Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
91. Cuek


...Happy Reading...


Tidak ada permasalahan yang sulit untuk dipecahkan, asalkan kita bersedia untuk duduk bersama, saling mengontrol diri dan tidak mementingkan ego masing-masing. Begitu juga dengan permasalahan Alisya dengan mantan suaminya Yoga Pratama.


Karena pernikahan mereka masih siri, jadi tidak harus melewati tahap yang panjang untuk menyelesaikan sebuah perceraian, begitu kata Talak terucap, mereka sudah tidak ada ikatan suami istri lagi.


Pagi ini Alisya sudah bersiap mengemas barangnya untuk kembali ke kota, dia memang tidak mau lama-lama disana, asalkan permasalahannya sudah selesai dia harus kembali ke rutinitas semula.


"Semua sudah siap nak?" Tanya Ibu Alisya dengan membawa sekotak oleh-oleh untuk kakek dan juga Hanny pastinya.


"Sudah buk, tinggal nunggu mobil travel datang saja." Jawab Alisya yang sudah duduk santai.


"Boleh kita ngobrol sebentar?" Pinta Ibu Alisya dengan senyum tipisnya.


"Tentu saja buk, kenapa jadi sungkan begitu, semua sudah baik-baik saja sekarang, jadi anggap saja tidak ada permasalahan dengan keluarga kita." Alisya paham kedua orang tuanya pasti masih merasa bersalah dengan kejadian yang menimpanya.


"Apapun itu, status kamu tetap saja sudah janda sekarang." Raut kesedihan terlihat jelas dari wajah wanita yang mulai menua itu.


"Ibu jangan khawatir, putri ibu ini biar sudah Janda tapi masih kembang, dan yang paling penting masih tersegel dengan rapat." Jawab Alisya dengan mantap.


"Woah... Ibu jadi takjub melihat kamu nak, di era gempuran anak muda yang suka kumpul kebo, tapi kamu bisa menahan godaan seperti itu, walau sudah berstatus sah dalam agama, ibu bangga denganmu nak." Dia mengusap lengan putrinya dengan lembut, lengan yang dulu kecil kini bahkan ukurannya sudah melebihi tubuhnya.


"Astaga buk, punya anak janda kok bangga sih!"


"Maafkan ibu nak." Entah sudah berapa pulih kali kata maaf itu terucap dari bibir ibundanya.


"Tu kan mulai lagi deh, orang cuma bercanda aja kok diambil hati sih bu?"


"Karena ibu mengakui kalau salah, pesan ibu cuma satu jika kamu sudah menjadi janda seperti ini jangan mudah buka warung sembarangan ya?"


"Jadi aku nggak boleh buka usaha warung gitu?" Tanya Alisya yang belum paham alur dari pembicaraan ibunya.


"Bukan begitu nak, maksud ibu jangan mudah menjual diri karena menjadi janda, walaupun ekonomi sekarang sulit dan tidak terkendali, mengerti kamu."


"Mengerti buk, lagian di kota belum ada yang tahu kalau aku sudah menikah, jadi ibu tenang saja."


"Dan satu hal lagi, ibu mau melihat kamu menjadi sarjana camlaude, tepat waktu tanpa harus diulur-ulur." Sesungguhnya impian terbesar darinya adalah melihat anaknya lulus dan sukses dengan pekerjaannya.


"Pasti buk, makanya ini mau cepat-cepat balik ke kota dan meneruskan kuliah aku yang akhir-akhir ini berantakan."


"Kamu jangan hanya memikirkan jodohmu ya nak? kejar saja Akhiratmu, insya allah Duniamu akan mengikuti."


"Pasti buk."


"Jangan terlalu sibuk kerja partime juga ya, kamu masih muda, gunakan waktumu seperti anak muda yang lainnya, jangan ragu untuk melakukan apa yang bisa membuatmu bahagia." Jauh didalam lubuk hati dia hanya ingin putrinya bisa bahagia dengan hasil kerja kerasnya selama ini, karena sebagai orang tua dia tidak bisa memberikan lebih kepada anaknya.


"Terima kasih buk, akan aku ingat pesan ibuk."


"Emm... Pria tampan yang ambekan kemarin kemana?" Tiba-tiba ibu Alisya teringat sesuatu.


"Maksud ibu Nicholas?"


"Cepet banget jawabnya, sepertinya dia pria yang sudah memenuhi pikiranmu setiap hari." Ledek Ibunda Alisya.


"Entahlah, mungkin dia marah." Alisya hanya bisa menggedikkan kedua bahunya.


"Bujuk dia, itu hanya salah paham."


