
...Happy Reading...
Malam-malam di hotel itu pun terlewati begitu saja, tiada yang special bagi Hanny dan Jeremy maupun bagi Nicholas dan Alisya, hingga akhirnya pagi pun menjelang.
"Alisya, sholat subuh yuk?"
Hanny lebih dulu bangun pagi ini dan ingin mengajak Alisya untuk sholat berjamaah, karena itu sudah menjadi kebiasaan mereka saat tinggal di pondok pesantren.
Entah mengapa tidur Alisya malam ini sangat nyenyak sekali, padahal biasanya dia lah yang selalu membangunkan Hanny untuk sholat subuh terlebih dahulu.
"Hmm."
Tuing!
Dan saat kedua mata Alisya terbuka, betapa terkejutnya dia saat wajah Nicholas berada tepat dihadapannya, walau berada ditempat yang berbeda, karena Nicholas sengaja menggeser sofa itu tepat disamping ranjang milik Alisya.
"Astagfirullahal'adzim...ehh.." Teriak Alisya yang kembali dibuat terkejut saat satu tangannya berada didalam genggaman tangan Nicholas.
"Kamu sudah bangun?" Sapa Nicholas dengan wajahnya yang masih terlihat mengantuk.
"Lepaskan tanganku!" Alisya langsung menarik tangannya dan bangkut dari sana.
"Kalau aku lepas, tanganmu kemana-mana lagi nggak?" Ledek Nicholas dengan senyuman tipisnya.
"Emang tanganku kemana?" Alisya tidak mudah percaya begitu saja.
"Ke seluruh tubuhku inilah, fuuh!" Ucap Nicholas yang seolah mendramatisir, bahkan sengaja meniup wajah Alisya yang masih merasa tidak percaya.
"Kamu jangan mengada-ada ya, aku tidak mungkin melakukan hal itu, tapi bukannya tadi malam aku yang tidur di sofa itu kan?"
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, itu si Bodat sudah teriak-teriak diluar, bukain sana sebelum habis pintu itu ditelan olehnya."
"Alisya? Apa kamu belum bangun? Kalian ngapain didalam woi!" Hanny semakin mengeraskan suaranya.
"Iya... aku sudah bangun." Alisya langsung berlari untuk membukakan pintu kamar itu.
"Kamu nggak diapa-apainkan sama si Bandit kan?" Hanny langsung menyibak hijab Alisya untuk memeriksa lehernya apa ada yang berwarna memerah atau tidak pikirnya.
"Hei... jangan salah, malah dia yang ngapa-ngapain aku?" Nicholas langsung protes saat mendengarnya.
"Benarkah?" Hanny langsung melongo saat menatap wajah Nicholas.
"Aish... jangan percaya kata-katanya, orang kami tidur ditempat terpisah kok."
"Tapi kita bersebelahan, bahkan kalau tanganmu tidak aku pegang, aku rasa perjaka ku sudah hilang pagi ini."
"Alisya, benarkah itu?" Hanny masih belum bisa percaya dengan ucapan musuh bebuyutannya itu.
"Bohong, sudahlah jangan hiraukan dia, ayok kita sholat jamaah saja." Ajak Alisya yang memilih menghindar saja, terlepas itu benar atau tidak, yang pasti untuk saat ini dia ingin menghindarinya dulu.
"Tapi?"
"Sudahlah, siapa yang jadi imamnya?"
"Kalau suami aku yang jadj imam, kamu keberatan nggak?" Hanny mencoba meminta persetujuannya terlebih dahulu.
"Ya enggaklah, imam seorang pria itu lebih utama, ayoklah!" Alisya langsung mengekori langkah Hanny.
"Ikut!" Teriak Nicholas yang langsung mengunci pintunya dan mengikuti dua wanita itu ke kamar sebelah.
Terima kasih Tuhan, hal seperti inilah yang aku impikan sejak dulu, mendapatkan jodoh yang baik, teman-teman yang baik dan bisa menemaniku untuk selalu berada dijalan-Mu.
Betapa bahagianya Hanny saat bisa menjalankan sholat berjamaah dengan di imam i oleh suaminya bersama kedua sahabatnya.
Apalagi saat Hanny mencivm tangan Jeremy setelah sholat subuh itu berakhir, seolah hatinya tersentuh dan teraliri air sungai yang sejuk dari Surga, rasanya sungguh tidak tertandingi oleh apapun, karena kebersamaan seperti inilah yang dia impikan selama ini, tidak sunyi dan sepi seperti masa lalunya yang kelam.
