Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
95. Harta yang paling berharga.


...Happy Reading...


Karena terlalu kegirangan, Nicholas sampai lupa kalau dirinya kini hanya menggunakan jubah mandi hotel saja.


"Astagfirullah... Astagfirullahal'adzim!"


Alisya berulang kali mengusap dadaanya sambil mengalihkan pandangannya, walau seekstrim apapun suaminya dulu mencicil dirinya, namun sampai saat ini kedua matanya belum pernah melihat pemandangan yang ngeri-ngeri sedep seperti itu.


"Alisya, kenapa kamu melihatnya?" Nicholas langsung membenahi kembali jubah mandinya, dengan wajah yang sudah memerah.


Ya ampun, apa itu tadi? kenapa bisa gerak-gerak sendiri, apa didalamnya ada setrumnya? Woah... Aku kok jadi ngeri ngebayanginya?


"Jadi, apa kamu pikir aku buta? dia 'ngejogrok' begitu saja didepan mataku, bagaimana aku bisa menghindarinya?"


Sebenarnya bukan hanya Nicholas yang merasa malu, Alisya pun merasa canggung karenanya, pikiran kotornya tiba-tiba melayang ke cerita Hanny yang selalu meracuni dirinya tentang malam-malam penuh de sahan.


"Hehe... maaf aku lupa, lagian juga lambat laun kamu akan melihatnya juga dan yang pasti akan selalu menyayanginya." Nicholas sebenarnya malu mengatakan hal itu, namun karena kartu As nya sudah dilihat oleh Alisya, dia memilih banting harga sekalian, karena wanita itulah yang memang selalu dia perjuangkan selama ini.


"Ngomong apa sih kamu mas? lagian juga kamu ini aneh, sehabis mandi itu ganti baju, kenapa masih pake jubah mandi terus." Alisya memilih menjauh darinya dan terus mengusap lengannya yang sudah merinding saat rekaman di otaknya seolah berputar mengelilingi dirinya akan benda itu.


"Tadi kepalaku pusing sekali sayang, pengennya langsung rebahan aja, jadi aku nggak kepikiran juga, lagian jubah ini panjang juga kan?" Karena memang sebelum dikerik dan dipijat oleh Alisya kepalanya terus saja berdenyut dan terasa berat.


Bugh!


"Setidaknya pakai boxer kek, apa kek, nggak ilegal gitu juga kali mas!" Alisya sengaja melempar bantal sofa yang ada disebelahnya ke aah Nicholas yang masih cengar-cengir.


"Ilegal? Kamu pikir aku barang?"


"Sana pakai bajumu." Alisya kembali melotot saat Nicholas kembali mendekati dirinya.


"Pakein yank?" Dengan jahilnya Nicholas malah sengaja bergelayut manja di lengan Alisya.


"Dih... pakai sana bajumu, lalu pesankan aku kamar sendiri!" Alisya benar-benar takut jika sampai lepas kendali, karena jika Nicholas sudah mengunci tubuhnya, iman nya begitu tipis untuk menolak.


"Enak saja, nggak mau, keinginan aku sedari dulu itu melihat wajah kamu saat aku baru saja membuka mata dipagi hari dan ini saatnya." Sudah alam dia menginginkan hal itu, apalagi saat melihat kemesraan big bos nya, dia ingin sekali cepat mengakhiri masa lajangnya, namun sayang sekali kenyataannya harus membuat dirinya terus menunggu sampai waktunya tiba.


"Nggak, pokoknya aku mau kamar sendiri, kalau enggak kita nggak jadi resmi, buruan!" Alisya terus mencoba menawarnya.


"Dih... sejak kapan kamu jadi galak seperti ini? Alisya, dulu kamu kalem banget loh, bisanya cuma senyam-senyum aja."


"Soalnya mas sekarang sering ngelunjak tau nggak!" Alisya takut tidak bisa menahan diri.


"Pokoknya nggak mau, aku mau tidur sambil memandang wajah kamu." Dia tetap saja ngotot.


"Mas... kita masih belum muhrim, tidak baik tidur satu kamar, kalau nanti ada syaiton lewat gimana?" Alisya mencoba merayunya dan menakut-nakutinya.


"Biar aja, orang syaiton cuma mau lewat doang kok, asal nggak ganggu nggak papa dong? biar dia jadi saksi, kalau aku begitu menyayangi kamu!" Ada saja balasan jawaban yang Nicholas berikan yang mampu membuat darah Alisya sontak mendidih.


"Mana ada setan model begituan mas, kamu ini ada-ada saja lah."


"Kalau begitu kita menikah saja sekarang." Ucap Nicholas tanpa keraguan dihatinya sedikitpun.


"Sekarang? apa mas sudah gila, ini jam berapa mas? Ya Tuhan ampunilah dosa hambamu ini." Lain dengan Nicholas lain pula dengan Alisya yang memikirkan semuanya sebelum kembali melakukan kesalahan yang sama dengan mengambil keputusan secara terburu-buru.


