Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
63. Nge-Reog


...Happy Reading...


Rasa sedih yang berlebihan serta kondisi tubuh yang kurang istirahat dan juga perut yang belum terisi asupan makanan membuat tubuh Jeremy lemah dan mudah tumbang.


Brukk!


"Kak Jeremy?" Teriak Sholeh yang tanpa sengaja menoleh kearah pelataran Masjid karena mendengar ada suara aneh.


Para santri yang berada didalam masjid itu pun langsung berlari dan berhamburan keluar saat mendengar Sholeh berteriak.


"Astaga, angkat dia masuk kedalam masjid dan bawakan minyak angin." Abah langsung ikut bangkit dari tempat duduknya.


"Alisya? siapa dia?" Bisik Hanny yang langsung mendekat ke arah Alisya yang juga terlihat kebingungan.


"Entahlah, nggak kelihatan Han, dia dirubungi para santri pria, aku mana berani menelusup ditengah-tengahnya."


Hanny dan Alisya hanya bisa berdiri di pojokan sambil berjinjit, siapa tahu dia bisa melihat wajah pria itu, namun tubuh para santri itu menutupi wajah Jeremy.


"Bos, bangun bos?"


Namun suara Nicholas menggema didalam masjid itu, sehingga Hanny dan Alisya bisa menebak siapa orang yang sedang terbaring pingsan disana.


"Mas Jeremy?"


Hanny langsung terduduk lesu, orang yang paling tidak dia harapkan hadir dalam pernikahannya adalah Jeremy, karena dia tidak ingin melukai hatinya.


"Mungkin dia sudah membaca suratmu?" Bisik Alisya yang sudah menduga-duga.


"Apa yang harus aku lakukan Alisya, aku mana bisa menikah saat mas Jeremy dalam kondisi seperti itu?" Hanny bahkan kembali menitikkan air matanya, rasa sedih itu kembali muncul seketika.


"Mau gimana lagi, ini sudah keputusan Abah kan?" Alisya pun tidka berani mengusulkan apapun jika sudah menyangkut dengan Abah.


"Apa sebaiknya kita minta Abah untuk menunda acara pernikahanku saja?" Ucap Hanny yang mukai terlihat gelisah.


"Begitu juga boleh, kita bicara dengan Abah sekarang."


Alisya dan Hanny langsung mendekat ke arah Abah yang berdiri tidak jauh dari para santri itu.


"Abah, bagaimana kalau kita tunda acara Ijab Qobulnya saja?" Hanny mengucapnya dengan perlahan.


"Iya, kembalilah ke kamar kalian, jika nanti kondisinya sudah kondusif Abah akan memanggilmu kemari." Jawab Abah yang langsung menyetujui.


"Baik Abah, tolong jaga mas Jeremy ya?" Ucap Hanny tanpa sadar.


"Hah?" Abah langsung menaikkan kedua alisnya.


"Maksud saya tolong bantu pria yang pingsan itu, kasihan dia Abah." Hanny langsung mengkoreksi perkataannya.


"Hmm... tenang saja, dia tidak akan kenapa-kenapa, jika nanti kamu kembali dia pasti sudah tersenyum saat melihatmu."


"Maksudnya gimana Bah?" Pikiran Hanny ngeblank seketika dan masih belum paham dengan apa yang Abahnya maksudkan.


"Pergilah ke kamarmu, Abah akan mengurusnya dan satu hal lagi, jangan keluar sebelum Abah memanggil kalian berdua, mengerti."


"Baik Abah." Jawab Hanny dan Alisya bersamaan dan akhirnya mereka memilih pergi dari kerumunan orang hang maaih mengerubungi Jeremy.


Setelah hampir satu jam Hanny masih mondar-mandir didalam kamar, menunggu informasi terkait dengan keadaan Jeremy, namun tidak ada satupun yang datang memberikan kabar itu ke kamarnya.