Mentari pun mulai muncul memamerkan sinarnya yang berwarna orange dan seolah menemani empat makhluk ciptaan Tuhan yang sedang menikmati secangkir kopi dan roti bakar disaat cuaca masih terasa dingin.
"Hari ini kita lanjut liburan atau pulang saja?" Tanya Jeremy setelah menyeruput kopi hitam miliknya.
"Liburan!"
"Pulang!"
Teriak Nicholas dan Alisya secara bersamaan namun beda jawaban.
"Alisya, nggak kompak banget sih kamu, hidup itu harus kita nikmati dan liburan juga salah satu cara kita bersyukur, jangan terlalu serakah dengan yang namanya materi, jangan terlalu menyiksa dirimu untuk terlalu sibuk dengan duniamu, mengerti kamu?" Nicholas langsung menatap wajah Alisya dengan tajam.
"Bersyukur itu memang perlu, tapi bukan berarti hanya liburan saja dong, banyak diluaran sana yang membutuhkan bantuan materi dari kita, daripada dihabiskan untuk liburan, lebih baik diberikan kepada mereka yang memerlukan, karena tidak semua orang beruntung di dunia ini seperti anda bapak Nicholas yang terhormat." Alisya tidak mau kalah dalam menjawabnya.
"DIAM!"
Lain dengan mereka, lain pula dengan pasangan suami istri sah ini yang berteriak secara kompak untuk menengahi perdebatan sengit diantara mereka.
"Tapi bos, masak cuma nginep satu malam aja?" Nicholas mulai membela diri.
"Tapi aku dan Hanny juga harus kuliah, kita sudah absen hampir satu minggu tidak ke kampus." Alisya pun sama.
"Aku hanya meminta persetujuan dengan istriku, kalau kalian terserah saja." Ucap Jeremy yang juga binggung harus membela siapa.
"Sudahlah, jangan ribut! masalah seperti itu saja diribetin sih, kalau cuma mau liburan di kota kan juga bisa, bukan cuma disini saja kan, jadi yang mau kuliah biar kuliah, yang mau liburan ya silahkan liburan, gitu aja kok rempong!"
"Istriku memang paling bijak, kiss dulu sayang, biar semangat pagi ini." Jeremy langsung menggeser kursinya mendekat ke arah Hanny.
"Nggak!" Tolak Hanny mentah-mentah.
"Sayang, kenapa sih? kita udah sah, pelit banget sama suami sendiri, sini nggak! atau aku paksa nih?" Ancam Jeremy seketika, sudah tadi malam berlalu sia-sia, hari ini pun tidak mendapatkan imun pagi.
"Hmpth... aaaaa... nggak mau aku bekas bibiir si Bandit!" Hanny langsung membungkam mulutnya sendiri.
"Heh?"
Diantara mereka semua, Alisya lah yang merasa terheran-heran sendiri, dia langsung menajamkan pandangannya, bukan karena iri melihat mereka yang akan bercivman tapi karena mendengar kata bekas 'si Bandit'.
"Sayang sudahlah, jangan bahas itu lagi."
"Eherm... maaf permisi, saya mau kembali ke kamar saja kalau begitu." Nicholas sebagai tersangka utamanya memilih kabur saja pikirnya.
"Tunggu, maksud kamu gimana Hanny!" Rasa kepo Alisya lansung menjalar di tubuhnya.
Aish sial... kenapa lagi si Bodat itu harus mengatakannya sekarang, mau ditaruh mana mukaku yang tampan ini?
Nicholas langsung mengepalkan kedua jemarinya dengan kesal, hal yang seharusnya mereka tutupi kenapa bisa terbongkar pikirnya.
"Alisya ternyata foto yang hari itu kita lihat, adalah foto mereka berdua." Jawab Hanny yang memang tidak pernah bisa berbohong dengan Alisya.
"APA!"
Antara terkejut namun ingin tertawa juga, tapi selebihnya dia merasa lega, berarti Hanny bukan menjadi istri kedua yang harus menderita.
"Cukup, wahai adinda Alisya, kakanda melakukan hal itu karena terpaksa harus menggantikan sahabatmu yang kabur di acara pesta pernikahannya, kamu tahu itu kan?" Nicholas berusaha berbicara semanis mungkin.
