
...Happy Reading...
Rasa panik dan kalut semakin Jeremy rasakan, karena resepsi pernikahan mereka sudah harus digelar dalam beberapa jam lagi.
Sedangkan pak Penghulu sudah berulang kali mempertanyakan keberadaan pengantin wanitanya, karena jam Akad Nikah mereka seharusnya sudah diadakan satu jam yang lalu.
"Bos... sepertinya nona Hanny sudah pergi jauh sedari tadi, sedangkan anak buah kita belum ada yang berhasil menemukan jejak mereka."
Nicholas sudah berulang kali menghubungi anak buahnya, untuk mencarinya didalam Apartement lama maupun baru, namun nihil, mereka tidak ada disana.
"Lalu aku harus bagaimana Nick? aku tidak mungkin juga menggagalkan pernikahanku hari ini." Umpat Jeremy yang terlihat semakin prustasi.
"Aku pun pusing bos, sedangkan para tamu undangan sudah mulai berdatangan, tidak mungkin juga kita mengusirnya bukan?"
"Jeremy, sudahlah! kamu menyerah saja." Dinar kembali mendekati Jeremy, dia memang sedang menunggu kesempatan hari ini.
"Dinar?"
"Sudah tidak ada waktu lagi untuk menunggu, izinkan aku untuk menjadi pendampingmu." Rayu Dinar kembali.
"Okey, kalau begitu bersiaplah, pakai gaun pengantin itu."
Akhirnya tidak ada cara lain, selain menyetujui permintaan dari Dinar, karena memang tidak banyak wanita yang Jeremy kenal, akan sangat sulit mencari pengantin pengganti dalam hitungan jam saja.
"Nah gitu dong Jer, aku janji deh, kamu tidak akan pernah menyesal saat menikah denganku nanti."
Raut wajah sumringah langsung terpancar diwajah Dinar, karena keinginannya untuk menjadi pendamping hidup Jeremy selama ini, akan terlaksana dalam beberapa saat lagi.
Dinar langsung bergegas menemui beberapa MUA yang sedari tadi sudah menunggu, dengan wajah yang sudah merona.
Jeremy adalah penyemangat hidupnya selama ini, bahkan dia rela menolak beberapa pria yang menaksir dirinya, hanya untuk menunggu Jeremy yang sebenarnya tidak bisa dipastikan perasaannya terhadap dirinya, namun dia tetap nekad untuk mencintai Jeremy.
"Bos, kalau begitu biar saya siapkan acara Akad Nikahnya, agar pak Penghulu segera bersiap." Nicholas pun tidak berani melarang, karena semua keputusan ada ditangan Jeremy.
"Suruh dia pulang saja, beri dia hadiah karena telah sudi menunggu dan mengulur waktunya." Titah Jeremy yang membuat Nicholas menoleh kearahnya.
"Loh, maksudnya gimana ini bos? katanya anda bersedia menjadikan Dinar pengganti nona Hanny? apa Anda sungguh-sungguh ingin membatalkan pernikahan ini, apa Anda tidak takut dengan ancaman Tuan Besar tadi?"
Nicholas jadi bingung sendiri, bahkan dia langsung melayangkan beberapa pertanyaan secara beruntun kepada Jeremy.
"Nanti aku jelaskan, kamu urus dulu semuanya, jangan sampai ada tamu undangan yang curiga, kalau mereka bertanya, bilang saja Akad Nikahnya sudah selesai dan diadakan secara tertutup."
"Hah? tapi bos?"
"Cepat laksanakan, keburu tamu undangan semua datang!" Titah Jeremy kembali.
"Baik Tuan Muda."
Nicholas langsung melakukan permintaan bosnya, dia pun sebenarnya masih dirudung rasa penasaran, namun dia sedikit lega, karena bukan Dinar yang menjadi istri sah nya.
Entah mengapa dia tidak begitu suka dengan Dinar, walau dia pun mengenal Dinar sudah sejak lama, Nicholas merasa Dinar terlalu agresif sebagai wanita dan terlalu memaksakan kehendak dirinya sendiri.
Dalam sekejap saja, Nicholas berhasil mengatasi keadaan dibawah sana, tentang pekerjaan Nicholas memang tidak perlu diragukan lagi, jika sudah uang berbicara, bahkan semua anggota keluarga dekat mereka bisa tutup mulut dengan rapat.
"Jeremy, bagaimana penampilan pengantin wanitamu ini? Kamu suka?" Dia memutarkan tubuhnya didepan Jeremy dengan percaya diri.
Dinar sudah selesai berhias, tubuhnya sudah berbalut dengan gaun panjang berwarna putih dengan wajah yang terlihat cantik mempesona, karena dia akan menjadi Ratu sehari kali ini.