"Alisya, kira-kira bagaimana keadaan mas Jeremy sekarang ya, apa dia harus dilarikan ke Rumah Sakit, kenapa belum ada kabar sampai sekarang?"


Kalau diikuti kata hati, ingin sekali Hanny pergi dari sana dan menemani Jeremy saat ini, namun apa daya ini adalah kawasan Pondok yang selalu memiliki batas antara santri pria dengan santri perempuan.


"Entahlah, padahal sudah satu jam loh, kalau dia masih pingsan selama ini bahaya juga kan?" Alisya pun tidak menduga kenapa hal ini bisa terjadi.


"Jangan nakut-nakutin aku dong Sya, aduh gimana dong, coba kamu cek kembali ke Masjid aja Alisya." Hanny tidak memiliki cara lain untuk saat ini.


"Aku mana berani Han, tadi Abah kan sudah pesan kalau kita nggak boleh keluar kamar sebelum mereka panggil bukan?" Pantang bagi Alisya untuk menentang keinginan dari Abah apapun itu pikirnya.


"Tapi aku khawatir Sya, gimana kalau mas Jeremy sakit parah?" Hanny sudah membayangkan yang tidak-tidak saat ini.


"Kita berdoa saja yang terbaik buat dia."


Yang Alisya bisa lakukan hanya menguatkan saja, karena dia juga tidak punya wewenang akan hal ini.


"Aku takut Sya!" Hanny oangsung memeluk tubuh Alisya dnegan erat, tidak bisa dipungkiri bahwa rasa sayangnya terhadap Jeremy tidak berkurang sedikitpun, walaupun setahunya Jeremy sudah menikah.


"Hanny, kendalikan dirimu, karena aku yakin pernikahanmu tidak akan batal gara-gara ini, jagalah perasaan calon suamimu nanti, jangan terlalu berlebihan saat menanggapi Jeremy." Alisya kembali menyadarkan sahabatnya tentang posisi dirinya.


"Tapi aku nggak akan bisa tenang untuk menikah kalau belum tahu keadaan mas Jeremy, bahkan aku gagal menikah juga tidak apa-apa, asalkan mas Jeremy baik-baik saja."


"Hush... Kamu ini kalau ngomong ya!" Alisya lansung mencubit pipi Hanny karena masih sering berbicara sembarangan.


"Demi Allah Sya, aku tidak rela jika mas Jeremy terluka karena melihat aku menikah."


"Dia pasti akan baik-baik saja."


"Atau kita kabur saja dari sini Alisya? biar aku nggak jadi nikah lagi?" Keinginan gila itu kembali muncul di benaknya.


"Hanny, mau kabur kemana lagi kamu, kamu sudah pernah kabur loh, masak iya sekarang mau kabur lagi?"


"Lalu aku harus apa Alisya?" Hanny menjambak rambutnya sendiri karena terlalu prustasi akan hal ini.


"Sudahlah, tenangkan dirimu, percaya saja Tuhan akan memberikan apapun yang terbaik untuk kamu."


"Huft... kenapa gini amat nasib aku ya Sya?" Hanny mulai kembali meneteskan air matanya, karena terlalu pilu meratapi jalan hidupnya yang seperti rolercoaster.


"Sabar Han, jangan terlalu sedih dan mengeluh, itu artinya kamu tidak percaya dengan kuasa Tuhan." Ucap Alisya sambil mengusap bahu Hanny perlahan,dia pun sebenarnya tidak tega, namun dia bisa apa.


"Saaaaahhhhh!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan serentak dari arah Masjid yang membuat Hanny dan Alisya langsung tersentak.


"Aku nggak salah denger kan Han, mereka berteriak kata Sah bukan?" Alisya mencoba mengingat-ingat suara tadi.


"Iya, tapi siapa yang juga menikah hari ini selain aku?" Tanya Hanny yang sama herannya.


"Entahlah." Alisya hanya bisa menaikkan kedua bahunya karena memang dia tidak tahu apa-apa tentang hal ini.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum mbak Hanny?"