"Kalau nikah siri kan mau jam berapa aja tidak masalah yank?"


Nicholas mendekat kearah travel bag yang dia bawa dan mengambil celana pendeknya dari sana.


"Kenapa harus menikah siri, apa mas mau mengikuti jejak Yoga?" Entah mengapa, Alisya sedikit merasa trauma, dia ingin menikah wajar seperti orang lain, bukan hanya siri dan juga tidak harus secara tertutup karena sebuah kebahagiaan itu tidak perlu dia sembunyikan, pikirnya.


"Jangan pernah menyebut namanya lagi didepanku, aku alergi saat mendengarnya." Nicholas begitu kesal saat ada pria yang menjadi rivalnya, apalagi sampai merusak hubungannya.


"Lalu kenapa harus menikah siri, bahkan aku baru saja bercerai darinya karena pernikahan siri." Alisya tetap saja keberatan, dia hanya ingin pernikahan keduanya langgeng sampai maut memisahkan.


"Kamu belum di unboxing kan yank?" Tiba-tiba kata-kata itu terlontar begitu saja.


"Kamu pikir aku paketan barang apa?" Balas Alisya kembali.


"Jangan galak-galak gitu napa yank, aku nanya beneran ini, kamu masih orisinil kan?" Dia seakan sungguh tidak rela jika hal yang paling dia idamkan diambil oleh orang lain, apalagi secara paksa.


"Gimana ya ngomongnya?" Alisya sengaja ingin menggoda kekasihnya itu.


"Aaaaaaaa... Katanya kamu mau menjaga itu buat aku, kamu ini gimana sih yank, terus saja membohongiku, menyebalkan sekali." Benar saja, emosinya mulai terpancing oleh kata-kara yang sebenarnya hanya semu.


"Haish... kok 'gething' aku lihat yang kayak beginian ini." Alisya sudah menggengam kedua tangannya karena merasa gemas sendiri.


"Janjimu itu palsu, katanya cuma cinta sama aku, tapi mau juga ngasih mahkota kamu buat mafia itu, nggak konsekuen banget jadi orang, huh!" Nicholas mulai mencibirnya dan memojokkan denngan kata-katanya.


"Apa sih mas, aku memang masih perawan, tapi kalau yang lainnya emm... itu.. anu.." Dia tidak ingin menyimpan sebuah kebohongan, walau sakit diawal, namun menurutnya dia tahu semua juga itu lebih baik.


"Yang lainnya itu yang mana? yang paling atas tengah, sayap kanan atau sayap kiri?"Nicholas semakin merasa penasaran dengan detailnya.


"Mas ini ngomong apa sih, gemes banget deh kamu ini, sana pakai dulu bajumu!"


"Yank, bagian mana yang sudah tersentuh oleh tangan mafia itu?" Nicholas kembali memeganggi kedua bahu Alisya.


"Selain yang satu itulah." Jawabya dengan jujur.


"Lainnya sudah semua?" Dadaa Nicholas mulai bergemuruh saat dia baru membayangkan saja.


"Jadi, apa yang harus aku lalukan, dia juga suamiku, dia berhak atas diriku bukan?" Alisya mengatakan semua dengan kenyataan yang ada.


"Padahal aku yang lebih dulu hadir dihidupmu Alisya!"


"Ya udah sih, itung-itung amal buat suami sah, lagian ternyata dinakalin sama suami sendiri itu enak loh mas, ada sensasi gemes-gemesnya, gimana gitu." Alisya semakin tersenyum saat wajah Nicholas sudah mulai cemberut.


"Maksud kamu apa!"


"Maksud kamu *****-***** gitu?" Nicholas semakin merasa tidak percaya, jika wanita kalem seperti itu kini sudah banyak berubah.


"Ya masak suami sah nggak dikasih apa-apa, kasihan banget kan dia, mengucap ijab qobul itu bukan perkara yang mudah bukan? walau terdengar singkat dan gampang, nyatanya bisa bikin tangan gemetaran, keringat bercucuran bahkan sampai meneteskan air mata loh mas, biarlah dia mencicipinya sedikit, itu kan haknya." Walau sebenarnya kalau diingat, hal itu yang sering membuat perasaan dan hatinya tidak karuan dan selalu berperang batin karenanya.


"Aaaarrrrrrgggghhh... Aku benci.. benci.. benci!" Teriak Nicholas yang langsung menutup kedua telinga miliknya, yang seolah tidak sanggup lagi untuk mendengarnya.


"Tapi rindu jua.. memandang wajah dan senyummu sayang, antara benci dan rindu disini membuat mataku menangis!" Alisya malah meneruskannya salam sebuah liik lagu.


"Nggak usah nyanyi, ini bukan konser!" Umoat Nicholas kembali sambil merapikan bajunya.


"Pffttthh... astaga, kenapa aku bisa suka dengan pria modelan seperti mas ini." Alisya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat raut wajah Nicholas yang terlihat kesal jika sudah membahas tentang Yoga.


