
...Happy Reading...
Hanny merasa terjebak dalam kebimbangan diri, disatu sisi dia kasihan juga setelah mendengar betapa pedihnya perjuangan Ayahnya hanya untuk mempertahankan hubungannya dengan Mamanya, namun disisi lain Hanny pun merasakan kekecewaan dan kesakitan yang teramat sangat selama ini, bahkan sampai memakan waktu berpuluh-puluh tahun dan selama itu pula, dia menelan segala pahitnya kehidupan sendirian.
"Aduh... kepalaku kenapa jadi pusing begini?" Hanny memilih mendorong besi tempat infus itu untuk kembali ke ranjang pasien disana.
Bruk!
Klonteng!
Aduh.. ketahuan deh kalau gue nguping ini.
Namun saat dia ingin kembali berbaring tanpa sadar tangannya menyenggol besi infus itu dan akhirnya besi itu jatuh menimpa meja dan menimbulkan suara yang terdengar sampai diluar.
"Sayang!"
Terdengar suara jeritan dan suara langkah kaki yang tergesa-gesa kearah Hanny yang memang sedang meringis kesakitan, karena selang infusnya tertarik dan mengeluarkan daraah.
"Aduh.. aw.."
"Sayang, apa yang terjadi? astaga maafkan aku, apa aku terlalu lama meninggalkan kamu?" Jeremy langsung membetulkan kembali besi infus itu dan memeluk tubuh istrinya.
"Iya, mas ngapain aja diluar sih? pacaran sama perawat di rumah sakit ini ya?"
Hanny sengaja mencari-cari topik lain, agar tidak ada yang curiga kalau dia menguping semua pembicaraan mereka diluar.
"Demi Allah yank, tidak sama sekali, aku mana tertarik dengan wanita lain selain kamu?" Seumur-umur baru kali ini dia merasa dicemburui oleh seseorang, dan rasanya nano-nano menurutnya.
"Cih.. lalu ngapain diluar lama-lama? atau ada dokter lain yang sangat cantik diluar sana, sampai kamu melupakan aku?" Saat melihat suaminya panik, dia sengaja menggodanya.
Apalagi Ayah Hanny juga ikut masuk diruangan itu, membuat Hanny merasa campur aduk juga jadinya.
"Astaga, kamu cemburu denganku yank?" Ledek Jeremy sambil tersenyum karenanya.
"Kalau iya emang kenapa? aku nggak boleh cemburu sama suami sendiri?"
"Heh? boleh sih.. tapi nggak biasanya aja, apa kamu mau aku ganti dokter yang merawat kamu jadi cowok saja?" Walaupun merasa senang, namun dia tidak ingin membuat Hanny khawatir disaat keadaannya tidak stabil seperti ini.
"Mau." Jawab Hanny dengan cepat.
"Dih cepet banget, tapi aku yang nggak rela jika dokter pria itu menyentuh tubuhmu terus menerus." Tiba-tiba dia jadi ikutan cemburu tak bertempat.
"Tapi aku juga nggak mau mas deket-deket sama perawat dan juga dokter wanita."
"Aku nggak pernah memandang wanita lain lebih dari lima detik selain kamu sayang, trust me!" Jeremy membenahi selang infus itu dan membersihkan tangan Hanny.
"Heleh... dasar budak cinta kalian berdua, kalau begitu ambil jalan tengahnya!"
Tiba-tiba karena terlalu kesal, Nicholas ikut bersuara disana, padahal dia hanya iri saja, sedangkan Alisya belum juga kembali, dia tadi pamit pergi entah kemana, namun sampai sekarang tidak juga terlihat batang hidungnya.
"Apaan?" Tanya Jeremy dan Hanny secara kompak.
"Cari dokter yang setengah pria atau setengah wanita, beres kan?" Ucapnya dengan santai sambil nyelonong masuk dan duduk di sudut ruangan.
"Nggak jelas banget kamu ini, dimana mau dicari modelan kayak begitu!"
"Dimana kek, dipinggir jalan atau ditempat remang-remang gitu?"
"Pfftthh.."
Tanpa sadar Ridwan malah tersenyum saat menyimak obrolan mereka, padahal tadi suasana hatinya sedang tegang, namun terhibur oleh celotehan receh dari ketiga orang yang akan menjadi bagian di hidupnya.
"Diam!" Ucap Mereka bertiga tanpa sadar.
"Eherm... maaf, Ayah nggak sengaja tadi, Ayah hanya ingin memastikan Hanny baik-baik saja, kalau begitu Ayah permisi, maaf sudah mengganggu." Ridwan tidak akan memaksakan kehendaknya kali ini, yang penting orang terdekat dari putrinya sudah tahu pikirnya, untuk selanjutnya dia akan berbicara perlahan.
