Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
78. Pebinor?


...Happy Reading...


Suasana bandara international itu sudah mulai ramai, karena sudah beberapa penerbangan yang dijadwalkan terbang pagi ini.


Sedangkan tiga serangkai itu sudah stand by menunggu di restoran yang ada di bandara itu sambil menikmati secangkir kopi.


"Hei Bodat, mana Alisya, kenapa dia lama sekali?" Nicholas mulai protes setelah satu cangkir kopi dia tenggak agar rasa kantuknya hilang.


"Sabar Min, dia pasti dipepet terus sama suaminya!" Jeremy mencoba menenangkan asistennya.


"Apa anak buahmu sudah mendapatkan informasi tentang pria itu?" Tanya Jeremy sambil mengusap lengan istrinya yang selalu menempel dengannya.


"Sudah, tapi hanya informasi pada umumnya saja, tidak mendetail seperti yang aku harapkan!"


"Apa aku juga perlu mengerahkan anak buahku?"


"Itu lebih bagus mas, biar masalahnya cepat kelar, karena aku merasa ada yang janggal dengan pria itu mas."


"Nick, kamu hubungi anak buah kita!" Titah Jeremy.


"Owh iya ya, kenapa aku tidak kepikiran hal itu."


"Sekarang gue jadi percaya, kalau cinta bisa bikin orang bodoh!" Ejek Hanny sambil melirik Nicholas yang biasanya selalu dibanggakan oleh suaminya karena pekerjaannya.


"Enak aja, tapi siapa nama pria itu?"


"Yoga Pratama." Jawab Hanny dengan cepat.


"Ngomong dong dari kemarin, anak buahku kan teruji klinis!"


"Jadi elu mau meremehkan anak buahku?"


"Sudah sayang, ini bukan waktunya bertengkar, coba kamu cek keberadaan temanmu itu." Jeremy kembali menjadi penengah diantara mereka.


"Sepertinya kita harus cari tempat lain ini, Min.. Kamu ikut aku sekarang!" Hanny tiba-tiba langsung menegakkan tubuhnya.


"Kemana?" Nicholas langsung siap sedia.


"Ke kamar mandi wanita, buruan Alisya sudah on the way kesana."


Hanny langsung bangkit saat ada notifikasi dari nomor baru di ponselnya.


"Gila kamu, apa nggak ada tempat lain, kalau ada orang lain disana bisa digebukin aku, nanti mereka kira aku pria cabvl lagi!" Nicholas langsung menatap wajah Hanny dengan kesal, merasa tidak setuju dengan idenya.


"Diamlah, tidak ada pilihan lain!"


"Tapi aku masih ingin hidup bebas Bodat, kalau nanti aku diseret sama security trus dibawa ke kantor polisi gimana?" Pikiran Nicholas sudah terbang melalang buana, bisa hancur reputasinya nanti pikirnya.


"Tenang aja, gue udah bawa alat tempurmu!"


"Apaan!"


"Cepat pakai ini!"


Hanny langsung memberikan satu paper bag besar yang dia bawa tadi, semua sudah Hanny prepare sejak awal, rencana a dan b bahkan sudah dia siapkan.


"Hah, apa-apaan ini!" Kedua mata Nicholas terbelalak kaget saat melihat isi dalam paper bagitu.


"Mau ketemu sama Alisya nggak? soalnya pengawalan suaminya sangat ketat ini!" Hanny bersidekap sambil melirik wajah Nicholas yang seolah terkejut melihat barang-barang itu.


"Mau, tapi?" Nicholas terlihat ragu.


"Sudahlah, pakai saja Nick, bukannya kamu dulu juga enjoy pake kebaya pengantin wanita, itu cuma pakai gamis sama jilbab doang, lebih gampang dan tidak ribet kan?" Ucap Jeremy yang ikut memeriksa apa isi paperbag itu.


"Aish... Masak pria tampan sepertiku jadi setengah Ukhti!" Umpat Nicholas dengan lemah tak berdaya.


"Berisik, cepat tukar baju sana, sudah nggak ada waktu lagi ini!"


Dengan terpaksa Nicholas memakai baju itu sambil berjongkok dibawah meja, dibantu oleh Hanny disana, karena tidak ada tempat lain, karena tidak mungkin dia menukar baju itu di kamar mandi pria ataupun wanita.


"Pfftth... lama-lama kamu pantes jadi Ukhti Nick!"


Jeremy menahan tawanya saat Hanny menggoreskan sedikit lipstik berwarna merah di bibir Nicholas.


"Haish... kenapa harus pakai lipstick segala!" Nicholas hanya bisa pasrah saja.


"Biar totalitas Sarmin, dan juga rencana cadangan kedua!" Hanny pun ikut tersenyum melihat hasilnya.


"Aku kan bisa pakai masker!"


"Iya juga ya, tapi ya sudahlah orang sudah terlanjur, ayo aku antar ke kamar mandi wanita!"


"Hapus dulu lipstikku!"


"Sudah pakai aja, nanti kelamaan!"


Hanny langsung saja mendorong tubuh Nicholas yang sudah berpakaian Baju Gamis lengkap dengan jilbab syar'i nya.


