
...Happy Reading...
Naluri sebagai seorang ayah yang Ridwan rasakan terhadap sesosok wanita yang kini duduk disampingnya, memang sangat kuat.
Berulang kali dia menghela nafas untuk sekedar menutupi rasa sakit yang sudah puluhan tahun lalu dia coba pendam dalam-dalam, namun kenyataannya sampai saat ini bahkan masih sangat membekas dihati.
Banyangan tangisan dan wajah cantik yang pernah bertahta dihatinya kala itu, kembali berseliweran di pikirannya, seolah bayang-bayang diri yang dilumuri oleh dosa itu kembali bermunculan saat ini.
Namun sebuah hinaan dan ancaman dari pria yang menjadi rivalnya kala itu, dan juga ayah dari wanitanya saat itu, seolah masih bergemuruh dan menyesakkan dada.
"Emm... Om, nama saya Hanny Claire, saya teman dari putri Om." Hanny memulai membuka perkataan, karena mereka berdua terdiam cukup lama disebuah bangku kecil didekat taman di pinggir jalan.
Aku tahu, bahkan wajahmu sangat mirip dengan mamamu!
"Hmm.."
Ridwan hanya menggangukkan kepalanya dan belum mau menatap wajah Hanny, namun hatinya semakin yakin, bahwa wanita disampingnya itu adalah buah hatinya yang tidak pernah dia lihat selama ini.
Aduh.. gimana ngomongnya ya? dia mau marah atau gimana sih? kok malah jadi diem-dieman gini? kirain tadi mau mencak-mencak atau marah-marah sama aku gitu, ehh... kok malah tegang begini suasananya?
Hanny bingung harus memulainya darimana, padahal dia hanya ingin mengeluarkan jurus rayuan mautnya yang sudah lama dia tinggalkan secara empat mata kepada Ayah Alisya, agar tidak membocorkan aibnya, namun kini wajah ayah dari sahabatnya itu malah terlihat sedih.
"Om.. sebelumnya saya ingin meminta maaf tentang apa yang Om lihat saat itu, tapi bukankah sebagai seorang istri yang baik itu harus menuruti permintaan suaminya kapanpun dan dimanapun kan Om?" Hanny mencoba membela diri, karena memang itu kenyataan yang dia alami, jika dia menolak bukannya tidak baik pikirnya.
"Kamu sudah menikah nak?"
Namun pertanyaan Ridwan berbeda jauh dari perkiraan Hanny saat ini, karena Hanny sempat berfikir dia akan mendapatkan ceramah panjang setelah ini.
"Sudah Om.. dan pria yang saat itu satu mobil dengan saya adalah suami sah saya, apa Om perlu bukti lain, besok bis akok saya bawakan buku nikah kami dan suamiku yang tadi jalan dibelakang aku itu loh Om." Hanny mencoba memperjelas hubungannya dengan Jeremy, namun lagi-lagi jawaban dari Ridwan membuatnya merasa terheran-heran.
Maaf nak, kami pasti kesulitan saat mencari wali nikahmu dulu.
"Hmm... selamat ya nak." Ridwan ingin menampilkan sebuah senyuman, namun realitanya sangat terlihat, jika itu adalah senyum paksaan.
Hah? kok malah ngucapin selamat sih, ini gimana alurnya, woah.. ayah Alisya ini emang lain daripada yang lain.
"Iya, terima kasih Om, emm... tapi yang ingin saya bicarakan dengan Om saat ini bukan acara pernikahan itu." Ucap Hanny yang ingin mengembalikan obrolan mereka ke topik semula.
"Apa selama ini kamu hidup dengan benar nak? apa suami kamu menjagamu dengan baik? dan memperlakukan kamu dengan baik juga?" Beberapa kata tanya langsung terlontar kepada Hanny, yang kini mampu membuat kedua alisnya terangkat ke atas.
Loh? piye toh ikih?
"Maksudnya gimana sih Om?" Hanny masih mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin Ayah sahabatnya ini sampaikan.
"Kamu sehat? apa kamu masih kuliah sekarang, atau sudah sarjana?"
Lagi-lagi Hanny dibuat terbengong oleh pertanyaan yang keluar jalur menurutnya.
Hah, kok malah kayak reuni sih ini, maksudnya apa coba?
"Emm... baik sih Om, semua baik, apalagi mas Jeremy dia begitu menyayangiku melebihi siapapun di dunia ini." Dia mencoba mengikuti kemauan pria setegah baya itu.
