Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Kebenaran yang terungkap


Matanya terbuka lebar,ia terbangun dengan bermandikan keringat.Lagi-lagi ia bermimpi basah.Sudah ke 3 kalinya semenjak kejadian itu ia bermimpi yang membuatnya gila."Astaghfirulloh haladzim ampuni hambamu ini ya Allah,"bisiknya.Di lihatnya jam yang menempel di tembok,tepat pukul 04.00 pagi.Rio pun bergegas ke kamar mandi,membersihkan dirinya juga langsung mencuci pakaiannya yang baunya membuatnya merasa jijik pada diri sendiri.Padahal tidak sedikitpun ia berfikiran seperti itu,tapi kenapa mimpi itu bisa datang lagi.


Tepat saat keluar dari kamar mandi ia mendengar adzan subuh.Rio pun mempersiapkan diri menunaikan kewajibannya pada sang pencipta.


Hidup serba berkecukupan,tidak membuatnya berbangga diri.Justru ketakutan yang ia rasakan,takut akan pertanggung jawaban kelak di akhirat dengan harta yang dimiliki.Makanya sekaya apapun orang tuanya sama sekali tidak berpengaruh terhadapnya.Berbeda jauh dengan kedua orangtuanya,mereka lebih mengutamakan kedudukan dan padangan orang.Selalu ingin terlihat sempurna bagi mereka yang melihat.


Rio hidupnya sangat sederhana,hanya dengan sebuah motor saja dia selalu membawanya kemanapun.Terkecuali hanya keadaan darurat sang mobil kesayangannya baru akan keluar dari garasi.


Seperti pagi ini cuaca lagi mendung,rintik hujan pun turun membasahi tanah yang mengering.Terpaksa Rio harus menggunakan mobil kesayangannya.Ya mobil yang dia beli dari hasil jerih payahnya sendiri.Dulu sewaktu masih kuliah Rio bekerja paruh waktu,tentu saja tanpa sepengetahuan orang tuanya.Jika saja mereka tahu sudah pasti di suruh keluar.Apalagi dengan pekerjaan sebagai bawahan,katakan saja sebagai kulinya.Sedangkan harta orangtuanya tidak akan habis hanya untuk membeli sebuah mobil.Sebagai orangtua mereka pasti akan malu.Dan itulah yang terjadi,Rio pada akhirnya harus keluar dari pekerjaannya setelah sang ayah datang dengan amarah yang menggebu-gebu.Untung ia sudah memiliki cukup tabungan untuk membeli apa yang ia inginkan.


Mobilnya melaju dengan perlahan membelah jalanan yang begitu padat.Sekilas ujung matanya menangkap sosok wanita yang ia kenali."Cinta,"gumamnya saat ia tahu pasti wanita yang berjalan di trotoar itu adalah Cinta.Perlahan ia mulai menepikan mobilnya.


"Hei Cin,"teriaknya saat sudah keluar dari mobil.


"Rio,"gumam cinta.


"Mau berangkat kerja kan,yuk bareng aja,"ajaknya.


"Iya Yo,tapi maaf aku ja...


Belom selesai berbicara Rio sudah menyeret tangan Cinta masuk dalam mobil."Eh eh eh,aku kan belom selesai jawabnya Yo,"protes Cinta.


"Gak ada penolakan,"jawab Rio singkat.


Keduanya pun kini sudah duduk di dalam mobil,Cinta berada di sampingnya.Hening,tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.Cinta terus saja memandang luar dari jendela.Tangannya panas dingin,dalam keadaan seperti ini membuatnya mati kutu.Sedangkan Rio,lelaki itu fokus dengan menyetir tapi terkadang ujung matanya melirik ke wanita di sampingnnya.


Sekilas teringat bayangan saat Cinta sedang dalam pengaruh obat waktu itu."Aaaaarg,"teriaknya dalam hati."Apa yang kau pikirkan Rio,astaghfirulloh haladzim,"ucapnya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mobil pun akhirnya sampai di parkiran gedung,Cinta bergegas keluar,"Terimakasih banyak Rio,"ucapnya tanpa memandang dan ingin mendengar jawaban lelaki itu.


