
...Happy Reading...
Tidak ada hal yang paling membahagiakan diantara sepasang kekasih yang sedang dilanda kasmaran itu, selain kata restu dari orang tua.
Perjuangan Nicholas memang tidak terlalu berat untuk mendapatkan Alisya, namun cukup membuat mentalnya down berkali-kali dihadapan orang banyak. Tapi semua itu akan terbayar pagi ini.
Nicholas tidak ingin membuang-buang kesempatan lebih lama lagi, akhirnya dia memutuskan untuk melaksanakan Ijab Qobul secara kecil-kecilan dirumah Alisya dan akan melanjutkan pesta pernikahan mereka nanti di hotel berbintang di pusat kota, tentu saja itu berkat sponsor dari Big Bosnya Jeremy.
"Sayang.. kamu dimana yank?" Saat Akad Nikah sebentar lagi mau dimulai, Nicholas sudah datang dengan setelan jas serba putih dan berteriak-teriak memanggil calon makmumnya.
"Hush... sana tunggu didepan! nggak usah teriak-teriak, kamu pikir ini hutan apa!" Namun calon ayah mertuanya lagi-lagi menjadi penghalang dirinya.
"Ayah aku hanya ingin melihat Alisya sebentar saja." Rengek Nicholas.
"Setelah kata 'sah' terucap baru kamu boleh memanggilku dengan sebutan Ayah dan saat itu juga baru kamu boleh memandang wajah putriku, mengerti!" Ridwan menekankan segala perkataannya.
"Yaelah pak, pelit banget cuma mau lihat doang ini, biar semangat melafazkan ijab qobulnya nanti." Pinta Nicholas, karena sedari tadi dia penasaran ingin melihat wajah Alisya kalau dirias, pasti cantik sekali pikirnya.
"Nggak boleh, apapun alasanmu tetap saja tidak boleh!" Ridwan langsung membentangkan kedua tangannya untuk menghalangi Nicholas yang terlihat sudah 'ngebet' banget.
"Ssst... bapak belum minum obat kuatnya ya tadi malam?" Nicholas sengaja ingin mengalihkan perhatian calon ayah mertuanya.
"Sudah." Jawabnya dengan singkat, padat dan jelas, namun tiba-tiba terlihat bahunya sedikit melemas setelahnya.
"Lalu kenapa masih sewot aja, apa obatnya tidak berfungsi? atau dosisnya kurang tinggi, biar aku pesankan lagi nanti pak?" Ucap Nicholas dengan menggebu-gebu.
Plak!
"Itu saja sudah membuat si Marjuki berulah sepanjang malam, aku jadi tidak bisa tidur gara-gara obat kamu itu!" Umpat Ridwan sambil memukul lengan Nicholas dengan kesal.
"Bagus dong pak, berarti manjur, kan bapak jadi bisa gempur sampai pagi, mantep dong?" Ledek Nicholas dengan santainya.
"Gimana mau gempur sampai pagi, orang pintu kamarnya di kunci, aish... Dia benar-benar tidak mau mendengarkan penjelasanku, aku rasa dia benar-benar marah denganku." Ridwan terlihat prustasi karenanya.
"Pfffttthh... itu sih derita bapak!" Nicholas malah terkekeh karenanya.
"Apa kamu bilang!" Akhirnya kedua mata Ridwan langsung melotot, calon menantunya ini memang sering sekali membuat emosi dan darahnya tidak stabil.
"Eherm... maksud saya, sabar aja pak, namanya juga wanita, pasti minta dibujuk, usaha lebih keras lagi pak." Dia langsung mengubah mimik wajahnya saat calon ayah mertuanya terlihat meradang.
"Entahlah.. sampai saat ini dia masih belum mau berbicara denganku." Dia meregangkan kemejanya yang terasa mencekik leher.
"Begini saja pak, gimana kalau bapak juga pergi bulan madu saja dan kita bisa membajak sawah berjamaah malam ini, ide yang bagus bukan?" Terlintas satu ide konyol dari diri Nicholas.
"Jadi kamu mengajak kami ikut serta bulan madu bersama kalian berdua?" Ada guratan senyuman setelahnya.
Enak saja, tidak akan aku biarkan bapak menggangu ritualku nanti malam, sorry-sorry nie ye!
"Bapak memang saya suruh pergi bulan madu, tapi tidak dengan tujuan yang sama denganku!"
"Aish... Kamu ini!" Hilang sudah senyuman diwajah Ridwan, karena dia tidak jadi pergi jalan-jalan, selama menikah dengan istrinya dia belum pernah mengajak istrinya pergi jalan-jalan pikirnya.