Dia tidak ingin pengakuan dirinya malah menjadi mala petaka dihidup putrinya sendiri kedepannya.
"AYAH!"
Degh!
Apa itu suara Hanny?
Ridwan takut jika suara itu hanya ilusi semata, jadi dia tidak berani menoleh kearah belakang, dia malah berulang kali menggelengkan kepalanya.
"Ayah.. Hanny memanggil Anda, apa Anda tidak mendengarnya!"
Akhirnya suara Jeremy menyadarkan ilusinya, bahwa ini benar nyata adanya.
Alhamdulilah... Terima kasih ya Allah, akhirnya dia mau memanggil aku dengan sebutan Ayah.
"Iya Nak?"
Ridwan sontak menoleh dengan air mata kebahagiaan yang langsung mengalir begitu saja, ada rasa haru dan juga pilu, namun dia sangat bersyukur karena putri yang selama ini dia rindukan mau mengakui dirinya.
"Apa Anda sungguh Ayahku?" Tanya Hanny kembali.
"Hmm.." Ridwan menggangukkan kepalanya dengan seutas senyuman
"Lalu kenapa Anda pergi disaat aku terbaring di rumah sakit ini?"
Hati kecilnya mengatakan bahwa dia tidak boleh egois dan mungkin ini adalah jawaban dari segala doa-doanya selama ini.
"Apa Ayah boleh berada disini nak?" Ridwan berjalan mendekat, mencoba mengikis jarak walau terlihat ragu.
"Tempat duduk disini banyak yang kosong, kenapa harus tanya?" Hanny memilih menundukkan pandangannya, dia sebenarnya masih berperang batin,namun menurutnya kesempatan itu tidak akan datang berkali-kali.
"Hanny, boleh Ayah memegang tanganmu?" Ridwan mengulurkan satu tangannya yang mulai berkeriput, selama ini dia bekerja serabutan di kota kecil itu, karena untuk bekerja di kota sudah tidak mungkin, karena selain sudah berumur, mungkin nama dia masih tetap diblacklist walau hanya jadi seorang tukang kebun sekalipun.
"Untuk apa?" Tanya Hanny yang pura-pura jual mahal, padahal hatinya sebenarnya ingin.
"Ayah, sangat merindukan kamu nak?" Setelah kejadian masa lalu itu, Ridwan bukannya melupakan semuanya, dia hanya mencoba menyimpannya dalam-dalam, agar tidak menjadi luka dalam keluarga barunya yang juga sangat dia sayangi.
"Kemarilah." Kata rindu dari pria itu membuat hati Hanny seolah luluh seketika.
"Maafkan Ayah nak, tidak banyak yang Ayah harapkan darimu, kamu sudi untuk mengakui aku sebagai Ayahmu saja, aku sudah sangat berterima kasih nak, tolong maafkan Ayahmu ini." Ridwan bahkan memegang erat tangan Hanny dan menempelkan dipipinya, dulu dia sangat mengimpikan bisa memegang tangan itu saat masih bayi, namun takdir ternyata berkata lain.
Grep!
Hanny langsung memeluk tubuh Ridwan dan menyandarkan kepalanya didadaa seorang pria yang tak lagi muda itu.
"Ayah.. Ayah.. Ayah.. Ayah.. Ayah."
Berulang kali Hanny menyebut kata Ayah saat itu, jauh didalam lubuk hatinya dia sangat menginginkan moment ini.
Sesungguhnya Hanny sangat ingin diakui seseorang sebagai anaknya, tanpa embel-embel atau imbalan apapun dalam hidupnya, karena selama ini dia berada ditengah-tengah keluarga yang penuh dengan Tabir kepalsuan.
Apalagi Ayah sambungnya itu, sedari kecil saat Hanny memanggilnya dengan sebutan Ayah dia selalu mengabaikannya, apalagi berada didalam pelukannya, itu sangat mustahil bagi Hanny, padahal adek-adeknya itu setiap harinya selalu bisa merasakan hangatnya pelukan dari seorang Ayah.
"Kenapa kakek bisa sekejam itu?" Tanya Hanny dengan nada suara yang masih sesenggukan.
"Kamu ternyata juga mendengar cerita Ayah tadi?" Ridwan mencoba menelisik wajah putrinya yang masih bersembunyi didalam pelukannya.
"Kenapa Ayah tidak mau usaha sedikit saja, selama ini aku kesepian Yah, aku butuh figur seorang Ayah dalam hidupku, kenapa Ayah tega membiarkan aku hidup dengan keluarga seperti itu, kenapa Ayah!" Hanny melampiaskan segala unek-uneknya dengan mengeratkan pelukan ketubuh Ayah kandungnya.