"Dia tidak akan bisa lama marah denganku, palingan juga aku samperin langsung meleleh lagi dia." Ucap Alisya saat mengingat tingkah Nicholas yang selalu berubah manja jika sudah berdua dengannya.


"Wah... tumben percaya diri kamu penuh nak?"


"Buktinya, saat aku masih sah menjadi suami orang saja dia tidak pernah berhenti untuk mengejar putrimu ini buk?"


"Hati-hati, nanti jadi kebalik loh?"


"Ibu kira ini dunia sinetron bisa terbalik?" Alisya tersenyum miring mendengar ledekan ibundanya.


"Terserah kamu saja, akhir pekan nanti kenalkan dengan keluarga kita, akan ada acara Haul di pondok pesantren, jadi pulanglah dengan Hanny dan suaminya juga." Dia ingin sekali melihat siapa pria yang berhasil membuat putrinya tersenyum seperti itu, karena selama bertahun-tahun dia tidak pernah mendengar dari mulut putrinya itu kalau dia punya pacar.


"Kalau begitu saya pamit ya buk, itu mobil travelnya sudah sampai didepan, sampaikan salah aku buat ayah, tadi sebelum ayah ke pondok Alisya udah pamit kok."


"Iya nak, jaga diri baik-baik ya, salam buat kakek."


"Aku pergi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Akhirnya Alisya kembali ke kota menaiki mobil travel itu, karena jadwal bis ke kota itu masih sore hari, sedangkan Alisya sebenarnya sudah tidak sabar ingin menemui Nicholas.


Baru saja Alisya menapakkan kakinya di pelataran rumah milik kakeknya, bahkan belum sampai masuk kedalam rumah, namun dia sudah mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Nicholas.


"Hah, nomorku di blokir?"


Baru saja dia membuka aplikasi chat miliknya, namun tertulis disana bahwa nomor dirinya telah diblokir oleh Nicholas. Jangankan untuk menelpon, untuk sekedar chat saja sudah tidak bisa lagi terkirim.


"Woah... apa-apaan ini? sedari tadi malam aku sengaja mendiamkannya biar nanti kedatanganku jadi suprize, ternyata aku yang kena surprize, pantesan ponselku tidak berbunyi semalaman, biasanya dia yang paling rajin." Umpatnya kembali.


Alisya seolah tidak percaya, biasanya semarah-marahnya Nicholas dia tetap akan mengirimkan chat walau hanya satu huruf untuk memancing dirinya.


"Kesalahpahaman ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, aku harus menemuinya."


Tanpa menunda waktu lagi, setelah dia berpamitan dengan kakeknya dia langsung pergi kerumah Hanny, dengan alasan memberikan oleh-oleh dari sana.


Padahal dia hanya ingin mencari info tentang Nicholas, karena tidak mungkin dia langsung mengunjungi kantor tempat dia bekerja tanpa tujuan yang jelas.


"Assalamu'alaikum." Akhirnya dia sampai didepan rumah milik Alisya.


"Wa'alaikumsalam, eh... Alisya, kamu sudah pulang, kapan sampai?" Tanya Hanny yang memang sudah terlihat rapi.


"Baru saja, ini oleh-oleh untukmu." Alisya memberika satu paperbag untuk sahabatnya.


"Ada apa ini, tumben baru saja sampai langsung kesini, emang nggak capek apa?"


"Enggak, biasa aja, emm... kamu sendirian aja dirumah?"


"Jadi kamu berharap aku dirumah sama siapa, Nicholas gitu?"Ledek Hanny yang memang sering asal bicara saja.


"Iya, ehh.. maksudnya siapa tahu suami kamu kerja dari rumah gitu, biasanya kan mereka selalu menempel berdua?" Dia mencoba mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah sahabatnya itu, apa ada mobil Nicholas terparkir disana atau tidak.


"Heleh... bilang aja kamu rindu sama dia kan? alasan saja kamu ini!"


"Enggak, jangan fitnah kamu!" Alisya mencoba mengelak, untuk menutupi rasa malunya, karena seumur-umur dia tidak pernah terobsesi dengan seorang pria.


"Nggak usah clingak-clinguk begitu, mereka tidak ada didalam." Hanny semakin tergelak, saat Alisya berjinjit agar bisa melihat apa yang ada dibelakang tubuh Hanny.


"Apa sih Han, emang aku nggak boleh masuk kedalam ini?"


"Haish... sudahlah, ayo ikut aku ke kantor saja, laki gue minta dianterin makan siang." Secara tidak langsung dia sudah tahu apa yang Alisya inginkan.


