Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Ingat kembali dan ketakutan


2 minggu kemudian.


Pulih sudah kaki Cinta,kini ia sudah bisa berjalan dengan normal.Ia pun juga sudah kembali bekerja dari 1 minggu yang lalu.Wanita itu tidak bisa berdiam diri saja,meski sedang dalam masa cuti dan di haruskan istirahat ia tetap beraktifitas seperti biasanya.Sakit bukan penghalang baginya untuk bermalas-malasan,meski tidak di lakukan seperti biasanya,setidaknya ia tetap menggerakkan pergelangan kakinya supaya tidak kaku.


"Assalamualaikum,"terdengar ucapan salam dari luar sana.Cinta berdiri dari tempat duduknya guna membuka pintu.


"Waalaikumsalam,"jawab Cinta dan pintu terbuka.


"Rio...ada apa?"tanya Cinta setelah tahu kalau Rio yang datang.


"Selamat sore istriku,"goda Rio.


"Masih calon,"jawabnya sedikit jutek namun setelahnya tersenyum manis saat Rio memberikan seikat bunga Lili putih.


"Untukku?"tanya Cinta girang.


Rio mengangguk,"untukmu yang cantik dan biar semakin cantik."


Cinta tertawa kecil,"apa hubungannya coba?"


Tentu saja ada,bunga Lili itu melambangkan kecantikan,keanggunan,kesetiaan, sama seperti kamu dan aku harap kamu bisa menjaga kesetiaan itu.


Cinta mencebik,"kalau kamu yang gak setia bagaimana?"


"InsyaAllah aku akan menjaga kesetiaan itu,"jawab Rio.


"Looo...nak Rio nya kok nggak di suruh masuk sih Cin? ayo masuk nak Rio!"titah bu Nincrgsih memotong percakapan mereka."Buatkan minum Cin,tamu kok di biarkan di luar."


Cinta beranjak ke dapur membuatkan secangkir kopi untuk Rio dan setelah jadi ia pun membawanya di atas nampan beserta makan kecil sebagai teman kopinya.


"Ayo nak Rio di minum,"titah bu Ningsih setelah minuman itu di suguhkan."Dan ibu tinggal ks dalam dulu ya."


"Baik bu terima kasih banyak,"jawab Rio.


Sepeninggal bu Ningsih,Cinta duduk di sofa panjang sedangkan Rio,ia duduk si sofa tunggal yang berseberangan dengan Cinta.


"Esok setelah kamu pulang kerja ikut aku ya Cin."


"Kemana?"tanya Cinta.


"Besok kamu juga akan tahu."Cinta hanya mengangguk-angguk mendengarnya.


Malam pun semakin larut,Rio kini telah berpamitan pulang,Cinta membersihkan tubuhnya sebelum merebahkan diri di kasur.Di lepasnya hijab juga gamis yang ia kenakan,berganti dengan kaos longgar lengan panjang juga celana kain panjang.Ia melepas tali rambut yang mengikat rambutnya.Tergerai begitu indah,panjang dan hitam kelam,jemarinya menyisir setiap helai rambut dari pangkal hingga ujungnya.Hingga di rasa sudah rapi,Cinta membaringkan tubuhnya,meregangkan otot-ototnya yang kaku.


Di lain tempat.


Rio yang baru saja keluar dari halaman panti,teringat sosok Radit.Setelah mengantar Radit ke rumah sakit waktu itu ia tidak pernah bertemu kembali dengannya.Jadwal padat serta kesibukannya yang mendekati hari pernikahan,membuatnya sampai melupakan lelaki itu sejenak.Ia pun mengemudikan mobilnya menuju kontrakan miliknya dulu yang letaknya tidak jauh dari panti bahkan jika di tempuh dengan kaki akan sampai dalam waktu 10 menit saja.Rio memarkirkan mobilnya di tepi jalan tepat di depan kontrakkan,sebab ia hanya sebentar saja ingin memastikan jika Radit baik-baik saja.


Tok tok tok..


Ia mengetuk pintu berkali-kali tapi tak ada buka,"padahal lampu menyala pintu pun terkunci dari dalam tapi kenapa gak di buka-buka,"gerutunya.Rio mengetuk pintu itu sekali lagi,dan...