"Tenang, mas kawin dariku untuk putri bapak kan satu unit apartement mewah, nah.. bapak bisa bulan madu disana sama ibu mertua, apartementnya bagus pak, nggak kalah sama hotel berbintang, mahal loh itu!" Ucap Nicholas yang memang sudah mempersiapkan semuanya bahkan sebelum mereka datang kesini kemarin.
"Dih... Sombong amat!" Cibir Ridwan yang terlihat tidak suka.
"Hehe.. untuk Alisya apa sih yang enggak pak, jadi cukup bapak tau aja, kalau calon menantu bapak ini memang layak untuk diperjuangkan!"
"Kenapa? karena kamu kaya? cih... bahkan bapak berharap Alisya dapat jodoh orang biasa, bukan orang kaya, yang penting dia bisa hidup bahagia!"
Karena kisah masa lalunya, seolah dia benci dengan keluarga kaya yang hanya mementingkan harta dan kasta didalam kehidupannya.
"Emang kenapa dengan orang kaya, harusnya bapak lega, anak bapak tidak akan kekurangan satu apapun dalam hidupnya!" Nicholas sengaja ingin tahu.
"Aku tidak mau hanya karena perbedaan kasta dan harta, anakku diperlakukan sewenang-wenang oleh suami dan keluarganya, jadi kalau kamu punya niatan untuk begitu, batalkan saja pernikahan kalian sebelum terlambat, atau mau aku saja yang membatalkannya sekarang, sebelum Ijab Qobul ini dimulai!"
"Astaga, jangan dong pak, aku sangat menyayangi putri bapak dan keluargaku juga tidak sejahat itu, mereka membebaskan aku untuk menikahi siapapun pilihanku, asalkan dia wanita."
"Apa kamu pernah suka dengan sesama pria?"
"Astagfirullohal'adzim, ya enggak lah pak, apa enaknya coba, masak batang perang sama batang, dapatnya cuma pegel doang!" Jawab Nicholas yang langsung menggedikkan kedua bahunya.
"Baguslah itu!" Dia merasa lega, karena akhir-akhir ini dia sering mendengar berita tentang maraknya pernikahan sesama jenis walau itu terjadi di luar negri.
"Kalau begitu, akan saya atur apartement itu menjadi tempat bulan madu yang paling romantis untuk bapak, okey?"
"Ckk... kami sudah tua nak, masak mau bulan madu lagi, tapi... atur sajalah sesukamu, kamu masih punya obatnya kan?"
Dan perkataan Ridwan mampu membuat Nicholas kembali tertawa cekikikan karenanya.
"Bahaha... kalau soal itu gampang pak, saya pesankan yang banyak, biar bapak nanti bisa bergadang tiga hari tiga malam, tapi sekarang boleh saya bertemu dengan Alisya sebentar? sudah hampir dua belas jam saya tidak melihat wajahnya, saya kangen pak." Rengek Nicholas kembali, entah kenapa dia rindu sekali dengan wanitanya itu karena setelah kesepakatan kemarin Nicholas tidak boleh menginap dulu dirumah Alisya, dia disuruh menginap di rumah sakit.
Plak!
Ridwan langsung melepas pecinya untuk memukul kening calon menantu gilanya itu dengan mata yang kembali melotot.
"Aduh... jangan sakiti saya pak, saya mau nikah ini, nanti kalau otak saya geser gimana?" Sebenarnya tidak sakit, namun dia sengaja bersandiwara saja.
"Dimasak gulai saja kalau perlu!" Umpat Ridwan dengan kesal.
"Bapak kira saya rumah makan Padang yang menyediakan gulai otak apa?"
"Diamlah.. jangan banyak protes, pak penghulu sudah datang itu, ayo kita temui beliau saja."
Ridwan langsung menarik lengan calon menantunya itu ke ruangan depan, yang sudah dihias sedemikian rupa dengan bunga-bunga indah walau hanya dari plastik.
Awalnya Ayah Alisya ingin melangsungkan acara Ijab qobul putrinya di pondok pesantren, namun dia takut jika nanti mental Nicholas kembali down dan pingsan bahkan sebelum mengucapkan kalimat syahadat karena disaksikan ratusan para santri-santri disana, akhirnya dengan kesepakatan bersama Ridwan memilih melaksanakan acara itu dirumah kecilnya saja, tempat dimana Alisya dibesarkan selama ini.
"Nak Nicholas apa kamu sudah siap?" Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya detik-detik acara Ijab Qobul akan segera dimulai.