"Wa'alaikumsalam, masuk saja pintunya nggak di kunci." Jawab Hanny yang mulai mengusap air matanya.


"Mbak Hanny disuruh Abah datang ke Masjid."


"Sekarang?" Tanya Hanny yang semakin kaget karenanya.


"Iya."


"Baiklah, ayok Sya temani aku." Hanny pun penasaran ingin melihat apa yang terjadi di Maajid saat ini.


"Owh iya, selamat ya mbak atas pernikahan mbak Hanny, semoga langgeng sampai maut memisahkan, berkah, barokah sampai ke Jannah, amin."


Duar!


"Hah? emang aku sudah menikah?"


Ucapan itu seolah seperti bom yang meledak tepat di samping telinganya.


"Loh... barusan kan, apa mbak nggak dengar kata Sah tadi, pokoknya selamat ya mbak, buruan ke Masjid mbak, sudah ditunggu Abah dan Umi juga, kalau begitu saya duluan assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Hanya Alisya yang menjawabnya, karena mulut Hanny masih terlihat mengaga karena masih belum percaya.


"Hiks.. hiks.. Alisya, bagaimana ini?" Setelah beberapa saat Hanny kembali bermandikan air mata, seolah stok air matanya mengalir tanpa batas.


"Kenapa bagaimana?"


"Kok aku tiba-tiba sudah menikah aja sih? Aku kan daritadi masih disini?"


"Sebenarnya memang saat mempelai pria mengucap kata Ijab Qobul, mempelai wanita boleh tidak mengikutinya dan baru hadir setelah kata Sah terucap."


"Tapi kan nggak gini juga Alisya? trus gimana kabar mas Jeremy tadi, apa dia sudah bangun, atau dia sedang berada didalam rumah sakit, aku masih khawatir tentang dia Sya."


"Kamu kan sudah menyetujui pernikahan ini sedari awal dan menyerahkan semuanya kepada Abah dan Umi, jadi memang tidak masalah Hanny."


"Tapi Sya?"


"Sudahlah, jangan merisaukan pria lain selain suamimu, kamu sudah menikah sekarang dan kamu sudah pamit juga kan dengan pak Jeremy walau hanya lewat surat, sekarang kita ke Masjid saja, jangan membuat Abah dan Umi menunggu, ayoklah."


Dengan langkah lunglai, Hanny menyeret kedua kakinya yang terasa berat dengan digandeng oleh Alisya yang selalu setia berada disampingnya.


"Alisya, jika aku pingsan nanti jangan pernah tinggalkan aku ya?" Umpat Hanny yang sudah berpikiran nyleneh.


"Kamu ini ngomong apa sih Han, kuatkan hati dan langkahmu, niatkan semua karna Allah Ta'ala, okey?"


"Mas Jeremy, maafkan aku." Umpat Hanny perlahan.


"Sabar Han, kamu pasti bisa melewati ini semua."


Dan kedatangan Hanny benar-benar disambut oleh mereka, bahkan Umi langsung memeluk Hanny begitu dia sampai didepan Masjid.


"Nak Hanny, selamat ya nak, Barakallahu laka wa baraka alaika wa jamaa bainakuma fii khair, semoga Allah memberkahimu dalam segala hal baik, dan mempersatukan kalian berdua dalam keadaan kebaikan, amin."


"Hiks.. hiks.. terima kasih Umi, tapi siapa suamiku Umi?" Tanya Hanny dengan lemas.


"Kenapa malah nangis, tersenyumlah... dia ada disana, civmlah tangannya, kalian berdua sudah sah menjadi suami istri sekarang." Umi menyuruh Hanny masuk kedalam Masjid.


"Alisya pegang tanganku, tulang-tulang ditubuhku rasa-rasanya sudah menjadi tulang lunak semua, aku takut jatuh Alisya, tolong aku." Hanny bahkan memegang erat lengan Alisya.