"Alhamdulilah kalau begitu, sekarang kamu masih tinggal dengan keluargamu, atau sudah dengan suamimu?" Rasa kekhawatiran sebagai seseorang yang harusnya bertanggung jawab kepadanya seolah sedikit berkurang saat mendengar jawaban Hanny tadi, ketakutan dan bayangan hitam saat ini seolah sedikit memudar, walau rasa bersalah itu masih terasa besar dihatinya.
"Sebentar Om, ini kok aku malah kayak sedang diwawancara sih Om, emm.. begini saja Om langsung ke intinya saja ya, sebelumnya saya minta maaf sekali dan mohon dengan sangat-sangat, tolong jangan bicarakan hal yang kami lakukan di mobil kemarin didepan mereka semua ya Om, karena itu tidak kami rencanakan kok Om, itu murni kekhilafan kami, jadi sekali lagi saya mohon maaf." Hanny bahkan menangkupkan kedua tangannya dan memasang wajah memelas.
"Fuuh... Ayah... emm... maksudnya, sebenarnya aku tidak bermaksud menyebarkan aib kalian berdua, tapi tadi aku cuma sedikit kaget saja." Dia hampir saja kelepasan bicara, sebisa mungkin dia ingin menjaga perkataannya dengan hati-hati agar tidak langsung melukai hati Hanny.
"Benarkah, wah... terima kasih, Om ternyata tidak seburuk yang aku kira." Karena merasa lega, tanpa sengaja Hanny menarik tangan Ridwan dan menjabatnya secara paksa.
Serr!
"Siapa nama ibu kamu?" Senyum bahagianya langsung terbit, saat dia bisa menyentuh langsung kulit dari darah dagingnya.
"Kenapa Om tanya soal ibuku?"
"Emm... kamu teman terdekat dari Alisya kan?" Ucap Ridwal sambil mengeratkan pegangan tangan Hanny.
"Iya."
"Jadi tidak masalah kan jika aku ingin tahu tentang keluargamu?"
"Owh... begitu, tentu saja, nama ibu aku Diana."
"Diana siapa?"
"Diana Claire." Jawab Hanny sambil menarik jemarinya, dia merasa gugup saat tangannya dipegang terlalu erat, dia tidak ingin pikiran kotornya kembali menyerang dirinya yang sudah taubat dalam penjajakan terhadap buah yang sudah terlalu masak.
Degh!
Sudah aku duga.. kamu memang benar-benar putriku?
"Eherm... kalau nama Ayah kamu siapa?"
"Emm... Ayah saya sudah lama mati."
Saat nama Ayah ditanyakan kepadanya, mood nya langsung memburuk bahkan dia langsung menggeser tubuhnya menjauh dari pria disampingnya itu.
Duar!
"Mm.. ma.. mati?" Jantung Ridwan seolah terhunus pedang yang dilumuri bara api, dia tidak menyangka jika akan dibenci sebesar itu oleh darah dagingnya, bahkan sampai dianggap sudah mati.
"Iya, mati dari duniaku dan pikiranku Om." Kebencian dihatinya seolah muncul saat mengingat tentang kisah adanya dirinya.
"Kamu yakin itu nak? lalu apa kamu punya ayah sambung lagi?" Ridwan mencoba untuk kembali bersikap tenang.
"Maaf Om, sepertinya pembahasan kita cukup sampai disini saja, saya permisi." Hanny memang sama sekali tidak berminat mengobrol banyak dengan orang yang tidak dia kenal sebelumnya, apalagi sudah membahas tentang keluarga, dia seolah merasa alergi sendiri.
"Jika Om hanya ingin menanyakan siapa Ayahku dan keberadaannya kini, maaf saya tidak berminat untuk menjawabnya, saya punya privasi dan saya berhak menentukan pilihan untuk menjawab atau tidak atas pertanyaan dari Om itu." Hanny langsung memberitahukan batasan-batasan darinya.
"Hanny, maaf jika perkataanku menyinggungmu, tapi aku hanya memastikan jikalau teman putriku dalam keadaan baik-baik saja."