"Okey, yang jadi pertanyaan saya wahai kakanda, mempelai wanita yang bercivman di foto itu apa juga anda, atau ada pemeran pengganti yang lainnya?" Tanya Alisya yang tidak mau kalah.
"Pffftthh..!"
"Itu... emm... itu anu Alisya.."
"Kenapa kamu masih bertanya tentang itu Alisya, sudah pasti dialah orangnya, sampai sekarang aku masih tidak bisa membayangkannya, hei Bandit, ternyata kamu bisa tampil modis dan cantik juga ya, saat itu buntut ori atau pasangan Bandit, haha." Ledek Hanny seketika.
"Sayang, jangan begitu, itu kan juga salahmu." Jeremy tidak tega juga melihatnya.
"Iya mas, aku mengaku kalau salah, tapi jangan minta kiss dong, aku jadi kebayang wajah si Bandit itu."
"Aaaa... tapi aku butuh suntikan energi sayang." Rengek Jeremy kembali.
"Ya sudah sama Nicholas saja sana, kalau sama dia aku rela, asal bukan dengan yang lainnya, hihihi."
"Pffftthhh... hih.. geli aku tuh, aku mau beres-beres ke kamar aja lah, kita balik ke kota aja yan Han." Alisya ikut menggedikkan kedua punggungnya.
"Alisya, tunggu!" Teriak Nicholas yang merasa terdzolimi.
"Jangan mendekat, aku ikut merinding saat melihat anda pak Nicholas!"
"Alisya, aku juga tahu syariat agama kita, tidak boleh suka dengan sesama jenis, karena Tuhan sudah menciptakan kita berpasang-pasangan, jadi nggak mungkin lah aku menaruh rasa dengan bos Jeremy, itu hanya kepepet saja Alisya!" Nicholas melakukan pembelaan.
"Mau kepepet juga terasa kan, dih... aku sih ngeri bayanginnya aja!" Alisya langsung berlari saat menghindarinya.
"Awas kamu Alisya!" Akhirnya Nicholas memilih mengejar Alisya dan meninggalkan pasangan suami istri itu.
Sebenarnya Nicholas yang lebih merasakan tekanan batin akan hal itu, tapi dia pura-pura tegar dan melupakannya, namun ternyata mereka malah sengaja mengungkit masalah itu lagi, sehingga perutnya mulai terasa mual kembali.
Dan akhirnya tinggallah Jeremy dan Hanny yang masih duduk dibalkon itu sambil menikmati lautan lepas yang membentang dibawah sana.
"Sayang, kasihan tau Nicholas?" walau bagaimanapun juga itu karena perinah dia.
"Kenapa? mas nggak tega sama dia, mas nggak beneran itu kan sama dia?"
"Itu apaan sih yank, dih.. Gemes aku!"
Jeremy langsung mengangkat tubuh istrinya dan mulai memangkunya.
"Lagian mas ada-ada aja, kenapa harus ada adegan foto civman segala, mas kan bisa menolaknya, bukan malah menikmati dan mengabadikannya, wah.. besok aku carilah itu foto, aku copy banyak-banyak biar jadi reminder!"
"Sayang, kamu ini lah, makanya hilangin bekasnya, sini kiss!" Jeremy kembali memaksa istrinya.
"Aku tuh kalau lihat bibiir mas tuh langsung terbayang wajah si Bandit, jadi gimana ya, nggak usah aja deh ya!" Ucap Hanny yang terus saja mengelak.
"Enak saja!"
"Hmpth!"
Disaat mereka hanya berduaan saja disana, Jeremy langsung saja menyambar bibiir Hanny dengan rakusnya, bahkan tanpa memberi cela, agar Hanny tidak bisa menghindar darinya.
Tidak cukup sampai disitu saja, tangan Jeremy bahkan sudah kelayapan kesana kemari, membuat tubuh Hanny seolah menggila karena merasakan sentuhan demi sentuhan dari sang suami.
"Mas.. eugh, jangan disini."
"Sayang, janji dengan mas ya, mulai detik ini hanya mas yang boleh menjamah tubuhmu." Jeremy memeluk tubh istrinya dengan erat, seolah tidak rela tubuh istrinya terbagi lagi.
"Maafkan aku mas."