"Hmm."
Jeremy hanya meliriknya sekilas, agar Dinar merasa senang, padahal pikirannya seolah sudah dipenuhi oleh wajah Hanny.
Sayang kamu dimana, seharusnya kamu yang menggunakan gaun itu? seharusnya kita sudah sah saat ini? kemana kamu pergi Hanny?
Jeremy akhirnya tertunduk lesu, hari yang sudah dia tunggu-tunggu sejak lama ternyata berakhir dengan seperti ini, bahkan tidak sesuai dengan apa yang ada didalam angan-angannya selama ini.
"Bos, keadaan sudah kondusif, semua sudah terselesaikan, dan acara resepsi sudah bisa kita mulai." Nicholas sudha melaporkan keadaan di Ballroom tempat acara itu akan berlangsung.
"Apa kamu sudah mengatakan hal ini dengan keluarga Hanny?" Tanya Jeremy yang teringat dengan keluarga Hanny.
"Sampai detik ini belum ada keluarga Hanny yang datang, aku rasa hanya Mr. Albert yang Hanny undang, tapi beliau belum datang."
"Benarkah? kalau begitu kamu hubungi dia, siapa tahu Mr. Albert tau keberadaan Hanny."
"Baik bos?"
"Jeremy, apa Akad Nikah kita sudah akan dimulai." Dinar merasa ada yang aneh saat menyimak percakapan mereka.
"Tidak akan ada acara Akad Nikah hari ini."
Dor!
"APA?"
Dinar langsung berteriak karena terkejut dengan pernyataan dari Jeremy.
"Maksud kamu apa Jer? bukannya kamu sudah setuju jika aku yang akan menggantikan wanita kotor itu!"
"Cukup Dinar, kamu tidak perlu memanggil Hanny dengan sebutan itu terus!"
"Tapi itu kenyataannya Jer, lalu untuk apa kamu menyuruh aku mengganti pakaian dengan gaun ini, jangan bercanda kamu Jer?" Amarah Dinar langsung meluap disana.
"Aku tidak bercanda Dinar, aku memang setuju menjadikan kamu sebagai Pengantin Pengganti Hanny, tapi hanya di atas panggung pelaminan saja, bukan dalam acara Akad Nikah." Tegas Jeremy kembali.
"Kamu jangan mempermainkan aku Jeremy, apa-apaan ini?" Dinar langsung tidak terima.
"Pfftthh!"
Nicholas yang sempat mendengarnya langsung menahan tawanya saat melihat wajah Dinar yang terlihat begitu kecewa.
"Hei... diam kamu!" Dinar merasa tersinggung dengan ekspresi dari Nicholas.
"Silahkan dilanjut, anggap saja aku tidak mendengarnya." Jawab Nicholas yang langsung memalingkan tubuhnya dan pura-pura bermain ponsel padahal dia hanya ingin menguping saja, karena dia sudah berhasil mengghubungi Mr. Albert tadi walau hanya sebentar.
"Aku sudah bilang dengan orang tuamu tadi Jer, ayolah kita menikah saja, lagian pak Penghulu bukannya sudah menunggu sejak tadi?"
"Dia sudah aku suruh pulang nona Dinar." Nicholas langsung menyahutnya kembali, walaupun tidak berani menoleh kearahnya.
"APA!" Dinar langsung melotot mendengarnya.
"Kamu sudah dengar kan?" Jeremy menghela nafasnya berulang kali, dia pun bingung kenapa Dinar menjadi seperti ini pikirnya.
"Tapi Jeremy?"
"Tidak akan ada acara Ijab Qobul ataupun acara Akad Nikah hari ini, hanya akan ada resepsi saja, karena hanya itu yang Daddy permasalahkan tadi bukan?"
"Tapi aku ingin menikah denganmu Jeremy, bukan hanya Pengantin Pajangan saja?" Teriak Dinar kembali.
"Harus berapa kali aku bilang Dinar, aku tidak bisa dengan mudahnya menggantikan sosok Hanny dengan sebegitu cepatnya, cobalah mengerti Dinar!"
"Tapi dia wanita kotor Jeremy, apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu, hanya karena cinta!"
"Dinar, tutup mulutmu!"
"Cih... kalau kamu tidak mau menikah sungguhan denganku, jangan harap aku akan membantumu!"
"Dinar?"
Kraaaak!
Dinar bahkan sengaja menyobek gaun pengantin itu untuk membukanya dengan paksa, hatinya begitu terluka, saat Jeremy tetap tidak sudi menjadikan dirinya sebagai istri sah nya.
