
Tidak lama kemudian mereka meninggalkan rumah itu,menghindari omangan orang yang tidak-tidak.Sebenarnya tidak perlu juga menghiraukan perkataan orang yang tidak sesuai dengan faktanya.Namun terkadang manusia juga akan melakukan pembelaan jika itu tidak benar dan akan merugikan.Lain halnya jika hanya bicara saja.
"Apa kau sakit hati dengan ucapan mereka?"tanya Rio tiba-tiba.
Cinta menggeleng dan mengalihkan padangannya,menatap pepohonan yang menjulang di setiap pinggir jalan."Sudah terbiasa mendengar hinaan itu,bagiku perkataan mereka merupakan peringatan agar aku tidak kembali seperti dulu."
"Apa kau tahu jika ingatan Radit sudah kembali?"
Mendengar itu Cinta langsung menoleh,"apa yang kau katakan benar?"ada sedikit ketakutan dan itu terlihat dari wajahnya.
Rio mengangguk,"dulu dia begitu terobsesi padamu,entahlah sepertinya sekarang ini dia benar-benar telah berubah."Rio sekilas melihat Cinta,"telanglah Cin,aku akan selalu bersamamu.. menjagamu,"ucap Rio berusaha menenangkan Cinta.Cinta hanya tersenyum tipis.Setelahnya hening,Cinta menatap keluar jendela.Entah apa yang ia pikirkan,sedangkan Rio fokus mengemudikan mobilnya.
****
Sampai di pelataran panti Rio turun terlebih dahulu hendak membukakan pintu untuk sang kekasih,namun Cinta telah membukanya terlebih dahulu."Kenapa kau tak menunggu ku Cin?"
"Aku bukan tuan putri Rio,kenapa kau memperlakukan aku seperti itu."Setengah berlari terlebih dahulu menuju pintu karena masih gerimis.Di ikuti Rio di belakangnya.
"Kau tuan putriku dan aku akan selalu mempelakukanmu seperti itu,"Cinta geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Assalamualaikum,"ucap Cinta seraya membuka pintu utama panti.
"Waalaikum salam,"bu Ningsih bergegas menghampiri Cinta yang baru sampai."Looh ada nak Rio juga ya."
"Iya bu,"jawabnya.Mengambil tangan bu Ningsih dan mencium telapak tangannya.Begitu pun dengan Cinta karena sudah menjadi kebiasaannya semenjak Cinta mendatangi panti pertama kalinya.
"Buatkan minum dulu Cin calon suamimu ini,"titah bu Ningsih.
Beberapa menit kemudian Cinta membawa muk besar berisi teh hangat juga kue putu ayu sebagai pelengkapnya.Rintik hujan masih terlihat di luar sana,tetesan air hujan dari ujung genting terus membasahi anak tangga,Rio memperhatikannya dengan menyeruput tehnya di susul kue Putu ayu yang ada di atas piring ia masukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya.Merasakan manisnya kue itu dengan taburan parutan kelapa."Masih hangat kuenya bu?"
"Iya,beberapa menit yang lalu baru matang.Sengaja masakin buat Cinta karena Cinta suka sekali dengan kue itu,dan kebetulan kalian datang pas anget-angetnya."Mendengar penjelasan dari bu Ningsih,Rio sejenak berhenti mengunyah dan menatap Cinta.
"Iya,dulu waktu aku masih kecil ibuku juga sering sekali buat kue itu.Tapi bentuknya kecil-kecil dan aku yang selalu menghabiskannya.Setelah aku besar ibuku jarang buat lagi.Karena aku jarang memakannya."Rio mengangguk-angguk mendengar cerita Cinta.
Setelah 30 menit lamanya Rio berpamitan pulang,tidak enak jika berlama-lama karen ia juga tahu jika Cinta berbicara empat mata dengan bu Ningsih.Cinta mengantarnya hingga depan pintu,sampai mobil Rio sudah tak terlihat lagi ia baru masuk ke dalam.
"Bu,"panggil Cinta karena melihat bu Ningsih yang hendak berdiri.
"Iya Cin,"bu Ningsih pun duduk kembali.Wanita paruh baya itu menatap sendu wanita yang sudah seperti anaknya sendiri.Bagai seorang ibu kandung yang bisa merasakan jika ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh anaknya.
Cinta duduk di samping bu Ningsih,ia mengambil telapak tangan beliau dan menggenggamnya dengan erat.
"Kenapa Cin? apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"
"Ibu sudah menganggap Cinta seperti putri ibu sendiri kan?"bu Ningsih mengangguk sebagai jawabannya.Eksperi wajahnya seketika berubah muram."Jangan bicara jika itu akan membuat ibu kehilanganmu Cin."
Cinta tersenyum tipis."Rumah orangtua kandung Cinta sudah kembali bu."
