Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Akhirnya mengerti.


Waktu terus berjalan,namun keadaan tak berubah.Bahkan sudah seminggu Rio tak terlihat sama sekali.Meski hanya sekedar menanyakan kabar lewat pesan singkat di handphone.


"Apa kamu ada masalah dengan Cinta Yo?"


tanya sang ibu yang merasa heran melihat putranya sering melamun tak pernah tersenyum.


Rio hanya menggeleng pelan.Bu Halimah mendengus kesal,sudah berkali-kali beliau bertanya dan selalu seperti itu jawabannya.


"Apa tidak ada jawaban lain selain gelengan kepala Rio?"bu Halimah kali ini tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Tinggal 15 hari lagi lo kamu menikah,dan kamu seperti ini.Kalau kamu tidak bisa mengubah sikapmu itu,ibu jamin kamu akan kehilangan sosok wanita yang kau cinta."


Mendengar itu Rio sontak menoleh ke arah ibunya,namun bu Halimah melenggang pergi meninggalkan anaknya sendirian.


"Bu,"


Bu Halimah berhenti sejenak mendengar panggilan Rio.


"Kenapa ibu berkata seperti itu?"


"Lalu,ibu harus berkata apa? tidak ada wanita yang mau di diamkan hingga lebih dari 1 minggu Rio.Apalagi setelah kau menikahinya nanti dan sikapmu seperti ini.Suami yang mendiamkan istrinya lebih dari 3 hari itu akan jadi dosa buatnya.Belum menikah saja kau seperti ini,apalagi kalau sudah menikah,"bu Halimah masih berdiri di tempatnya.


"Tunggu,ibu tahu aku mendiamkan Cinta dari mana? Apa Cinta bilang pada ibu?"


"Tidak penting ibu tahu dari mana,yang penting itu sikapmu,perbaiki sebelum kau menyesal !"


Lalu melenggang pergi meninggalkan Rio yang termenung.


Sepeninggal ibunya Rio memikirkan perkataan yang di ucapkan ibunya.Ia bersikap begini karena sangat mencintai Cinta.Tapi ia tidak sadar,justru apa yang ia lakukan akan menyakiti Cinta.


Flashback.


"Cin,bisa kerumah? ibu perlu bantuan kamu nih, tolong ya Cin!"Bu Halimah menelfon Cinta.


"Iya bu,"


Beberapa saat kemudian.


Cinta kini sedang membantu ibunya Rio masak dan buat kue,katanya untuk suguhan akan ada arisan keluarga.


"Cin kamu sudah siapkan? tinggal 2 minggu lagi loo pernikahan kalian."


Cinta tersenyum getir.Ia siap kapan pun,tapi melihat Rio yang sepertinya tidak ada kabar sama sekali ia jadi ragu,akankah Rio berubah pikiran,akankah Rio sudah tidak mencintainya lagi?


"Cinta,"panggil bu Halimah mengagetkan Cinta.


"Eh iya bu,maaf.


"Apa yang terjadi?"bu Halimah melihat kesedihan di wajah calon menantunya.


Tersenyum getir,Cinta tidak tahu harus mengatakan apa.Namun pada akhirnya ia memberanikan bicara.


"Apakah Rio mencintai Cinta ya bu?"


Bu Halimah terkekeh mendengar pertanyaan Cinta."Kamu itu bicara apa? sudah pasti Rio itu mencintai kamu Cin."


Mengingat kembali hubungannya saat ini membuat Cinta hanya terdiam mendengarnya.Sedangkan ibu Rio sebenarnya mengerti jika ke duanya sedang tidak baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian.


"Bu sudah selesai semua,Cinta pulang dulu ya."


"Kok buru-buru sih Cin,Rio bentar lagi dateng lo,tunggu sebentar lagi ya!"


"Maaf bu,Cinta lagi berhalangan,tidak enak sekali rasanya.Ingin segera ganti bu."