"Subhanallah, maha suci Allah... Hanny, bukalah matamu, lihatlah wajah suamimu itu." Alisya langsung tersentak begitu melihat seseorang diujung sana.


"Aku takut Alisya, dia jelek ya, kira-kira kalau diajak ke kondangan pantes nggak?" Pertanyaan gila itu sontak keluar begitu saja dari mulut Hanny.


"Astagfirullah Hanny, istigfar kamu."


"Aku kok tiba-tiba jadi nggak siap nikah ya, aku pura-pura pingsan aja ya, nanti kamu bawa pulang aku ke kota saja."


Plak!


"Astaga, buka matamu Hanny, lihat dulu siapa suamimu itu."


Alisya bahkan sampai menjitak kening Hanny karena terlalu gemas karenanya.


"Sayang."


Degh!


Suara itu terdengar mendayu-dayu di telinga Hanny.


"Eh... kok aku kayak nggak asing dengan suaranya?" Umpat Hanny berulang kali.


"Makanya buka matamu, mau sampai kapan kamu jalan sambil tutup mata kayak begini?"


Akhirnya karena rasa penasarannya, Hanny lekas membuka matanya perlahan.


Beeerrrrrr!


Senyuman manis itu menghiasi pria berwajah tampan dan menawan, yang sudah berdiri menyambut kedatangannya dengan menggunakan baju koko dan juga sarung di hadapannya.


"Hah, kok mas Jeremy?" Ada rasa kaget, haru namun bahagia begitu melihatnya.


"Jadi kamu maunya siapa?" Tanya Jeremy sambil menyunggingkan senyumannya.


"Eh... enggak, bukan begitu maksud aku, tapi..?"


"Kemarilah istriku, mulai sekarang kamu tidak bisa lagi kabur dariku, karena aku adalah suamimu sekarang." Ucap Jeremy dengam bangganya.


"Hiks.. hiks.."


Entah sudah berapa kali Hanny mewek hari ini, namun kali ini dia menangis karena merasa takjub atas kebesaran Tuhan.


Seolah dia mendapatkan mukjizat dan berkah secara bersamaan, orang yang paling dia sayangi, orang yang paling dia cinta kini sudah memproklamirkan diri menjadi suaminya.


Dirinya yang merasa begitu hina dan kotor merasa sangat bersyukur, karena Allah memberikan kebahagiaan berkali-kali lipat dari apa yang dia harapkan.


"Sayang kamu kok nangis terus, apa kamu tidak bahagia jika menikah denganku? atau kamu berharap pria lain yang menikahimu?" Jeremy malah jadi negative thingking karenanya.


Tapi apa aku menjadi istri kedua sekarang? Bukannya dia sudah menikah?


Disaat mengingat akan hal itu, tangisan Hanny semakin menjadi, dia memang sangat menginginkan Jeremy menjadi suaminya, namun jika harus berbagi suami, bahkan membayangkannya saja dia sudah ketakutan duluan.


"Hua... hiks.. hiks.. sroook!"


Bukannya terlihat tersenyum bahagia, namun tangisan Hanny bahkan semakin pecah karenanya, bahkan Hanny menggunakan jilbab yang dia pakai untuk mengusap wajahnya yang sudah tidak karuan karena dibanjiri oleh ingus dan air mata.


"Hanny, jorok ih!" Alisya langsung mencubit pinggang milik Hanny karena gemas. Entah kemana gayanya yang elit dan selangit dulu, kenapa dia jadi seperti ini pikir Alisya.


"Abah, ijinkan saya membawa Hanny untuk ke kamar terlebih dahulu, boleh?" Alisya langsung berinisiatif sendiri.


"Ya.. tenangkan dulu dia, mungkin dia masih terkejut dengan ini semua." Abah pun menyetujuinya.


"Baik Abah, permisi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


"Abah, apa wajahku terlihat jelek? kenapa istriku terlihat sedih sekali saat melihatku?" Jeremy langsung mencoba melihat penampilan dirinya sendiri.


