
...Happy Reading...
Tak ada sesuatu yang lebih indah selain moment-moment kebucinan antar pasangan, apalagi setelah berakhirnya sebuah pertengkaran yang sebenarnya memang hanya disebabkan oleh perihal kesalah pahaman semata.
"Mas... lepas dulu kenapa tangannya? pegel ini ditarik-tarik terus." Umpat Alisya dengan tatapan jengah melihat kekasihnya terus saja menghujani kecupan dijemarinya sepanjang perjalanan pulang.
"Apa sih yank, masak begini saja tidak boleh, itu si Mafia aja sampai nyosor kesono-sono boleh?" Bukannha meleoas, dia malah semakin mendekap erat tangan Alisya.
"Bukan begitu mas, tapi ini kan ditempat umum, masih di pesawat ini?"
"Jadi kalau aku melakukan hal itu tapi ditempat yang sepi juga boleh dong?" Tanya Nicholas yang seolah semakin menggila saja.
"Jangan ngelunjak deh mas?"
"Kamu tidak adil denganku!" Nicholas memelototkan kedua matanya.
"Ya karena kalian berbeda?"
"Berarti dia lebih istimewa gitu dariku?" Selalu saja ada alasan untuk memojokkan kekasihnya itu.
"Mas mau ngajakin aku bertengkar ini?"
"Bukan begitu, tapi kamu pilih kasih, padahal aku tulus menyayangi kamu, bahkan sebelum si mafia itu datang dalam hidupmu."
"Tapi kan situasi dan keadaannya berbeda, lagian kami sudah berpisah, kalau kamu terus-terusan iri sama dia, mau apa aku putusin mas biar sama kayak mantan suamiku itu?" Karena tidak tahu mau memberikan alasan apa, Alisya iseng melontarkan kata-kata yang seolah mengancam itu.
"Apa? kamu tadi bilang apa?" Nicholas langsung menautkan kedua alisnya.
"Kita berteman saja, pura-pura tidak kenal dan tidak pernah terjadi sesuatu diantara kita, daripada ribut aja bisanya, gimana?"
"Benarkah, apa kamu bisa?" Nicholas langsung melepas sabuk pengamannya dan langsung menggulung kedua lengan kemejanya dengan senyuman liciknya.
"Bisa lah, kenapa tidak?" Alisya ikut membuka sabuk pengaman miliknya dan mulai menggeser tubuhnya menjauh dari Nicholas.
"Coba saja kalau berani?" Nicholas kemudian sengaja membuka dua kancing kemejanya dan memamerkan dadaanya yang berbulu dihadapan wajah Alisya yang langsung memerah.
"Astaga... mas mau ngapain!" Alisya tanpa sadar melotot melihatnya.
Cup!
"Ayo coba kalau berani?" Nicholas langsung menyambar bibiir Alisya sekilas.
"Astagfirullah, mas jangan begini?" Alisya langsung kelabakan sendiri, dia pun heran kenapa Nicholas semakin berani sekarang.
Cup!
"Ayo.. katanya mau minta putus tadi,coba ngomong sekali lagi." Nicholas semakin melebarkan senyumannya saat melihat Asliya ketakutan.
"Mas, jangan begini dong, malu kalau nanti dilihat orang!"
"Biar aja, kalau mereka tidak terima dan mau menyeret kita berdua ke KUA, dengan senang hati aku akan menerimanya." Nicholas seolah sudah seperti orang yang putus urat malunya.
"Ya ampun, jangan gila deh mas."
"Ini bahkan belum seberapa, aku bisa lebih gila daripada ini, sayang."
"Cukup mas, kembali ke tempat dudukmu, kita damai saja, okey?" Karena menurutnya menyerah adalah jalan terbaik, daripada harus malu karena kepergok ditempat umum.
"Cih... segitu saja keberanianmu? tadi sok-sok an mau mengancamku, aku terkam kamu sekarang juga, baru tahu rasa."
"Mas gantian mengancamku?"
"Kenapa? kamu tidak percaya, dan mau bukti nyata?" Tantang Nicholas semakin nekad.
"Maksudnya?"
