
...Happy Reading...
Malam ini hawa dingin begitu menusuk, bahkan terasa sampai ke tulang seorang wanita yang masih terjaga, walau waktu sudah menunjukkan hampir dini hari.
Sejak dia menghadap Abah tadi siang, pikirannya terus saja terbayang-bayang oleh sosok Jeremy, pria yang pernah menduduki tahta tertinggi di kerajaan cintanya.
Hanny merasa ada yang mengganjal di hatinya, dia merasa sangat bersalah, dia pun merasa ragu dan bimbang, jika tidak mengatakan sebuah kejujuran dari dirinya, apalagi besok dia akan menikah, yang calonnya saja dia bahkan tidak tahu.
Saat itu dia pergi meninggalkan Jeremy tanpa kejelasan, dan saat ini Jeremy bahkan mencari dirinya sampai ke Pondok Pesantren.
"Hanny, kamu sudah bangun?"
Alisya yang terjaga karena merasa haus, melihat Hanny yang menatap dinding ruangan itu dengan pandangan kosong.
"Boro-boro bangun, aku bahkan belum tidur sedari tadi." Hanny sudah berusaha memejamkan kedua matanya berulang kali, tapi sama sekali tidak bisa terpejam.
"Kenapa? ada yang kamu pikirkan?" Alisya langsung berjalan dan duduk di tempat tidur bertingkat yang Hanny tempati saat ini.
"Huft... entahlah Alisya, pikiranku terus saja terisi dengan sosok Jeremy." Umpat Hanny sambil memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
"Han, dia sudah menikah, cobalah untuk mengikhlaskannya." Alisya mencoba mengingatkan kembali dengan sebuah kenyataan yang sebenarnya tidak mereka ketahui tentang kebenarannya.
"Bukannya aku tidak mencoba Sya, bahkan aku berusaha keras dan mati-matian, tapi wajah tampannya itu seolah menari-nari di pikiranku ini." Dia bahkan hampir prutasi karenanya, dia pun sebenarnya tidak ingin menerima perjodohan dari Abah, tapi dia hanya bisa pasrah saja, karena ingin mencari ridhonya.
"Astagfitulloh hal'azim, nyebut Han! kamu pasti sulit melupakannya karena dia tampan kan?" Alisya langsung mencubit pinggang Hanny, bisa-bisanya dia masih memikirkan ketampanan dalam hal ini pikirnya.
"Karena itu memang kenyataannya Sya?" Jawab Hanny sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
"Hanny, dalam hidup ini kita semua yang berpasang-pasangan pun pasti akan berpisah, entah karena orang lain atau karena ajal yang menjemput, jadi kamu harus belajar melepas dan merelakan." Alisya menarik-narik bantal itu agar Hanny mendengar ucapannya.
"Bukan hanya itu masalahnya Alisya."
"Lalu?"
"Aku masih merasa bingung."
"Bingung kenapa?"
"Kenapa Jeremy masih mencariku, sedangkan dia bukannya sudah menikah?"
Dan pelukan dari Jeremy saat itu masih hangat seperti biasa, seolah pelukan dan rasa sayang itu masih mengalir seperti biasanya, tidak ada yang berubah menurutnya.
"Iya juga ya, atau mungkin karena dia masih ingin tahu penjelasan darimu Han, kamu kan pergi tanpa kata sedikitpun." Alisya pun sempat berpikir tentang itu, tapi dia pun ragu.
"Tapi kenapa dia harus sampai berada di pondok ini, kenapa dia tidak menikmati masa-masa indah pengantin baru dengan istrinya saja, karena apapun alasannya juga sudah tidak berguna saat ini kan Sya, toh.. Dia sudah menikah, bahkan dengan sahabat karibnya, sedari dulu aku tahu kalau wanita itu pernah ada rasa dengannya, karena aku pernah ketemu dulu dengannya?"
Hanny mengingat saat dia ingin menjebak Jeremy agar masuk dalam perangkapnya saat itu, namun Dinar datang untuk menggagalkan rencana itu untuk yang kesekian kalinya.