Namun Alisya masih tetap berada didalam kamarnya sampai kata Sah terucap dari kedua saksi nantinya.
"Insya Alloh siap pak." Jawab Nicholas dengan mantap.
"Percaya diri sekali kamu nak, apa kamu sudah menghafalkan lafazdnya?" Ledek Ridwan saat melihatnya.
Diawali dengan bacaan Basmalah, Nicholas berhasil mengucapkan lafazd ijab qobul dengan lancar dan mendapatkan kata sah dari kedua saksi pagi ini dengan mas kawin berupa satu unit Apartement dibayar Tunai.
"Alhamdulilah, akhirnya asistenku sold out juga, selamat ya bro!" Jeremy langsung memeluk asisten sekaligus sah menjadi adek iparnya.
"Terima kasih boskuh, jangan lupa giliran anda yang menyiapkan pesta pernikahan saya nanti?" Jawab Nicholas sambil menepuk punggung bosnya.
"Enak saja, walau kita sudah jadi saudara sekarang, posisi kita di luar masih tetap sama, ingat itu!" Jeremy tetaplah Jeremy, yang tidak mau ribet dalam urusan apapun.
"Tapi ini kan didalam rumah kita bos!"
"Tetap saja aku ini masih atasanmu, jadi kamu urus sendiri pernikahanmu itu, yang penting transferan uangnya lancar bukan?" Yang bisa Jeremy andalkan dalam dirinya hanyalah uang saja, karena otak didalam kepalanya tidak akan dia biarkan pusing hanya karena hal didunia.
"Haish... sudah aku duga, tapi apapun itu terima kasih untuk semuanya bos!" Nicholas mengeratkan pelukannya, karena kalau bukan berkat Jeremy dan keluarganya dia bukanlah siapa-siapa sampai saat ini.
"Panggil aku kakak ipar mulai sekarang, tapi pekerjaanmu tetap sama, mengerti?" Ledek Jeremy karena melihat mata Nicholas sudah terlihat memerah karena terharu.
"Baiklah kakak iparku!"
"Hahaha!"
Akhirnya dua pria tampan itu kembali saling berpelukan dengan penuh tawa, walau awalnya mereka sering berdebat masalah pekerjaan namun siapa sangka akhirnya mereka mendapatkan jodoh kakak beradik dan benar-benar menjadi keluarga sekarang.
"Selamat atas pernikahan kamu ya Dek?" Lain dua pria tampan itu lain pula kedekatan Alisya dan Hanny.
"Dek?" Alisya sampai menaikkan kedua alisnya karena sedikit terharu, akhirnya Hanny bisa menerima kenyataan walau memang pahit menurutnya.
"Bukannya aku sekarang kakakmu?" Hanny menangkupkan kedua tangannya diwajah cantik Alisya.
"Hiks.. hiks.. Kakak!" Tangisan itu tidak lagi bisa dia bendung.
"Hei... kenapa kamu menangis, apa sesedih itu menjadi adekku?" Hanny langsung mengusap punggung Alisya perlahan.
"Bukan begitu." Alisya mengusap perlahan air matanya, takut jika riasan wajahnya luntur nantinya.
"Jadi?"
"Dulu, aku adalah fans kamu, aku berusaha keras agar bisa menjadi teman kamu, dan ternyata Allah memberikan bonus lain, karena kini idolaku ternyata adalah kakakku sendiri." Jawab Alisya saat mengingat betapa tertutupnya seorang Hanny diawal pertemuan mereka kala itu.
"Astaga, aku tidak pantas menjadi idolamu, aku ini mantan sang Pendosa Alisya." Hanny tidak menyangka jika sebaik itu Alisya menggangap dirinya.
"Tidak ada manusia tanpa khilaf dan dosa, tapi terlepas dari semua itu, aku sangat bersyukur karena ternyata kamu adalah bagian dari keluargaku, kamu orang baik Hanny, aku sayang kamu kakakku." Alisya kembali memeluk Hanny dengan erat.
"Terima kasih Alisya, aku pun sangat bersyukur bisa mengenalmu, kamu yang sudah berjasa membawa dan menuntunku menuju jalan kebaikan, aku bahkan lebih sayang... sayang banget sama kamu Alisya, terima kasih sudah hadir dihidupku dan menemaniku selama ini, hiks.. hiks.." Akhirnya tangisan Hanny pun pecah dihari bahagia adekknya.
"Eits... apa-apaan ini, kenapa lama sekali kalian berpelukan?" Nicholas berjalan mendekatinya.
"Apaan sih Bandit, kamu ini menghancurkan suasana aja!" Umpat Hanny yang langsung menghapus air matanya.