"Biar aku tunjukkan sekarang, lagian dibarisan kita tidak ada orang!" Dengan senyum liciknya, Nicholas sengaja membuka ikat pinggang miliknya.
"Jangan mas, kamu mau ngapain?" Alisya kembali panik dan menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Bukannya kamu sudah melihatnya? siapa tahu kamu mau melihatnya lagi, itung-itung kenalan juga ya kan?" Dia pura-pura ingin membuka pengait celana dan resletingnya.
"Ampun mas, jangan dibuka, aku nggak akan minta putus lagi, janji!" Alisya langsung menutup seluruh wajahnya dengan ujung hijabnya.
Sekilas langsung terlintas rekaman di otaknya tentang benda elastis yang bisa bergerak sendiri sesuka hati bahkan tanpa adanya aliran listrik atau apapun itu.
"Yakin tidak mau? nanti kamu menyesal?" Nicholas menaikkan kedua alisnya, dia sebenarnya hanya bercanda saja, karena tidak mungkin dia melakukan hal gila itu ditempat umum seperti ini.
"Nggak mau, ampun mas, cepat benahi semuanya dan kembali duduk ditempatmu."
Yess berhasil!
"Berani kamu mengancamku lagi, tidak segan-segan aku melakukannya denganmu, mengerti sayang?"
"Kenapa jadi begini?"
"Kenapa apanya, atau kamu mau lihat yang lainnya?"
"Tidak, astaga kenapa aku jadi yang dipojokkan sekarang!"
Akhirnya Alisya memilih diam saja, daripada Nicholas semakin nekad dan bertingkah gila, hingga akhirnya mereka sampai kembali ke kota tempat mereka berdua mengais rejeki.
"Sayang kita mampir dulu ke rumah Bos ya, soalnya ada berkas yang harus dia tangani segera." Dan kini mereka sudah berada didalam Taksi menuju kerumah Jeremy.
"Okey, aku juga mau ngasih pesanan Hanny."
"Emang pesan apa dia?"
"Gethuk pisang, makanan khas sana, tumben-tumbenan dia mau makan makanan tradisional begitu, apa lidahnya sedang sariawan atau gimana, dia kan biasanya suka makanan western food." Tadi dia sempat ragu, namun memilih tetap membelikannya saja.
"Lagi nyidam kali dia." Jawab Nicholas dengan cepat.
"Kok mas bisa nebak begitu? emangnya dia bilang kalau sudah hamil?"
"Asal nebak aja yank, soalnya kan setiap malam dia digarap terus sama suaminya, kalau tidak ada jeda dalam satu bulan berarti kan memnag udah jadi anak kecebongnya."
"Kenapa mas terlihat sudah berpengalaman dalam hal itu?"Alisya menatapnya dengan pandangan lain.
"Kenapa, kamu mulai mencurigaiku?" Nicholas langsung memiting leher Alisya dengan gemas.
"Cuma tanya aja mas, astaga negatif aja terus pikirannya itu loh?"
"Kirain? jangan memikirkan hal buruk tentangku, karena aku tidak punya riwayat buruk tentang seorang wanita dimasa lalu, jadi cukup pikirkan bahwa aku hanya mencintai kamu seorang, mengerti?"
"Gombal, harusnya kalau pandai berkata-kata seperti ini yang patut dipertanyakan?"
"Hei.. aku hanya belajar menjadi kekasih yang manis, biar kamu nggak kabur lagi dariku!"
"Dari awal hubungan kita juga aku tidak pernah punya niatan kabur mas, hanya saja keadaan yang memaksa kita untuk berpisah sejenak, agar kita itu bisa tau betapa berharganya seseorang saat sedang berjauhan." Alisya selalu mencoba mengambil sisi positif dari semua kejadian.
"Apapun yang terjadi, mulai saat ini kamu tidak boleh jauh dariku, apalagi sekarang kita bekerja di kantor yang sama, wah... sepertinya akan ada romansa ditempat kerja ya kan sayang!" Nicholas sudah sumringah saat baru membayangkannya saja.
"Romansa apaan, fokus kerja dong mas, fokus cari uang untuk masa depan."
"Iya, tapi kan kita bisa nyuri-nyuri pegangan tangan gitu, atau mungkin pergi berdua ke pojokan sejenak, paati asyik kan?"