"Ayah sungguh tidak tahu, kalau Ayah sambung kamu tidak menerimamu nak, Ayah fikir kamu hidup bahagia bersama mereka."
Ridwan selalu berfikir bahwa tanpa adanya cinta pun hidup Diana Claire bisa tetap bahagia karena bergelimangan harta.
"Aku tidak pernah bahagia Ayah, bahkan mungkin sejak aku terlahir didunia ini, aku hanya menjadi beban dan penderitaan untuk mereka."
"Maaf nak, Ayah sungguh tidak tahu!" Kekesalan Ridwan terhadap rivalnya seolah kembali muncul saat mendengar curahan hati putrinya.
"Aku sungguh membenci mereka Ayah, aku benci mereka semua!" Hanny kembali mengingat semua perlakuan buruk keluarga itu terhadapnya.
"Andai saja Ayahmu tidak miskin, pasti kamu tidak akan merasakan kesakitan seperti itu nak, ini semua salah Ayah, kamu juga boleh membenci Ayah nak, hiks.. hiks."
Bahkan mungkin entah sudah puluhan kata maaf terucap dari bibiir Ayah Hanny, dia sungguh tidak menyangka jika putrinya akan tumbuh dengan beban dan kesulitan seperti itu.
"Ckk... lama sekali kalian pelukannya!"
Jeremy sudah menahan diri sedari tadi, namun akhirnya dia sengaja melerai pelukan Ayah dan Anak itu karena tidak rela.
"Mas?" Hanny seolah masih belum puas memeluk Ayahnya, namun apa daya jika suaminya sudah bersikap seperti itu.
"Kalau kalian mau nangis, ya nangis aja, tapi kamu meluknya sama aku saja yank, setelah menikah kan priotitas utama kamu itu aku." Jeremy langsung memeluknya dengan posesif, seolah tidak boleh ada yang memeluknya walau itu Ayah kandungnya sendiri.
"Astoge, pria yang satu ini menghancurkan moment syahdu ini, jadi nggak melow lagi kan!" Umpat Nicholas yang tadinya pun sempat terbawa suasana, namun gagal karena kecemburuan Jeremy kepada ayah kandung dari istrinya sendiri.
"Apa sih mas, udah dong malu?" Hanny langsung mencubit pinggang suaminya, namun bukan Jeremy kalau punya malu.
"Jangan lama-lama meluk pria selain aku, kamu pikir aku nggak bisa cemburu apa?" Bahkan dia menghujani kecvpan di kepala Hanny didepan Ridwan secara langsung.
"Tapi dia kan---"
"Ayah senang nak, setidaknya kamu menemukan pria sebaik nak Jeremy, disaat keluargamu yang kaya raya itu tidak memperdulikan hidupmu, tapi Jeremy sangat menyayangimu, lalu apa ibumu juga seperti keluargamu nak?" Walau sedikit risih, namun Ridwan merasa lega, karena ada sosok penggantinya yang begitu mencintai putrinya.
"Mungkin dia hanya seperti patung hidup dikeluarga itu." Hanny pun melihat Mamanya seolah seperti robot yang patuh jika Ayah sambungnya sudah bertitah.
"Maksudnya? apa mamamu juga tidak dibahagiakan oleh Ayah sambungmu?" Tanya Ridwan, padahal dulu dia sudah menjanjikan hal itu.
"Lalu kalau pria itu tidak bisa membahagiakan mama, apa Ayah mau membahagiakan dia?"
"Eherm... kalau soal itu Ayah tidak bisa menjanjikan apapun nak."
Karena bagaimanapun juga, Ibu Alisya orang yang baik, dan kini dia pun juga sudah menyayangi mereka dengan sepenuh hati dan mencoba mengubur memori cintanya yang dulu.
"Berarti Ayah dulu tidak benar-benar mencintai Mama? apa yang terpenting dalam hidup Ayah dulu asalkan Ayah bisa memiliki tubuhnya?"
"Astagfirullah nak, bukan seperti itu." Dia bingung mau berkata apa, karena ada hati lain yang harus dia jaga saat ini.
"Lalu?"
"Ayah sadar diri, bahwa sebesar apapun cinta Ayah kepada Mamamu dulu, tetap saja tidak akan bisa mendapatkannya, bahkan saat Ayah sudah berhasil mencetak kamu, mereka tetap tidak menginginkan Ayah."
"Kenapa usaha Ayah segitu aja, perjuangan memang tidak ada yang mudah Yah, kenapa Ayah sudah menyerah?" Hanny masih belum puas dengan jawaban Ayahnya.
"Bahkan dulu Ayah rela walau hanya dijadikan sebagai pembantu sekalipun, asalkan Ayah bisa melihat senyuman dari mamamu, namun kakekmu benar-benar tidak menginginkan Ayah berada didekat Mamamu."
