Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
68. Wayahe-wayahe?


...Happy Reading...


Lain di kamar Nicholas, lain pula tragedi yang terjadi dikamar pasangan halal yang baru saja release hari ini, ada sedikit ketegangan didalamnya, namun bukan dari pihak Jeremy, melainkan dari pihak Hanny yang biasanya tidka perduli tentang apapun.


Setelah pintu kamar itu tertutup Hanny dengan ragu memilih duduk di kursi sofa dengan kalem, tanpa berbicara sepatah katapun.


Hilang sudah sosok Hanny yang pandai menggoda semua pria hanya dengan gaya duduknya dan senyumannya saja, bahkan disaat mereka sedang berduaan pun Hanny masih tetap menggunakan hijabnya.


"Sayang... Wayahe.. Wayahe!"


Teriak Jeremy dengan mata genitnya, seolah sifat mereka terbalik saat ini, pihak pria lah yang menjadi lebih agresif daripada Sang Ahli.


"Eherm... Mas, saya permisi mandi dulu ya?"


Hanny bukannya gadis polos nan lugu, dia tahu betul apa arti dari ucapan suaminya, namun dia memilih menghindar saja terlebih dahulu, karena sesak dihatinya saat menyadari menjadi istri kedua masih belum hilang sampai saat ini.


Hap!


"Mau kemana sih, nanti mandinya barengan aja." Jeremy langsung menarik lengan Hanny dan menyentakkannya, agar istrinya jatuh ke dalam pelukannya.


"Aku masih gerah Mas, seharian belum mandi loh, bau keringat ini." Hanny langsung ingin berontak dan bangkit dari sana.


"Kenapa sih Han, kita sudah sah loh?" Jeremy menatap sendu wajah istrinya.


"Iya Mas, aku cuma mau mandi dulu sebentar." Hanny masih ragu untuk memulainya, padahal Jeremy adalah targetnya sedari dulu yang belum bisa dia takhlukkan sampai detik ini.


"Tapi mas kangen sayang." Bisik Jeremy disamping telinga istrinya dengan merdu.


Berrrr!


Hawa semilir dari hembusan angin kencang di malam itu, ditambah dinginnya udara dari AC membuat suasana menjadi haru biru.


Jauh dari lubuk hati Hanny yang paling dalam, dia pun merasakan hal yang sama, bukan hanya Jeremy yang rindu, bahkan Hanny merasakan lebih dari itu.


"Mas... aku, emm...?"


Ya ampun wanginya, aduh... jantungku rasanya mau copot, kenapa naluri gilaku seolah kembali lagi, aku pengen sekali menggenj*tnya, tapi aku masih ingin tahu alasannya, kenapa dia tetap menjadikan aku istrinya? padahal dia tahu bagaimana buruknya aku dulu, apa dia hanya ingin membalas dendam denganku saja, begitu dia menikahiku lalu dia akan pergi meninggalkan aku dan pergi bersama istri pertamanya?


Hanny pun masih bingung ingin menanggapinya seperti apa, apalagi saat Jeremy sudah memeluk tubuhnya dengan erat seperti ini, pikiran Hanny sudah bergejolak seketika.


"Sayang, kenapa kamu berubah terhadapku, apa salahku?" Jeremy menatap kedua bola mata Hanny yang berwarna kecoklatan itu, seolah ingin mencari kejujuran disana.


"Aku tidak berubah mas, aku cuma..." Hanny tidak melanjutkan ucapannya.


"Kamu berubah sayang, dulu kamu sangat suka jika melihatku, selalu manja denganku, selalu ingin dekat denganku, bahkan selalu tersenyum denganku, lalu kenapa sekarang semua itu seolah tidak aku lihat dari dirimu, katakan dengan mas, apa salah mas, sehingga kamu seperti ini sekarang?" Ini saatnya bagi Jeremy untuk berbicara dari hati ke hati pikirnya.


"Mas nggak salah kok, cuma aku merasa tidak pantas saja."


"Kenapa, cobalah terbuka dengan mas, kita sudah menikah, aku harap setelah ini tidak ada hal yang ditutup-tutupi lagi?" Jeremy memgusap lembut pipi Hanny.