"Aku rasa pak Jeremy masih penasaran, apapun alasannya setidaknya kamu harus jujur Han, biar dia dan juga kamu sendiri merasa lega." Alisya yang tidak tahu apa-apa hanya ingin mengambil kesimpulannya saja.
"Lalu bagaimana jika alasanku nanti malah menghancurkan rumah tangganya?"
"Setidaknya dia tidak merasa terbohongi dengan kamu Han, cobalah jujur dengannya, apapun hasil akhirnya kita serahkan saja dengan yang di-Atas sana."
"Tapi?" Hanny masih merasa ragu, sedangkan untuk saat ini pun dia tidak bisa berbicara secara langsung dengan Jeremy.
"Jika kamu merasa ragu, mintalah pentunjuk dengan Allah, gimana kalau kita sholat Tahajud bersama-sama, ini kan sudah hampir sepertiga malam?" Alisya langsung berinisiatif akan hal itu.
"Hmm... baiklah." Ucap Hanny yang juga setuju, karena dia juga pernah mendengar dari ceramah ustazah disana, jika salah satu waktu yang mujarab untuk berdoa adalah di sepertiga malam.
Akhirnya kedua gadis itu sholat Tahajud bersama-sama, ada rasa tenang dan damai saat Hanny melakukan sholat Tahajud disaat yang lainnya sedang tertidur.
Hingga akhirnya setelah mereka selesai, Hanny melakukan sujud diatas sajadah lama sekali, dia bahkan berdoa sambil menitikkan air mata, seolah mencurahkan segala isi hatinya kepada sang Pencipta Alam Semesta.
Karena sebaik-baiknya kita mengadu, sebaik-baiknya kita bercerita masalah kita, itu hanya kepada Allah semata, karena hanya Dia lah yang maha Tahu tentang segala apa yang akan terjadi di muka bumi ini.
Ya Tuhan, jika memang Engkau ingin menghukumku, hukumlah aku... tapi aku mohon ya Tuhan, jangan marah denganku, aku tahu aku salah, aku juga tahu kalau perbuatanku dulu melanggar perintah-Mu, tapi aku sudah bertobat Tuhan, aku tidak akan lagi masuk kedalam lembah hitam itu dan saat ini aku sungguh memohon kepadamu, jika memang Jeremy bukanlah menjadi jodohku, hilangkan dia dari pikiran hambamu ini, aku tidak ingin melukainya karena kesalahan diriku di masa laluku.
*Ya Tuhan tolong buatlah dia bahagia dengan keluarganya, dan izinkan aku bahagia dengan apa yang menjadi Takdirku.
Aku memang menyayanginya, namun aku akan lebih sayang kepadamu Tuhan, jadi berikanlah petunjukmu, demi kebaikan kami semua, amin*.
Dengan air mata yang terus saja berderai, Hanny akhirnya menyudahi doanya dengan menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya.
"Hanny, apa kamu sudah selesai?"
Ternyata Alisya yang lebih dulu selesai sudah datang kembali ketempat itu dengan membawa secarik kertas dan pulpen ditangannya.
"Hmm... Kamu mau ngapain?" Tanya Hanny sambil menaikkan kedua alisnya saat menatap apa yang sahabatnya itu bawa.
"Tulislah sesuatu untuk Jeremy disini, setidaknya beri satu alasan kenapa kamu memutuskan untuk pergi di hari pernikahan kalian, apalagi besok kamu juga akan menerima jodoh dari Abah kan, jangan membuat orang bertanya-tanya, relakan semua, apapun yang terjadi aku yakin bahwa ini sudah menjadi ketentuan dari-Nya."
"Hmm."
Mulut dan tangan Hanny sudah bergetar dengan hebatnya saat mendengar nasihat dari Alisya, karena sesungguhnya saat ini Hanny sedang menahan isakan tangisnya yang dia pendam sedari tadi.
"Hanny, yang sabar ya, aku tahu ini berat bagimu!" Alisya mengusap bahu Hanny yang juga ikut bergetar menahan kesedihannya.
