama ini dan menjadi musuh bebuyutannya walau hanya sekedar bualan semata.


"Ayo sayang, aku tidak mau kehilangan asisten secerdas dia, bisa repot nanti urusannya!" Jeremy tidak pikir panjang, baru kali ini dia mendengar asistennya mengeluh bukan bertemakan soal pekerjaan, dan ini sangat aneh menurut Jeremy.


"Yoalah... kirain perduli tentang persahabatan, ternyata ujung-ujungnya ke perusahaan juga kan?" Umpat Hanny yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Dua-duanya sayang, ayo cepat!"


Jeremy langsung mengenggam jemari Hanny agar segera mengikuti langkahnya, dia begitu terkejut saat mendengar suara Asistennya yang memang terdengar sendu, karena sepertinya bukan sebuah candaan belaka.


Jangan pernah memaksakan diri untuk menjadi Sempurna, karena dia yang tulus mencintaimu tidak akan pernah menuntut sebuah kesempurnaan darimu, karena dia lah yang akan datang untuk menyempurnakannya segalanya.