"Dan kamu akan kembali ke rumah itu,begitu kan Cin?"sela bu Ningsih.
Cinta mengangguk,"bagaimapun rumah itu merupakan peninggalan mereka bu dan Cinta harus merawatnya."
Bu Ningsih menghela nafas kasar,kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Cinta.
"Pulanglah,itu rumah mu.Kamu berhak menentukan ke inginanmu Cin."
"Apa ibu marah?"
Bu Ningsih tersenyum tipis,beliau menggenggam telapak tangan Cinta kembali.
"Meski Cinta kembali ke rumah itu,Cinta janji akan sering-sering ke sini bu.Karena panti ini merupakan rumah kedua bagi Cinta.Jadi anggaplah Cinta sedang merantau dan akan datang kesini jika merindukan ibunya,"ucapnya dengan senyuman tulus.
Bu Ningsih tersenyum hangat,"janji,"ucap bu Ningsih dengan satu tangannya mengusap pipi Cinta lembut.
"Janji bu,"Cinta memeluk bu Ningsih tiba-tiba.
Bu Ningsih mengusap punggung Cinta."Mereka pasti akan merasa kehilanganmu Cin,pergilah dan katakan pada adhik-adhikmu perlahan.Aku yakin mereka akan mengerti,"bu Ningsih melepas pelukan itu dan mencangkup ke dua pipi Cinta dengan ke dua tangannya."Pergilah."
Tersenyum tipis,Cinta beranjak mencari semua adhiknya.Setelah ketemu Cinta mengajaknya bermain dan mengutarakan keinginannya.Awalnya mereka menolak,menolak jika Cinta akan pergi dari panti ini,Tapi karena Cinta berusaha menjelaskan dengan pelan-pelan,akhirnya mereka mengerti.
Kembali pada bu Ningsih,Cinta duduk di samping beliau yang tengah duduk termangu."Malam ini Cinta tidur dengan ibu ya?"
Bu Ningsih menoleh,menatap wanita yang baru sebentar tinggal bersamanya kini akan pergi.Beliau tersenyum,mengangguk menyetujui keinganan Cinta.
"Terima kasih bu,terima kasih untuk kasih sayang yang pernah aku rasakan di sini."Cinta memeluk erat bu Ningsih dari samping,menyandarkan dagunya di pundak beliau.
******
Pagi telah tiba,meninggalkan malam yang pergi berganti bersama bintang dan rembulan.Mentari bersinar terang setelah kemarin di guyur hujan hingga tengah malam.
Cinta sudah pergi,meninggalkan sejuta cinta untuk mereka yang di cintai.Bukan pergi untuk selamanya,pergi untuk kembali setelah rasa rindunya mulai tak terbendung.
Selepas sholat subuh Cinta sudah berkemas,dengan memesan taxi online Cinta membawa semua barang-barang miliknya dalam tas besar,sama seperti saat pertama kali ia datang untuk tinggal di panti.
1 jam telah berlalu,Cinta tengah duduk-duduk di sofa ruang tamu setelah membersihkan rumahnya dari debu-debu yang menempel
Sementara di panti,Rio datang dengan membawa mobil kesayangannya.Niat hati ingin menjemput Cinta,namun yang di temuinya hanya bu Ningsih seorang.Mengetahui Cinta sudah tidak ada,Rio pergi dengan tergesa.Melajukan mobilnya menuju rumahnya,namun sayang jalanan macet,hingga beberapa menit kemudian ia mengurungkan niatnya ingin ke rumah Cinta.Sebab menurutnya percuma,Cinta mungkin juga sudah berangkat kerja.
Rio memasukkan mobilnya ke dalam garasinya,kemudian masuk menyapa sang ibu yang sedang memasak."Looo katanya mau jemput Cinta,kok sudah di rumah?"
"Cinta sudah berangkat duluan bu,ke rumahnya pun percuma pasti sudah berangkat kerja,"jawab Rio sedikit kesal.
Ibunya tertawa kecil,"emang nggak janjian?"
"Enggak sih,"jawabnya singkat.
"Heeem itu salahmu,kenapa gak tanya dulu sebelum berangkat."ucap sang ibu sambil mencuci tangannya.
Rio pergi masuk kedalam kamarnya,mengganti kaos putih polosnya dengan baju berkerah lengan panjang serta jas senada dengan warna celana yang ia pakai.Siap berangkat ke kantor dengan wajah sedikit masam.
Sang ibu hanya geleng-geleng melihat raut wajah sang anak,baru pertama kalinya anaknya berkelakuan seperti itu.Semua karena wanita,karena cinta ia seperti anak kecil lagi.
"Semoga Cinta mampu melengkapi kekuranganmu Rio,harap sang ibu setelah kepergian Rio.
Bersambung...