"Alisya!" Bisik Hanny saat sudah melihat Alisya diujung sana.


"Hanny, kenapa lama sekali, waktuku tidak banyak!" Bisik Alisya dengan wajah ketar-ketir.


"Masuk ke kamar mandi sana, aku jaga kalian didepan pintu!" Hanny langsung menjadi pihak pengamanan dadakan.


"Ehh... Siapa dia?" Alisya menajamkan pandangannya dengan seseorang disebelah Hanny.


"Buka saja didalam, sebelum ada orang lain didalam kamar mandi ini!"


"Tapi?"


"Masuk kalian berdua cepat!"


Hanny langsung mendoring kedua tubuh mereka dan memasukkan kedalam satu kamar mandi paling ujung.


Degh!


Saat berada dalam ruangan sempit seperti itu, Alisya mulai tahu siapa orang dihadapannya kini, karena dia masih hafal dengan bau parfum milik Nicholas, jadi dia tidak berani menatap wajah orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Alisya, ini aku." Nicholas membuka maskernya.


"Ehh?" Bukan wajahnya Nicholas yang dia pandangi, tapi bibir Nicholas yang merah merona itu.


"Sekarang jelaskan kepadaku, kenapa kamu menikah dengan pria lain?"


"Aku.. Emm?" Alisya seolah ragu untuk menjelaskannya.


"Jika kamu memang ingin menikah saat itu juga, kenapa tidak mengatakannya denganku Alisya, kamu bisa menikah siri denganku saja, besoknya baru kita urus semua syarat pernikahan di KUA, kenapa kamu tega melakukan ini denganku?"


"Pelankan suaramu mas, nanti ada yang curiga?"


"Cepat katakan, aku tidak terima kamu perlakukan aku seperti ini."


"Aku terpaksa melakukan hal itu mas, mereka mendesakku!"


"Kenapa kamu tidak menghubungiku saja, jika kamu memintaku untuk datang menikahimu aku juga pasti bersedia datang malam itu juga Alisya!"


"Masalahnya, aku lupa menyimpan nomor kamu mas!"


Karena mereka memang tidak sedekat itu sebelumnya.


"Astaga Alisya, kamu kan bisa menghubungi Hanny?" Nicholas juga tidak kepikiran saat itu, dia asyik mengobrol sana sini.


"Ponsel Hanny itu rusak mas!"


"Kamu bisa datang ke apartementku?"


"Aku tidak tahu alamatmya!"


"Alisya kamu bisa datang dulu kerumah Hanny, atau apapun itu caranya, masak kamu tidak bisa berpikir cerdas dengan hal itu?"


"Tapi apa kamu tega memperlakukan aku seperti ini,aku sayang kamu Alisya, bukannya kamu sudah mendengar hari itu?" Nicholas mengungkapkan rasa sayangnya sangat jelas sekali kala itu.


"Maafkan aku mas." Hanya itu yang bisa Alisya katakan.


"Sampai matipun aku tidak mau menerima maaf darimu!" Umpat Nicholas tetap tidak terima, karena rasa sayangnya memang tidak pernah main-main.


"Lalu aku harus bagaimana mas, semua sudah terjadi begitu saja, semua sudah terlanjur mas."


"Ikut pergi denganku!" Nicholas langsung memegang kedua tangan Alisya dengan erat.


"Tidak mungkin mas, keluargaku yang jadi taruhannya!"


"Sebenarnya apa yang terjadi Alisya, tidak mungkin ada akibat kalau tidak ada sebab, jelaskan denganku Alisya, agar aku bisa membantumu."


"Keluarga besarku terlilit hutang dengan rentenir mas."


"Apa? hanya masalah hutang saja, kamu rela menikah dengan pria itu? kamu hanya tinggal mencari aku ataupun Hanny, kami pasti bisa menyelesaikan masalah itu dengan mudahnya sayang, astaga!" Nicholas langsung menjambak rambutnya sendiri dengan kesal.


"Mereka sudah melakukan perjanjian sebelumnya!"


"Jadi kamu tidak mencintainya?"


"Tidak, atau mungkin belum."


"Kenapa ada kata belum?"


"Karena aku juga harus belajar untuk menerimanya, karena dia sudah menjadi suamiku sekarang, lagian dia temanku dulu saat masih dibangku sekolah."


"Pasti ada yang tidak beres ini, aku akan melakukan apapun itu caranya agar kamu terlepas dari pria itu."


"Sudahlah mas, ini juga bukan salah mas Yoga, dia bukan rentenir, dia orang baik, dia yang membantu keluargaku disana, jadi aku harus balas budi dengannya."


"Cuih... kalau dia memang orang baik, tidak mungkin dia mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini, dia pasti sudah merencanakan sebelumnya." Otak cerdas Nicholas mulai bisa digunakan.


Glodak!


Tiba-tiba Hanny masuk kedalam kamar mandi sempit itu.


"Hei Bodat, ngapain kamu!" Mereka berdua malah ketakutan sendiri.


"Ternyata suamimu itu luar biasa Alisya!"


