
Hanya sementara Cinta tinggal di rumah itu,setelah ia mendapatkan tempat tinggal sendiri Cinta mengutarakan maksudnya dan saat ini ia tengah berbincang dengan Radit tentang keinginannya."Tidak tidak boleh,kau tidak boleh pindah dari sini,"laki-laki itu langsung menolak keinginan Cinta."Aku tidak pernah macam-macam denganmu kenapa kau harus pindah dari sini?"
"Biar bagaimana pun aku memiliki kehidupanku sendiri,dan aku tidak ingin bergantung pada orang lain,"jawab Cinta.
Radit tahu,semakin wanita ini di cegah maka ia akan semakin berontak.Takut akan Cinta lari lagi darinya,akhirnya Radit merelakan wanita ini tinggal di tempatnya sendiri.
Di kediaman orangtua Rio.
Kini mereka bersiap akan berangkat lagi dinas ke luar kota untuk urusan pekerjaannya.Karena selain mengelola perusahaan yang kini telah di serahkan pada anaknya,beliau juga berperan sebagai menteri sosial yang tinggal beberapa bulan lagi masa periodenya,setelahnya beliau mengajukan pensiun karena memang sudah ingin lepas dari pekerjaan apapun menikmati masa tuanya bersama istri tanpa memikirkan pekerjaan ini itu."Ingat pesan ayah Rio,ayah tidak ingin kamu menjalin hubungan dengan wanita itu."sedangkan Rio hanya diam tidak menjawab apapun.Ia mengantar kedua orang tuanya ke bandara hingga sampai keberangkatannya.
Di tempat lain.
Seorang wanita tengah menenteng tas besar yang berisi pakaian,sebelumnya ia di antar oleh seseorang dengan mobilnya ke sebuah kos,namun setelah yang mengantar pergi,ia bergegas pergi dengan menaiki ojek.Dan di sinilah sekarang ia berada,di sebuah panti asuhan.Hanya tempat ini yang sudah pasti mau menerima kehadirannya tanpa memandang masa lalunya yang kelam.
"Maafkan saya bu jadi merepotkan ibu jadinya,"ucap Cinta sendu pada ibu panti.
"Tidak nak,justru saya sangat senang sekali,nak Cinta bisa tinggal bersama kami,dan terimakasih banyak untuk semua yang sudah nak Cinta beri pada panti ini,"ucap ibu panti tulus.
"Hanya sedikit bu,"jawab Cinta merendahkan diri.
Seulas senyum tulus terbit di bibir ibu panti,"mari ibu tunjukkan kamar mu,semoga betah ya tinggal di sini."Dan Cinta pun tersenyum menanggapinya.
Sedangkan di sana,berkali-kali lelaki itu mendatangi rumah yang pernah Cinta tempati,tetapi terlihat sepi lampu pun hanya bagian luarnya saja terang,hampir saja ia menyerah dan menganggap Cinta memang akan menikah dengan rivalnya.
Ia berjalan lunglai menuju sepeda motornya lagi dengan segala rasa bersalah dan rasa cintanya,satu malam yang akhirnya membuat wanita itu menjauh,satu malam yang membuatnya jadi laki-laki seperti pengecut,ya begitulah pikirnya.
Ke esokan harinya.
Kala mentari mulai mengintip di balik jendelanya,Rio terbangun dengan tergesa,ia ada meeting pagi ini dengan beberapa rekan bisnisnya,pasalnya sang asisten memberi kabar tadi malam bahwa bulan ini penghasilan menurun drastis.
Dan benar saja,ada salah satu karyawan laki-laki yang sudah berkhianat padanya.Kini sang asisten sudah mengantongi siapa orang itu,tinggal menunggu waktu yang tepat,hingga ia bisa menangkap basah perbuatannya.Sedangkan Rio,lelaki itu tengah sudah pergi beberapa waktu yang lalu tanpa ingin tahu siapa orang yang sudah berhianat padanya.Baginya ia percaya pada sang asisten pasti bisa mengurusnya.
Dengan sepedha motor yang selalu menemaninya kapan pun,ia menerobos panasnya jalanan yang belum terlalu siang.Entah kemana tujuannya,yang pasti sudah jadi kebiasaannya setelah perhitungan akhir bulan ia selalu menyempatkam diri mengunjungi suatu tempat.
Dan di sinilah sekarang Rio berada,di pelataran panti yang tidak terlalu luas namun banyak sekali anak-anak yang bermain di sana,ia memandang sebentar.Tak jauh di sana terlihat terlihat ibu panti sedang menghadap kearahnya dengan senyumnya yang begitu tulus dan menenangkan.Beliau sudah seperti ibu sendiri baginya,karena begitu nyaman sekali ketika sedang bersamanya."Lalu siapa wanita yang bersama bu Ningsih itu?"tanyanya dalam hati.Ya bu Ningsih merupakan nama dari ibu panti itu.
Terlihat keduanya begitu sangat akrap,selama ini bu Ningsih tidak cerita apapun mengenai wanita itu,bahkan sepertinya sudah kenal sangat lama.
"Assalamualaikum,"ucap Rio.
"Waalaikumsalam,"jawab kedua wanita berbeda umur itu.Dengan senyum dan pelukan hangat bu Ningsih menyambut kedatangan Rio.
Setelah melepaskan pelukannya,Rio menatap wanita di samping bu Ningsih.Keduanya sama-sama tak berkedip,hanya saling menatap tanpa ada sepatah katapun yang keluar.Wanita yang di cari-carinya selama ini ternyata tengah berdiri di hadapannya dengan tatapannya yang sangat sulit di artikan.
Dan Cinta,wanita itu tertegun melihat kedatangan lelaki yang sangat ingin ia jauhi,tapi kenapa takdir berkata lain.Semakin ia menjauh maka akan semudah itu di pertemukan tanpa kesengajaan.Sekarang ia tidak mungkin bisa menghindar lagi,ingin meninggalkan panti tapi kemana ia harus tinggal setelahnya.Karena hanya satu-satunya tempat ini ia bisa hidup tenang tanpa hinaaan dari orang-orang.
Rio mendekati Cinta,"ternyata ya Cin tidaklah sulit bagi Tuhan untuk mempertemukan kita.
"Kalian saling kenal?"tanya ibu Ningsing yang membuat keduanya langsung menoleh pada beliau.
"Iya bu,dia atasan saya.Iya bu dia calon istri saya," jawab keduanya bersamaan dengan jawaban yang berbeda.Cinta yang mendengar jawaban Rio langsung melotot ke arah lelaki di sampingnya.Dan Rio,ia hanya tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Kelakuan dua manusia yang berbeda itu membuat bu Ningsih geleng-geleng kepala."Ayo masuklah kalian,ajak anak-anak masuk sebentar lagi makan siang,"titah bu Ningsih.
Bersambung..