"Aku ingin kamu berjanji, bukan meminta maaf."
"Selama aku masih menikmati sisa-sisa nafas di muka bumi ini, aku hanya ingin kamu yang menyentuhku mas, aku cuma ingin kamu saja, bukan yang lainnya."
"I love you sayang."
"Love you too, tapi tetap saja aku harus meminta maaf karena aku tidak bisa memberikan keperawanan untuk mas, atau mas mau aku operasi?" Apapun akan Hanny lakukan jika memang itu keinginannya.
"It's okey, buat apa harus operasi segala kalau nantinya juga aku jebol, buang-buang waktu saja, lagian aku juga nggak rela jika ada oranglain yang menyentuh milikmu itu lagi."
"Yang paling penting rasa diakhirnya, bukan hanya awalannya saja, tapi kalau nanti mas tidak seperti mereka yang berpengalaman nggak papa ya?"
"Apaan sih mas, nggak usah ngomong begitu deh."
"Ke kamar yuk?"
"Gendong!"
"Uluh-uluh, sini mas gendong, tapi sambil kiss!" Jeremy langsung merentangkan kedua tangannya dengan mesra.
"Nggak mau!"
"Apa sih yank, kamu sudah menghilangkan bekas dari si Bandit kan tadi?"
"Hehe... Bercanda!"
Akhirnya mereka bercivman sampai kedalam kamar mereka tanpa jeda sama sekali, bahkan sampai diatas ranjang yang sidah akan bergoyang.
"Kalau begitu akan aku tunjukkan keperkasaanku mulai sekarang, kamu jangan meremehkan aku hanya karena kamu lebih berpengalaman, okey."
"Nice." Jawab Hanny dengan santainya.
Jeremy langsung saja menindih tubuh istrinya dan langsung melucuti semua pakaiannya dan mulai mengarahkan benda pusakannya tepat disasaran.
"Loh, kok susah sayang? apa kamu sudah kembali perawan?"
"Pffthh.. kalau nggak operasi mana bisa?" Hanny hanya tersenyum saat menanggapinya.
"Atau mungkin aku kurang usaha ya sayang, atau harus minum jamu dulu, atau ini gara-gara ulah kamu tadi malam?"
*Ya ampun, polosnya suamiku ini, tapi aku harus mengimbanginya, jangan menunjukkan kegilaan diri sendiri kalau dia tidak memintanya*.
"Ya enggaklah, pelan-pelan saja sayang, lakukan pemanasan dulu?"
"Apa perlu menggunakan penghangat ruangan biar cepat panas, pagi ini memang dingin sekali, bahkan berkabut diluar sana."
*Ya ampun aku pengen ketawa, tapi dosa nggak ya*?
"Mau nyot-nyot nggak?"
Hanny memilih menuntun suaminya tanpa harus memamerkan keahliannya.
"Mau!" Jawab Jeremy dengan cepat!"
*Ya Tuhan, maafkan hambamu, karena jadi suka yang polos-polos seperti ini, karena lebih greget jadinya*.
"Sini."
Hanny mengusap kepala suaminya sambil terus menahan senyuman.
"Sayang, aku mau yang lainnya." Setelah beberapa saat disana dia kembali menjalar turun kebawah.
"Okey, mas mau diatas atau dibawah?"
"Atas dong, aku kan pria, masak maunya cuma dibawah aja, LEMAH!" Jawab Jeremy dengan tingkat kepercayaan diri penuh.
"Good!" Hanny hanya terus mengemong ucapan suaminya itu dengan seutas senyuman.
Akhirnya Jeremy mulai mencari posisi yang wuenak dan pas, hingga akhirnya dia bisa memompa sesuatu dibawah sana, tapi...
"Yank, kenapa nggak goal-goal? aish... sampai berkeringat aku, masak menggiring bola ke kanan dan ke kiri meleset terus, ada lubangnya nggak sih!" Umpat Jeremy asal, karena tendangannya selalu saja meleset tidak tepat sasaran, dan hanya bisa membuat Hanny meringis menahan perih diarea sensitifnya karena Jeremy melakukannya dengan sedikit paksaan tanpa pemanasan disana.
"Kenapa, sudah menyerah?" Tanya Hanny yang sebenarnya juga sudah tidak kuat menahannya.
"Belum sih, tapi aku mau istirahat dulu, nanti lanjut lagi yank, biar terbuka dulu jalannya." Jeremy langsung membanting tubuhnya diatas ranjang mewah itu.