"Hiks.. Hiks.. Boleh aku jujur denganmu Sya?" Tangisan itu akhirnya pecah juga.
"Tentu saja Hanny, katakan apa yang mengganjal di hatimu, setidaknya hatimu bisa lega setelah mengatakannya." Alisya langsung berinisiatif untuk memeluknya, walau tidak bisa membantu banyak setidaknya dia bisa menjadi sandaran hati Hanny untuk sementara.
"Aku... aku sebenarnya masih sangat mencintai Jeremy Sya, aku masih sangat menyayanginya dengan segenap hati dan aku masih belum rela melepasnya, hanya dialah pria yang bisa membuat aku tenang, tentram dan bahagia didalam hidupku yang kelam ini, aku hanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian darinya saja, dia yang tahu apa yang aku suka, dia yang selalu bisa membuat aku tertawa, selama ini bahkan aku tidak mau membayangkan bagaimana hidupku kelak tanpanya."
Kata-kata manis itu terlontar begitu saja, jika Jeremy bisa mendengarnya mungkin hatinya pun sudah ikut trenyuh saat mendengarnya.
"Fuh... aku tahu itu Han, karena wajahmu tidak bisa berbohong, tapi kita sebagai manusia hanya 'sakdremo nglampahi' karena hidup kita sudah ada yang mengatur."
"Aku tau Sya, aku mungkin tidak pantas mengucapkan hal ini, aku hanya ingin mengeluarkan unek-unek dari dalam hatiku saja." Ujar Hanny yang merasa sadar diri.
"Tidak masalah, luapkan saja semuanya, tapi setelah kamu menikah nanti, cobalah kamu terima pasangan dari Abah, hanya karena Allah, insya Allah kamu juga pasti bisa bahagia, dan sedikit demi sedikit bisa menggantikan Jeremy dengan sosok baru yang mungkin terbaik untukmu dan hidupmu, kamu harus yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya melebihi batas kemampuannya."
" Iya Sya, terima kasih sudah mau mendengarkan rintihan hatiku, tapi tolong jangan beritahukan ini semua dengan siapa pun ya? Cukup kamu saja yang tahu." Hanya Alisya lah satu-satunya orang yang Hanny percaya saat ini.
"Tentu, sekarang kamu tulis sesuatu untuk Jeremy, tuliskan sesuatu yang seharusnya kamu katakan, minta maaf lah dengannya, atau apapun itu sebelum kamu menikah."
Alisya pun sebenarnya sempat kaget dengan keputusan pernikahan Hanny, tapi dia selalu berpikir positif semoga pernikahan itu bisa membawa kebaikan untuk Hanny.
"Trus mau diapain tulisan ini?" Tanya Hanny yang tidak bisa berpikir secara cerdik saat ini.
"Okey."
Akhirnya Hanny menerima kertas itu dan duduk sambil menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan itu, mencoba menuliskan alasan atas kepergiannya dan pamit undur diri dari kehidupannya, karena dia akan menikah besok dengan lelaki pilihan Abah.
Assalamu'alaikum Mas..
Demi Allah, demi Rasulloh, aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya denganmu, aku tahu mungkin ini akan sulit untuk kamu maafkan, jika kamu ingin marah aku terima, karena memang terlalu banyak salahku didalam hidup ini.
Jujur... aku memang bukan wanita baik-baik, aku pernah masuk ke dunia kelam menjadi kupu-kupu malam, yang setiap tetesan keringatku dipenuhi dengan lumuran dosa.
Dan salahku, karena aku tidak jujur denganmu tentang masa laluku sedari dulu, bukan karena aku ingin membohongimu, tapi karena aku dulu tidak ingin kehilangan sosok sepertimu.
Maaf juga, karena aku dulu memang sangat mencintamu dan terlalu serakah ingin memilikimu jadi aku tutupi semua aibku, agar bisa mendapatkan dirimu.