"Aku wanita yang menjijikkan mas."


Degh!


"Maaf sayang." Ucap Jeremy saat mengingat dia pernah berkata seperti itu saat mendengar kata kupu-kupu malam.


"Bukan mas yang seharusnya minta maaf, aku yang salah, aku yang memang wanita kotor dari semua wanita yang mas kenal, akulah yang paling buruk." Mata Hanny mulai memanas, namun dia terus menahannya.


"Sayang, mas tau sebenarnya itu bukan keinginanmu kan, kamu pasti punya alasan tersendiri ingin melakukan hal itu, sekarang tolong katakan dengan mas, agar kita bisa memulai hidup baru dengan sebuah kejujuran, karena itu modal utama dalam sebuah pernikahan sayang."


"Maaf mas... maaf jika mas terpaksa menerimaku."


"Aku tidak terpaksa menerimamu Hanny, mas memang sayang denganmu, jangan khawatir mas tidak akan pernah meninggalkanmu hanya karena masa lalumu, tapi mas hanya ingin tahu alasanmu saja, kenapa kamu harus menjadi wanita malam? Sedangkan keluarga kamu bahkan lebih dari cukup memberikan fasilitas materi untukmu, jadi kamu menjadi wanita malam bukan karena alasan uang kan?" Jeremy sudah memikirkannya berulang kali namun belum menemukan jawabannya.


"Bukan, aku hanya ingin merasakan kasih sayang dari mereka saja, walaupun tidak tulus pun tidak masalah, walaupun hanya karena nafsv belaka pun tak apa, yang penting aku bisa merasakan hangatnya sebuah pelukan, dikecvp dengan mesra oleh sosok orang yang seumuran dengan ayahku, karena aku tidak pernah merasakannya mas, sedangkan adik-adikku setiap hari selalu disayang-sayang olehnya, sedangkan denganku selama ini, ayah seolah sudah merasa jijik duluan."


"Astaga sayang, bukannya mas juga selalu memperlakukan kamu seperti itu? kenapa kamu tidak memintanya dengan mas saja?"


"Itu kenapa semenjak menjalin hubungan dengan mas, aku sudah meninggalkan dunia malam itu, bahkan semenjak bersama mas aku sudah tidak minat lagi dengan pria lain?" Jawab Hanny dengan jujur.


"Owh ya?"


"Hmm.. bahkan sebenarnya mas adalah target utamaku dulu." Umpat Hanny perlahan.


"Gimana?" Jeremy seolah tidak paham maksudnya.


"Eherm... enggak, aku cuma mau bilang terima kasih buat mas karena sudah memberikan kasih sayang itu, bahkan lebih dari apa yang aku harapkan."


"Jadi kamu sudah tidak lagi berhubungan dengan mereka kan?" Jeremy ingin memastikannya kembali.


"Tentu saja tidak, bahkan sedari dulu aku tidak pernah mengulang dengan klien yang sama dan aku pun selalu mencari keluarga yang bermasalah, jadi aku tidak terlalu terbebani dengan sebutan mbak pelakor, karena memang rumah tangga mereka sudah retak sejak awal." Itulah pedoman Hanny sebelum bertemu dengan Jeremy.


"Begitu, aku rasa sudah cukup penjelasan darimu."


"Apa mas ingin tahu biodata mereka, biar bisa memastikan aku berbohong atau tidak?" Tanya Hanny.


"No, aku bahkan tidak ingin melihat wajah mereka lagi." Jeremy langsung menggelengkan kepalanya.


"Lagi? Apa mas pernah melihatku secara langsung saat menservice mereka?"


"Hmm... dan itu sakit sekali sayang." Jeremy menundukkan kepalanya seolah tidak ingin mengingat kembali video itu.


"Maaf mas, maafkan aku, itu kenapa aku merasa tidak pantas untukmu." Penyesalan itu kini datang kembali.


"Tapi itu sudah berlalu, mas harap kamu tidak pernah lagi menginjakkan kakimu didunia malam itu lagi."


"Iya mas, aku pun menyesal, itu kenapa aku ingin belajar banyak tentang agama dengan Abah dan Umi di pondok pesantren."


