Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Maaf


Sudah hampir setengah jam lamanya Rio menunggu Cinta di lobi,tapi wanita itu tidak kunjung terlihat batang hidungnya.Padahal jam kerja sudah usai dari 1jam yang lalu."Apa mungkin dia sudah pulang duluan ya?"batinnya.


Sedangkan di sebuah toilet,seorang wanita tengah bolak-balik keluar masuk.Bukannya sakit perut,tapi karena rasa cemas dan gerogi yang membuatnya mondar-mandir seperti seterikaan.Karena sudah pasti Rio akan mempertanyakan hal yang sama."Ya Allah apa yang harus aku lakukan?"bisiknya dalam hati.Mau tidak mau Cinta akhirnya memberanikan diri menemui lelaki itu.


Baru saja Rio menyalakan mesin sepedha motornya,tapi seketika tangannya mematikannya kembali kala melihat sosok wanita yang ia harapkan kedatangannya baru saja keluar dari pintu masuk.Ia berjalan dengan menunduk,sama sekali tidak mengangkat kepalanya.Tetapi tepat di depan seseorang yang sedang menunggunya ia mulai mengangkat wajahnya.Sedikit senyum terbit dari bibirnya yang tipis dan mungil."Maaf lama menunggu,"ucap Cinta.


"Tidak masalah,yuk berangkat sekarang,"titahnya sambil menyalakan mesin sepedha motornya.Cinta pun mengangguk menyetujuinya.


Sepedha motor pun melaju menuju jalanan yang ramai.Padatnya kendaraan di picu karena bersamaan dengan jam pulang kerja.Rio membelokkan sepedha motornya ke sebuah rumah makan yang terlihat strategis.Dari halaman tempat parkir,terlihat tempatnya yang begitu nyaman,terdapat banyak sekali seperti gubuk yang ada di pinggiran sawah namun ini terlihat lebih rapi dan romantis dengan lampu kuning kecil yang menggantung di atas tepat di tengah-tengah atap yang terbuat dari daun padi yang mengering.


"Ayo masuk,"ajaknya kemudian di ikuti Cinta yang mengekor di belakang punggungnya.


Mereka duduk berseberangan,setelahnya Rio memesan 2 menu makanan dan 2 gelas jus.


"Bagaimana Cin untuk niatku tadi pagi? apakah sudah kau pikirkan?"


Mendengar Rio bertanya lagi membuatnya semakin gerogi."Maaf Rio,tapi aku tidak memiliki perasaan terhadapmu,aku hanya menganggapmu sebagai teman saja."


"Tatap mataku jika kau berkata,"titah Rio karena melihat Cinta yang terus menunduk.


Cinta pun mengangkat wajahnya,di tatapnya sepasang mata yang ada di hadapannya."Tatapan mata yang meneduhkan,sinar matanya memancarkan kedamaian dan penuh cinta,lelaki ini tidak main-main dengan ucapannya,"ucapnya dalam hati.Tapi kembali lagi Cinta melihat dirinya."Maaf,"hanya kata-kata maaf yang mampu keluar dari mulutnya ketika menatap mata itu.


Rio tersenyum kecil."Aku tahu ada kebohongan dari mulutmu Cin,entah apa yang membuatmu berkata seperti itu,aku akan menunggumu hingga kau bisa membuka mata hatimu,"ucapnya tulus.


Matanya menggenang,hampir saja air matanya tumpah.Tapi pendiriannya tetaplah sama,tidak akan pernah bersatu antara dia dan Rio.Akan banyak sekali penghalang bagi mereka dan Cinta tahu itu pasti,Cinta tentu tidak akan mengambil kesempatan itu,ia begitu tahu diri siapa dirinya dan siapa lelaki yang ada di hadapannya.


"Maaf Rio,tidak perlu kau menungguku.Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu,jadi urungkan saja niatmu itu carilah wanita yang pantas untukmu,"setelah mengatakan apa yang ada di benaknya ia menatap langit-langit.


"Terlihat jelas apa yang keluar dari mulutmu tidaklah sama dengan hatimu,matamu berkata lain.Aku tahu itu Cinta,"ucap Rio dalam hati.Ia semakin yakin bahwa wanita yang ada di hadapannya ini wanita yang tepat untuknya.Ia tidak salah menjatuhkan hatinya pada wanita ini.