Rio hanya tersenyum menanggapinya.Ia tahu betul Cinta selalu berusaha menghindarinya,entah karena kejadian waktu itu atau ada alasan lainnya.Di tempat tidak jauh dari parkiran,seorang karyawan yang iri terhadap Cinta sedang tersenyum sinis.Ia pun berlari mengejar Cinta."Hei pela**r,"teriaknya.


Mendengar sebutan yang membuat hati teriris,Cinta menghentikan langkahnya.Di lihatnya hanya dia seorang dan teman kerjanya itu.Ia tidak menjawab maupun bereaksi.


"Eh di bayar berapa kamu sama pak Rio,atau jangan-jangan gratis ya kamu naik ranjangnya?"tuduhnya.


Cinta pun heran,kenapa temannya itu memanggil dengan sebutan pak,dan apa tadi dia bilang? naik ranjang? pertanyaan macam apa itu.Ia hanya tersenyum kecil menanggapinya,setelahnya Cinta pergi meninggalkan wanita itu tanpa sepatah katapun.


Wanita itu pun semakin jengkel,seolah dia tidak ada saja,sampai Cinta tak menanggapinya."Hei wanita murahan pela**r,teriaknya kesal karena merasa di anggap angin lalu.


Merasa tidak asing dengan suara di belakangnya,wanita itu menoleh."Pak Rio,mati aku,"ucapnya dalam hati.


"Katakan siapa yang kau sebut pela**r tadi?"desak Rio.


"I itu pak,Cinta pak,"ucapnya terbata.


"Kenapa kau mengatakan hal semacam itu,tidakkah kau takut itu akan jadi fitnah?"


"Tapi memang itu benar pak,dia ratunya di club.Bahkan sering tidur sama om-om,"jelasnya.


"Hati-hati dengan ucapanmu,"Rio pun langsung bergegas pergi.Di ambilnya handphone yang berada di saku celananya."Halo,ke ruanganku sekarang,"titah Rio pada asistennya.


"Baik pak,"jawabnya.


Panggilan pun berakhir,Rio berjalan menuju ke ruangannya.Beberapa menit kemudian sang asisten datang."Kamu cari informasi tentang Cinta sebelum bekerja di sini sekarang juga,"titah Rio.


"Baik pak,"jawabnya.Sang asisten pun duduk di depan atasannya.Ia mulai membuka laptop,jari jemarinya menari nari lincah dan tidak sampai 5 menit,semua informasi tentang Cinta pun ia dapatkan.Tidak ingin berbicara,sang asisten menyerahkan langsung hasilnya pada sang atasan.


"Jadi benar Ia pernah bekerja di Club,"ucapnya lirih tapi sang asisten masih mampu mendengarnya.


"Benar pak,mbak Cinta sudah 2 tahun lebih menjadi seorang wanita malam,bahkan dia di juluki ratunya club karena kehebatannya di atas ranjang.Bahkan seorang pengusaha terkenal bernama Radit juga pernah menjadi partnernya,tapi akhir-akhir ini namanya mulai redup karena sepertinya ia tidak pernah lagi terjun ke dunia club.Apalagi mbak Cinta pernah di kabarkan meninggal di hotel setelah melayani kliennya dan...


"Cukup,kau boleh bekerja lagi,"ucap Rio memotong penjelasan asistennya.


Sang asisten membungkukkan badannya,kemudian pamit dan keluar dari ruangan atasannya.


"Dan inilah jawabanmu kenapa kau seperti menghindariku Cinta? dan tadi dia bilang apa,meninggal?"Rio semakin pusing di buatnya.Tapi feelingnya mengatakan jika Cinta bukanlah wanita seperti itu sekarang.


Yang ia pikirkan sekarang ialah orangtuanya,jika saja mereka tahu pekerjaan Cinta sebelumnya,tentu mereka akan melarangnya."Ah hatiku,"keluhnya.


Hati memang tidak bisa memilih pada siapa Cinta akan berlabuh.Seperti dirinya,sudah pasti ini akan jadi masalah nantinya.Tapi hatinya yakin seyakin yakinnya.Cinta yang sekarang berbeda,karena tidak mudah orang berpenampilan seperti itu baik di rumah ataupun di luar.


"Biarlah nanti akan jadi urusanku,biar bagaimana pun mereka orangtua,lambat laun pasti mereka bisa menerima."lirihnya.


Bersambung...