"Tentu saja, kita masih akan tetap kesana, tapi setiap akhir pekan atau saat mas libur kerja okey?"


"Terima kasih mas, karena sudah mau menerimaku."


Hanny begitu bersyukur, kali ini dia baru merasakan apa itu yang dinamakan hikmah dibalik musibah.


"Okey, tapi sekarang wayahe nyambut gawe, hehe!" Jeremy langsung membanting tubuh Hanny seketika ke kasur empuk dikamar itu.


"Mas, tunggu!" Teriak Hanny seketika.


"Kenapa sayang, apa kamu ingin mempersulit mas dalam menjalankan sunnah Rosul?"


"Bukan begitu mas, tapi apa mas juga sudah memberikan nafkah itu kepada istri pertama mas?" Hanny kembali teringat dengan unek-uneknya.


"Hah?" Jeremy hanya bisa mengaga karenanya.


"Jujur mas, sebenarnya aku tidak rela menjadi yang kedua, tapi mungkin ini sudah menjadi takdir hidupku, aku juga tidak boleh serakah, dan mungkim juga ini ujian untuk aku karena dulu banyak sekali dosa-dosa yang telah aku ciptakan."


"Siapa bilang kamu jadi yang kedua?" Jawab Jeremy sambil mengusap lengan istrinya.


"Jadi?"


"Kamu tetap menjadi yang pertama dan semoga menjadi yang terakhir untukku sayang."


"Tapi mas saat itu tetap melangsungkan pernikahan bukan?"


"Tidak, mas hanya melangsungkan resepsi saja, tapi tidak menikah, baru dengan kamu mas menikah."


"Bohong!" Umpat Hanny dengan cepat.


"Demi Allah sayang, istri mas cuma kamu seorang."


"Lalu Dinar?"


"Kenapa dengan Dinar?"


"Saat itu aku mendengar percakapan mas dengan Dinar, sudahlah mas jujur saja denganku, walau ini sulit aku tetap akan bertahan,walau entah bisa sampai akhir atau tidak." Hanny mencoba untuk legowo menerimanya jika ini memang sudah menjadi ketentuan-Nya.


"Sayang, kamu hanya salah paham."


"Salah paham gimana, jelas-jelas aku melihat foto pernikahan mas dengan wanita saat itu."


"Mana coba mas lihat fotonya?"


"Sudah aku musnahkan, sekalian dengan ponselnya!"


"Astaga sayang, apa kamu tidak mengenalnya?"


"Bukannya itu Dinar? aku melihat sendiri mas, karena sebenarnya aku sudah datang di tempat itu."


"Memang Dinar, wanita yang memberitahukan tentang semua masa lalumu, tapi yang menemaniku di atas panggung pelaminan saat itu bukan dia sayang, makanya kamu perhatikan baik-baik fotonya."


"Kalau bukan Dinar lalu siapa, bukannya dia yang teringin sekali menjadi pengantin penggantiku saat itu?"


"Lalu foto itu?"


"Kamu bukannya wanita? yang seharusnya paham dengan make up karakter?"


"Maksudnya?" Hanny memang sama sekali tidak terfikirkan akan hal itu.


"Dia Nicholas sayang, mas menyuruh pihak MUA untuk mengubah Nicholas menjadi perempuan, karena resepsi pernikahan itu harus tetap berlangsung, my Dad and my Mom sudah mengancamku, karena kami tidak bisa membatalkan semua tamu undangan dan klien Daddy yang datang, jadi dengan berat hati mas tetap melangsungan resepsi pernikahan itu, tapi tidak dengan ijab qobulnya." Akhirnya Jeremy menceritakan kejadian yang sesungguhnya kala itu.


"Astagfirullahal'adzim, maafkan aku mas, ini semua salahku."


Cup


Jeremy langsung mengecup kening Hanny lama sekali, sebagai tanda bahwa hanya dialah sosok wanita yang dia sayangi selama ini.


"Hanya kamu wanita yang ingin mas jadikan sebagai pendamping hidup selamanya, bukan Dinar atau yang lainnya."


"Terima kasih mas, aku sayang mas."