Tapi untuk saat ini, aku benar-benar Lillahita'ala ingin melepasmu mas, berbahagialah dengan pasangan mas yang baru, kita kubur semua kenangan indah kita berdua, maafkan aku atas segala salah dan silapku selama berhubungan denganmu dan terima kasih atas semua kasih sayang dan perhatian mas selama ini yang tidak pernah aku dapatkan dari keluargaku.
Tak banyak yang ingin aku katakan, hanya tumpukan seribu kata maaf yang aku harapkan dari kamu mas.
Dan juga besok aku akan menikah, tolong restui aku ya mas..
Kita jalani takdir kita masing-masing setelah ini, kita hormati pasangan kita masing-masing, dan jika memang kita tidak bisa berjodoh didunia ini, masih bolehkan aku berharap kita berjodoh di Akhirat nanti?
Enggak boleh ya? hehe.. ya sudah... aku hanya bercanda saja tadi, sudah pasti yang akan menjadi pasangan kita di akhirat nanti adalah pasangan terbaik kita di dunia ini.
Terlepas dari itu semua, aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan mas Jeremy dan Dinar, semoga hubungan kalian langgeng sampai maut memisahkan.
Dan tolong doakan aku juga ya mas, agar aku juga bisa merasakan apa itu bahagia, aku berharap tidak akan ada lagi deraian air mata diantara kita.
Terima kasih juga atas semua kebaikan-kebaikan mas yang tidak bisa aku hitung selama ini, i love you...
Eh... Bercanda lagi deh mas, hehe...
Aku hanya ingin perpisahan kita diakhiri dengan senyuman, bukan dengan kesedihan, karena kita hidup di dunia ini hanya sementara.
Selamat tinggal mas, aku pamit, semoga kita berdua bisa bahagia dengan kehidupan kita masing-masing dibawah naungan yang Maha Kuasa, Amin.
Empat kali empat sama dengan enam belas, biarpun mas sempat, tolong jangan dibalas, kasian nanti Sholeh harus mondar-mandir kesana kemari, hehe...
^^^Dariku:^^^
^^^Yang pernah melukaimu^^^
Wassalamu'alaikum wr wb.
Setelah Hanny menganggap semuanya cukup, dia segera melipat kertas itu dan memberikannya kepada Alisya, walau dengan helaan nafas yang cukup berat, namun setidaknya dia sudah sedikit merasa lega, karena bisa jujur dengan Jeremy walau tidak bisa bertatap muka secara langsung.
"Are you okey Han?" Tanya Alisya yang sengaja menunggu dari kejauhan, agar Hanny bisa leluasa menuangkan apa yang ada didalam hatinya.
"Hmm.. I'm okey, walau sebenarnya berat." Jawab Hanny dengan senyuman yang dia paksakan.
"Pelan-pelan saja, semua pasti akan terlewati dengan sendirinya."
"Hmm.. semoga pasangan yang Abah pilihkan bisa membimbing aku ke jalan yang Dia ridhoi, aku ingin membuka lembaram baru, hidup yang baru dengan yang halal bagiku." Hanya itulah yang bisa dia harapkan untuk saat ini.
"Amin yarobal'alamin, kita pasrahkan saja semua kepada-Nya, karena hanya Dia yang tahu apa yang terbaik untuk kita, dan satu yang perlu kamu ingat, masih ada aku disini yang akan selalu ada untukmu."
"Terima kasih Sya, selain Jeremy orang yang paling aku sayangi adalah kamu, jika Jeremy bukan jodohku semoga kamu yang akan menjadi teman sejatiku sampai akhir hayat nanti."
"Tidak akan ada masalah jika tanpa Hikmah dibalik semua yang terjadi dalam hidup ini, cukup kita terima dengan lapang dada, Allah akan mengatur segalanya."
Alisya langsung mengusap sisa-sisa air mata yang masih basah di kedua pipi Hanny dan memeluknya kembali dengan erat.
Tidak ada manusia atau hal yang sempurna di dunia ini. Semua pasti pernah melakukan kesalahan serta memiliki kekurangan dalam hidupnya. Hal tersebut dikarenakan kesempurnaan hanya milik Tuhan.