"Emang ngapain mesti ke pojokan?"
"Isi daya lah, biar semakin semangat dalam melewati hari-hari yang penat!" Jawab Nicholas dengan mantap.
"Caranya?"
"Emm... mungkin Hug or Kiss?"
"Dasar pria mesvm, pikirannya cuma mengarah ke itu-itu saja!" Alisya langsung mencubit lengan Nicholas, membuat sang sopir Taksi itu tersenyum-senyum saat melirik mereka dari kaca spion.
"Ahahaha... seru tau yank, jadi kita nggak bosan ditempat kerja!"
"Jangan mimpi kamu, huh!"
Akhirnya mereka bersenda gurau hingga taksi itu sampai di kediaman rumah mewah milik Jeremy dan Hanny.
"Wow.. wow.. ada angin apa nih? apa misi kita berhasil? Kalian berdua udah baikan sekarang?"
Ternyata Hanny dan Jeremy sedang duduk berdua ditaman kecil didepan rumahnya untuk menikmati pemandangan alam di sore hari.
"Emang siapa yang bilang kita musuhan, bahkan kita sudah mau menikah?" Nicholas kembali mengumbar kemesraannya.
"Heleh... kemarin aja marah-marah, muka udah kayak baju lecek yang jatuh didalam got, banyak drama kamu Sarmin!" Hujat Hanny dengan senyum judesnya.
"Dia memang raja drama sekarang, owh iya.. ini pesanan kamu, aku beliin juga cemilan yang lainnya." Alisya memberikan beberapa kamtong paperbag ke Hanny.
"Wow... makasih Alisya, kemarin aku buka sosial media ada yang makan ini, trus mas Jeremy pengen katanya, padahal rasanya ya cuma kayak pisang aja, tapi dia maksa minta dibeliin itu." Jelas Hanny sambil mengeluarkan oleh-oleh yang dibawa Alisya.
"Jadi bukan kamu yang pengen?"
"Bukan, mas Jeremy itu yang mau ngeces ngelihatnya!"
"Apa kamu sedang hamil Han?"
"Hah? masak sih, tapi aku nggak ada mual atau muntah dipagi hari, aku juga nggak kepingin makan rujak atau makanan yang asem-asem seperti ibu hamil pada umumnya kok, mas Jeremy tu yang malah bertingkah aneh sekarang." Bahkan Hanny seolah kuwalahan sendiri meladeni tingkah absurd suaminya akhir-akhir ini.
"Bisa jadi suami kamu yang ngidam, apa kamu sudah tes pake tespeck?"
"Sayang, mau makan itu, tapi disuapin." Rengek Jeremy yang mulai berulah.
"Astaga, mulai lagi dia." Hanny kembali mencari stock kesabaran dari dirinya.
"Sayang!" Teriak Jeremy kembali.
"Iya.. Iya.."
"Sini kembali duduk dipangkuanku." Pinta Jeremy dengan manja.
"Nggak usah disini saja, ayo buka mulutmu!" Dia sudah membuka bungkusan daun pisang itu.
"Kenapa nggak mau, apa pangkuanku tidak sehangat pangkuan pria lain?"
"Astaga mas, kenapa mikirnya sampai kesana sih? aku cuma gerah aja tadi, ya udah sini." Hanny memilih mengalah saja, karena mau ngotot pun hanya capek hasilnya.
"Sayang aku mau coba juga dong, kamu beli banyak kan?" Giliran Nicholas yang malah ikut-ikutan merengek.
"Iya, banyak kok tadi."
"Tuh kan yank, masak kita yang udah nikah kalah romantisnya sama mereka?" Celoteh Jeremy sambil terus memeluk tubuh istrinya yang memang semakin berisi.
"Ya udah, aku sudah duduk di pangkuanmu ini, kurang romantis gimana lagi?"
"Kamu kok jadi galak sih sama aku yank?"
"Astaga, siapa yang galak sih mas?"
"Aku sudah kenyang, kalian makan saja sendiri semuanya." Tiba-tiba mood Jeremy memburuk, dia langsung berdiri dan ingin masuk kedalam rumahnya.