"Maaf gak sengaja,tadinya aku mau ketuk pintu dan gak tahunya kamu dah buka."


"Kenapa kesini? kirain dah lupa.Mentang-mentang mau nikah,temen lagi sakit gak di tengok,"gerutunya.


"Kamu tu kayak perempuan,gitu saja marah-marah,"ejek Rio.


"Assalamualaikum aku masuk ya,"Rio pun masuk ke dalam menerobos Radit yang berdiri di depan pintu.Melihat Radit yang semakin geram,Rio terkekeh geleng-geleng kepala.Namun dalam sekejap ia berhenti tertawa melihat ruangan yang begitu berantakan."Kamu mau kemana Dit?"tanya Rio melihat koper dan baju-baju berserakan di sofa.


"aku akan pulang ke rumah ku Rio,"jawabnya.


"Rumah? apa kau mengingat sesuatu?"


Radit mengangguk,"Terima kasih untuk kebaikanmu,"ucapnya tulus.


"Dan Cinta? apa kau juga mengingatnya?"


Radit mengangguk lagi,"tapi jangan kawatir,aku tidak akan mengganggunya.Aku sadar,dia akan menjadi milikmu dan aku tidak akan mengambil milik seseorang yang sudah menyelamatkan aku."


"Syukurlah kau sudah mengingat kembali,"ada rasa bersyukur juga ada sedikit rasa was-was.Yang ia pikirkan hanya Cinta,jika saja Cinta tahu ingatan Radit pulih kembali,ia pasti akan ketakutan.


****


Pagi hari di perusahaan.


Setelah mengantar Cinta pagi ini Rio di sibukkan dengan setumpuk berkas-berkas yang harus di tanda tangani.Dengan segera ia menyelesaikannya,sebab 3 jam lagi akan ada meeting penting dengan pembisnis yang handal terkait kerjasama dengan keuntungan yang besar.Semua demi keluarga nantinya,untuk istrinya,untuk kebahagiaannya.


Di sekolah tempat Cinta mengajar.


Ia semakin mengerti dan paham karakter masing-masing anak.Tidak salah ia melamar kerja di tempat ini karena selain gajinya yang lumayan juga mengharuskannya jadi seorang yang super sabar.Memang begitu,karena sejatinya setiap pekerjaan pasti akan ada pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya,yang bisa kita ambil manfaatnya.


Tak terasa jam sekolah telah usai,semua anak sudah meninggalkan aula sekolah bersama orang tuanya masing-masing.Kecuali para guru yang masih berkutat dengan buku-buku,begitu pun dengan Cinta.Setengah jam kemudian beberapa di antaranya sudah ada yang meninggalkan aula sekolah.Cinta melirik jam dinding di sebelah kirinya,pukul 12.15 menit.Itu artinya sudah masuk jam istirahatnya Rio.Cinta mulai berkemas,memasukkan semua barang-barang miliknya ke dalam laci.Ia menengok ke kanan dan ke kiri ternyata hanya tinggal ia saja yang belum pulang.


Melangkahkan kakinya menuju gerbang.


"Baru pulang bu Cinta,"sapa pak satpam.


"Iya pak,maaf menunggu lama ya pak?"


"Ah tidak bu,namanya sudah tugas bu,"jawab pak satpam.


Setelah Cinta keluar dari gerbang,satpam pun menggembok pagar."Mari bu Cinta."


.


"Iya pak mari-mari."setelah kepergian pak satpam,Cinta mengambil handphone di dalam tasnya.di lihat tidak ada pesan yang masuk.Sementara saat ini sudah menunjukkan pukul 12.30."Apa Rio lupa?"tanyanya dalam hati.


Ia duduk di sebuah gardu kecil,menunggu kedatangan Rio yang entah kapan datangnya.Langit siang yang gelap,matahari bersembunyi di balik gumpalan awan yang menghitam.Tetesan air hujan mulai turun membasahi keringnya tanah.Sepi...tak ada 1 pun seseorang yang lewat,hawa dingin pun mulai terasa.Cinta mengusap-usap kedua telapak tangannya guna mencari kehangatan.Untungnya gamis yang ia pakai lumayan tebal,jadi bisa menghalau udara yang semakin dingin.


Bersambung...