
Demi mendapatkan kepercayaan dari seseorang yang ia cintai,setiap harinya selalu ada saja hal-hal yang di lakukan oleh Rio agar Cinta kembali tersenyum untuknya.
Memang terkadang cinta bisa membutakan segalanya sebab cinta yang di milikinya mungkin terlalu berlebihan.
Rio yang dulunya sama sekali tak mengenal apa itu cinta dan lagi pula prinsipnya memang tidak ingin pacaran sebelum lulus kuliah.Tapi sekarang setelah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta,seakan apa yang ia miliki akan ia berikan semua.Dia tipe orang apa yang sudah ia miliki maka orang lain tidak boleh mendekat bahkan hanya sekedar tertawa bersama.Entahlah itu berlebihan atau bagaimana.
Rio tersenyum senang setelah beberapa minggu lamanya dia hanya menghabiskan waktu di kantor.Meski tidak bisa bertemu dengan sang kekasih karena dalam masa pingitan setidaknya Cinta sudah mau memaafkan beberapa waktu yg lalu sebelum mereka di pingit.
Satu minggu lagi hari pernikahan mereka akan di gelar dan segala persiapan telah 100% terpenuhi.Tinggal menunggu hari itu tiba maka mereka akan sah menjadi suami istri.
Ia terus saja tersenyum,memandangi foto wanita di layar handphonenya.Tidak menyangka jika wanita ini yang akan menjadi pendamping hidupnya.
"Pandangi terus saja tu handphone,lama-lama bisa hancur itu layar."Radit datang mengagetkannya.
Ya saat ini mereka tengah janjian makan siang di sebuah restoran dekat perusahaan mereka.Sudah beberapa minggu juga mereka saling berdiam diri,lebih tepat Rio yang menghindari Radit karena kejadian waktu itu.Meski Radit menjelaskan kejadian yang serupa dengan yang Cinta ceritakan,namun Rio masih di hantui rasa takutnya kehilangan Cinta.
Apa yang di katakan Rio memang benar,jika ia mulai memiliki getaran cinta pada Cinta.Tapi ia juga tahu hatinya itu salah,sebisa mungkin Radit menguburnya dalam-dalam.
"Kamu mau makan apa Dit?"tanyanya pada Radit.
"Samakan sajalah."
Rio memanggil pelayan itu,kemudian memesan dua porsi nasi beserta jus jeruk.
"Bagaimana kerjaanmu Dit?"
"Lancar-lancar saja,toh aku juga sudah ingat semuanya.Jadi tidak ada kesulitan.Oiya,terima kasih banyak ya Rio kamu sudah banyak sekali membantu!"
"Kenapa terima kasih itu di ucapkan lagi? sungguh muak aku dengarnya."
Radit terkekeh,sungguh ia merasa berhutang budi dengan lelaki yang dulu merupakan rivalnya itu.Andaikan tak ada kecelakaan yang terjadi,mungkin keadaan mereka tidak seperti ini sekarang.Ya suatu musibah bisa saja membalikan hati atau membuka mata hati seseorang untuk merubah hidupnya yang pernah kelam.Dan kini ia lebih merasa tak sendiri.
Tak lama pesanan mereka pun datang.
"Pesanannya tuan,"sang pelayan menatanya di meja.
"Iya,terima kasih mbak!"
Sang pelayan membungkukkan badan lalu pergi meninggalkan mereka.
"Jadi bagaimana Rio,apa kamu bersedia bekerja sama dengan perusahaanku untuk pembangunan hotel dan panti dalam jangka waktu 3 bulanan ini."
"Tentu Dit,sudah aku pertimbangkan baik-baik tadi malam.Dan untuk pembangunan panti aku juga sangat menyetujui idemu itu."
"Ya aku lihat banyak anak-anak jalanan sana tanpa orangtua,mereka hanya di manfaatkan oleh orang yang tak bertanggung jawab untuk meminta-minta di lampu merah.Jadi aku berniat untuk mengusung mereka ke panti yang akan kita bangun nantinya."jelasnya.
"Lalu apakah dengan kita mengusung mereka,apa itu tidak akan menjadi ancaman buat kita Dit? secara setiap gerak gerik mereka kan selalu di awasi oleh preman-preman itu"
"Tentu,pasti itu ancaman bagi kita.Tapi kamu tak perlu kawatir,kita akan kerja sama dengan para polisi untuk menangani preman-preman itu.Selama ini kan sering terjadi perampokan,penjambretan di jalan raya.Lalu siapa lagi kalau bukan mereka pelakunya.Terbukti di lihat dari cctv yang terpasang di jalan raya,dan ternyata memang mereka pelakunya."
Tak terasa makan siang di selingi obrolan-obrolan kecil membuat waktu lebih cepat berlalu.Keduanya kembali ke perusahaan masing-masing.Sudah tak ada lagi permusuhan,tak ada lagi kearoganan,tak ada lagi persaingan.Semua berjalan dengan begitu baik saat ini.Dan semoga hingga nanti.
****
Di tempat yang berbeda.
Cinta tengah bersiap-siap merapikan buku-buku yang ia koreksi setelah mengajari anak didiknya.Di tengah-tengah kegiatannya sebuah panggilan telephone terdengar dari dalam tasnya.
Di bukanya resleting tas yang sudah menggantung di bahu sebelah kiri, lalu mengambil handphone yang terselip dalam kantong kecil di dalam tas.
"Rio? kenapa melakukan panggilan video?"gumamnya kemudian mematikan panggilan video.
Setelah panggilan video di matikan,Cinta hendak mengirim pesan pada Rio.Namun belum selesai mengetik,sebuah pesan masuk.Ia pun mengurungkan niatnya setelah tahu yang mengirim pesan itu adalah Rio.
"Hei kenapa di matikan?"bunyi pesan dari Rio.
Cinta pun membalas.
"Kan lagi di pingit? kalau kamu melakukan panggilan video sama saja dong."
setelah beberapa menit Rio membalasnya lagi.
"Tapi kan aku rindu kamu Cin,tidak apa kan,kan gak ketemu."
"Gak boleh,itu sama saja.Tujuan aku di pingitkan biar nantinya kamu semakin rindu padaku."
"Tapi kan sekarang aku rindu sekali Cin,kalau gitu aku telephone biasa saja ya!"
"Gak boleh."
"Lo kok gak boleh juga sih?"
Cinta yang membaca pesan Rio terus saja senyum-senyum sendiri.
"Sudah dulu ya,rindunya di simpan dulu untuk 1 minggu lagi ya mas!"
Sedangkan yang di sana tersenyum senang sekali ketika mendapat panggilan mas dari sang kekasih.
"Baiklah,jaga dirimu baik-baik ya Cin,jangan sampai terlalu lelah,"di pesan terakhirnya ia memberi sebuah emoji berbentuk love.
Cinta membaca pesan dari Rio sambil menutup mulutnya yang tengah tersenyum senang.Ia tidak membalasnya lagi,hanya jawaban iya yang keluar dari mulutnya tanpa di ketahui Rio.
Cinta melirik jam dinding sebentar."Sudah jam satu siang,"gumanya.Setelah mejanya bersih dari segala macam buku,Cinta beranjak dari tempat duduknya keluar dari ruang guru .
Bersambung...