"Tunggu, mas mau kemana, ini baru satu kali gigitan loh?" Hanny langsung mengejarnya.
"Kamu nyebelin." Jeremy langsung melengos karenanya.
"Aduh Gusti, hei.. Sarmin, bos kamu itu kenapa sih, kurang sajen atau gimana, kenapa dia aneh sekarang?" Hanny mendekat ke arah Nicholas yang juga terbengong saat melihat perubahan bosnya.
"Jangan dekat-dekat dengan Nicholas, bukannya dia kekasih sahabatmu!" Teriak Jeremy kembali dengan lirikan tajamnya.
"Dih.. emang siapa yang mau ngedeketin dia mas?"
"Ikut aku ke kamar, jangan coba-coba menggatal dengan pria lain!" Tiba-tiba Jeremy langsung memelototi istrinya.
"Menggatal apaan lagi ini? Sarmin, dia kenapa, apa sebelumnya dia pernah over posesif seperti ini dengan masa lalunya?" Hanny sebenarnya merasa bingung akhir-akhir ini.
"Entahlah, dia tidak pernah membahasnya." Nicholas hanya bisa menaikkan kedua bahunya, karena dia memang tidak mengerti.
"Hanny!"Teriaknya kembali.
"Fuuh... Iya mas."
"Tunggu, bisa anda tanda tangani dulu berkas ini sebelum kalian masuk kamar?" Nicholas langsung membuka tas miliknya, karena kalau mereka sudah masuk ke kamar, pasti akan panjang urusannya,sedangkan dia belum sempat istirahat dari perjalanan bisnisnya.
"Nanti saja!" Ucap Jeremy yang langsung menarik pergelangan tangan istrinya.
"Tapi bos, kita harus mengirimkannya hari ini juga, itu kenapa aku langsung kemari." Jawab Nicholas.
"Aku sedang tidak mood buat kerja."
"Tapi ini penting bos!"
"Kalau penting lakukan sendiri!"
"Sayangnya berkas ini harus anda yang menandatangani, saya sudah menyiapkan segalanya anda hanya perlu membubuhkan tanda tangan saja bos." Nicholas sudah bisa membayangkan apa yang terjadi jika mereka sudah di kamar.
"Sudah aku bilang nggak mau ya nggak mau, apa kamu tuli?"
"Astaga bos, ini demi perusahaan bos juga loh?"
"Sudahlah mas, apa susahnya tinggal menanda tangani saja!" Hanny kasian juga melihatnya.
"Biarkan saja, kalau dia mau biar dia menunggu kita setelah keluar dari kamar."
"Tapi bos?"
"Kalau tidak mau pintu rumahku ada disana, kamu tahu jalan keluar kan?"Umpat Jeremy yang seolah tidak perduli.
"Woah... lihatlah sayang, kekasihmu ini selalu disiksa olehnya, apa susahnya coba tinggal tanda tangan doang, padahal bukannya aku suruh membaca dan mempelajari, tapi kenapa ribet banget hidupnya!"
"Apa biasanya dia seperti itu?" Alisya hanya bisa mengusap bahunya dengan sabar.
"Nggak juga sih, walau dia memang malas bekerja, tapi kalau cuma tanda tangan apalagi menyangkut soal perusahaan dia tidak akan menolaknya, walau memang mulutnya mengoceh terus, tapi dia tetap melakukannya."
"Fiks, Hanny pasti hamil dan yang ngidam pak Jeremy." Alisya langsung menyimpulkannya.
"Atau jangan-jangan Bos Jeremy yang hamil!"
"Hush.. mana ada pria hamil, mas ini ada-ada saja, ya sudah kita tunggu aja disofa depan sana sambil istirahat, pinggang aku pegal sekali."
Tulilut
Tulilut
Tulilut
"Hallo... asalamu'alaikum?" Saat Alisya sedang duduk di ruangan santai milik Jeremy ternyata Ayah Alisya menelponnya.
"Siapa?" Nicholas langsung kepo, takut jika yang menghubunginya adalah mantan suami kekasihnya.
"Ini Ayahku mas." Alisya langsung meloudspeaker ponselnya agar Nicholas tidak curiga.