Ridwan mencoba mengontrol perasaannya, hatinya pun sebenarnya sangat kacau, namun dia harus kuat pikirnya, kalau tidak sekarang dia mengatakan hal ini, kapan lagi, karena orang tidak akan pernah tahu sampai berapa umurnya di dunia ini, dia tidak ingin jika suatu saat nanti pergi meninggalkan dunia ini tanpa meminta maaf terlebih dahulu kepada anak pertamanya yang tidak tahu apa-apa tentangnya.
"Apa urusan Om? apa jika keluargaku hancur berantakan lalu Om melarang aku berteman dengan Alisya?" Hanny malah berpikiran tentang hal lain, sedari dulu dia memang merasa insecure jika sudah membahas soal keluarga.
"Bukan begitu nak, huft... gimana aku mau ngejelasinnya ya?" Ridwan melepas pecinya sejenak sambil berpikir.
"Tidak perlu Om jelaskan, mungkin Om berfikir jika Alisya berteman dengan anak dari keluarga broken home sepertiku, dia akan terbawa dalam lingkungan yang buruk bukan." Hanny mengingat bahwa keluarganya memang berantakan, walau lebih tepatnya hanya dirinya lah yang berantakan, karena seolah tidak dianggap dan tidak diakui.
"Bukan begitu nak Hanny, dengarkan dulu penjelasanku."
"Jika Om memang sangat takut aku akan membawa dampak buruk bagi Alisya, baiklah... aku akan menjauh darinya, biar hati Om merasa tenang." Hanny langsung bangkit dari tempat duduknya, dan pergi adalah hal yang menurutnya terbaik bagi semua.
"Ayah.. apa-apaan ini, sampai kapan pun juga Hanny adalah sahabat terbaikku, bahkan dia sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri, dia banyak membantuku Ayah, bahkan Hanny yang sudah melunasi hutang keluarga kita kepada Yoga, dan itu semua tanpa aku minta Ayah!" Tiba-tiba Alisya berlari mendekat dan merangkul lengan Hanny, dia memang sedari tadi menguping, walau suaranya kadang jelas kadang tidak karena terbawa angin.
"Karena.. huft.." Ridwan mengusap wajahnya terlebih dahulu sebelum dia mengakui sebuah kejujuran pahit itu. "Karena kalian memang saudara." Akhirnya dia mengatakan rahasia terbesar dihidupnya.
Degh!
"Maksud Ayah?" Alisya langsung terlonjak kaget.
"Maaf... maafkan ayah nak."
Ridwan tidak bisa lagi menahan air matanya, bibirnya bergetar, lidahnya terasa kelu, dia ingin menjelaskan semuanya, namun dia bingung harus memulainya dari mana dulu.
"Ayah punya anak selain aku? dan itu Hanny? Ayah tidak bercanda kan, ini tidak lucu Ayah?" Alisya seolah tidak ingin percaya dengan apa yang Ayahnya katakan, namun selama ini Ayahnya memang bukan tipe orang tua yang suka bercanda, bahkan saat mengobrol dengan keluarga saja dia hanya mengatakan hal yang penting saja.
"Tidak, kalian memang bersaudara, tapi beda ibu." Ucap Ridwan kembali sambil memikirkan bukti apa yang harus dia berikan agar mereka percaya, sedangkan dia memang tidak punya bukti apa-apa dari masa lalunya.
"Hah, kenapa Ayah tidak pernah cerita? jadi ibu itu istri kedua Ayah?" Tanya Alisya kembali.
"Huft... maafkan Ayah, disini Ayah yang salah, Ibumu memang hanya satu-satunya istri Ayah." Ridwan mengusap air matanya yang terus saja menetes. "Tapi Hanny sudah ada dirahim ibunya sebelum Ayah menikahi Ibumu." Ucapnya kembali.
Memang sangat sulit baginya untuk menjelaskan hal itu, namun menurut Ridwan, putri pertamanya memang harus tahu dan berhak tahu, walau urusannya dibelakang entah bagaimana nantinya.
"Apa? Jadi ayah menghamili wanita lain dan meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu?" Alisya yang melihat Ayahnya selama ini begitu lurus dijalan-Nya, tapi ternyata pernah keluar jalur sebelumnya dan itu sangat mengejutkan sekali baginya.
"Hmm... Maafkan Ayah, karena Ayah memang pernah menjadi Sang Pendosa."