"Tumben mau diantar makanan dari rumah, padahal itu juga bukan kamu yang masak kan, kenapa nggak beli aja?"


"Bucin akut yang sesungguhnya itu memang ditakdirkan untuk para kaum Adam, dia bilang makanan yang dia beli tidak akan tertelan dari tenggorokan kalau tidak memandang wajah cantik istrinya ini."Ucap Hanny dengan seribu pesonanya.


"Lalu, kamu percaya begitu saja?"


"Ya enggaklah, berbagai macam pria dengan seribu gombalannya pernah datang dalam kehidupanku, aku hanya pura-pura polos saja dengan terlihat tersenyum dan tersipu malu, biar dia tidak sedih, apalagi saat dia menggarap sawah, mau terasa atau tidak aku pura-pura saja mende sah." Jawab Hanny dengan jujur.


"Kamu memang luar biasa Han, pokoknya tidak ada lawan, ayolah kita antar makanan itu, sebelum suamimu busung lapar karena tidak melihat wajahmu."


"Hehe.. sedikit, itupun belajar darimu." Jawab Alisya yang tersenyum malu.


Sesampainya didalam gedung perusahaan yang menjulang tinggi itu Hanny langsung mengajak Alisya menggunakan lift khusus para petinggi perusahaan agar lebih cepat sampai di ruangan suaminya.


"Assalamu'alaikum suamiku." Sapa Hanny saat dia membuak pintu ruangannya.


"Wa'alaikumsalam sayangku." Jeremy langsung merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan istrinya. "Ehh... ada Alisya juga, mau nemenin makan Nicholas ya?" Jeremy sempat terkejut melihat kedatangan Alisya disana, namun dia tidak mempermasalahkan hal itu.


"Kita makan siang bareng yuk, aku bawa makanan banyak ini, cukup buat kita berempat." Hanny langsung berjalan mendekat kearah sofa bersama suaminya.


"Permisi, sepertinya saya ada hal mendesak, jadi tidak bisa makan bersama kalian, silahkan dilanjut, saya pergi dulu." Nicholas langsung menutup laptop kerjanya. "Kalau nanti anda sudah selesai makan, panggil saya diruangan saya bos, kita masih ada meeting sore ini." Nicholas bahkan tidak memandang kearah Alisya walau hanya sedetik saja.


"Hei Bandit, diam disitu." Hanny yang merasakan ada kejanggalan diantara mereka langsung mulai bertindak.


"Maaf nona, kalau tidak ada hal yang mendesak silahkan temani pak Bos makan saja, saya masih ada keperluan." Bahkan saat kedua kakinya berhenti, Nicholas tidak berminat sama sekali untuk membalikkan badannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Hanny kembali.


"Memangnya saya kenapa, ada masalah?" Jawab Nicholas dengan nada datarnya.


"Ya, kamu memang bermasalah, tidak biasanya kamu seperti ini, apa kutup utara sudah kembali pindah kerumah mu lagi?"


Akhir-akhir semenjak dekat dengan Alisya dia sikal Nicholas sudah lebih hangat, tidak seperti awal mereka berjumpa dulu.


"Maaf nona, saya harus pergi."


"Diam disana, atau aku suruh suamiku memotong gaji dan bonusmu!" Ancam Hanny dengan percaya diri.


"Tidak masalah, tabunganku masih banyak, silahkan saja, lagipula yang menggaji pokok pekerjaan saya adalah Tuan Besar, jadi lakukan apa yang ingin anda lakukan Nona, permisi."Nicholas melambaikan tangannya dengan angkuh.


"Waaaah.. apa benar itu mas, bukan mas yang gaji dia?" Tanya Hanny yang seolah tidak percaya.


"Hehe... Dia sudah bekerja di perusahaan ini bahkan sebelum aku menduduki posisiku, dia memang orang yang dipilih oleh Daddy, maaf ya sayang."Jeremy hanya bisa mengusap punggung istrinya.


"Pantesan, gayanya selangit." Hanny langsung menahan rasa kesalnya. "Alisya, apa kamu bertengkar dengannya?" Hanny langsung memindahkan pandangannya kearah Alisya yang hanya berdiri mematung dan diam membisu ditempat.


"Huft.. Sudahlah, tidak usah dipikirkan."


"Kenapa kamu sampai menghela nafas seperti itu?" Alisya mencoba menelisik wajah sahabatnya itu.


"Kalau begitu saya permisi pulang saja, kalian silahkan makan siang berdua saja."


"Tapi Sya, aku sudah bawa banyak makanan ini, makanlah dulu." Cegah Hanny yang masih kepo sebenarnya.