"Makanlah Cin,"ucapnya setelah pesanan makanannya datang.


Cinta pun memandang kearah makanan yang ada di hadapannya.Rasa-rasanya ia tak mampu memakannya saat ini.


"Ayo makan,jangan di lihatin saja,"ucap Rio mengagetkannya karena satu sendok nasi dari tangan Rio sudah ada di depan mulutnya.


"Aku bisa makan sendiri Rio,"tolak Cinta.


"Baiklah,kalau begitu buruan di makan,"ucap Rio sambil menarik tangannya kembali.


Keduanya pun akhirnya makan dalam diam dan mereka keluar dari rumah makan setelah menghabiskannya.Di tempat parkiran Rio begitu kaget melihat ban sepedha motornya kempes semua depan belakang."Padahal tadi baik-baik saja tapi kenapa sekarang jadi begini,"ucapnya lirih.


"Kenapa Rio?"tanya Cinta.


"Sepedha buntut begitu masih saja di pakai,buang sana ke tempat sampah! masa seorang bos besar g mau kluarin duwit buat beli yang baru?"ledek Radit yang tahu-tahu datang dari belakang Cinta.


"Buat apa buang-buang uang untuk hal yang tidak terlalu penting,uang bisa di pakai untuk hal yang lebih bermanfaat bukan,"jawab Rio.


"Kau membawa wanita,lalu mau kamu suruh naik di mana dengan ban kempes begitu? kamu mau menyuruhnya mendorong dan jalan kaki?"ejek Radit lagi.


"Tentu saja aku akan menyuruhnya jalan,tapi jika dia tidak mau banyak taxi yang lewat,"jawab Rio.


"Ha ha ha,"tawa Radit pecah saat mendengar jawaban Rio."Waaah berarti hari keberuntunganku,kau sudah dengar jawaban Rio kan Cin,jadi kau mau jalan sambil mendorong motor buntutnya atau naik mobil mewah bersamaku Cin?"dengan percaya dirinya Radit mengatakan itu.Baginya sudah tentu wanita menolak jalan kaki dengan mendorong motor.


Tapi tidak dengan Cinta."Ayo Rio jalan sekarang!" titah Cinta dengan memegang bagian belakang sepedha motornya."Ayo...tunggu apa lagi,"ajaknya lagi karena melihat Rio yang hanya melongo.


Apalagi dengan Radit,lelaki itu begitu geram dengan jawaban Cinta,itu artinya wanita itu menolaknya mentah-mentah.


Senyuman terbit di bibir lelaki yang tengah menuntun motor buntutnya,keringat bercucuran membasahi kening hingga menetes di tepi dagunya.Begitu juga dengan wanita di belakangnya,rasa letih dan lelah mencari tukang pompa ban sepedha tak kunjung mereka jumpai tidak membuat wanita itu merasakan marah dan kesal."Naiklah taxi Cin,kau terlihat lelah sekali,"ucap Rio kemudian.


"Kau pun juga lelah,maka aku akan menemanimu sampai mendapatkan pompa ban itu,"jawab Cinta.


"Terimakasih Cin,"ucap Rio.


"Untuk?"tanya Cinta.


"Untuk kesediaanmu mendorong sepedha motor buntutku,"ujar Rio sambil tersenyum.


"Kau itu tetanggaku,terdengar jahat sekali jika aku membiarkanmu mendorong sendirian tahu,"ucap Cinta yang membuat Rio tertawa.


"Ha ha ha,baiklah tetanggaku yang baik,terimakasih untuk kebaikan hatimu,"ucap Rio.


"Dan kau harus mentraktirku makan lagi karena setelah mendorong sepedhamu perutku terasa lapar lagi,"goda Cinta.


"Di depan sepertinya ada penjual nasi goreng,apakah kau mau makan di pinggir jalan? kebetulan di depannya ada bengkel."ajak Rio.


Cinta bersorak gembira."Waaaah, tadinya cuma bercanda ternyata rezeki ku juga ha ha ha."


Bersambung...


Assalamualaikum sahabatku...


jangan lupa dukungan kalian...


like coment vote hadiahπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


terimkasih masih setia nungguin othor update yayang"kuuuhh😘😘😘😘