Hanny akhirnya bisa bernafas dengan lega dan kembali memeluk tubuh Jeremy dengan erat.


"Sayang... lalu apa mas sudah boleh memulainya, mas rindu yank."


Haiyah.. saatnya beraksi Dul..


"Aku pun rindu kamu mas."


Hanny langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Jeremy yang sudah tersenyum dengan bibir yang merekah.


"Mau kiss?" Pinta Jeremy dengan bibiirnya yang sudah terasa gatal sedari tadi, saat melihat senyuman yang kembali terbit diwajah Hanny, spesial untuknya.


Brak!


Dengan satu kali tarikan, hijabnya sudah teronggok dilantai dan Hanny langsung mengibaskan rambutnya dengan tatapan yang menggoda.


Inilah yang aku inginkan sejak dulu, memilikimu sepenuhnya mas Jeremy, terima kasih Tuhan atas nikmat yang telah engkau berikan.


"Mas sudah siap?"


"Siap banget!" Jawab Jeremy dengan mantap.


Dengan satu kedipan matanya, yang menjadi tanda bahwa skill miliknya sudah siap dia adu dan dia realisasikan kepada suaminya tanpa meributkan adanya alat pengaman diantara mereka.


Hanny mulai melepas bajunya satu persatu hingga menyisakan pakaian tipis yang melekat ditubuhnya, hingga akhirnya dia memilih berdiri dan duduk dipangkuan suaminya sambil merangkulkan kedua tangannya dileher suaminya.


"Sayang... kamu cantik sekali."


Jikalau Hanny sudah melancarkan serangan mautnya seperti itu, semua laki-laki yang berhadapan dengan dirinya sudah hilang kesadaran duniawinya, apalagi Jeremy yang belum pernah diperlakukan seperti itu, burung Beo nya bahkan sudah ingin berkicau saat belum melakukan apa-apa.


Cup


Hanny memulainya dari wajah Jeremy terlebih dahulu dan mulai turun ke bibiir tebalnya lalu menikmati pertukaran saliva disana dengan penuh penghayatan.


"Sayang... kangen nyot.. nyot!" Rengek Jeremy dengan manja.


"Aish... baru dibuka jalannya, langsung aja pengen mendaki, minumlah mas, yang banyak tapi jangan digigit, kalau patah nggak ada sparepatnya." Hanny pun tidak bisa menolaknya.


"Hehe... siap sayangkuh!"


Nyot


Nyot


Nyot


Disaat Jeremy masih asik bolak-balik ngempeng dari gunung semeru lalu pindah ke gunung merbabu, dan juga Hanny yang masih menikmati dampaknya yang juga membuat pikirannya terbang melayang ke nirwana dengan tangan Hanny yang terus mendekap dan mengusap rambut Jeremy, entah mengapa tiba-tiba terlintas dipikiran Hanny sebuah foto yang memperlihatkan Suaminya sedang berciuman saat resepsi pernikahan itu.


Plup!


Terdengar bunyi suara dari mulut Jeremy disaat dia masih ingin mengenyot namun sudah ditarik paksa oleh Hanny.


"Eurm... sayang, masih pengen nen lagi."


Jeremy sudah memonyongkan bibirnya ingin kembali mengosak-asik dunia pergunungan itu, namun Hanny langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


"Nggak!" Tolak Hanny yang langsung memundurkan tubuhnya.


"Kenapa lagi Hanny, kita sudah sah sekarang, bahkan aku boleh melakukan apa saja denganmu, kamu sudah halal untukku, apa kamu lupa?"


"Berarti kalau yang menggantikan aku di resepsi pernikahan itu si Bodat, berarti mas civman sama si Bodat dong, iiiuuhhh!" Lebih terasa mengerikan bagi Hanny saat membayangkannya saja.


"Hah, sayang tapi itu kan terpaksa!"


"Hellooow? Mas civman di bibiir tau nggak, apalagi sampai diambil gambar, itu pasti bukan hanya sebentar, dih... aku kok jadi geli ya bayanginnya!"


"Sayang itu salahmu, jadi kamu yang harus bertanggung jawab denganku!" Jeremy langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Hoerk... aku kok pengen muntah ya!" Hanny ingin kabur tapi Jeremy lansung memegangi kepala istrinya.