Dari situ bu Halimah mengerti jika keduanya sedang tidak baik-baik saja.Meski Cinta tidak mengatakan apapun.Serta perubahan sikap Rio yang lebih banyak melamun,seorang ibu pasti akan merasakannya.


Flashback off.


Rio berlari menuju rumah Cinta.Mengetok pintu berulangkali seperti orang yang tak sabaran.


Ceklek.


Hening,tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing.Bahkan untuk mempersilahkan duduk saja rasanya begitu kelu di lidah.


"Malam Cin."


"Malam."


"Boleh aku masuk?"


"Duduklah di bangku itu."


Rio mengerti kenapa Cinta menyuruhnya duduk di bangku luar.


"Kamu gak duduk Cin?"


"Ah i iya duduk,Cinta jadi gugup menghadapi Rio."


Mereka pun duduk di bangku berbeda namun bersebelahan yang masih berjarak.


"Maafkan aku Cin."Rio mulai membuka pembicaraan.


"Untuk?"


"Sudah mengabaikanmu,tapi sungguh Cin,perasaanku tak pernah berubah.Aku sangat mencintaimu hingga begitu takut kamu menyukai orang lain,termasuk Radit."


Cinta menyipitkan matanya."Jadi kau pikir aku menyukai Radit?"


"Bukan begitu maksudku,terlihat sekali kalau Radit saat ini menaruh hati padamu,dan aku takut kamu pun juga begitu."


Cinta menoleh,menatap lelaki yang statusnya merupakan calon suami."Apa kau meragukanku? apa kau berfikir aku masih seperti dulu yang suka bermain hati?"


Ia membuang mukanya,menghindari tatapan Rio yang seolah tengah menuduhnya berselingkuh.


Menegadahkah wajahnya,agar air mata yang telah menggenang tidak tumpah dengan percuma.


"Cinta,bukan seperti itu maksudku."


"Pulanglah,ini sudah larut.Tidak enak jika di lihat orang."


"Baiklah,tapi tolong Cin maafkan aku.Aku tidak bermaksud demikian.Aku hanya takut kehilangan kamu."


Langkahnya terasa berat,rasanya enggan meninggalkan itu.


"Belajarlah dewasa,jika ada masalah janganlah kau malah menghindar.Bukannya kelar,yang ada malah jadi semakin parah."


Rio melihat ibunya yang berdiri di depan pintu dengan pandangan sendu.


"Kau laki-laki Yo,kalau kamu mlempem kayak begini trus kapan kelarnya masalahmu,jangan sampai Cinta membatalkan pernikahan kalian."


Perkataan bu Halimah yang demikian membuatnya semakin kelabakan."Apa ibu tengah mendoakan pernikahanku gagal?"


"Siapa yang bilang demikian Rio?"


"La ibu barusan berkata yang tidak-tidak."


Menghela nafas kasar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.Bu Halimah sampai tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya.Kenapa ia sampai berubah menjadi seperti ini.


"Ayo masuk,duduklah di sini!"sang ibu menepuk sofa kosong di sampingnya.Rio pun menuruti duduk sesuai permintaan ibunya.


"Dengarkan ibu baik-baik nak! ibu tahu kamu sangat mencintai Cinta,tapi dengan cara kamu lari dari masalah itu akan membuat Cinta ragu padamu,bukan ragu untuk mencintaimu,tapi ragu akankah kamu benar-benar mencintainya atau tidak.


Rio mengangguk tanda mengerti.


"Kamu paham maksud ibu?"


"Ya bu,Rio baru mengerti."


Sang ibu tersenyum lega,"Sekarang kejar cintamu lagi sebelum rasa percayanya padamu hilang,ibu tahu Cinta itu sangat mencintaimu.Jadi sekali lagi ibu ingatkan.Selesaikan masalahmu dengan cara baik-baik.Jangan menghindar lagi."


Setelah menasehati putranya bu Halimah pamit masuk ke kamarnya.Sedangkan Rio masih berdiam diri di tempatnya sambil memainkan handphone.


Bersambung...