Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Cemburu


Matahari mulai meninggi,terasa menyengat bagai tepat di atas kepala.Cinta menyeruput es Degan yang ia beli tidak jauh dari tempatnya bekerja.Rasa manis dari Degan yang masih muda di padukan air kelapanya serta sedikit tambahan gula asli menambah rasa nikmat dan segar membasahi kerongkongannya."Berapa pak?"tanya Cinta setelah menghabiskan seluruhnya.


"Enam ribu mbak Cinta,"jawab penjual es Degan.


Cinta menyondorkan uang sepuluh ribuan pada penjual itu.


"Ini kembaliannya mbak,"si penjual.


"Tidak usah pak,buat beli permen adhiknya saja itu,"tolak Cinta sambil tersenyum kecil.


Si penjual mengucapkan terima kasih.Cinta hendak berbalik akan kembali ke depan sekolah sebab Rio sudah menunggunya.Padahal ia sudah mengatakan jika ia sedang berada di penjual es Degan.


Bruk,


Tubuhnya menubruk seseorang hingga ia kehilangan keseimbangan.Seseorang itu dengan cekatan menolongnya,meraih pinggang Cinta dengan salah satu tangannya agar tidak terjatuh."Radit,"ucapnya.


Tidak menyangka akan bertemu dengan Radit dengan ke tidak sengajaan seperti ini.Sementara di sana,seseorang yang semakin mendekat memperhatikan keduanya."Cinta,"panggilnya.


Menoleh,terkejut ketika Rio sudah ada di sampingnya.Cinta melepaskan tangan Radit yang berada di pinggangnya."Ini tidak seperti yang kamu lihat Rio." Radit pun membenarkan ucapan Cinta.


Rio tersenyum kecil."Ayo aku antar pulang."Ajaknya.


"Radit,aku duluan ya,"Rio berusaha menetralkan perasaannya.


Sementara Radit hanya mengangguk,memandang keduanya yang semakin menjauh menuju mobil Rio yang terparkir di depan pagar sekolah.


Hanya ada keheningan,Cinta yang takut berbicara.Apalagi setelah kejadian tadi.Sedang Rio fokus menyetir,namun pikirannya berkelana sampai mana-mana.


Ciiiiiiiiiit...."Astaghfirulloh."Teriak keduanya.


Hampir saja ia menabrak seorang pejalan kaki yang hendak menyeberang karena tidak melihat rambu-rambu yang terpasang di pinggir jalan.


"Apa yang kau pikirkan Rio,berhati-hatilah."


Diam saja tanpa menjawab dan tak bicara sepatah katapun Rio melajukan mobilnya hingga sampai di depan rumah Cinta.Seperti biasa ia membukakan pintu untuk Cinta."Aku pergi dulu,"ucap lalu pergi.


Sementara Cinta yang merasa tidak enak mungkin juga takut terjadi apa-apa dengan Rio mengingat tadi saat di jalan hampir saja menabrak pejalan kaki merogoh handphonenya yang berada di dalam tas.Segera ia mengetik sebuah pesan.


"Maaf Rio,apa yang kamu lihat tadi itu karena Radit sedang menolongku saat aku akan terjatuh,jadi aku harap kamu tidak berfikir yang bukan-bukan tentang kami."


Pesan terkirim,namun belum di buka oleh Rio.


Sementara di sana,Rio kembali ke perusahaan.Melewati beberapa karyawan yang juga baru kembali dari istirahat,mereka membungkukkan badan saat atasannya melintas.


Deeerrt deeerrt.


Ponselnya bergetar,tangan kananya merogoh handphone yang berada dalam saku sebelah kananya."Cinta,"gumanya setelah melihat siapa yang mengirim pesan.Tak ingin membuka pesannya Rio memasukkan kembali kedalam saku celana.


Menghela nafas kasar sembari duduk di kursi kebesarannya.Di depannya di atas meja sudah ada setumpuk berkas-berkas yang harus di tanda tangani juga harus ia periksa kembali.Sebentar Rio membuka berkas itu satu persatu kemudian ia mengusap wajahnya,merasa tak bisa konsentrasi.Di rogohnya kembali handphone itu,perlahan membuka sebuah pesan dari Cinta tadi.Ia menyugar rambutnya kebelakang,dengan kedua siku bertumpu pada meja dan tangannya masih berada di kepala,meremas rambutnya seakan merasa begitu kesal dengan apa yang ia lihat.Padahal Cinta sudah menjelaskan,namun ia masih tak rela jika ada laki-laki lain menyentuh Cinta barang sedikitpun."Apa aku berlebihan? aku rasa tidak,semua laki-laki pasti akan sama seperti aku."


Sementara di sana di sebuah perusahaan besar,Radit masih memegangi dadanya dengan tangan kirinya."Kenapa dengan dadaku,kenapa masih deg-degkan begini.Bukankah aku dulu hanya terobsesi padanya,lalu ini apa?hati terasa bergetar saat di dekatnya tadi.Aaah itu calon istri orang yang sudah menolongmu Radit?"geramnya pada diri sendiri.


Sementara cinta terus memandangi benda pipih yang berada di tangannya.Pesan yang ia kirim beberapa waktu yang lalu sudah di baca.Berharap jika pesannya itu akan Rio balas,namun hingga kini belum juga ada balasan.Cinta memandangnya sendu,inikah yang namanya cobaan akan menikah.Ia menghela nafasnya panjang.


****


Sore hari selepas sholat ashar,Cinta duduk termenung di bibir ranjang memandang ke luar dari jendela kamarnya yang terbuka lebar.Terlihat dua kupu-kupu tengah hinggap di dedaunan kering kemudian datang satu kupu lainnya.Hingga kupu-kupu itu pun terbang menuju bunga Sepatu miliknya yang sudah terlihat mekar sempurna.


"Aku sudah menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi,tapi kenapa Rio juga enggan membalas pesanku"gerutunya.Di lihatnya kembali benda pipih itu dan masih tetap sama.


Semilir angin sore tidak membuatnya beranjak dari tempat itu,bayangannya menerawang jauh entah apa yang ia pikirkan.Mungkin menunggu chat dari Rio atau yang lain,hanya dia yang tahu.Hingga mentari mulai tenggelam bersamaan dengan datang sang malam Cinta mulai beranjak menutup jendela kamar.Membasuh diri dengan air wudhu setelah mendengar adzan maghrib.


Baru sadar jika yang ia pikirkan tidaklah ada gunanya,hanya akan membuang-buang waktu yang seharusnya ia gunakan untuk kegiatan bermakna.Sajadah terbentang sebagai alasnya menghadap sang pencipta.Ya,jika Rio tidak mempercayainya maka masih ada Tuhannya yang percaya dengannya.


Sementara Cinta menunaikan kewajibannya,dering ponsel berbunyi nyaring.


Bersambung...