*Dia kira ada penutupan jalan apa, bisa terbuka sendiri nantinya? orang p**emanasan aja nggak bener, gimana mau basah, nggak tau apa kalau aku itu rajin olahraga yang bikin sempit, dia fikir aku level murahan apa? istrimu ini high quality sayang, biar second tapi rasa original tau*!
"Pffttth... boleh aku yang diatas?" Tanya Hanny dengan senyuman yang masih tertahan sejak tadi.
"Terserah deh."
Setelah kata 'terserah' terucap tanpa menunda waktu lagi Hanny langsung menunjukkan aksinya.
"Sayang eugh... Kamu?"
Ternyata apa yang Hanny lakukan diluar dugaannya, sehingga benda pusaka itu menemukan jalannya dan berjalan lancar tanpa hambatan.
"Ini belum seberapa, mau yang luar biasa lagi nggak?"
"Mau banget!"
Jeremy memilih pasrah saja dan terus menikmati permainan dari istrinya, sehingga ruangan hotel itu dipenuhi suara adu desa han dan jeritan yang exsotis.
Dengan tanpa cinta saja, Hanny bisa membuat para lelaki hidung belang itu merasa ketagihan, apalagi saat ini Hanny melakukan tugas itu atas dasar rasa cinta kepada sang suaminya, sudah pasti sensasi dan feel nya sangat terasa.
Ekspresi Jeremy kali ini sudah tidak bisa di lukiskan lagi, antara takjub tapi juga terkesan sangat menikmati, hilang sudah kesadarannya, seolah dia dibawa untuk menari-nari ke Surga dunia oleh istri tercintanya.
Dan dibelakang pintu mereka, ternyata ada dua orang manusia yang duduk berjongkok sambil memejamkan kedua matanya.
"Astagfirulloh... astagfirulloh... astagfirulloh... Allohu Akbar!" Ucap Alisya berulang kali sambil mengatur deru nafasnya yang terus naik turun.
"Alisya, kita balik ke kamar aja yuk?" Nicholas yang berjongkok disampingnya sudah tidak tahan lagi saat rudalnya tumbuh dan terjepit dibawah sana.
"Tapi aku butuh ponselku yang tertinggal diatas meja mereka saat sholat berjamaah tadi."
"Tapi mereka sedang itu... anu..."
"Bentar lagi mereka selesai kan, mereka udah teriak-teriak gitu kok?" Alisya menyimpulkan semuanya sendiri.
"Tapi?"
"Kita tunggu ya sebentar lagi, begitu mereka selesai aku ambil ponselnya."
"Tapi aku nggak tahan mendengarnya Alisya, kamu sendirian aja ya nungguin mereka disini." Nicholas sudan ngelu saat menahan sesuatu yang terjepit.
"Ngak mau, tutup telinga aja, temani aku dulu pak, sebentar lagi, sabar ya?" Pinta Alisya.
"Boleh aku minta satu syarat, aku janji nggak akan minta lebih setelahnya?"
"Apa?"
"Peluk aku?"
"Apaan sih pak, jangan modus deh!" Tolak Alisya seketika.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi saja!"
Grep!
"Tapi dosanya bapak yang nanggung ya!"
Daripada ketar-ketir disana sendirian, Alisya memilih memeluk tubuh Nicholas dari belakang saja.
"Kalau dosa termanis begini, siapa yang mau nolak?" Jawab Nicholas yang langsung menyandarkan kepalanya di pundak Alisya dengan senyuman.
"Hah?"
"Peluk yang kenceng!"
"Ckk... Baiklah!"
Akhirnya Nicholas mendapatkan bonus tambahan yang tidak pernah dia duga selama ini, hanya demi sebuah ponsel yang tertinggal didalam kamar pasangam halal itu, dan Alisya seolah lupa dengan apa yang menjadi pedomannya.
Jeremy said:
Lemah sekali iman dan imin kamu Alisya!
Tak perlu menjerit karena sakit, tak perlu cemburu hanya karena kamu tidak mampu, tahukah kamu bahwa kebahagiaan tidak pernah tertukar?
Meski hidup dihadapkan pada pilihan yang sulit, tapi percayalah bahwa Allah SWT selalu punya cara tersendiri untuk membuat kamu Bahagia.