"Wa'alaikum salam nak, ini ayah cuma mau tanya aja, akhir pekan ini kamu jadi balik kan?" Tanya Ayah Alisya dibalik telponnya.
"Huh.. hah.. enak sayang, urrr... terus sayang!" Belum lama berselang waktu, suara Jeremy sudah terdengar oleh mereka.
"Suara apa itu nak, kamu sedang apa, dimana dan dengan siapa?" Cecar ayah Alisya.
"Astaga, dimana mereka mas, kenapa suaranya sampai sini?"Bisik Alisya disamping telinga Nicholas.
"Gila itu memang si bos, nggak sabaran amat, mungkin mereka kerja rodi di kamar mandi tamu kali." Karena suara jeritan Jeremy terdengar menggema disana.
"Emm... Aku ada dirumah Hanny Ayah, satu-satunya temanku di kota ini." Alisya bingung mau menjelaskan apa jadinya.
"Hanny?" Ayah Alisya kembali mengulang nama itu.
"Iya, namanya Hanny, apa ayah tidak mendengar ceritanya dari ibu? aku sudah bercerita banyak tentangnya, karena dia banyak membantu aku di kota ini." Jelas Alisya.
"Owh ya, bisa kamu ceritakan dengan ayah juga, tentang temanmu yang bernama Hanny itu?"
"Apa ayah mengenalnya, tumben mau tahu tentang sahabatku?"
Belun sempat ayah Alisya menjawab pertanyaannya, suara Jeremy kembali menggema bahkan sampai terdengar jelas ditelinga ayah Alisya diseberang sana.
"Eugh.. urrrr.. fast.. faster beby, ayok sayang kamu hebat sekali yank!"
"ALISYA, APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN!" Bahkan suara Ayah Alisya terdengar meninggi.
"Eherm... tidak ayah, itu bukan suara kekasih Alisya, aku berani sumpah Ayah, aku nggak ngapa-ngapain disini."
"Jangan bohong kamu, cepat bawa pulang kekasihmu itu besok pagi, jangan sampai kamu salah langkah, karena suatu saat kamu pasti akan menyesal karena telah melakukan hal seperti itu sebelum dia sah menjadi milikmu dan satu hal lagi, bawa juga teman kamu yang bernama Hanny itu, Ayah ingin sekali mengenalnya!"
"Tapi itu bukan aku Ayah, itu----"
Tut
Tut
Tut
Panggilan telepon dari ayah Alisya langsung terputus begitu saja, bahkan sebelum Alisya menjelaskan kalau itu suara kedua bos di perusahaannya.
"Aish... mereka memang pasangan gila, bisa-bisanya teriak-teriak dari sana, kalau begini kan ribet urusannya, namaku yang jadi jelek dimata Ayah kamu, karena ulah gila mereka."Umpat Nicholas yang langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Hanny... Hanny... Argh sayang, urrrr... aku sampai, aa h!"
Glodak!
Dan akhirnya Nicholas melepas sepatu mahal miliknya dan melemparnya ke arah pintu kamar mandi itu dengan kasar, saat dia kembali mendengar suara erangan dan de sahan dari mereka.
"Hei.. pasangan mesvm, bisa nggak kalian melakukan hal itu diruangan yang kedap suara! kalian pikir aku tuli apa, aku kan juga pengen jadinya, aishh!" Kalau diikutkan kata hati, ingin sekali Nicholas mendobrak pintu itu saat ini juga, tapi dia sadar siapa dirinya.
"Dasar bos sama asisten nggak beres semua! aku mau pulang saja dulu, selamat menggila bersama kalian, huh!" Alisya langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Sayang... eh tunggu, aku juga mau!" Teriak Nicholas.
"Jangan harap!" Alisya langsung menajamkan kedua matanya.
"Hehe... bercanda sayang, tunggu aku!"
Akhirnya mereka berdua keluar dari rumah itu sambil menutup kedua telinga mereka, namun yang membuat Alisya heran, kenapa Ayahnya meminta dia mengajak Hanny sekalian untuk pulang kerumahnya.
Padahal biasanya Ayahnya tidak pernah mau tahu apalagi untuk mengenal dengan jelas tentang siapa rekan-rekannya di kota yang tidak beliau kenal.