"Kenapa?"


"Dia seorang Mafia!"


Hanny menunjukkan beberapa gambar dari ponselnya, dia mendapatkan beberapa informasi terbaru dari anak buahnya.


"Apa!"


"Apapun caranya kamu tidak bisa terus bersamanya, aku tidak rela kamu hidup dengan seorang mafia Alisya!" Hanny lansung memegang erat tangan sahabatnya itu.


"Alisya, katakan denganku, apa aku boleh memperjuangkanmu?" Ucap Nicholas dengan tatapan tajamnya.


"Emm... Gimana ya?"


"Alisya, kamu boleh jadi orang baik tapi jangan jadi orang bodoh, ini hidupmu, kamu berhak hidup bahagia!" Ucap Hanny memberikan semangat.


"Hanny, kamu keluar saja dulu!" Pinta Nicholas.


"Tapi Alisya gimana?"


"Aku ingin bicara empat mata dengan sahabat bodohmu ini!"


"Baik-baik luu Sarmin, awas saja kalau kamu apa-apain sahabatku, aku buat Impoten kamu nanti!" Ancam Hanny dan langsung memilih keluar untuk mengawasi keadaan disekitar kamar mandi itu.


"Alisya, aku sayang kamu, aku ingin kamu yang menjadi istriku, aku ingin kamu yang menjadi ibu dari anak-anak kita nanti, sekali lagi aku tanya, apa aku boleh memperjuangkanmu?" Nicholas kembali menggengam kedua tangannya.


"Hmm... Aku mau." Akhirnya Alisya menggangukkan kepalanya.


"Okey, kalau begitu ikut denganku."


"Tapi aku tidak bisa ikut denganmu!"


"Why, apa kamu ingin hidup dengan Mafia itu?"


"Kalau aku pergi sekarang, mereka pasti akan mengincar keluargaku, jadi lakukan apapun untuk menangkap suamiku."


"Lalu kamu?"


"Aku akan menjaga diriku selama ikut dengannya!"


"Tapi Alisya?"


"Percayalah padaku, aku bisa menjaga diriku sendiri, lakukan apapun caranya dan tolong jemput aku setelah semuanya selesai." Dia tidak boleh gegabah dalam memutuskan hal ini.


"Baiklah, tapi boleh aku tanya satu hal?"


"Apa, cepat katakan, suamiku sudah menelponku ini, dia pasti sudah mencariku?" Alisya menatap layar ponselnya yang terus menyala dan bergetar.


"Apa kamu sudah melakukan hal itu dengannya?"


"Hal apa?"


"Hal begituan?"


"Begituan apa, ngomong yang jelas, aku tidak bisa berpikir jernih disaat waktu mendesak seperti ini."


"Apa kamu sudah kikuk-kikuk dengan suamimu!"


"Hah? emm.. aku... Aku belum sempat." jawab Alisya dengan jujur.


"Jangan! Tolong jaga benda itu hanya untukku!" Pinta Nicholas dengan sangat.


"Tapi tidak bisa lebih dari tujuh hari?" Ucap Alisya kembali, karena tadi malam dia sengaja beralasan datang bulan, dan memakai pembalut agar terbebas dari malam pertama yang tidak dia inginkan.


"Kenapa?"


"Aku tidak punya alasan lain untuk menolaknya, jika kamu memang ingin benda itu halal untukmu, jemput aku sebelum tujuh hari kedepan, kalau lewat aku tidak bisa menjanjikan hal itu."


"Pasti Alisya, aku akan menjemputmu dengan cepat!"


"Hmm.. Aku menunggumu!" Senyum Alisya akhirnya terbit.


"Alisya, aku sayang kamu!"


"Terima kasih."


"Bukan itu jawaban yang aku inginkan, katakan sesuatu agar aku punya semangat memperebutkan kamu dari mafia itu!"


"Aku.. aku.. aku juga sayang kamu mas!"


"Nah gitu dong, itu yang aku harapkan darimu, boleh aku minta satu hal lagi?"


"Apalagi mas, suamiku sudah menelponku terus ini." Alisya semakin gelisah dibuatnya, dia takut membayangkan kalau kepergok selingkuh dari suaminya.


Cup


Tanpa membuang waktu lagi, Nicholas langsung memiringkan kepalanya dan memberanikan diri untuk menyambar bibiir mungil wanita yang sudah berstatus istri orang itu.


"Hmpth.. Astagfirullah.. Astagfirullah hal'adzim!"


Setelah beberapa saat hal itu terjadi, Alisya langsung mendorong paksa tubuh Nicholas dan meninggalkan dia diruangan itu sendiri.


"Fuuh... Nikmatnya bibiir istri orang, aish.. tidak pernah terbayangkan dalam hidupku menjadi Pebinor seperti ini."


Walau hatinya terasa perih, setidaknya Nicholas bisa tersenyum dengan lega setelah merasakan betapa manisnya bibiir idamannya, apalagi saat tahu kalau Alisya ternyata belom ternodai oleh suaminya, semangat didirinya untuk menjadi Pebinor kini semakin membara.