"Terserah kamu saja, mau menanggung malu atau bersedia menerima hukuman dari orang tua kamu, silahkan saja, aku tidak perduli lagi! Umpat Dinar dengan wajah yang sudah memerah karena menahan kesal yang teramat sangat.
"Waduh... gimana ini? hei... Nona Dinar?" Nicholas tiba-tiba jadi panik sendiri, padahal sudah saatnya mereka turun untuk mengisi panggung pelaminan saat ini.
"Biarkan saja dia pergi!" Ucap Jeremy dengan lemah.
"Tapi bos?"
"Aku tidak mungkin menikahinya secara resmi, karena aku sama sekali tidak ada rasa dengannya."
"Tapi ini resepsinya sebentar lagi di mulai bos, sedangkan orang tua anda sudah memberikan ultimatum sedari tadi, wah... bisa tamat riwayat kita bos, aku bahkan juga pasti akan terkena dampaknya."
"It's okey, resepsi pernikahan ini akan tetap berlangsung!"
"Hah? lalu siapa yang akan menjadi pengantin wanitanya?" Tanya Nicholas yang sudah cemas.
"Kamu!"
"HAH, APA!"
Wajah Nicholas sudah tidak lagi bisa terlukiskan, bukan hanya terkejut, jika dia punya penyakit jantung sudah pasti akan kambuh saat ini juga.
Prok.. Prok!
Jeremy langsung menepuk kedua tangannya untuk memanggil para anggota MUA yang ada disana.
"Mbak Perias, sini kalian semua!" Teriak Jeremy.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" Mereka langsung tergopoh-gopoh mendekat kearah Jeremy.
"Kerahkan seluruh anggota kalian untuk merias asisten saya ini, secantik mungkin!"
"HAH?" Para anggota MUA itu pun awalnya terkejut.
"Bos, apa anda sudah gila? saya pria tulen bos? masak iya saya pakai gaun dan menjadi pengantin wanita?" Umpat Nicholas.
"Kamu masih ingin bekerja di perusahaanku bukan?"
"Iya, tapi bukan begini konsepnya bos!"
"Diamlah, hanya ini jalan satu-satunya, kalau kamu tidak ingin saya pecat secara tidak hormat dan saya blacklist dalam dunia bisnis, menurut saja kamu, jangan banyak protes, lagian apa susahnya, kamu bisa pakai masker wajah nantinya, gitu aja kok repot!"
"Argh... hancur sudah reputasi kejantananku kali ini."
"Pffthh... tenang saja pak, kami MUA profesional, akan kami pastikan bahwa anda akan berubah menjadi cantik jelita hari ini, hayuk atuh pak... pakai celana lejing dulu, biar kakinya kelihatan mulus!"
"Nggak... Aku nggak mau!" Tolak Nicholas.
"Ayolah pak, kami punya gaun cadangan yang pasti cocok buat bapak!" Rayu para MUA itu sambil menahan tawa.
"Dandani dia secantik mungkin, akan aku berikan kalian bayaran tiga kali lipat, jadi jangan mengecewakan aku." Ucap Jeremy yang memang tidak punya pilihan.
"Siap pak Bos, akan aku sulap asisten bapak ini menjadi cantik jelita."
"Aaaaaaaaa.... Tidaaaaaaaaaaakkk!"
Ingin sekali Nicholas berontak dan kabur saja dari sana, namun beberapa anggota MUA itu langsung memegangi lengan dan tubuh Nicholas secara paksa.
"Fuuuh... kamu dimana sayang, aku merindukanmu."
Tinggallah Jeremy yang kembali terduduk lesu diruangan itu, air matanya kembali menetes saat dia sedang sendirian seperti ini.
"Tuhan, saat ini aku yakin kan 'Amin' ku melalui jalur Langit, ku pasrahkan semuanya hanya kepada-Mu, karena aku juga yakin, Semesta tau.. apa yang baik akan datang padaku dan apa yang jadi milikku, tetap akan kembali padaku."
Ada banyak luka dan kesedihan yang sulit tergambarkan dihatinya, disatu sisi dia begitu takut kehilangan Hanny, namun disisi lain dia pun takut jika sikapnya dengan Hanny saat berdua nanti bisa berubah, saat dia mengingat video-video dan juga foto disaat Hanny sedang beradu de sahan diatas ranjang dengan pria lain.
Namun tidak bisa ia pungkiri, bahwa dirinya kini masih sangat menyayangi dan mencintai Hanny dengan sepenuh hati.
Ali bin Abi Thalib said...
"Jangan pernah mengambil 'Keputusan' dalam 'Kemarahan' dan jangan pernah membuat 'Janji' dalam Kebahagiaan."