
...Happy Reading...
Usaha tidak memang tidak mengkhianati hasil, perjuangan Jeremy dan Hanny pun tidak sia-sia, sepasang suami istri itu kembali ke rumah sakit dengan guratan senyuman diwajah mereka.
Namun saat sampai di ruang rawat inap tempat Nicholas berada, mereka menemui asistennya itu masih terbaring dan tertutup rapat dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.
"Astaga Nicholas, apa yang terjadi denganmu, apa kamu tidak bisa lagi bertahan didunia ini?" Jeremy langsung terlihat panik, konotasinya jika pasien ditutup rapat seperti itu sudah meninggal dunia.
"Mas, apa Nicholas sudah..?" Hanny seolah tidak percaya, namun memang tidak ada pergerakan sama sekali ditubuh Nicholas, jadi dia pun bingung mau menyimpulkan seperti apa.
"Nick, kenapa kamu pergi secepat ini, bahkan aku dan istriku kembali dengan kabar gembira, kenapa kamu tidak bisa bertahan, hah?"
"Mas, tenangkan dirimu, kasihan dia!"
"Tapi dia bahkan masih muda sayang, kenapa dia pergi secepat ini?"
"Nggak ada yang tahu berapa umur kita, jodoh, rezeki dan maut itu rahasia Allah, kita hanya bisa menerima saja dan melakukan yang terbaik."
"Tapi yank, kasihan dia kalau pergi saat ini, apalagi masalahnya belum selesai, kalau dia jadi hantu penasaran gimana hayow?" Pikiran Jeremy bahkan sudah melayang kemana-mana.
"Woi... berisiklah kalian, aku tidak selemah itu, aku masih hidup tahu!" Tiba-tiba Nicholas langsung menendang selimutnya.
Setelah air matanya banyak terkuras karena Alisya, akhirnya dia kelelahan dan tertidur dnegan posisi masih tertutup dengan selimut.
"Apa jangan-jangan dia sudah jadi hantu mas?"
"Dih yank... Kita panggil dokter yuk?"
"Ayoklah, aku juga ngeri tahu mas, apalagi dia sering bertengkar denganku, nanti kalau dia jadi arwah gentayangan aku juga yang repot!"
"Diam kalian disana, haish... bisa-bisanya kalian menggangap aku sudah mati ya, aku masih sehat wal'afiat ini." Umpat Nicholas dengan kesal.
"Ya elah, mau jadi manusia atau hantu, dia kenapa sama-sama ya galak mas?" Umpat Hanny yang langsung menjauh darinya.
"Astaga, kalian berdua ini!"
"Kalau kamu memang beneran manusia, coba kamu tebak apa judul lagu pembunuhan paling sadis dinegara kita?"
"Apaan sih bos?"
"Jawab dulu!"
"Mafia perebut kekasihku!" Ucap Nicholas tanpa berpikir panjang, karena itu memang love story miliknya.
"Yaelah malah curhat, kalau oon begini gue yakin dia masih manusia mas."
"Hei Bodat, memang kamu tahu jawabannya?" Nicholas langsung menjelingkan kedua matanya ke araha Hanny.
"Taulah, potong bebek angsa kan mas?"
"Bener banget, istriku memang paling pintar sejagad raya, sini aku kasih hadiah dulu."
Sebuah kecvpan langsung mendarat di kening Hanny dengan manisnya.
"Dasar pasangan sengklek kalian, okey... kalau kalian memang kompak, coba jawab tebakan dariku juga."
"Apaan?" Tanya mereka serempak.
"Apa yang keluar ketika seorang wanita memutarnya?"
"Memutar? Mengkoc*k kali Nick?" Jawab Jeremy yang pikirannya sudah condong ke arah bawah.
"Hush.. dasar si Sarmin, jomblo aja otaknya ngeres kamu ya!" Hanny ikut menghardiknya.
"Kalian itu yang otaknya ngeres, pikirannya mesvm aja!" Nicholas langsung tidak terima, karen amemang jawabannya tidka mengarah kearah sana.
"Jadi apa yang diputar lalu keluar?" Tanya Jeremy kembali.
"Lisptik lah, dih kalian berdua memang pasangan gila!"
"Pfthhh, kirain itu, anu..hehe!"
"Sudahlah, jangan main tebak-tebakan lagi, aku bukan anak SD, apa yang berhasil kalian dapatkan?" Tanya Nicholas yang langsung mengalihkan perbincangan mereka.
"Semuanya, ternyata istri kesayangan aku ini patut diacungi jempol, kecerdasanmu kalah olehnya."
"Benarkah? hei bodat apa kamu sudah mendapatkan buktinya?"
"Hmm.. kamu tidak perlu memujiku dan jangan berterima kasih sekarang, karena aku butuh imbalan juga darimu, hehe.."
"Hei Bodat, kalau menolong itu tanpa pamrih dong!"
"Itu kalau dengan orang lain, kalau denganmu beda dong!"
Brak!
Disaat mereka masih mengobrol santai, tiba-tiba anak buahnya masuk ruangan itu secara terburu-buru.
"Astaga, ada apa ini?"Jeremy dan Hanny langsung berjalan mendekat kearah anak buah mereka.
"Cepat keluar dari sini bos, ada seseorang yang melemparkan sesuatu diatas sana!" Ucapnya dengan nafas yang masih ngos-ngosan
"Aish sial, kita keluar sekarang!"
Dengan sigap Jeremy langsung menarik dan melepas paksa selang infus milik Nicholas dan memapahnya keluar dari ruangan itu.
"Siapa yang melakukan ini mas?" Tanya Hanny sambil membantu memapah Nicholas agar bisa segera keluar dari ruangan itu.