"Sudahlah, temui nak Hanny saat dia sudah merasa lebih tenang." Abah hanya bisa menepuk perlahan bahu Jeremy.


"Abah?"


"Kenapa? mau nge-reog lagi kamu atau mau ngamuk dan demo sekalian kayak tadi? masih belum capek kamu, mau lanjut lagi ini?" Sindir Abah dengan senyum yang terlihat menyeringai saat mengingat kelakuan Jeremy tadi sebelum Ijab Qobul terlaksana.


"Bukan begitu Abah, tapi..."


"Sudahlah bos, jangan cari perkara lagi, malu bos!" Nicholas langsung menarik lengan Jeremy agar tidak banyak bicara lagi.


"Tapi apalagi?"


"Tidak ada Bah hehe.. terima kasih untuk hari ini Bah, terima kasih untuk kebaikan Abah, Umi dan juga semua santri-santri di pondok pesantren ini, terutama kamu Sholeh, semoga Allah melipat gandakan pahala untuk kalian semua." Jeremy menoleh kearah Sholeh yang ikut bahagia disana.


"Amin yarobal'alamin, kamu istirahatlah sebentar, jangan sampai lupa makan lagi, masak pengantin baru lemah." Ledek Abah.


"Owh iya Abah, boleh aku tanya satu hal?"


"Apalagi nak Jeremy?"


"Boleh saya mengadakan ritual malam pertama disini?" Bisik Jeremy sambil mencondongkan wajahnya ke arah Abah tanpa rasa segan ataupun malu.


"Terserah kamu lah, itu hakmu." Jawab Abah yang hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Lalu bolehkah kalau saya pinjam kamar Abah? masak iya aku malam pertama gabung sama santri yang lain di kamar?"


"Allahu Akbar... cobaan apa lagi ini? Sholeh kamu urus kakakmu ini, jangan sampai dia datang ke ruangan Abah malam ini, mengerti nak?" Abah kembali dibuat takjub dengan tingkah Jeremy yang memang lain daripada yang lain.


"Mengerti Abah! Sstth... kakak bisik-bisik apaan sama Abah tadi, kenapa Abah sepertinya terlihat marah?" Sholeh langsung menyenggol pinggang Jeremy yang malah tersenyum karenanya.


"Hehe.. nggak ada! bantu kakak berkemas ya, malam ini kakak tidak tidur di Pondok!"


"Aish... giliran udah dapat incarannya aja langsung mau keluar Pondok, dulu aja mohon-mohon biar bisa tinggal di Pondok ini." Ujar Sholeh sambil melengos.


"Kamu anak kecil tau apa, kalau sudah masanya juga pasti kamu akan melakukan hal yang sama sepertiku, bahkan mungkin lebih gila dariku, hehe."


"Dih... senyum kakak ini, nggak malu apa sama tingkah kakak yang tadi sebelum Ijab Qobul, kalau aku mungkin sudah semedi di Gua Qira'." Sholeh pun tidak mau kalah meledek Jeremy.


"Bodo amat, yang penting jadi nikah sama my Hanny, persiapan malam pertama, muehehe.."


Jeremy langsung saja melenggang pergi dari depan Masjid dengan senyum yang terus saja merekah di bibir tebalnya.


Yakinlah bahwa tidak ada satu halpun yang tidak mungkin jika kamu melakukannya dengan hati dan niat yang sungguh-sungguh.


Keajaiban mungkin datang bahkan tanpa pernah kamu sadari. Ingatlah kalau dalam hidup ini tidak semua harus kita mengerti.


Percayalah saja, jika sesuatu itu memang ditakdirkan untuk kita, maka sesulit apapun mencapainya, sesuatu itu akan tetap menjadi milik kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha dan berdoa. Selebihnya, biarkan Allah SWT yang menentukannya.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, untuk part yang puanjang ini, Big Huge buat kalian semua pembaca setiaku.