"Tapi kenapa harus Hanny Ayah? apa Ayah tahu, betapa tersiksanya kehidupan Hanny gara-gara masalah keluarganya, apalagi jika sudah menyangkut tentang Ayahnya? astaga, aku tidak menyangka Ayah sekejam itu, Hanny bahkan sangat terluka karena sosok Ayah yang tidak mengakui keberadaanya, dan Ayah itu ternyata adalah Ayahku sendiri?" Alisya ingin sekali menggangap bahwa ini hanya sebuah mimpi, namun sayang, ini semua nyata.
"DIA BUKAN AYAHKU!" Teriak Hanny tiba-tiba dengan histeris.
"Hanny, Ayah bisa jelaskan semuanya." Ridwan mencoba menenangkan Hanny.
"AYAHKU SUDAH MATI!" Dia langsung menangkis tangan Ridwan yang ingin menyentuhnya.
"HANNY, AKU AYAHMU!"
"Cih.. Aku tidak perduli! semenjak aku lahir kedunia ini tanpa diadzankan olehnya, dia sudah mati bagiku!" Kebencian itu seolah kembali menguasai dirinya, apalagi dengan kenyataan bahwa pria inilah yang membuat hidupnya tersiksa selama ini, karena selama ini dia tumbuh tanpa kasih sayang orang tua seperti yang lainnya, bahkan dia selalu dibeda-bedakan dengan adek-adeknya.
"Hanny, ini tidak seperti yang kamu fikirkan, ini bukan kemauan Ayah nak."
"Alisya, aku pulang!" Hanny seolah tidak sudi mendengarnya lagi.
"Hanny, tunggu nak!"
"AKU BUKAN ANAKMU, MENGERTI!" Teriak Hanny dengan nafas yang sudah terengah-engah karena menahan emosi yang hampir saja meledak.
"Ayah tahu, Ayah memang bukan Ayah yang baik bagimu, kamu pantas membenci Ayah, tapi satu yang kamu perlu tahu, Ayah juga sangat menyayangi kamu, seperti Ayah menyayangi Alisya, hanya saja keadaan berkata lain nak, maafkan Ayah."
Air mata seorang Ayah kembali menetes, sungguh dia pun sangat merindukan anak pertamanya, sebenarnya dia ingin mencoba menemuinya namun dia seolah tidak menemukan jejaknya dan tidak punya biaya untuk menyewa seorang detektif atau semacamnya, karena untuk memberikan nafkah kepada keluarganya saat ini pun dia masih kekurangan bahkan sampai harus terlilit hutang.
"Alisya, baru kali ini aku sangat menyesal datang menemuimu." Umpat Hanny yang langsung melengos.
"Hanny?" Alisya pun bingung mau berbuat apa.
"Maaf jika setelah ini, mungkin kita tidak akan bisa seperti dulu lagi." Hanny tidak sanggup jika harus mengingat masa lalunya lagi, karena itu sangat menyakitkan baginya.
"Tapi Han?"
"Selamat tinggal."
"KAKAK!" Teriak Alisya tiba-tiba, dan itu mampu membuat Hanny menoleh sejenak.
"Jangan sebut aku seperti itu, aku tidak mau dan tidak pernah berharap menjadi kakakmu, apalagi anak dari Ayahmu itu, aku benci dia!"
Hanny langsung berlari dengan deraian air mata yang sudah tidak lagi bisa dia tahan, kenyataan ini begitu sulit dia terima, dia yang awalnya mencoba untuk mengubur semua kenangan buruknya dan menciptakan kenangan baru yang lebih indah bersama Jeremy, kini harus kembali tergores dengan pengakuan Ayah biologisnya secara tiba-tiba.
"Sayang, kamu kenapa?" Jeremy yang mencarinya langsung panik ketika melihat Hanny lari dari kejauhan.
"Mas, ayo kita pulang!" Teriak Hanny dengan suara paraunya.
"Iya, tapi jangan lari, kamu itu sedang----" Ucapannya terputus saat dia melihat wanitanya terlihat meringis kesakitan.
"Argh.. aduh perutku!" Rintih Hanny.
"SAYANG!"
Jeremy langsung berlari dan menangkap tubuh Hanny yang sudah mulai limbung, bahkan kedua tangan Hanny mencengkeram perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri dengan teramat sangat.
Hidup ini terkadang memang sangat rumit, namun harus tetap kita jalani, dan satu yang perlu kita ingat, bahwa Lampu Merah tidak selamanya akan berwarna Merah, karena masih ada lampu Kuning dan Hijau yang menanti.