Jeremy sengaja memilih lift barang, agar tidak banyak berhenti, karena ruang rawat inap Nicholas ada di ruangan paling atas.
"Tunggu mas!" Tiba-tiba Hanny langsung berlari.
"Kamu mau kemana sayang, tidak ada waktu lagi!"
Kriiiinnngggg!
Sebelum mereka turun, Hanny sengaja memencet tombol kebakaran di tangga darurat rumah sakit itu, agar yang berada dilantai atas ikut turun kebawah.
Duuaaarr!
Dan benar saja, saat lift mereka baru saja terbuka sampai lantai dasar, terdengar suara ledakan yang sangat kuat dilantai paling atas dan tepatnya ada diruangan Nicholas tadi.
"Innalilahiwa'inailaihi rojingun, suami Alisya itu benar-benar sudah gila, hanya karena dendam dengan satu orang, dia tidak memikirkan nyawa-nyawa yang lainnya di rumah sakit ini." Hanny terduduk lemas dilantai.
"Sepertinya penjara saja tidak cukup untuknya!"
"Mungkin hanya Neraka lah yang pantas dia huni setelah ini." Jeremy pun ikut duduk dilantai, karena kelelahan memapah asistennya, bahkan dia sempat menggendongnya agar cepat tadi.
Tulilut
Tulilut
Tulilut
Ponsel Hanny tiba-tiba berdering dengan kerasnya.
"Hallo!"Hany langsung meloadspeaker panggilan itu.
"Woah... ternyata kalian selamat ya?" Ucapnya dari balik telpon.
"Sialaaan, hei dasar iblis kamu ya, apa kamu tidak punya hati?"
"Haha, aku hanya punya Alisya seorang!" Jawab pria itu yang tidak lain dan tidak bukan, yaitu Yoga.
"Jangan sentuh dia!" Teriak Nicholas yang mulai terbawa emosi.
"Ututuh.. bukannya kalian ingin aku mati? bagaimana kalau aku ikut serta membawanya, agar cinta kita bisa sehidup dan semati?"
"Dasar Iblis, mau kamu apa, hah!"
"Kalian bertiga aku undang ke suatu tempat, mau kalian datang atau tidak itu urusan kalian, karena nyawa Alisya adalah taruhannya."
"Jangan gila kamu, cepat katakan dimana kita harus menemuimu!"Nicholas mulai terpancing oleh jebakan Yoga.
"Jangan pernah coba-coba kalian berani memanggil pihak yang berwajib, atau kalian tidak akan lagi melihat Alisya di muka bumi ini."
"Dasar bedebah sialaaan, jangan pernah kamu mencoba untuk mengusik Alisya, mengerti kamu!"
"Hahaha... bahkan dia istriku, kenapa jadi kalian yang lebih heboh duluan!" Ucap Yoga dengan tawa liciknya.
"Diam kamu!" Teriak Nicholas.
"Kau yang diam, dasar Pebinor!" Hardik Yoga kembali.
"Nicholas tenangkan dirimu, jangan memancing emosinya!" Jeremy langsung menepuk bahu asistennya.
"Tapi bos!"
"Dimana kami harus menemuimu, cepat kirim alamatnya!"
"Okey, tapi begitu ada pasukan seragam yang datang, aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawanya, mengerti kalian!" Ancam Yoga tidak main-main.
Akhirnya suara panggilan itu terputus, Jeremy dan Hanny tidak menyangka, reaksi mereka akan secepat itu, padahal anak buah mereka sudah serapat mungkin melakukan pergerakan, namun tetap ketahuan juga.
"Mau tidak mau kita harus bergerak sendiri, kalau tidak Alisya yang akan jadi korbannya."
"Yaelah... mana aku belum punya anak lagi, masak harus taruhan nyawa sekarang?" Jeremy langsung memeluk tubuh istrinya dengan manja.
"Apa sih mas, nggak boleh begitu, kita berdoa saja untuk kebaikan dan keselamatan kita semua." Hanny langsung mengusap rambut suaminya.
"Maaf ya bos, atau kalian berdua tidak usah ikut, biar aku saja yang datang kesana dengan beberapa anak buah kita." Nicholas merasa tidak enak hati jadinya.
"Nggak gitu juga Nick!"
"Saya serius bos, jika hanya saya saja yang mati tidak masalah, karena tidak banyak orang yang sedih dan merugi, tapi kalau kalian berdua bisa gawat perusahaan, akan ada ribuan orang kehilangan pekerjaan karena anda tiada."
Pletak!
"Ini lagi satu, berdoa itu yang bener, jangan mendahului kehendak Tuhan, sembarangan saja kalau ngomong, ayok kita berangkat!" Hanny langsung menjadi kepala pasukan diantara kedua pria tampan itu.
"Kemana?" Tanya Nicholas dengan polosnya, kejadian demi kejadian membuat pikirannya sedikit kongslet sepertinya.
"Pasar malam! ya ke tempat Alisya lah Sarmin bin Bandit, pake acara nanya lagi?"
"Tapi?"
"Sudahlah Nick, anggap saja ini balas budi dari kami untuk kesetiaanmu terhadapku dan terhadap perusahaan keluargaku, kami akan membantumu semampu kami, okey?" Jeremy langsung membantu memapah Nicholas kembali.
"Terima kasih banyak Bos, saya tidak akan pernah melupakan jasa-jasa kalian berdua."
Nicholas merasa tersanjung, karena bosnya begitu baik dengannya, bahkan walau nyawa taruhannya sekalipun, mereka tetap maju dan menemani Nicholas untuk berjuang mendapatkan idaman hatinya.
TO BE CONTINUE...