"Aku tidak lapar Han, aku pulang saja ya!"


Alisya memilih langsung pamit pulang, entah mengapa hatinya terasa sesak saat Nicholas seolah tidak menggangap dirinya ada.


Dan saat dia melewati ruangan Nicholas, dia melihat dan mendengar Nicholas sedang mengobrol santai dengan seorang wanita.


"Cih.. apanya yang penting, dia seperti tidak membahas masalah pekerjaan? Hanya bercanda dan saling menggoda, apa dia hanya sengaja menghindariku? woah... kenapa dia jadi seperti ini, apa dia mencoba menantangku?"


Alisya tanpa sadar berdiri lama didepan ruangan Nicholas, sampai tidak sadar jika rekan wanita Nicholas menyadari keberadaannya.


"Mbaknya, ada yang bisa kami bantu?" Tatapan mereka seolah mengintimidasi Alisya.


"Owh... tidak-tidak, hanya saja saya ingin bertemu dengan..."Ucapannya terputus begitu saja, karena dirinya seolah terabaikan kembali saat ini.


"Apa anda ada temu janji dengan dia pak Nicholas?"


"Tidak."


Degh!


Busur panah seolah menancap direlung hati Alisya.


"Apa anda mengenalnya?"


"Sepertinya tidak juga, sudahlah abaikan saja dia, mungkin dia sedang mencari toilet umum." Ucap Nicholas dengan nada cuek bahkan tanpa mau memandang Alisya.


Duar!


Hati Alisya seolah meledak, bukan karena jatuh cinta namun seolah ada bom waktu yang sengaja dilempar ketubuhnya.


"Mbak, kalau mau cari toilet karyawan atau tamu ada dilantai paling bawah dekat Kantin, kalau disini toilet khusus petinggi perusahaan."


"Baiklah, terima kasih nona, maaf sudah menganggu." Jawab Alisya yang langsung sadar diri.


Akhirnya dia memilih memundurkan langkahnya, hingga akhirnya dia berlari turun tangga agar tidak ada seorang pun yang mendengar tangisannya.


Betapa sakit hati Alisya kali ini, padahal dia kesana karena ingin memberikan penjelasan atas kesalah pahaman yang menimpa hubungan mereka, namun sepertinya Nicholas sengaja untuk menjauh darinya.


"Peeh... ternyata memang ada yang tidak beres diantara mereka." Bisik Hanny disamping telinga suaminya.


"Apa mereka bertengkar yank?"


"Sepertinya iya, entah apa yang terjadi."


"Biasalah, mungkin hanya pertengkaran kecil, itu kan biasa dalam sebuah hubungan."


"Ini tidak biasa mas, si Bandit itu biasanya tidak sedingin itu dengan Alisya, bahkan seolah dia cinta mati dengannya, kemarin mereka masih bucin-bucinnan, seolah dunia hanya milik mereka berdua, masak iya dalam kurun waktu sekejab saja seperti orang asing seperti itu, pasti ada sesuatu yang terjadi diantara mereka."


"Hmm..." Jeremy hanya mengganguk saja.


"Mas, apa ada lowongan pekerjaan di perusahaan ini?" Terlintas satu ide di pikiran Hanny.


"Buat apa sayang, kalau kamu ingin melihatku setiap saat, kamu bisa langsung datang kapanpun kamu mau tanpa harus susah payah untuk bekerja."


"Bukan untukku mas."


"Lalu?"


"Untuk Alisya."


"Heh?"


"Bagaimana kalau si Sarmin bin Bandit itu kamu beri asisten?"


"Untuk apa? bukannya dia juga asisten?"


"Ayolah, kerja apa saja mas, aku mau lihat sejauh apa tingkah Nicholas jika terus dihadapkan oleh sosok Alisya, aku tidak percaya perasaannya berubah dalam sekejab saja."


"Baiklah, sepertinya seru juga." Jeremy malah menanggapinya lain.


"Benarkah? owh... Terima kasih suamiku." Hanny langsung memeluk tubuh suaminya.


"Tapi jatah double ya nanti malam?"


"Hedeh?"


"Kalau tidak mau, tidak masalah!"


"Mau! mau banget, hehe!"


Karena Hanny masih merasa penasaran, akhirnya tadi dia sengaja membuntuti Alisya secara diam-diam dan Jeremy pun tidak mau ketinggalan up date berita terkini, akhirnya dia juga ikut membuntuti aksi istrinya untuk menguping rekannya.


Hidup terkadang memang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, namun yang namanya kebahagiaan diri itu memang harus diperjuangkan.