"Sampai segitunya?"
"Siapa bilang Ayah dulu mudah menyerah dan tidak berusaha, setelah Ayah sembuh, Ayah pernah kembali ke kota itu, tapi semua hanya sia-sia belaka, bahkan uang Ayah habis tak bersisa hanya untuk menunggu puluhan lamaran kerja yang tidak ada hasilnya, bahkan untuk bekerja diperusahaan lain di kota itu pun tidak bisa lagi, karena Kakekmu pasti sudah merencanakan hal itu dan menghalangi semua usaha Ayah, dan akhirnya Ayah menyerah karena tidak punya biaya lagi untuk kembali hidup di kota itu." Ujarnya dengan helaan nafas berulang kali.
"Boleh aku tanya satu hal lagi?" Hanny kembali menegakkan tubuhnya.
"Katakan saja nak, kamu berhak tahu tentang semua, Ayah akan menceritakan semua yang ingin kamu tahu soal masa lalu kami."
"Kenapa Ayah menikah lagi?"
"Hmm... karena Ayah pernah membaca berita, bahwa Mamamu juga sudah menikah bahkan besar-besaran dan disana terselip foto Mama kamu yang tersenyum bahagia disana dan itu menyadarkan Ayah bahwa memang kami sudah tidak berjodoh lagi, sedangkan hidup terus berjalan nak."
"Itu pasti hanya setingan." Celoteh Hanny menduganya.
"Entahlah, tapi dulu Ayah selalu berfikir, jika Mamamu bisa bahagia, Ayah tidak berhak mengganggunya, karena Ayah tahu kapasitas Ayah, yang tidak punya apa-apa untuk membiayai kebutuhan Mamamu yang memang serba mewah sedari dulu dan suaminya yang sekarang pasti bisa, karena mereka satu kasta."
"Kalau Ayah tahu itu, kenapa Ayah mendekati Mama dulu? bahkan sampai jadi aku? tidak mungkin hanya tatap-tatapan mata saja langsung bisa jadi seorang anak bukan?" Hanny merasa penasaran karenanya.
"Emm... memang Ayah akui, itu Dosa Ayah, itu kesalahan dan kesilapan Ayah, walaupun sebenarnya itu sangat manis."
"Ayah masih berharap kata maaf dariku nggak?"
"Tentu saja nak, karena memang itu yang Ayah harapkan." Jawab Ridwan dengan mantap.
"Dengan satu syarat!" Ucap Hanny selanjutnya.
"Apa nak, katakan saja, asalkan Ayah bisa memenuhinya Ayah pasti akan berusaha."
"Ceritakan Tutorial Ayah dan Mama saat membuatku kala itu!"
"HAH?" Ridwan bahkan sampai tersentak karena terkejut dengan permintaan Hanny.
"Woah... ngidam bukan sembarang ngidam si Bodat ini." Umpat Nicholas yang langsung pura-pura memejamkan kedua matanya, padahal dia sudah memasang dengan baik dan benar kedua telinganya.
"Pfftthhh... good job sayang, mas juga penasaran banget soal itu." Jeremy pun tak kalah gilanya.
"Tapi nak, itu hal yang tidak patut untuk diceritakan loh?" Bahkan Ridwan sampai menoleh ke kanan dan ke kiri, takut jika istrinya atau Alisya berada disekitar sana.
"Tapi aku ingin mendengarnya." Ucap Hanny yang tidak perduli dengan apapun.
"Ceritakan saja Yah, Hanny sedang hamil ini, apa ayah tega melihat anak kami nanti ileran gara-gara ngidamnya tidak Ayah turuti?" Jeremy menjadi pihak suporter dadakan disana.
"Tapi ini rahasia nak? dan ini juga bukan hal yang baik untuk kalian dengar, ini Aib besar." Ridwan masih menolak permintaan mereka dengan alot.
"Kalau Ayah tidak mau menceritakan, jangan harap aku akan memafkan Ayah, titik!" Ancam Hanny yang langsung melengos.
"Nah loh, ceritain aja Yah, my Hanny ini nggak pernah main-main kalau ngomong dan yang paling penting dia tidak mau memberikan kesempatan kedua, apa Ayah mau selamanya dibenci oleh Hanny?"
Dyar!
"Ya ampun, apa ini juga termasuk kategori ngidam nak?" Ridwan hanya bisa melepas pecinya dan menjambak rambutnya.
"Anda benar." Jawab sepasang suami istri tergokil itu dengan kompak.
Ridwan semakin terhimpit kali ini, akhirnya tidak ada pilihan lain selain dia harus menceritakan kisah kekhilafan dan kegilaan mereka di masa lalu, saat kala itu hujan rintik-rintik membasahi bumi.