"Wahai kakak ipar yang terhormat, yang butuh pelukan Anda itu noh, suami anda! kalau Alisya itu butuhnya hanya pelukan ku saja mulai sekarang!" Nicholas langsung menarik tubuh Alisya kedalam pelukannya dan menghujani kecvpan diwajahnya, sekarang dia bebas mau bermesraan didepan siapapun karena sudah halal.
"Gaya loe itu, awas saja nanti malam, tidak akan aku biarkan kamu menjebol gawang dengan lancar!" Ancam Hanny dengan senyum liciknya, tubuhnya sudah pulih jadi dia bisa bertingkah sesuka hatinya lagi.
"Kamu pikir aku sebodoh itu? aku tahu siapa kamu dan liciknya kamu Bodat, jadi aku sudah menyiapkan banyak planning malam ini, kamu coba saja kalau bisa." Tapi Nicholas tak kalah cerdik.
"Apaan sih mas." Alisya langsung mencubit lengan pria yang baru saja rilis menjadi suaminya.
"Tenang sayang, kamu pasti tetap bisa main Lato-Lato sepuasmu nanti malam." Ucap Nicholas sambil mengedipkan satu matanya.
"Lato-Lato? mas tahu juga mainan itu, aku sudah mulai bisa memainkannya loh mas, walau tanganku sampai biru-biru terkena hantaman benda itu setelahnya." Jawab Alisya dengan polosnya, karena permainan itu memang sedang viral saat ini.
"Tenang saja yank, kalau kamu main Lato-lato punyaku, dijamin nggak akan biru-biru dan kamu pasti akan sangat menyukainya." Nicholas tersenyum geli karenanya.
"Benarkah? emang beli dimana Lato-Latonya? terbuat dari apa bahannya, pengen coba main deh."
Pletak!
"Jangan polos-polos banget jadi orang kenapa sih Dek!" Hanny langsung menyentil kening Alisya.
"Emang kenapa sih kak? sekarang kan emang lagi ngetrend main Lato-Lato, apa kamu belum pernah mencobanya, seru tahu, cobalah!" Alisya tetap kekeh dengan pendapatnya.
"Pffthh... kamu lucu sekali sayang, jadi nggak sabar aku ngasih Lato-Lato milikku kepadamu!" Nicholas bahkan langsung memainkan kedua pipi Alisya seperti squisy.
"Oh Alisya... miris sekali nasipmu dapat suami Bandit kayak dia!" Umpat Hanny yang hanya bisa tepuk jidat.
"Kenapa sih Kak, dia baik loh!" Alisya membela suaminya.
"Yang dimaksud sama suami elu itu bukan Lato-Lato yang saat dimainkan berbunyi 'etek-etek' itu, wahai adekku tersayang!" Hanny gemas sendiri jadinya.
"Jadi? emang ada bunyi lain kah?" Tanya Alisya yang mulai bingung.
"Kalau Lato-Lato punyaku, bunyinya ahh-ahh sayang!" Jawab Nicholas yang semakin menahan tawanya.
"Hah? kok bisa?" Dia mengerutkan kedua alisnya dengan heran.
"Haish... kamu masih belum paham juga Dek? kalau begitu habislah nasip kamu nanti malam olehnya, kalau begitu bye!" Hanny memilih melenggang pergi menemui suaminya, karena dia merasa gemas sendiri melihat Alisya yang sengaja digodain oleh suaminya.
"Maksudnya apa sih, aku nggak ngerti deh mas." Alisya semakin bingung dengan ucapan Hanny, dia benar-benar tidak paham dengan kata-kata perumpamaan seperti itu.
"Jangan dipikirkan omongan si Bodat itu, nanti malam kamu bisa ujian praktek sendiri, okey sayang?" Dan kebahagiaan Nicholas terasa semakin sempurna saat istrinya benar-benar masih original dan belum terkontaminasi dengan hal-hal kotor.
"Emang sekolah apa, kenapa ada ujian praktek segala?" Umpat Alisya yang malas berpikir.
"Yang penting mulai saat ini, kamu itu sudah resmi menjadi istriku Alisya, i love you sayang, hehe!" Nicholas langsung mengangkat tubuh Alisya dan memutarkan tubuhnya dengan senyum yang terus terpancar disana.
"Astaga mas, awas... nanti aku jatuh loh!" Alisya langsung memeluk leher suaminya dengan erat.
"ALISYA!"
Tiba-tiba disaat mereka sedang berpelukan dengan mesra, terdengar suara parau dari seseorang yang baru saja datang ke acara pernikahan mereka.
Dan dia adalah...