"Nah, biar nggak muntah makan ini!" Jeremy lansung menyodorkan senjatanya yang sudah tegak berdiri sedari tadi.


"Aaaaaa... mas, nggak mau!" Tolak Hanny.


Slop!


(warning area)


"Hanny.. oh my Hanny, eurm... aw... uwah... hempt!"


Karena Jeremy merasa kesal, dia langsung saja memasukkan si Otong ke mulut Hanny dan ternyata mendapatkan sensasi yang luar biasa.


Kreek!


Dengan tanpa ampun Hanny mengeratkan giginya sampai suaminya menjerit kesakitan.


"Aaaaaaaa... Sakit Hanny!"


"Mas... jangan kebanyakan gaya, nanti ininya sakit loh!" Ledek Hanny sambil menoelnya dengan senyum penuh makna, dalam sesaat kembalilah sifat jahilnya yang dulu lagi.


"Kamu itu yang menyakiti mas, aduh... sampai merah gini yank, masih bisa dipake nggak ini!" Bahkan wajah Jeremy sampai memerah karenanya.


"Emm...nggak bisa kayaknya deh mas, udah Tatu itu, kalau dipaksain juga nggak bakalan bisa berdiri tegak, jadi mas istirahat saja ya, aku mau mandi dulu." Hanny langsung bangkit dan memunguti pakaiannya.


"Tapi aku belum sempat teriak ahh sayang!" Jeremy kembali protes, karena pedomannya saat sedang melakukan Sunnah Rosul itu harus ada jeritan seperti itu.


Wing!


"Argh... sakit Hanny!" Akhirnya Jeremy berteriak juga, namun bukan karena mendapat sensasi kenik matan, namun karena kesakitan.


"Tuh udah bisa teriak kan? atau mau telinga yang satunya lagi, sini aku jewer lagi."Hanny langsung menyunggingkan senyumannya.


"Hanny, kamu ini tega banget sama suami sendiri!" Umpat Jeremy yang sebenarnya hanya iseng saja tadi, agar istrinya itu tidak mengingatkan dirinya, saat-saat kelam dimana dia harus mencivm bahkan mencicipi bibiir Nicholas.


"Utututu... kasihan kesayangan aku, sini aku suapin buah pisang."


Dan saat Hanny melirik keatas meja, ternyata ada satu parcel buah-buahan yang memang disediakan untuk tamu VIP dan kebetulan ada pisang Ambon super disana.


"Nggak mau, aku nggak nafsv makan!" Tolak Jeremy seketika.


Bayangkan saja, siapa yang memikirkan tentang isi perut, dikala seseorang sedang menuju sensasi surga dunia.


"Tapi mas harus tetap memakannya juga!" Hanny tetap mengupas pisang ambon super itu dan menyuapkan paksa ke mulut suaminya.


"Hoerk... hoerk, sayang ampun mas keselek ini!" Jeremy hampir saja muntah betulan karena Hanny menyuapkan pisang itu seluruhnya tanpa jeda.


"Hehe... itulah yang aku rasakan! makanya jangan coba-coba mengulanginya, atau aku patahkan pisangmu, seperti pisang ini mas." Hanny langsung memakan pisang itu dengan senyuman liciknya.


"Maaf, aku khilaf tadi sayang." Rengek Jeremy yang seolah menyesal, padahal tidak sama sekali.


"Khilaf kok dinikmati, sekarang nikmatin itu sendiri!" Akhirnya Hanny memilih melenggang pergi ke dalam kamar mandi dengan sejuta umpatan di mulutnya.


Kalau bukan suaminya yang melakukan hal itu, sudah pasti Hanny akan mematahkan lansung didepan matanya, karena memang dia tidak suka hal seperti itu.


Jeremy said:


Siapa bilang malam pertama itu selalu indah? buktinya aku cedera karenanya dan apa yang terjadi tidak seperti yang ruangan sebelah fikirkan, saat mereka mendengar suara jeritan malam dari kamar ini.


JANGAN DITIRU, INI HANYA ADEGAN FIKTIF BELAKA, BEN KETOK GAYENG.😉