"Alisya, aku mau juga, boleh ya?" Rengek Nicholas yang merasa iri.


Bugh!


"Halalin aku dulu, sebelum ada kata sah jangan harap mas bisa meyenggol tubuhku walau sedikit saja." Alisya kembali memukuli dirinya dengan bantal, dia tidak menyangka jika Nicholas akan melakukan hal itu.


"Preett! aku tadi bahkan sudah menyenggol itumu!"


"Itu mu apa?" Tanya Alisya sambil membelalakan kedua bola matanya.


"Noh!"


Dengan santainya Nicholas menunjuk dua benda yang menonjol walau tertutupi dengan hijab.


"Aaaaaaa... Mas keterlaluan!" Teriak Alisya yang langsung menyilangkan kedua tangannya.


"Ahahaha... aku nggak sengaja sayang, aku kayak mimpi aja gitu, eh.. kok ternyata ada tombol Telolet, ya udah aku pencet aja, haha!"


"Awas kamu mas, sini jangan lari kamu!" Umpat Alisya yang sudah tidak tahan lagi.


Grep!


"Eh... Ketangkap lagi deh?" Nicholas langsung memeluk tubuh kecil wanitanya itu.


"Lepas mas!"


"Sayang, jangan risau, aku akan membayar ganti rugi kepadamu." Celotehnya dengan santai.


"Ganti rugi apaan?" Alisya mulai was-was, karena tidak bisa ia pungkiri bahwa perjalanan hidupnya selalui dihantui oleh keadaan ekonomi keluarganya yang tidak stabil.


"Ganti rugi untuk membiayai seluruh hidup kamu, sampai kita tua nanti." Nicholas mengusap kepala Alisya dengan lembut.


"Hadeh... Lemah aku kalau udah kayak gini." Umpatnya perlahan.


"Setelah urusan kita disini selesai, aku akan mendatangi orang tuamu."


"Ngapain?"


"Menagih utang!"


"HAH? apa orang tuaku juga berhutang kepadamu, memangnya kapan kalian bertemu, astaga... aku malu sekali." Alisya sudah menyimpulkan sendiri, bahkan dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Pffftthh... Haha! Kamu kenapa sayang?" Namun tawa Nicholas seolah menggelegar.


"Maaf, aku memang berasal dari keluarga miskin, tidak ada yang berharga sedikitpun dari diriku mas, apa kamu masih mau melanjutkan hubungan denganku?" Alisya kembali merasa insecure, itu kenapa dia dulu sebenarnya tidak mau berpacaran sebelum bekerja.


Cup!


Cup!


Cup!


Karena terlalu gemas, Nicholas menghujani kecvpan dikepala Alisya yang terbalut oleh kain sebagai pelindung.


"Kamu adalah harta paling berharga yang ingin aku miliki, jangan merasa rendah diri hanya karena harta duniawi, karena harta tidak dibawa mati, dan hanya amal ibadah kita lah yang akan menemani kita di Akhirat nanti." Kata-kata bijak yang dia peroleh dari pondok pesantren itu mengalir begitu saja.


"Ya ampun, aku jadi semakin kagum denganmu mas, tapi kalau boleh aku bertanya, berapa nominal hutang kedua orang tuaku denganmu?"


"Tidak ada Alisya, aku hanya bercanda saja tadi, hehe."


Pletak!


"Pesankan aku kamar sekarang juga, ini tidak bisa dibiarkan, bisa-bisa dosaku menggunung gara-gara mas!" Alisya memberanikan diri untuk menyentil kening Nicholas karena merasa sangat kesal, dirinya memang paling takut jika sudah membahas soal utang.


"Hei.. Sayang!"


"Mau aku talak kamu sekarang juga!" Umpat Alisya.


"Apa sih yank, jangan main-main dengan kata talak, lagian talak hanya bisa diucapkan oleh pihak pria, weerkk!" Dia merasa menang kali ini.


"Aaaaaaaaa... Dasar Sarmin bin Bandit nyebelin kamu mas!" Alisya langsung mencubit pinggang Nicholas berulang kali.


"Kya? kenapa kamu berani memanggilku dengan sebutan itu, apa pikiran kamu sudah diracuni oleh Hanny?" Dia merasa heran sendiri jadinya.


"SARMIN.. SARMIN.. SARMIN!" Semakin dilarang Alisya malah semakin memperjelasnya.


Hingga akhirnya mereka berdua kejar-kejaran didalam ruangan itu, seperti bocah yang berantem hanya gara-gara masalah sepele, namun dibalik itu semua, mereka berdua merasakan kebahagiaan yang tidak terkira.


Satu persatu masalah yang membelenggu kehidupan percintaan mereka sudah menemukan titik temu.


Jangan pernah lari dari masalah, hadapi dan selesaikan, sebab sejatinya masalah dan rasa sakit itu telah mendidik kita menjadi manusia yang jauh lebih kuat.